
#135
"Hujannya kok awet banget ya?" Diana duduk menopang dagu di sebuah bangku, di depan ruang musik sekolahnya. Matanya menerawang menatap langit kelabu yang menurunkan jutaan titik air membasahi bumi.
Cuaca hari itu tak begitu buruk. Hanya saja hujan yang cukup lebat membuat Diana harus tertahan di sana.
"Tuhan baik ya Di, Dia memberikan hujan ini supaya kita punya waktu bersama lebih panjang hari ini."
Diana menatap heran pada sumber suara. Pemuda di sampingnya nampak sumringah menikmati gemericik alunan alam. Benar-benar perbedaan rasa dengan mimik wajah Diana yang penuh dengan keluhan menatap hujan.
Yah benar, Diana tak terjebak sendiri di sana. Ada pula Mario. Mereka harus pulang sedikit terlambat karena ada jadwal latihan vocal untuk perform mereka di acara perpisahan siswa nanti.
Mereka yang senasib namun hati melantunkan doa yang berbeda. Diana yang berharap hujan segera reda sementara Mario menginginkan sebaliknya.
"Di, kalau aku jauh, apa kamu bakal masih terus suka sama aku?" Ucap Mario dengan nada lirih.
Suasana hening. Hanya terdengan gemericik air dan deru angin.
"Cih! Emangnya siapa yang suka sama kamu?" Diana berusaha memecah suasana sendu menjadi candaan dengan tertawa renyah.
"Gak usah ngeles deh.."
Grep
Mario meraih telapak tangan Diana yang sontak membuat Diana tersentak kaget.
"Mario lepasin!" Diana berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Mario cukup kuat dengan tatapan mata yang lurus menatap mata gadis itu.
Diana merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Telapak tangannya terasa dingin.
Mario merabai pergelangan tangan itu dengan jemari dari tangannya yang lain, membuat Diana semakin membelalakkan matanya.
Apa yang dilakukan Mario? Apa ia lupa yang berada dihadapannya adalah sang dewi perang? Apa ia sudah kehilangan akal sekarang?
Ah, tangan Diana yang satu lagi sudah mulai mengepal kuat.
"Nadi kamu berdetak cepat dan tak beraturan setiap kamu menyadari kalau aku menatap kamu. Jantung kamu pasti berdebar hebat sekarang." Ucap Mario setelah jemarinya berhenti di satu titik pergelangan tangan Diana. Sorot matanya tetap lurus menatap mata Diana yang membuat bulir bulir keringat dingin di kening gadis itu bermunculan.
"Itu namanya jatuh cinta Diana," Lanjutnya.
"Kamu bisa rasakan di dada ini juga memiliki debaran yang sama."
Diana segera menarik tangannya setelah cengkeraman Mario dirasa mulai mengendur.
Rupanya Mario hanya mencari jawaban dari sangkalan yang dikatakan gadis itu. Kini mau berkelit seperti apa lagi kamu Diana?
"Itu namanya kaget. Kamu tiba-tiba narik tangan aku sambil melotot. Siapapun pasti langsung berdebar."
Diana menyembunyikan telapak tangannya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sedang menyembunyikan detak debaran yang memang benar seperti hipotesa pemuda itu, dan karena.. yah, tatapan itu membuat jantung Diana kalang kabut.
"Masa sih? Kamu kira aku percaya?" Ucap Mario menggodai sambil terus menatap ke arah gadis yang sudah mulai salah tingkah itu.
"Sial!" Batin Diana dengan pipi yang mulai bersemu.
"Kalau kamu suka sama aku, kenapa kamu gak mau jadi pacar aku?" Mario seolah tak habis ide untuk menggodai gadis itu. Semakin Diana menyangkal perasaannya, Mario seperti semakin tertantang dan penasaran dibuatnya.
"Sepenting itu status pacar buat kamu? Kenapa kamu gak biarin aja aku suka sama kamu seperti fans kamu yang lainnya?" Jawab Diana tanpa berani memandang pada lawan bicaranya.
"Coba ulangi lagi kalimat yang di tengah tadi.."
Diana mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pemuda satu ini benar-benar pandai bersilat lidah, membolak-balikkan kata, hingga terucap sudah jawaban yang seperti ia harapkan. Pengakuan perasaan Diana.
Merasa mulai kesal dengan situasi, Diana berbalik menatap tajam pemuda yang tersenyum manis ke arahnya. Tidak, itu bukan senyum manis, tapi senyum licik penuh kemenangan.
"Ya, aku suka sama kamu!" Ucap Diana begitu tegas.
"Jadi, kita jadian?" Tanya Mario dengan wajah sumringahnya. Pikirannya sudah melayang menari-nari di atas awan.
"Enggak!"
Gubraaak!!!
Mario seperti terpelanting mendengar jawaban spontan Diana.
"Kenapa Di?"
"Banyak yang juga suka sama kamu, dan kamu tau itu. Mungkin aku hanya satu bagian dari mereka. Jadi tidak penting status jadian. Ya kan?"
Mario menghela napas panjang. Seorang gadis berkepala batu dengan pendirian yang begitu kokoh. Kadang Mario juga merasa heran pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus jatuh hati pada gadis yang sulit sekali untuk didekati dan berkompromi?
Tapi Mario, pergerakan kamu sudah sejauh ini!
"Satu, kamu berbeda dari mereka. Dan apa yang kamu rasakan, aku yakin betul itu berbeda dengan mereka. Dua, karena aku gak mau dan gak rela kalau ada cowok lain yang berani deketin kamu. Jadi buat aku, status itu sangat penting. Itu seperti teritorial yang membatasi cowok lain yang mau deketin kamu, harus melangkahi aku dulu."
Sepertinya pembicaraan mereka semakin serius.
Diana tak bisa lagu memberikan kata-kata balasan untuk pernyataan Mario. Otaknya berusaha mencerna tiap kata yang sejujurnya telah melelehkan kekerasan hatinya.
"Ketika aku pergi nanti, mereka yang mengagumi aku akan merasa sedih dan kehilangan. Namun itu tidak akan berlangsung lama. Tapi kamu, hal itu akan mempengaruhi hidup kamu. Kamu pasti kangen terus sama aku.." Mario menaik turunkan alisnya dengan senyum jahilnya.
Diana yang mulai tampak melumer kembali cemberut kesal. Ia tidak suka diingatkan mengenai perpisahan.
"Gak apa kalau kamu nolak aku sekarang. Toh beberapa hari lagi kita pasti jadian. Masih ingat sama taruhan kita kan?"
Ah, taruhan itu. Mario begitu percaya diri bahwa nilainya akan lebih unggul. Ia seperti sudah siap dan pasti mengibarkan bendera kemenangan.
"Jangan terlalu percaya diri dulu Mario.. Aku juga belajar mati-matian untuk ujian akhir kemarin." Diana seperti tak mau kalah.
"Kalau sampai aku menang, kamu harus membayar mahal untuk satu permintaan aku." Ucap Diana sambil menyentil hidung Mario.
"Aw,," Mario mengusap hidungnya yang terasa sakit.
Melihat pemuda itu mulai kesal, tawa Diana semakin jadi. Sebelum sempat Mario membalas keisengan Diana, gadis itu buru-buru pergi menembus gerimis tipis dengan hawa dingin sisa hujan yang masih begitu terasa di kulit.
"Heh! Jangan kabur kamu!" Ucap Mario sambil cepat-cepat menyusul langkah gadis itu.
Keseruan masa muda dua anak manusia itu akan menjadi sejarah yang tak akan mereka lupakan sampai nantinya.
Debaran rasa, kebahagiaan, kekonyolan, luapan emosi, ah.. memang benar kata H.Rhoma Irama, masa muda adalah masa yang berapi-api.
Diana, Mario, nikmatilah masa-masa itu.
Di balik kaca jendela, seseorang hanya mampu tersenyum sembari memperhatikan dari belakang dua remaja itu berdebat perkara rasa. Seolah memutar memori masa mudanya, ia terus terhanyut dalam drama siaran langsung yang berada di hadapannya. Terus menonton tanpa berkomentar.
"Lucunya mereka.." Begitulah batinnya.
Sang guru vocal.
Beliau masih di sana.
***
Author's cuap..
Hahahaaaa ada penonton rahasia tuh..
Ketahuan deh..