Titip Salam

Titip Salam
Ingin Mencoba Hasilnya



#128


Ingin Mencoba Hasilnya


Mushroom rock adalah sebuah fenomena alam dimana batu terkikis oleh angin yang akan membawa dan membuang material-material kecil dari batu tersebut. Salah satu fenomena alam ini salah satunya terdapat di wilayah Kota Gresik. Sebuah bekas tambang batu kapur yang telah ditinggalkan ini, kini menjadi salah satu tempat wisata yang nge-hits dan banyak dikunjungi di kota Gresik.


Di sinilah Mario dan Diana saat ini. Mereka menghabiskan waktu bersama menikmati pemandangan bebatuan dengan angin semilir yang menerbangkan serbuk bunga, menambah harmoni dalam canda tawa dua anak muda yang berstatus pacar. Beberapa gambar mereka abadikan sebagai sebuah kenangan bahwa pernah ada sebuah hari di mana Mario dan Diana untuk pertama kalinya resmi berkencan dengan status pacar, meskipun awalnya semua ini dapat terjadi karena settingan.


Semakin mengenal lebih dekat dengan Diana, Mario seolah dibuat semakin penasaran untuk mengulik apapun tentang gadis unik yang penuh misteri ini. Seorang gadis pemberani yang selalu berdiri tegap pada setiap tantangan dihadapannya namun ternyata memiliki sisi penakut pada sesuatu yang menyeramkan. Penampilannya yang apa adanya dan terkesan cuek namun ternyata memiliki sis feminim ketika tersenyum malu-malu. Apalagi ketika Mario melihat apa yang dilakukan gadis itu saat ini. Mario bahkan sampai tak berkedip memperhatikannya.


Diana mengeluarkan benda seukuran jari telunjuk dari dalam tas selempang mungilnya. Itu adalah sebuah pelembab bibir. Sebuah benda yang bahkan Mario tidak pernah membayangkan gadis pendekar tangguh dan galak seperti Diana memiliki benda sakral ala gadis manis?


Tanpa menaruh curiga pada tatapan heran Mario, Diana mengintip pada kaca spion motor Mario, membuka tutup pelembab bibir itu, memutar ujungnya sampai produknya itu sendiri muncul dari kemasannya, lalu memoleskan pelembab bibir itu pada bibirnya yang terasa kering karena udara yang cukup panas.


Mario yang masih bertengger di atas motornya, memeluk helmnya, dan tak habis tersenyum kala memperhatiak gadis itu beberapa kali mengatupkan bibirnya di depan kaca spion.


“Ayok jalan..” Ucap Diana setelah kegiatan memoles pelembab pada bibirnya.


“Itu apa?” Tanya Mario ketika Diana hendak menyimpan kembali pelembab bibirnya dalam tas.


“Oh, ini pelembab bibir pemberian Hera. Ternyata beneran bisa melembabkan, trus ada manis-manis strawberry. Aku jadi keterusan pakainya, hehehe..” Jawab Diana merasa tak ada keanehan di sana. Ia berpikir semua gadis mungkin memakainya.


“Emangnya beneran bisa melembabkan?”


“Aku kan tadi udah bilang kalau beneran bisa melembabkan bibir. Kamu mau coba?” Ucap Diana bermaksud menggodai Mario. Kalau sampai Mario sungguh tertarik mencobanya, ia pasti akan merekam momen dimana pemuda itu memoleskan benda itu nantinya. “Itu pasti akan sangat memalukan, xixixi” Batin Diana menyusun rencananya.


“Beneran boleh nyobain?”


Diana tampak berbinar mendengarnya. Ini saatnya ia bisa mengerjai pemuda itu nantinya. Apa yang ia bayangkan diotaknya benar-benar akan menjadi nyata.


“Nih,” Diana menyodorkan pelembab bibir itu pada


Mario dengan tangan kanannya, dan tangan kiri yang bersiap dengan kamera ponselnya. Ia sudah mulai diam-diam menekan mode kamera video agar langsung dapat menyorot wajah Mario yang memoles pelembab bibir nantinya. Sempurna!


Mario menyunggingkan senyumnya. Ia dapat membaca gerak gerik Diana yang menyembunyikan sebuah rencana jahat untuknya.


Mario tidak hanya menggenggam pelembab bibir itu, tapi menggenggam tangan yang menyerahkan benda itu sekaligus.


“Aku bukannya ingin mencoba produknya, aku ingin mencoba hasilnya. Apakah benda itu benar-benar bisa melembabkan?” Ucap Mario sambil mengecup-ngecupkan bibirnya.


Diana begidik ngeri. Ia menarik tangannya yang digenggam oleh Mario, dan berbalik mencengkeram tangan Mario dengan tangan yang tadinya ia gunakan untuk memegang ponsel yang sudah ia simpan sebelumnya. Sebuah cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat Mario mengernyit merasakan nyeri pada tangannya.


“Jangan coba-coba, Mario!” Ucap Diana dengan tatapan mengancam.


“Hehehe.. Bercanda sayang. Ayo jalan, kita naik ke bukit.”


Mario tau ia tidak akan bisa menembus pertahanan gadis itu. Hal itu yang membuat gadis sangat menarik dimatanya.


Mario berbalik menggenggam tangan yang mencengkeram tangannya, menggandengnya untuk bergerak menuju puncak bukit.


Sepanjang perjalanan Mario terus mengajak Diana berbincang dan bergurau hingga mood gadis itu kembali ceria lagi.


“Yank, coba kamu video-in aku. Aku mau ngomong sesuatu. Jangan di stop sebelum aku bilang selesai, okey?” Ucap Mario ketika mereka sampai di lokasi yang ereka tuju. Mario lantas menyerahkan hapenya pada Diana, lalu bergerak mundur sambil merapikan rambutnya.


“Oke, mulai ya.. Satu, dua, tiga!” Diana mengarahkan kamera pada Mario yang beberapa langkah didepannya sambil menahan tawa. Ia merasa geli dengan permintaan Mario ini.


Mario menghela nafas, dan memulai aksinya. “Hai, aku Mario. Aku ingin mengabadikan momen ini agar suatu saat aku bisa memutarnya kembali dan mengingat betapa indahnya hari ini.”


Diana terus berusaha menahan senyumnya mendengar tiap kata yang berisi uangkapan perasaan pemuda di hadapannya itu.


“Aku ingin seluruh dunia tau bahwa hari ini aku seneeeeng banget. Ini adalah salah satu hari terbaik di hidup aku. Aku diterima.”


Diana tak kuasa menahan senyum malu-malunya. Pipinya benar-benar merona karena pemuda dihadapannya itu tampak begitu bahagia.


"Emangnya aku bilang menerimanya tadi? Bukannya tadi dia sendiri yang memutuskan semuanya?" Batin Diana tanpa berkomentar apapun.


“Akhirnya cewek galak yang berani nendang perut aku malam itu, nonjok hidung aku sampai mimisan gara-gara aku mengecup keningnya, memukul kepala aku sampai cenut-cenut karena aku mengerjainya, berhasil aku taklukkan dan sekarang jadi pacar aku.”


“Rasanya aku ingin seluruh dunia tau kalau seorang Diana Shandy mulai hari ini telah menjadi pacar Mario Anggara, agar tidak ada lagi orang lain yang perlu capek-capek buat mendekati gadis yang bernama Diana Shandy, karena ia sudah tau dia harus menghadapi seorang Mario Anggara.”


“Diana, terimakasih sudah membalas perasaan ini.”


Diana merasa dadanya bergetar mendengar perkataan Mario. Dia merasa benar-benar menjadi gadis yang sangat istimewa saat ini. Ini benar-benar manis. Mata Diana terasa mengembun, air mata haru yang berusaha ia tahan.


"Kenapa dia harus sebahagia itu? Apa dia tidak berlebihan?" Gumam Diana yang hanya dapat didengar oleh Diana sendiri.


Terjadi kontak mata selama beberapa detik. Mario terus tersenyum melihat pipi gadis itu yang memerah. Ia juga dapat melihat mata gadis itu yang berkaca-kaca.


Ini saatnya mengakhiri aksinya.


Mario berbalik mengarah pada pemandangan luas. Diana masih terus mengarahkan kamera yang menangkap Mario dari sisi samping.


Ia melihat Mario merentangkan tangannya, menengadahkan kepalanya ke langit sambil memejamkan mata.


“Mau apa lagi dia? Udah selesai belum sih?” Batin Diana.


“DIANAAAA AKU SAYANG KAMUUUU..”


Diana membulatkan matanya dengan mulut menganga ketika melihat aksi Mario meneriakkan namanya dengan pengakuan perasaan sayangnya dengan begitu lantang di puncak Bukit Jamur. Sontak hal tersebut mengundang perhatian beberapa orang yang berada di sekitar mereka. Meskipun suasana di sana tak begitu padat, tapi tentu saja itu adalah hal paling norak yang layak untuk dijadikan bahan gunjingan.


"Apa dia sudah gila?" Pikir Diana yang masih terpaku pada posisinya.


“DIANAAAA AK-hhhmmppff...”


Diana sontak berlari membekap mulut Mario sebelum pemuda itu berteriak sekali lagi. Posisi sebelah tangan Diana yang memegang ponsel Mario memberikan posisi yang tidak menguntungkan. Diana harus membekap mulut Mario dengan tangannya yang bebas dari balik punggung pemuda itu yang justru membuat kesan bahwa Diana sedang memeluk pemuda itu dari belakang.


“Mario, kamu ngapain sih? Malu tau..” Diana membisikkan ucapannya di dekat telinga Mario.


Mario tak bergeming. Ia sedang menikmati momen ini. Ia sedang menikmati rasanya pelukan hangat yang begitu nyaman.


Ketika menyadari posisinya yang tampak sedang memeluk Mario, Diana sontak mundur satu langkah. Mario berbalik dan tersenyum senang. Apalagi ia sedang mendapati gadis itu merengut kesal dengan pipi merona.


“Nih, hape kamu.” Diana menyerahkan secara paksa ponsel milik Mario. Ia berbalik dan hendak berlari dari sana. Ia merasa sangat malu.


Grep,


Mario menarik pergelangan tangan Diana yang membuat Diana tertahan di sana. Dengan gerakan yang begitu cepat ia maju beberapa langkah dan menarik gadis itu dalam pelukannya.


Diana tak dapat berkata-kata ataupun berontak. Tubuhnya seolah membatu dengan debaran yang begitu dahsyat.


“Mar,” Gumamnya.


“Sebentar aja Di, sebentar saja.”


Tak peduli berapa banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian itu. Entah apakah ada bidikan kamera yang mengabadikan momen itu. Diana terhanyut beberapa saat dalam sebuah kenyamanan yang membuatnya merasa aman, tenang, dan bahagia.


“Tuhan, aku tau doa ini terlalu dini untuk seusiaku. Tapi bisakah aku memohon agar kau biarkan aku berjodoh saja dengannya Tuhan? Aku benar-benar merasa bahagia dengannya.” Gumam Mario dalam hati.


.


.


Author’s cuap:


Yakin gak kecepetan tuh doanya?


Masih banyak gadis cantik diluar sana loh Mar..


Misalnya, ehm.. si author contonya..


Hahahahaaaa


(Geli sendiri nulisnya..)