Titip Salam

Titip Salam
Bertemu Seorang yang Baru



#125


Bertemu Seorang yang Baru


Willy terpaku beberapa menit di depan sebuah kanvas besar yang tertempel di dinding. Sebuah lukisan dengan garis-garis lengkung tak beraturan berwarna hitam di kanvas putih. Karya seni memang begitu sulit dimengerti. Entah apa yang membuat lukisan yang hanya tampak berupa coretan anak-anak yang baru belajar memegang kuas ini layak di tempel di sebuah pameran seni ini.


Yah, memang Willy tak berbohong mengenai pergi ke pameran seni, karena ia memang berencana mengunjunginya hari ini. Ia benar-benar membolak balik jadwal kencannya dengan sesuatu yang dapat mengalihkan pikirannya dari sebuah kencan yang telah ia hibahkan pada sang pangeran di hati tuan putri pujaannya. Ia tak ingin terpuruk dalam kecemburuan dalam penyesalan akibat perbuatan yang ia buat sendiri.


Dia juga harus bersenang-senang bukan? Dan disinilah ia memilih untuk terdampar beberapa saat.


Willy berusaha menahan tawanya kala memperhatikan lukisan dihadapannya itu. Ia bahkan memotret lukisan itu dan akan menunjukkannya pada Diana nanti.


Setidaknya ia harus memberikan beberapa gambar pada Diana sebagai sedikit referensi bila ditanya mengenai jalan-jalan palsu mereka hari ini.


"Kekonyolan negeri ini memang patut ditertawakan." Seseorang tiba-tiba bersuara di samping Willy.


Seorang gadis berkulit sawo matang dan berambut panjang dikuncir ekor kuda sedang berdiri menatap lukisan yang sama dengan Willy.


"Kamu lama sekali memandang lukisan ini, kemudian tertawa. Kamu pasti sangat menyukai seni dan mengerti arti lukisan ini."


Willy hanya tersenyum kikuk mendengar pemikiran positif dari gadis itu. Kira-kira bagaimana reaksi gadis itu jika tau bahwa ia tertawa bukan karena mengerti arti lukisan itu, melainkan mencaci di dalam hati? Hahaha.. Dapat dipastikan Willy akan mendapat malu.


Grep,


Willy terkejut menatap pergelangan tangannya yang tiba-tiba ditarik oleh gadis asing itu.


"Ayo ikut aku!" Ucapnya tanpa kompromi langsung menyeret Willy untuk mengikutinya.


Mereka berdua berhenti di sebuah lukisan abstrak dengan perpaduan warna-warna yang cukup kontras.


"Bagaimana menurut kamu?" Tanya gadis asing itu dengan mata yang menunjukkan rasa penasaran akan jawaban dari Willy.


"Hah? Emm.. " Sontak Willy gelagapan dibuatnya. Ia memasang mimik wajah serius seolah berpikir keras sambil menatap lukisan di depannya.


Ia tidak hanya memutar otak untuk berusaha membaca lukisan dihadapannya, namun ia juga berkali-kali merutuki nasibnya yang terjebak dalam espektasi seorang gadis pada dirinya.


"Sial! Aku gak boleh terlihat bodoh di depan cewek!" Batin Willy.


Willy memperhatikan tiap guratan dan kombinasi warna yang tercipta. Samar-samar ia mulai menangkap warna dan garis itu bukanlah bentuk abstrak tak beraturan. Warna-warna itu bagai puzzle yang membentuk sebuah gambar tiga dimensi.


"Astaga, itu adalah gambar seorang perempuan." Ucap Willy spontan.


"Lalu?"


Willy terkagum dalam tiap goresan kuas dalam kombinasi warna yang ditorehkan pada bidang kanvas itu. Dalam warna yang abstrak itu bila diamati menyimpan detail yang begitu menakjubkan.


"Perempuan itu nampak lelah dari bentuk matanya yang layu dan punggungnya yang membungkuk. Tapi goresan lain seperti membentuk bibir yang tersenyum." Willy mendeskripsikan apa yang ditangkap oleh indera penglihatannya.


Gadis itu tersenyum senang mendengar Willy bercerita. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.


"Dia sedang tersenyum pada putrinya." Gadis itu menunjuk sudut kiri bagian bawah lukisan itu. Bila diamati, ada seorang gadis kecil sedang bersimpuh dan bersandar menggelayut di kaki seorang perempuan.


"Dia ibuku." Lanjutnya.


"Ibumu yang melukisnya?" Tanya Willy yang dijawab dengan anggukan perlahan dari gadis itu.


Willy menghembuskan nafas lega. Sepertinya apa yang ia katakan untuk mendeskripsikan lukisan itu cukup berhasil. Syukurlah bila cara pandangnya dapat memenuhi espektasi gadis itu. Apalagi itu adalah lukisan ibunya.


"Ibumu sangat luar biasa. Apa dia juga hadir sekarang? Aku ingin bisa berfoto dengannya. Dia pelukis yang sangat keren." Willy mengeluarkan ponselnya untuk memotret lukisan itu.


"Pergilah ke surga bila kau ingin berfoto dengannya."


Willy tertegun beberapa saat setelah mendengar jawaban gadis asing itu.


"Maaf," Ucap Willy menatap iba pada gadis yang nampak berkaca-kaca.


"Terimakasih karena sudah memberikan penilaian yang luar biasa untuk lukisan terakhir ibuku."


Willy tersenyum menyambut senyuman gadis itu. Gadis itu terlihat begitu bijaksana dari caranya berbicara di usianya yang terlihat masih muda.


"Aku Willy." Willy mengulurkan tangan lebih dulu untuk memulai suatu perkenalan.


"Aku Sofia." Gadis itu menyambut uluran tangan Willy dengan jabat tangan yang hangat.


"Sofia? Nama yang cantik." Ucap Willy kemudian. Ah, dimulai sudah caranya beramah tamah pada seorang gadis manis yang baru dikenalnya.


"Hanya namanya sajakah yang cantik?" Sofia yang ramah dan murah senyum itu seolah memberi umpan balik pada Willy yang sedang memancing peruntungannya.


"Maaf, aku tidak biasa memuji seseorang gadis yang baru aku kenal secara langsung."


Willy mengulurkan ponsel yang ia genggam sejak tadi pada gadis bernama Sofia itu.


"Aku biasa biasa memujinya melalui pesan atau panggilan telepon."


Sofia terkekeh mendengar penuturan Willy. Ia menerima ponsel itu dan mengetikkan sesuatu di sana.


"Aku tunggu pujiannya." Ucapnya sambil menyerahkan kembali ponsel itu pada pemiliknya.


"Yes!" Gumam Willy dalam senyumnya. Ia segera menyimpan deretan angka itu dalam kontak telepon di ponselnya.


"Sofia, ayo kita pulang. Kita bisa kesorean dan terlambat datang di acara sepupu kamu."


Seorang pria dewasa tiba-tiba datang dan menepuk lembut bahu Sofia. Pria itu juga tersenyum pada Willy yang kini sedang menatapnya.


"Iya Ayah," Ucap Sofia.


"Willy, sekali lagi terimakasih. Aku harus pulang duluan. Sampai jumpa lagi. " Gadis itu sedikit membungkukkan kepalanya lalu melambaikan tangan.


Willy menatap punggung gadis itu menjauh sambil menggelayut pada lengan sang Ayah.


Ah, Ayah.


"Papa kapan pulang ya?" Gumam Willy dalam hati.


Pemandangan Ayah dan anak itu membuatnya rindu pada papanya yang sedang mencari nafkah di luar kota. Meskipun ia tidak akan menggelayut manja seperti yang dilakukan gadis itu, setidaknya ia ingin bisa memeluk papanya.


Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat gadis itu memasuki mobil yang terparkir tepat di depan pintu utama gedung. Willy juga dapat melihat plat nomor mobil itu adalah plat nomor luar kota.


"Ah, bukan anak sini rupanya." Batin Willy. Ada sedikit rasa kecewa setelah mengetahui kemungkinan gadis itu tidak berasal dari kota ini.


"Tak apa lah, kan sudah ada nomor hapenya." Ucap Willy sambil membuka kembali kontak teleponnya dan menemukan nama Sofia di sana.


Willy menyimpan ponselnya dalam saku celananya.


"Akan aku hubungi nanti." Gumamnya sambil melanjutkan berkeliling.


.


.


Author's cuap:


Ciye Raden Willy Ardian,


Bisa aja nyepik* cewek..


(nyepik/sepik \= plesetan dari kata speak, yang arti aslinya berbicara namun plesetan ini membuat kata itu bermakna menggombali) Kalau kalian gak paham, ya udah terima aja lah ya.. Pokoknya di daerah aku ada istilah kayak gitu.


Hahaha..