
#38
"Stefi? Kenapa dia?" Tanya Rida pada Zahra.
Diana menunjukkan rasa cemas. Jangan sampai apa yang dia khawatirkan menjadi nyata.
Zahra menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan suara yang pelan. "Si Stefi, dua potong rambut."
Gubrak!
Entah harus senang atau malah kesal mendengar perkataan Zahra. Ekspresi Zahra yang berlebihan membuat Diana sudah khawatir dan berpikir terlalu jauh.
"Sialan kamu Za, kirain kenapa." Celetuk Rida sambil menoyor pundak Zahra.
"Tauk nih, udah mikir yang enggak-enggak kan jadinya." Ucap Diana.
"Emang kalian mikir apaan?" Ucap Zahra tanpa rasa bersalah.
Mendadak suasana menjadi senyap. Semua hanya saling pandang tidak ada yang menjawab pertanyaan Zahra. Sepertinya mereka semua memiliki pemikiran yang sama dan dengan hanya saling pandang seolah sepakat tidak usah mengatakan apapun tentang prasangka mereka.
"Emang apa hebatnya? Cuma potong rambut aja heboh banget sih." Silvi yang tidak begitu akrab dengan Zahra pun ikut kesal dibuatnya.
"Bukan masalah potong rambutnya. Tapi model rambutnya sekarang dipotong sebahu persis banget kayak model rambut Diana." Ucap Zahra yang masih terkesan penuh kehebohan.
"Yah emangnya kenapa? Toh model rambut sebahu gini kan emang pasaran Za. Bukan aku doang." Sahut Diana.
"Kok kamu gak mikir itu aneh sih Di? Tadi aja aku ngira kalau itu kamu."
"Aneh sih itu. Secara rambut panjangnya kan terawat dan bagus banget. Kayaknya sayang banget kalau dipangkas sampai sebahu." Lanjut Hera menimpali.
"Maksud kamu Stefi sengaja potong rambutnya biar mirip kayak Diana?" Tanya Silvi memperjelas yang ditanggapi anggukan oleh Zahra.
"Wah, sakit jiwa tuh anak. Segitunya buat menarik perhatian Mario." Timpal Rida.
"Gimana sih? Apa hubungannya Stefi potong rambut sama menarik perhatian Mario?" Diana masih bingung dengan alur bahasan teman-temannya.
Empat orang dengan kompak menepuk jidatnya.
"Gini maksudnya Di, kan si Stefi naksir sama Mario. Nah, sementara gosip yang beredar Mario itu naksirnya sama kamu. Jadi Stefi itu berusaha memirip-miripkan dirinya sama kamu buat menarik perhatian Mario. Gitu.."
Mulut Diana mulai membulat.
"Terus? Ada respon dari Mario gak?" Tanya Rida lanjut.
"Belum tau juga sih." Sebetulnya Zahra melihat Mario di kantin. Tapi Mario tampak biasa saja. Entah karena cuek atau Mario memang belum.menyadarinya.
"Jadi sebenernya kamu sama Mario itu gimana sih Di?" Tanya Silvi.
"Ya gak gimana-gimana. Emang gak ada apa-apa."
"Gak ada apa-apa kok sampai ngasi hadiah segala." Sahut Hera.
"Eh iya, isinya apaan Di?" Tanya Rida yang tiba-tiba teringan akan bingkisan dari Mario.
"Emm apa ya? Belum aku buka." Jawab Diana berbohong.
"Gak mungkin."
"Bohong kan.. Bilang aja gak mau kasih tau kita."
"Beneran. Aku juga lupa keselip dimana." Elak Diana
Begitulah jawaban Diana yang disambut wajah-wajah kesal campur kecewa dari teman-temannya.
...
Hera duduk sendirian di selasar depan ruang guru. Dia sedang menunggu ibu Rahayu, guru Bahasa Indonesia yang khusus memanggilnya sepulang sekolah.
Teman-teman Hera bermaksud baik untuk menungguinya. Tapi Hera menolak karena tidak enak.
"Kamu nungguin bu Rahayu juga?" Tanya seseorang yang tiba-tiba bergbung di sebelah Hera.
Hera menoleh menatap sumber suara dan "Oh my God-" Batin Hera.
Mata Hera membulat sempurna dengan mulut yang reflek menganga.
"I-iya.." Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
"Waduh, aku langsung ke lapangan belakang aja deh kalau gitu. Gak enak jadi obat nyamuk." Ucap seseorang lagi di sana.
Mereka adalah Mario dan Abdul.
"Mana aku tau kalau ada Hera doang. Kirain rame-rame." Ucap Mario.
Hera menyunggingkan senyum memahami apa yang mungkin dicari Mario.
"Kamu nyari Diana?" Tanya Hera sambil menahan tertawa.
Mario mengerutkan kening lalu terkekeh pelan. "Dih, sok tau banget kamu." Ucap Mario.
"Halah, pake ngeles segala. Lagakmu Mar.." Ledek Abdul.
"Jadi gosip itu beneran?" Tanya Hera. Hera jadi ikut penasaran ingin mengetahui jawaban dari mulut Mario sendiri.
"Semoga aja bener ya.." Jawab Mario sambil berlalu pergi.
Mulut Hera menganga lebar mengucap "Waaah..." Ternyata benar Mario tidak menepis gosip itu sedikitpun. Hera mulai berpikir Mario sungguh ada hati dengan sahabatnya.
"Kamu suka juga ya, sama Mario?"
"Eh," Sontak Hera berbalik menoleh seseorang yang tak jauh disampingnya.
"Ngeliatin sampe khatam gitu." Lanjut Abdul sambil terkekeh pelan.
"Enggak kok, aku gak suka sama Mario." Jawab Hera dengan cepat-cepat. "Aku mungkin sukanya sama kamu." Batin Hera.
"Masak sih? Mario kan ganteng, keren, jago main bola." Ucap Abdul.
Hera mendengus kesal. "Apa sih maksudnya nanya-nanya kayak gitu?" Batin Hera.
"Enggak lah.. Biasa aja tuh." Begitu jawab Hera.
"Kalau aku gimana?"
Auw, auw, auw...
Hera terbelalak mendengar pertanyaan Abdul. Matanya membulat sempurna. Dia berusaha keras mengatupkan bibirnya agar tidak sampai mengeluarkan jawaban spontan yang jujur dan konyol.
"Hehehe.. Becanda Her.. Muka kamu tegang banget." Abdul cekikikan setelahnya.
Hera menunduk menutupi pipinya yang menghangat. Wajahnya pasti sudah merona sekarang.
"Maaf sudah menunggu lama." Seseorang datang dan mencairkan kecanggungan Hera.
"Tidak apa-apa bu,"
"Langsung saja ya, setelah saya baca hasil tulisan kalian di tugas kemarin, saya berencana memnjadikan kalian satu kelompok dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat SMP." Terang bu Rahayu.
"Satu kelompok?" Hera sedikit tersentak. Perasaannya campur aduk.
"Kenapa? Hera keberatan?" Tanya bu Rahayu.
"Oh, enggak kok bu. Saya tidak keberatan." Hera jadi salah tingkah. Apalagi Abdul tiba-tiba ikut memelototinya tadi.
"Oke, Hera setuju. Abdul?" Bu Rahayu melirik kepada Abdul.
"Saya juga setuju."
"Baiklah, jadi begini konsepnya.. (lalala yeyeye)"
Bu Rahayu menjelaskan konsep pilihan untuk karya tulis yang akan dikerjakan. Hera dan Abdul nampak serius mendengarkan.
Tapi, sebetulnya Hera dengan pandangan pada bu Rahayu, namun pikirannya tidak sedang disana. Pikirannya sedang menari-nari bahagia. Dia sudah membayangkan akan menghabiskan banyak waktu dengan pemuda di sampingnya itu.
"Nanti aku mau buatkan kue kalau kita akan kerja kelompok. Aku mau pakai parfum yang wangi juga. Sepertinya aku juga harus beli lipbalm biar bibir aku gak keliatan kering. Aduh, apa lagi ya.." Begitu yang dibayangkan Hera.
Sementara di sudut sana ada sepadang mata mengintip sambil tersenyum.
"Oh, pantesan kita disuruh balik duluan. Taunya ada ketemuan sama Abdul. Hihihi.. awas saja besok ya Hera.." Gumam seseorang itu yang kemudian menghilang dibalik pintu.
...
Author's cuap:
Asik banget ya Hera.. one step closer nih..
Suka gak?
Klo suka like nya dong..
Terimakasih.