
#90
Gak Jadi Adu Kumbang
Dua pemuda itu duduk berhadapan terpisah oleh meja kecil di teras rumah. Keduanya tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka saling diam dengan segala pemikiran mereka masing-masing entah apapun itu.
Diana yang bingung harus bagaimana menyambut tamu-tamu yang bagai kupu-kupu terbang hinggap tiba-tiba.
"Ah, kalian main catur aja dulu ya.. Aku bikinin minum dulu." Ucap Diana sambil mengeluarkan permainan catur yang tersimpan di bawah meja.
"Baik-baik ya main caturnya.. Hehehe.." Diana buru-buru kabur meninggalkan mereka berdua dalam ketegangan masing-masing.
Diana yang berjalan melewati ruang tamu menatap heran pada tamunya yang satu lagi tampak celingukan mengintip dari kaca jendela.
"Tante ngapain?"
Yang merasa terpanggil pun jadi tersentak kaget sambil cengengesan.
"Tante penasaran aja siapa yang datang. Teman kamu?" Tanya Mama Lina memastikan.
"Iya Tante, teman sekolah. Mau ambil barangnya yang aku pinjam. Sebentar ya Tante, saya mau buatkan minum dulu."
Kembali pada dua kumbang yang sedang dalam lingkaran arena tempur.
Willy mulai menata buah catur pada posisi siap memulai permainan.
"Aku sudah hampir dua minggu berlatih keras. Seharusnya tidak akan memalukan kalau hanya melawan Mario." Batin Willy dengan penuh percaya diri.
Mario nampak tenang dengan jemari yang menata tiap buah catur bagiannya. Ketenangan di wajahnya menunjukkan bahwa dirinya juga tidak begitu buruk dalam memainkan permainan yang mengasah otak ini.
"Kamu ngapain ke rumah Diana?" Ucap Willy memulai permainan. Pion yang semula berbaris rapi mulai berpindah pada petak yang lain.
"Emangnya kamu aja yang boleh bertamu ke rumah Diana?" Balas Mario sambil menggeser bidak catur miliknya.
Willy hanya tersenyum mendengar jawaban Mario. Dia tau pemuda di depannya itu tidak akan semudah itu menyerah dan mengaku kalah. Dapat dikatakan mereka memiliki skill yang seimbang.
"Skak!" Ucap Willy dengan senyum penuh percaya diri.
Mario tampak tenang dengan mata yang begitu fokus menatap posisi tiap buah catur yang sudah tak beraturan itu.
Kuda hitam Mario akhirnya bergerak maju. "Gak semudah itu, Ngek!" Ucap Mario dengan senyum yang sama.
"Skak!" Ucapnya kemudian.
Willy pun harus mengakui kemampuan Mario tidak boleh diremehkan. Yah, tentu saja tidak boleh diremehkan begitu saja. Mario sering memainkan permainan ini dengan teman-temannya di warung kopi. Hal tersebut membuat kemampuan permainan strategi dan kejelian Mario cukup terasah. Apalagi berita saembara papan catur dari Arman, Ayah Diana, sudah sampai ditelinganya, tentu Mario semakin merasa tertantang mencobanya.
"Serius amat mainnya. Nih minum dulu.." Ucap Diana membawakan minuman yang sama seperti yang ia suguhkan untuk Willy dan Mama Lina, jus alpukat.
"Loh kamu buatkan jus buat aku lagi?" Ucap Willy sambil menerima gelas baru miliknya.
"Gelas kamu kan udah kosong. Masak kamu ngeliatin Mario minum sendirian." Ucap Diana sambil menyeruput minuman miliknya.
"Iya, jus buatan kamu memang enak banget. Mau ditambah satu galon juga aku bakal habiskan."
Mario melengos saja mendengar ucapan Willy. "Receh banget sih.." Ucapnya.
"Wah, kalian ternyata bisa main catur beneran?" Ucap Diana melihat buah catur yang sudah tidak beraturan.
"Bisa dong.. Aku pingin banget tes skill catur aku lawan Ayah kamu." Ucap Mario.
"Hadiahnya menggiurkan. Xixixixi.." Lanjutnya sambil berbisik.
Diana langsung cemberut dengan pipi merona. "Sialan! Tau dari mana sih dia?" Batin Diana. Satu nama yang menjadi tersangka utama di benaknya. "Pasti semua berawal dari Hera."
Willy ikut menahan cekikikan. Dia tak hanya tertawa untuk Mario saja melainkan untuk dirinya sendiri pula.
Diana semakin manyun dan malu melihat dua pemuda itu kompak cekikikan. "Gara-gara Ayah nih pake godain Tania yang enggak-enggak. Tania sama Hera juga, punya mulut licin banget kayak tumpahan minyak. Jadi aku kan yang kena." Gerutu Diana dalam hati memaki setiap nama yang membuatnya terpojok pada keadaan ini.
"Kalian ini, tumben kompak banget!" Ucap Diana kesal melihat dua pemuda itu masih asik cekikikan sambil terus melanjutkan permainan catur mereka.
"Asal Kalian tau ya, Ayah aku cuma bercanda waktu ngomong kayak gitu. Itu cuma buat godain adik aku aja. Jadi gak usah dianggap serius lah.." Tutur Diana mencoba meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.
"Suka-suka kita lah nganggep itu serius atau enggak." Jawab Mario tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur di depannya.
"Lagian Ayah kamu gak menyangkalnya waktu itu." Lanjut Willy sambil menggerakkan bishop putih miliknya.
"Skak!" Ucapnya begitu menikmati permainan.
Diana merasa benar-benar geram. Ingin rasanya dia menjambak mengacak-acak rambut dua pemuda yang kompak menjengkelkan dihadapannya.
"Kalian kenapa sih, ngebet banget pingin jadi pacar aku?" Ucap Diana spontan saking geregetannya menahan cenut-cenut dihatinya.
Dua pemuda itu kompak melongo menatap Diana yang sudah memelototi mereka bergantian.
"Dih, ge er banget sih," Cibir Mario.
Wew,
Diana sontak semakin cemberut.
"Tauk nih, pede banget kamu." Lanjut Willy, dan dua pemuda tengil itu kompak tertawa.
Aarrgghhh...
Diana mencubit lengan kedua pemuda itu berbarengan.
"Aaaaww.." Ucap keduanya mengeluh kesakitan.
"Rasain!" Diana yang ngambek memilih langsung masuk ke dalam rumah.
Willy dan Mario saling pandang dan tertawa bersama.
"Parah kamu Ngek, ngambek tuh jadinya." Ucap Mario sambil terus cekikikan.
"Kamu duluan yang mulai." Lanjut Willy yang juga tertawa lepas.
Mama Lina yang sedari tadi mengintip dari balik kaca jendela jadi bingung melihat Diana yang masuk ke dalam rumah dengan bibir cemberut.
"Kenapa Di? Kok cemberut gitu?" Tanya Mama Lina heran. Pasalnya dia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan di luar.
"Mending aku nemenin tante aja di sini. Dari pada lama-lama sama mereka bikin makan hati." Ucap Diana meluapkan kekesalannya.
Mama Lina berusaha menahan tawanya. Dia berpikir dua pemuda itu akan saling bersitegang karena saling cemburu atau apapun itu. Yah, awalnya memang terlihat seperti itu. Tapi hasil akhirnya benar-benar membuat Lina tak habis pikir, karena justru kedua pemuda itu tampak kompak membuat Diana merengut kesal.
"Biarin aja Di, mereka lagi cari perhatian kamu." Ucap Lina.
"Cari perhatian apaan? Bikin kesel namanya itu." Ucap Diana yang masih cemberut.
"Udah, katanya sudah mau pulang. Paling bentar lagi sampai."
Dan benar saja, suara deru motor yang begitu familiar mulai terdengar dan merapat di pelataran rumah Diana.
"Eh, kok banyak motor parkir." Batin Mila mulai menurunkan belanjaannya.
"Wah, Ma.. motornya keren. Bagus, merah, gede lagi.. Motor siapa ya?" Ucap Tania yang baru pertama kali melihat motor Mario terparkir di sana.
"Eh, ada Mamanya Diana." Ucap Willy yang segera bangkit menyambut sang Ratu rumah itu.
Mario pun buru-buru ikut bangkit menyusul Willy.
"Saya bantu Tante.." Ucap Willy menawarkan diri untuk membawakan kardus belanjaan milik Mila, Mama Diana.
"Eh, ada nak Willy juga. Makasih ya.." Ucapnya yang memang sedang kerepotan dengan semua belanjaannya.
"Saya bantu juga Tante.." Ucap Mario sambil meraih kardus lainnya.
"Eh, ini siapa?" Tanya Mila yang belum pernah melihat Mario sebelumnya.
"Saya Mario Tante, teman sekolah Diana." Ucap Mario memperkenalkan diri.
"Oh, gitu. Wah, maaf Tante gak tau kalau banyak tamu. Ayo masuk.." Ajak Mila sambil membawa bungkusan kecil belanjaannya yang tersisa.
"Wah, ada kakak cakep. Ih, kakak cakepnya ada dua." Ucap Tania dengan begitu polosnya.
"Loh, Diananya mana?" Ucap Mila yang tidak melihat batang hidung putrinya.
"Ada di dalem Tante, sama Mama di ruang tamu." Ucap Willy yang berjalan mengekor di belakang Mila.
"Oh, gitu."
Setelah meletakkan kardus belanjaan pada tempat yang ditunjukkan oleh Mama Diana, mereka berdua kembali duduk di teras.
"Anak kecil tadi adiknya Diana?" Tanya Mario.
"Iya, anaknya kocak. Cobak aja kamu ajak ngobrol. Bentar lagi dia pasti kesini." Jawab Willy.
Dan benar saja, gadis kecil dengan wajah yang selalu riang gembira itu muncul dari dalam rumah.
"Kakak kakak cakep sebentar ya.. Mbak Diana masih nyari sesuatu di kamar."
Ucap Tania yang tanpa sungkan-sungkan menyapa dua pemuda itu.
"Kenalan dong, nama kamu siapa?" Ucap Mario pada gadis kecil itu.
"Tania kak," Jawabnya sangat ramah.
"Kalau kakak siapa? Pacarnya Mbak Diana juga?"
Deg,
Mario menatap Willy yang tampak senyum-senyum sambil kembali menjalankan permainan caturnya.
"Pacar?" Gumam Mario.
"Wah, Mbak Diana punya pacar dua. Aku aja baru punya satu. Enak banget mbak Diana." Ucap Tania. Yang ada dipikiran Tania, kini Diana memiliki dua orang pengawal yang bisa disuruh-suruh. Dia benar-benar melihat keberuntungan kakak perempuannya itu.
"Dua pacar yang sama-sama ganteng. Aduh, aku iri.. " Ucap Tania yang masih asik dengan pemikirannya.
Mario kembali terdiam sambil terus melanjutkan permainan mereka.
Willy menatap pemuda di depannya menampakkan raut wajah kesal.
Mario terkesan sangat labil. Emosinya mudah sekali terpancing dengan celotehan gadis polos itu. Moodnya naik turun selayaknya perempuan yang sedang PMS. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka tampak kompak dan tertawa bersama.
Yah, kini giliran Willy melanjutkan permainan. Willy berpikir sejenak, kemudian menyentuh queen putih miliknya,
"Skak Mat!" Ucapnya.
Mario menyandarkan punggungnya yang sedari tadi duduk tegak. Dia menghela nafas dengan kasar.
"Oke! Kali ini aku kalah!" Ucapnya.
"Mar, segala sesuatu kalau sudah menggunakan emosi akan mengalahkan akal sehat, dan tidak baik akhirnya." Ucap Willy yang ikut menyandarkan punggungnya.
Mario terdiam sambil menatap Willy yang tersenyum sekilas padanya. Senyum yang bukan cibiran ejekan atau hinaan. Senyum yang tulus seolah mengajak berteman.
"Mari bersaing secara sehat. Gak perlu ada pertikaian lagi. Aku akan terima apapun hasilnya nanti." Lanjut Willy.
Mario mulai mengerti kemana arah pembicaraan Willy. Sementara Tania hanya melongo tak mengerti maksud pembicaraan dua pemuda yang sama-sama ia panggil Kakak cakep itu.
Mario akhirnya menyunggingkan senyumnya, lalu mengulurkan tangannya.
"Aku minta maaf untuk kejadian malam itu. Ayo balapan sekali lagi Ngek," Ucapnya.
Willy membalas jabat tangan itu "Sorry, aku gak balapan Mar." Jawab Willy.
"Terakhir! Untuk yang terakhir kalinya."
Willy menatap perubahan wajah Mario. Wajah yang semula penuh percaya diri kini timbul guratan-guratan sendu di sana.
"Wah, kalian berdua keren banget. Kalian pasti mau bersaing ngerebutin Mbak Diana ya?" Ucap Tania berusaha menyimpulkan keadaan.
"Gak ada yang lagi saingan adik manis, apalagi rebutan." Ucap Mario sambil mencubit gemas pipi Tania.
"Ih, Kakak cakep genit. Main cubit-cubit aja.. Aku bilangin pacar aku nanti ya.."
Dan mereka pun tertawa sambil terus menggodai Tania dengan argumen-argumen lucunya.
Willy kembali menatap Mario dengan sejuta tanda tanya.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan Mario?" Batinnya.
...
Author's cuap:
Suka-suka kamu deh Tania..
Terserah deh menyimpulkannya gimana.
Eh, betewe, Willy ma Mario jd damai gak sih???