
#84
The Show
Beberapa hari di minggu terakhir semester pertama diisi dengan ujian semester susulan atau ujian mengulang bagi yang nilai ujiannya dibawah standar minimal. Kegiatan lain yang cukup menyibukkan adalah persiapan kegiatan PENSI yang berlangsung satu hari sebelum pembagian rapor semester.
Dan tibalah hari itu..
Diana yang mendapatkan peran utama pada drama yang akan ditampilkan mewakili kelasnya sudah bersiap dengan setelan kebaya putih dan bawahan kain batik yang melilit kakinya. Diana yang tidak terbiasa mengenakan jarik batik seperti itu sampai harus berjinjit ketika berjalan.
Yah, Diana memerankan tokoh bawang putih.
Konsep drama yang diusung oleh kelas Diana adalah drama komedi yang menggunakan dubbing. Lakon hanya akan memainkan peran berdasarkan dialog dari sang pengisi suara. Mirip seperti wayang orang.
Konsep tersebut dipilih untuk mencegah adanya lupa dialog oleh pemain mengingat waktu persiapan yang cukup singkat sekaligus dapat menambah pastisipan yang lebih banyak.
Zahra dengan sukarela menyerahkan diri untuk mengisi suara peran yang dilakoni Diana. Selama latihan saja, Zahra sering bercanda dengan mengganti isi dialog sesuka hati, namun hal tersebut membuat ceritanya semakin kocak. Kira-kira bagaimana nanti ketika dipanggung ya?
"Zah, nanti yang bener ya baca dialognya. Jangan bikin malu aku diatas panggung." Ucap Diana memperingati.
"Iya, iya, Di. Sedikit improvisasi biar makin seru gak apa lah.." Jawab Zahra sambil cekikikan.
"Udah gak usah aneh-aneh! Ikutin yang ditulis aja.Kalau macem-macem nih.." Ucap Diana menegaskan sambil menunjukkan kepalan tangan di depan wajah Zahra.
"Ya ampun Di, tega banget sama teman sendiri. Tenang aja, aku gak bakal bikin malu kamu kok. Kita kan sahabat sehati." Ucao Zahra menepuk pundak Diana.
"Woi, ayo siap-siap. Bentar lagi giliran kita." Rizki sang Ketua kelas memberi informasi agar teman-teman yang terlibat dalam pementasan untuk bersiap-siap di belakang panggung.
Dan pementasan pun dimulai..
Semua adegan berjalan dengan lancar. Bawang putih yang teraniaya, bertemu ikan emas ajaib, lalu ikan itu dimasak oleh sang ibu sambung dengan saudara sambungnya yang kejam, dan terus berlanjut selayaknya kisah bawang putih bawang merah dengan bumbu komedi yang mengundang tawa penontonnya.
Hingga tibalah pada adegan terakhir. Diana sedikit bernapas lega. Tinggal satu adegan kli maks maka usai lah tugasnya.
"Wahai bawang putih, karena engkau telah berhasil mencabut tanaman ajaib yang akan menyelamatkan nyawa ibuku, sesuai janjiku maka aku akan menikahimu dan engkau akan menjadi ratu di negeri ini.." Begitulah suara Rizki sang ketua kelas selaku dubber pangeran benar-benar penuh penghayatan.
Kini saatnya Zahra yang menjawab dialog selanjutnya, sementara Diana cukup menggerakkan tubuhnya mendalami peran sesuai dengan dialog yang dibacakan.
"Tidak pangeran, aku ikhlas menolongmu, tapi aku tidak bersedia menikah denganmu." Ucap Zahra sang Dubber Bawang Putih.
Semua yang terbaca sebagian besar masih sesuai dengan dialog yang tertulis. Diana semakin tenang karena rupanya Zahra benar-benar menepati perkataannya.
"Kenapa Bawang putih? Aku bersungguh-sungguh akan menepati janjiku dengan menikahimu." Dubber Pangeran.
"Aku tidak ingin menikah tanpa cinta." Dubber Bawang Putih.
Diana mulai merasa tidak enak "Kok kayaknya kata-katanya agak beda. Jadi terlalu lebay." Batin Diana yang hanya bisa terus mengikuti alur yang dibacakan Zahra.
"Tidak Bawang Putih, aku akan menikahimu dengan cinta. Karena sesungguhnya aku telah jatuh hati padamu sejak pertama kali bertemu denganmu." Dubber Pangeran.
Diana mulai tampak cemas "Sialan! Rizki kok ikutan menyimpang dari naskah sih?" Batin Diana sedikit melirik ke bawah panggung dimana Zahra dan Rizki duduk memegang mic dan kertas naskah.
"Tapi masalahnya, aku yang tidak cinta padamu." Dubber Bawang Putih.
Sontak tawa riuh penonton mulai menggema dimana-mana karena sang tokoh pangeran juga tampak mulai sedikit bingung bertingkah konyol dengan menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa Bawang Putih? Kenapa kamu tidak mencintaiku padahal semua gadis di negeri ini sangat ingin aku persunting sebagai istri. Aku kaya dan aku berkuasa. Apa kurangku?" Dubber Pangeran.
"Kurangmu adalah- kamu tidak tampan pangeran." Dubber Bawan Putih.
Hahahhaa..
Tawa penonton pun pecah. Diana hanya mampu meringis kebingungan menatap lawan perannya. "Awas kamu Zahra.." Batin Diana.
Rupanya Zahra belum selesai dengan dialognya membuat Diana sedikit gelagapan dan kembali bergerak melakoni apa yang diucapkan Zahra.
"Aku tidak ingin anak cucuku mangutuki aku karena menikah dengan kakek buyutnya yang tidak tampan." Dubber Bawang Putih.
Hwahahaha..
Tawa penonton semakin pecah.
Diana melirik pada Zahra yang asik membaca sambil menahan tawa. Semntara Rizki disampingnya sudah terpingkal-pingkal sambil tangannya memberi aba-aba agar Zahra terus melanjutkan improvisasinya.
"Aku tidak mau menikah dengan pria sepertimu. Aku ingin menikah dengan pria seperti Mario.."
Wew,
Diana membelalakkan matanya. "Kok larinya kesitu?" Batin Diana yang mulai berkeringat karena panik. Diana melirik sekilas ke arah lantai dua tepat pada balkon koridor kelas 3C di mana Mario sedang berdiri menonton dari sana. Dia terlihat memegangi perutnya tertawa lepas seperti penonton yang lainnya.
Diana benar-benar kesal sekaligus malu. Tapi apalah daya, dia kini hanya sebagai boneka yang harus bergerak mengikuti alur cerita sambil mengumpati Zahra dalam hati.
"Kenapa harus Mario Bawang Putih? Kenapa bukan aku?" Dubber pangeran yang diikuto ekspresi sang lakon yang seolah sangat menyedihkan.
"Karena Mario tampan."
Hahahahahaa..
"Karena Mario rupawan.."
Hwahahahaa...
Diana membelalakkan matanya.
"Aku tuh naksir beraaaat sama Mario, I love you full pokoknyaaa.."
Hwahahahaa...
Kaki Diana terasa lemas mendengar tawa riang penonton bahkan sang dubber pun tertawa terpingkal-pingkal.
"I love you too Bawang Putih.." Terdengar sahutan dari lantai dua.
Mario disana, melemparkan ciuman dengan tangannya.
"Aaaaaawww..." Zahra berteriak kegirangan sambil jimprak-jimprak heboh sampai-sampai membuat suara mic berdengung.
Pipi Diana sontak memerah saking malunya.
"Maaf, maaf, Bawang putih girang banget sampai gak terkontrol heheh.." Ucap Zahra tanpa rasa berdosa menggunakan mic-nya.
Rida selaku pembawa acara tampak menggerakkan tangannya memberi tanda pada Rizki dan Zahra bahwa waktu untuk mereka akan segera habis.
"Balik ke naskah Zah," Bisik Rizki agar Zahra kembali ke benang merah.
"Kamu sangat menyakiti hatiku Bawang Putih. Aku akan mengutukmu menjadi Sambal Terasi.." Dubber Pangeran.
"Tidaaak..."
Dan Diana pun terjatuh berpura-pura pingsan.
"Itulah kisah, mengapa Sambal Terasi akan semakin sedap bila ditambahkan bawang putih. Selesai.." Ucap Rizki menutup cerita.
Semua pemain dan para dubber pun naik ke panggung, bergandengan, membungkukkan badan sebagai salam perpisahan.
"Zahra, tega banget kamu ya.." Cecar Diana setelah mereka turun dari panggung.
"Maaf Di, jangan marah ya.. Aku terbawa suasana jadi kelepasan kemana-kemana." Ucap Zahra yang enatah tulus minta maaf atau tidak karena sebetulnya dia sangat menikmati pertunjukannya.
"Udahlah Di, jangan marah ya. Tadi pecah banget sumpah! Ini buat kelas kita juga." Ucap Rizki yang menengahi.
"Tapi gak gitu juga kali Riz, aku malu banget." Ucap Diana sambil cemberut memegangi pipinya.
"Semua juga tau kalau itu pertunjukan. Santai aja. Aku ngucapin makasih banget karena meskipun tadi kamu bingung dan kesel, kamu masih mau melakoni peran kamu dengan profesional." Lanjut Rizki.
"Bener tuh kata Rizki. Tadi kamu keren banget. Aktris hollywood aja minder adu peran sama kamu." Ucap Zahra yang masih bercanda di saat Diana sudah manyun total.
"Kalian kompak banget sih.. Jadian sono!" Ucap Diana sambil mengangkan bawahan kain batik yang melilitnya sampai setinggi lutut, berjalan meninggalkan dua orang yang terbengong akibat ucapan Diana.
Diana berjalan menuju kantin mencari pendingin emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun rasanya.
"Bu Ida, Es Coklat satu. Es nya yang banyak." Ucap Diana memesan minuman dingin di salah satu kios kantin.
"Sama buk, Es Coklat juga." Ucap seseorang tepat di belakang Diana.
Diana sontak menoleh dan matanya menemukan Mario di sana.
Pipinya kembali merona dengan dada berdegup kencang.
"Ngapain dia ada di sini? Batin Diana yang belum habis rasa malunya.
"Hai, Bawang Putih.. I love you so much," Bisik Mario padanya sambil tersenyum manis.
Jika tidak diselimuti rasa malu, mungkin Diana sudah meleleh saat itu.
...
Author's cuap:
Mario ih, I love you more..
Hahaha...
Jangan lupa support ya guys..
Like
comment
vote
Akutuh suweneng buwangeet baca komen2 dari kalian..