Titip Salam

Titip Salam
Kunjungan Perawat



#67


Kunjungan Perawat


Dua orang gadis tampak memasuki sebuah rumah di sebuah kawasan perumahan Kota Gresik. Pintu pagar dan pintu utama yang terbuka lebar membuat mereka dapat leluasa masuk tanpa permisi pada si empunya rumah.


"Eyaaaang.." Teriak mereka kompak membuat gaduh seisi rumah pagi-pagi.


"Aduh, cucu Eyang pagi-pagi sudah berisik sekali. Sudah sarapan?" Sapa sang Eyang Siti dengan suara sepuhnya.


"Sudah Eyang, tapi mau sarapan lagi kalau boleh." Ucap Tania dengan suara cempreng khasnya.


"Hmm.. Gak boleh! Nanti udang asam manis Eyang kamu habiskan." Canda Eyang.


"Wah, udang asam manis." Ucap Tania segera berlari menuju meja makan.


"Tania, jangan kebiasan gak sopan gitu." Teriak Mila, sang Mama memperingati anak bungsunya itu.


"Biar aja Mil, kayak di rumah orang lain aja."


"Adek kebiasaan sih Eyang. Iya kalau dirumah orang bisa malu-maluin." Ucap Diana mengolok adiknya. Namun sebelas-dua belas dia pun berjalan mendekati meja makan menyusul adiknya itu setelah bersalaman dengan Eyang sebelumnya.


Mila berjalan mendekati Ibu mertuanya itu, dan bersalaman mencium punggung tangan perempuan sepuh itu.


"Gimana kabar ibu? Mbak Tatik kemana Bu?" Ucap Mama Mila menanyakan keberadaan kakak iparnya yang tinggal satu rumah dengan Eyang Siti.


"Syukurlah sekarang sudah lebih sehat. Mbakmu ke pasar dari pagi. Belanja keperluan catering." Ucap Eyang sambil menerima buah tangan dari menantunya.


"Mana Arman? Kok gak ikut?" Tanya Eyang menanyakan anak laki-lakinya sekaligus suami Mila.


"Mas Arman pergi mancing sama teman-temannya dari pagi buta tadi Bu." Jawab Mila setengah mengaduh pada mertuanya.


"Kebiasaan dia itu. Nengokin ibunya seminggu sekali saja susah sekali." Gerutu sang Eyang Siti yang mungkin merindukan anak lelakinya itu.


"Nanti malam biar saya suruh mampir Bu," Ucap Mila menghibur ibu mertuanya yang nampak kesal.


"Permisi, Bu Siti.." Seseorang melongokkan kepalanya di daun pintu yang terbuka.


"Eh, nak Suster. Mari masuk.." Ucap Eyang Siti menyambut tamunya itu.


"Maaf ya pagi-pagi sudah kesini. Saya sekalian mau berangkat ke rumah sakit." Ucap perempuan yang seusia Mila itu dengan sopan dan ramah.


"Gak apa-apa. Malah saya yang minta maaf ngerepotin Nak Suster terus."


"Gak masalah Bu, sudah tugas saya."


Perawat tersebut mulai melakukan cek rutinnya pada Eyang Siti.


"Tensinya sudah bagus ya Bu, pola makan dan istirahatnya tetap di jaga ya Bu. Gak ada keluhan apa-apa kan?" Ucap Perawat tersebut sembari membereskan peralatannya.


"Gak ada keluhan apapun kok Syukurlah, terimakasih ya Nak,"


"Minum dulu Mbak Suster.." Ucap Mila yang membawa nampan berisi segelas teh hangat.


"Aduh, kok pakai repot-repot."


"Gak repot kok mbak," Balas Mila.


Tring ting tring ting..


Dering hape milik perawat tersebut memecah kebasa-basian para perempuan yang saling bercengkrama tersebut.


"Sebentar ya Bu," Ijin perawat tersebut untuk mengangkat teleponnya.


"Halo,-- Minta tolong bawa kesini bisa?-- Rumah Bu Siti di blok sebelah,-- Iya, mama tunggu.." dan telepon pun ditutup.


"Anaknya?" Tanya Eyang Siti membuka kembali pembicaraan.


"Iya Bu, Barang saya ada yang ketinggalan, jadi saya numpang nunggu dia sekalian aja di sini ya Bu?"


"Loh gitu aja pakai minta ijin, Nak Suster mau nginep sekalian juga boleh. Malah seneng rumahnya rame." Jawab Euang Siti membuat tawa renyah perawat itu.


Diana yang sebelumnya berada di ruang makan bersama Tania, meninggalkan adiknya sendirian di sana, dan berjalan menghampiri Mila, mamanya.


Melihat ada tamu, dirinya pun bersalaman dengan mencium punggung tangan Perawat tersebut sebelum mengambil duduk di samping mamanya.


"Ayok Ma, berangkat sekarang aja." Ucap Diana.


"Iya, sebentar lagi lah Di, masih jam berapa ini?" Jawab mamanya.


"Loh ini anak Mbak Mila juga? Kirain cuma Tania anaknya." Ucap perawat tersebut ketika mendengar Diana memanggil Mila dengan sebutan mama.


"Oh gitu. Sudah kelas berapa?" Tanya perawat tersebut pada Diana.


"Kelas tiga Tante Suster," Jawab Diana ramah penuh dengan senyuman.


"Sama dong kayak anak Tante. Kamu sekolah dimana?"


"Di SMP 15 Tante,"


"Oh SMP 15.."


"Kamu mau kemana? Habis makan langsung mau pergi aja." Kali ini Eyang Siti yang bersuara dengan candaannya.


"Aku ada undangan dari Bapak Bupati di GOR Eyang.." Jawab Diana sambil sedikit manyun menerima candaan dari Eyangnya itu.


"Hebat sekali kamu bisa diundang Bapak Bupati. Emang ada acara apa?" Tanya Eyang yang memang belum tau kabar tentang prestasi cucunya itu.


"Diana kan menang lomba silat Eyang. Emangnya Eyang belum tau ya?" Jawab Diana.


"Iya bu, Minggu kemarin Diana ada lomba beladiri se-kabupaten. Beruntungnya Diana menang dan masuk koran loh Bu," Lanjut Mila.


"Mama nih, kok beruntung sih? Aku tuh latihan keras. Menangnya bukan keberuntungan." Ucap Diana kesal.


"Iya, iya, gak usah manyun gitu. Gak malu ada Tante Suster."


Mereka semua pun tertawa bersama, yah kecuali Diana.


"Hebat banget loh, perempuan tapi jago beladiri. Anak Tante juga kebetulan dapet undangan yang sama. Apa mau bareng anak tante aja? Biar mamanya gak usah bolak balik nganterinnya." Ucap Perawat tersebut.


"Aduh, apa gak ngerepotin Mbak?" Ucap Sang Mama yang nampak hepi anaknya mendapat tumpangan.


Diana menyenggol lengan Mamanya. "Mama nih, aku kan gak kenal anak Tante Suster. Gak mau ah!" Ucap Diana sedikit berbisik namun samar-samar masih dapat didengar oleh semua orang di sana.


"Gak apa kok Mbak. Anak Tante baik kok, kamu gak usah khawatir Diana. Santai aja, itung-itung nambah teman kan?" Ucap sang Perawat.


"Nah, tu.. Gak apa-apa lah Di. Mama capek juga mondar mandir di jalan." Ucap Mama Mila sedikit memaksa anaknya.


"Aduh, mau berangkat aja pakai ngeyel-ngeyelan. Udah bareng anak Nak Suster aja. Eyang tau kok anaknya baik, ramah, ganteng pula." Ucap Eyang Siti diiringi tawa renyah menggodai cucunya itu.


"Eyang ini, kompak sama mama." Diana semakin memanyunkan bibirnya.


"Ganteng? Berarti cowok dong? Waduh, kalau Ayah tau bisa disidang lagi nanti." Batin Diana.


Terdengar suara mesin motor menderu dari arah luar.


"Itu kayaknya dia datang." Ucap sang Perawat yang mengenali suara motor anaknya.


Benar saja, tak lama kemudian..


Tok.. tok..


"Permisi.." Suara seseorang dari balik pintu yang sebetulnya masih terbuka lebar.


"Langsung masuk saja nak," Ucap Eyang Siti mempersilahkan tamunya masuk.


Seorang pemuda berperawakan jangkung masuk dan langsung menyalami seluruh orang yang berada di ruang tamu.


Perilaku sopan santun yang ia tunjukkan dengan merendahkan diri, mencium punggung tangan pada orang yang lebih tua, merupakan tabiat baik yang nampaknya telah ditanamkan padanya sejak kecil.


Pemuda itu lantas langsung mencium punggung tangan Eyang Siti, selanjutnya punggung tangan Mila, dan punggung tangan terakhir..


"Eh," Diana langsung menarik telapak tangannya sebelum hidung mancung pemuda itu hampir menyentuhnya, membuat pemuda itu terkejut dan sontak mendongak menatap sang pemilik tangan yang hampir ia cium.


"Lho? Diana?" Ucap pemuda tersebut dengan ekspresi wajah yang benar-benar terkejut.


Wajah Diana lagsung tertunduk merona malu-malu sambil menggenggam tangannya. "Hampir aja." Batinnya.


...


Author's cuap:


Tebak-tebak buah manggis..


(cakep)


Pemuda itu siapa hayo..


(Pantunnya kagak nyambung Thor..)