
#139
Lanjut atau tidak?
Sebuah tempat yang cukup sunyi, sangat cocok untuk menyendiri, tak banyak hiruk pikuk siswa, apalagi saat jam pelajaran berlangsung.
Yah, perpustakaan.
Bahkan sebulan sekali pun belum tentu Diana menginjakkan kakinya di sana.
Hanya ada satu petugas yang menjaga ruangan berukuran yang cukup besar namun penuh dengan rak buku. Apalagi bila jam sepi pengunjung seperti saat ini, petugas perpustakaan itu lebih sering menggunakan headset di telinga, dan acuh saja pada segelintir orang yang masuk.
Diana meringkuk dibangku ujung dengan buku yang tak begitu tebal ditangannya. Ia berusaha menghilang dari keramaian sembari menunggu panggilan untuk berkumpul di aula sekolah.
Diana mencoba hanyut dalam dunia fiksi yang ia genggam, berusaha meredam rasa kesal, dan melupakan rasa malu karena ledekan kawan-kawannya.
"Sepertinya aku berlebihan marahnya, tapi biarlah! Biar mereka tidak terbiasa meledek aku terus menerus."
Diana terus bersembunyi dalam sudut ruang perpustakaan. Ia lupa bahwa ketika masuk ruang perpustakaan, ia harus meninggalkan alas kakinya di rak sepatu dekat pintu masuk. Ah, cepat lambat persembunyian pasti ketahuan juga karena kau meninggalkan tanda jejak di sana.
...
"Hayooo senyam senyum..."
Suara yang mengejutkan sekaligus hentakan pada pundak seorang yang sangat familiar, benar-benar membuat Willy sampai hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Sialan! Salim..." Willy pun tak kuasa untuk tak menoyor balik pundak temannya yang cekikika itu.
"Santai dong bro.. Kamu ngapain mojok sendirian di sini?" Salim pun tak kuasa untuk tidak mengintip ponsel Willy yang masih menyala.
"Eitzz.. Chat sama cewek ya?"
"Apaan sih, ngintip-ngintip hape orang. Mau tau aja lu.." Willy segera menutup ponselnya begitu menyadari ada paparazi yang mengintai.
"Udah move on bang?" Ledek Salim pada kawannya yang beberapa hari belakangan tampak murung sebab patah hati.
"Udah dong... Patah hati gak usah lama-lama."
Entah apakah bibir itu berkata seirama dengan hatinya, Salim tetap turut berbahagia melihat kawannya dapat tersenyum kembali.
"Kenalin aku juga lah Ngek.. Kayaknya sosmed kamu banyak di follow cewek-cewek cantik deh. Bagi satu lah, yang satu ras sama aku." Salim berusaha kembali mengintip ponsel Willy yang berkedip kedip menunjukkan ada notifikasi baru di sana.
"Aduh, repot amat pakai acara sortir dulu dong.." Dan mereka tertawa bersama.
"Ngek, kamu gak ada pikiran buat move on ke Lala? Kayaknya dia masih ngarep banget deh sama kamu."
Willy terdiam sejenak mencerna perkataan Salim. Namun tak lama kemuadian, dengan mantap ia menjawab. "Gak!"
"Kenapa?"
"Lala gak akan bisa nerima kalau aku juga deket sama Diana."
Kini giliran Salim yang terdiam mencerna kata-kata Willy. "Sebentar... Gimana tadi?"
"Siapapun ntar yang aku pacarin, tetep harus bisa nerima prioritas aku adalah teman-teman aku. Salah satunya Diana."
Salim mengernyit heran. "Jadi kesimpulannya kamu masih ngarep sama Diana?"
Willy hanya mengedikkan bahunya. "Kita kan gak tau hari esok kayak gimana." Willy dapat mengatakannya tanpa beban. Dia merasa telah berdamai dengan keadaan. Tidak ada sesak yang menusuk didadanya mengingat patah hati pertamanya, lebih membuka hati pada orang-orang baru, untuk saat ini itu adalah hal yang sangat baik.
"Apapun itu, aku seneng sekarang kamu lebih manusiawi. Kalau dulu, hidup kamu cuma sekolah, basket, komik, paling bandel balapan. Kalau sekarang semakin berwarna ya.. Sudah berani ngomongin masalah pacar, ciye..."
Willy terdiam mencerna perkataan kawannya itu. Yah, benar, benar, dan benar yang Salim katakan. Ia bisa merasakan lebih banyak emosi dan ketertarikan pada hal-hal baru. Memiliki tingkat penasaran yang selalu ingin ia ketahui, dan entah apakah kebodohan atau pilihan yang tepat ketika dihadapkan pada sebuah pilihan.
"Apa ini artinya aku udah benar-benar sudah bukan bocah?" Bisik Willy dalam hati.
...
Panggilan untuk seluruh siswa kelas tiga untuk segera berkumpul di aula
Sepuluh menit berlalu setelah panggilan yang diumumkan dari pengeras suara sekolah.
Sebetulnya Diana merasa konyol pada dirinya sendiri. Pada siapa ia bersembunyi? Teman-temannya? Atau Mario? Entahlah, ia hanya merasa malu bertemu dengan semua orang seakan semua mata terasa menghakiminya.
Ketika dirasa suasana cukup aman, ia mulai melangkah keluar dan memasang kembali sepatu yang ia letakkan di rak depan pintu.
"Di,"
Suara panggilan yang datang bersamaan dengan sepasang sepatu yang begitu familiar tepat dihadapan matanya. Diana terpaku beberapa saat yang diiringi dengan irama detak jantung yang tak beraturan.
"Kenapa kamu sembunyi?"
Diana mendongakkan kepalanya menatap sosok yang sedang berdiri didepannya itu.
Sebetulnya tak perlu gadis itu berkata-kata, Mario sudah tau jawabannya. Wajah yang tampak panik dengan semburat merah yang mulai menampakkan diri di pipi gadis itu, Mario hanya sedang merayakan kemenangannya. Ia semakin yakin bahwa namanya sudah terukir cukup dalam di hati gadis itu.
"A.. Aku.. Aku gak sembunyi kok! Cuma cari ketenangan." Diana merasa tubuhnya bergetar. Bahkan tangannya sampai kesulitan membuat simpul pada tali sepatunya.
Melihat Diana yang salah tingkah, sampai nampak begitu jelas tangan gadis itu bergetar bahkan kesulitan memasang tali sepatunya, Mario pun turun berjongkok dan membantu gadis itu membuat simpul pada tali sepatunya.
Diana tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan saja Mario membantunya mengikat tali sepatu. Bahkan ia berusaha menyembunyukan tangannya yang masih mengalami tremor.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa tanganku bisa kesulitan mengikat tali sepatu?" Umpat Diana merutuki dirinya dalam hati.
"Sudah selesai." Mario mensejajarkan pandangannya pada gadis yang tengah terpaku menatapnya.
"Kamu jangan marah lagi ya, aku minta maaf karena aku, kamu jadi diledek habis-habisan sama teman-teman." Mario tak tau harus berkata apa karena gadis itu tak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun. Bukan Diana yang biasanya banyak berbicara. Mungkin meminta maaf jalan yang terbaik jika benar gadis sedang marah.
"Itu bukan salah kamu. Aku saja yang terlalu sensitif." Diana berusaha berdiri sembari mengibaskan debu di roknya.
"Kaki kamu masih sakit?"
Mendengar pertanyaan itu, Diana langsung menutupi luka yang sudah berbalut perban dengan telapak tangannya. Ia tidak ingin tragedi Mario yang mendadak pingsan terulang kembali.
"Jangan pingsan lagi Mario. Sudah cukup drama tadi pagi."
Mereka berjalan beriringan menuju aula. Keduanya tak banyak berkata. Terutama Diana. Ia terlihat sangat berhati-hati, atau sedang menutupi jantungnya yang berdetak tak karuan saat ini?
"Apa kamu merasa terbebani dengan taruhan kita?"
Kini Diana yang rasanya ingin pingsan saja. Belum selesai ia berperang melawan entah apa yang terjadi pada dirinya, sekarang harus membahas tentang taruhan? Kenapa aula sekolah terasa begitu jauh?
"Apa kamu mau kita batalkan saja?"
Diana menghentikan langkahnya secara tiba-tiba sampai membuat Mario yang tertinggal beberapa langkah di belakang hampir menabraknya.
Gadis itu berbalik yang sontak membuat Mario terkejut dan mundur selangkah karena jarak mereka yang begitu dekat.
"Kamu serius mau taruhan kita batal?" Tiba-tiba wajah Diana menjadi berbinar. Ia tidak menyangka pemuda itu membatalkan taruhan yang sejujurnya ia menyesal telah menyetujuinya. Ia termakan jebakan perang kata-kata dengan pemuda itu. Dan kini pemuda itu ingin membatalkannya?
Ada busur kecil tersungging di bibir pemuda itu. "Batal? Yang benar saja.." Gumamnya dalam hati.
"Jika semua ini membebani kamu, bukankah lebih baik dibatalkan saja? Aku tidak mau kalau nanti kamu mau jadi pacar aku karena terpaksa."
Wajah berbinar itu berganti menjadi kerutan kening dan tatapan heran. "Maksud kamu?"
"Aku sangat yakin akan menang. Aku yakin nilai ujianku akan lebih bagus dari nilai kamu. Kamu pasti kalah Di.." Kini Mario mulai kembali pada mode menyebalkan seperti biasanya.
Diana mulai terpancing dengan kesombongan pemuda di depannya itu. Ia merasa tak terima diremehkan begitu saja.
"Kau jangan terlalu percaya diri Mario. Aku gak mungkin kalah."
"Kalau begitu kenapa harus dibatalkan kalau kau sangat percaya diri? Aku kira kamu cuma takut?" Mario berusaha menyembunyikan senyumnya. Gadis itu masuk dalam perangkapnya.
"Oke! Tidak ada pembatalan kesepakatan! Aku gak takut!" Diana berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Mario dengan senyum kemenangannya.
"Kamu sendiri yang minta ya Di.."
Ah, Diana.. Kau mudah sekali terjebak.