Titip Salam

Titip Salam
Salah Sambung?



#82


Salah Sambung?


Cling,


Bunyi nada notifikasi pesan masuk.


*Di, maaf tadi blm bsa menang lawan Ayah km,


Ayah km jago bgt main caturnya.


Diana senyam senyum di depan layar hapenya mengingat peristiwa tadi pagi. Ekspresi Willy yang begitu serius menatap bidak catur sebelum mengambil langkah maju tampak begitu lucu. Apalagi ketika wajahnya yang tiba-tiba berubah bersemangat ketika mendengar grand prize yang akan ia menangkan ketika berhasil mengalahkan sang Ayah, itu benar-benar kocak.


"Kamu kelihatan banget kalau naksir aku. Kalau sudah begitu, Ayah pasti sudah bisa baca perasaan kamu jadinya." Batin Diana berbucara sendiri dengan hapenya seolah itu adalah Willy.


Cling,


Bunyi nada notifikasi pesan masuk.


Willy yang sedang duduk bersandar di bangku panjang bengkel Om Rudi, sambil mencorat-coret buku sketsanya, sontak kaget gelagapan mendengar hapenya berbunyi.


"Yes, yes! dibalas." Ucapnya kegirangan ketika membaca notifikasi pesan masuk atas nama Bunga Musim Semiku.


*Gak apa Wil,


Maklum, lawan kamu mantan atlet catur Kabupaten


Lain kali berjuang lebih keras ya :-P


"Haish, pantes aja alot banget. Perasaan kalau lawan Papa masih kelihatan ada peluang menang fifty-fifty. Ternyata mantan atlet catur toh Ayahnya." Gumam Willy setelah membaca pesan tersebut.


Eh, Tunggu!


Willy mengulang membaca pesan itu pelan-pelan. Sontak dia langsung berdiri dan terbit senyum cerah diwajahnya.


"Jadi kamu mau aku berjuang? Yes! Yes! Yes!"


Tanpa ia bisa kontrol tubuhnya reflek jimprak-jimprak kegirangan.


"Woy, woy, ngapain loncat-loncat gitu? Kesurupan?" Ucap Om Rudi keheranan.


Willy yang tersadar hanya cengar cengir dan kembali duduk manis.


"Ini nih, aku menang main game nya" Bohong Willy.


Om Rudi hanya melengos tidak percaya. "Paling juga gara-gara dapat sms dari cewek." Cibir Om Rudi sambil kembali menekuni aktivitasnya.


Willy berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan pura-pura sibuk memainkan hapenya. "Wah Om Rudi nih sakti banget. Bisa tau aja kalau aku hepi gara-gara sms dari doi. Punya ilmu dukun nih.." Batin Willy.


Willy pun segera memainkan jemarinya mengetik pesan balasan untuk doi.


*Emangnya, kalo aq brhasil menang dr Ayah km,


Km mau jd pacar aq?


Kirim..


Willy menggigiti kukunya harap-harap cemas menunggu balasan dari Diana. Dadanya berdegup cepat memberi sensasi menegangkan ke seluruh tubuhnya.


Isi pesan yang ia kirim barusan, bisa jadi seperti nembak secara tidak langsung. Kira-kira apa ya jawaban Diana?


Tiap detik yang berjalan seolah begitu lambat dari biasanya. Lama dan begitu lama waktu bergulir pesan itu tak kunjung berbalas.


Kekecewaan mulai nampak pada raut wajah yang semula sumringah kegirangan itu. Prasangka buruk pun mulai terlintas dipikirannya, membuat wajah Willy semakin tertunduk lesu.


"Apa Diana marah ya? Harusnya aku gak perlu buru-buru berharap lebih." Batin Willy yang merasa bingung tidak tau harus berbuat apa.


"Hmm, tadi jimprak-jimprak. Sekarang kok lesu gitu? Pasti habis ditolak ya?" Gurau Om Rudi melihat sang ponakan tampak lemas di sudut bangku.


"Ditolak?" Gumam Willy hati. Sedikitpun dia tidak berpikir bahwa dirinya akan ditolak secepat itu? Tapi melihat Diana yang lagi-lagi tidak merespon pesan yang seharusnya begitu penting untuk dibalas, sepertinya Willy kembali kehilangan rasa percaya dirinya.


Sementara di seberang sana, di kediaman keluarga Arman, Diana sedang berulang kali membaca pesan terakhir dari kontak Willy si Congek Cakep.


..Km mau jd pacar aq?


"Aduh bales apa ya?" Diana merasa dilema. Berkali-kali ia mengetik balasan lalu menghapusnya lagi. Mengetik kalimat berbeda, namun lagi-lagi dihapus olehnya.


Aaarrgghhh


"Kalau jawab mau, kesannya kayak gampangan banget. Kalau jawab gak mau kesannya jahat banget gak sih? Willy pasti sedih jadinya."


Diana berpikir keras memilih kalimat yang baik dan terkesan tidak menyakiti untuk menjawab pertanyaan keramat dari Willy tersebut.


Jujur rasanya senang sekali Ada pemuda tampan dan baik hati yang terang-terangan menyukainya. Rasanya sangat berbunga-bunga seakan dirinya begitu cantik sedunia. Yah, ini adalah masa pubertas. Sebuah rasa yang wajar dirasakan oleh remaja seusia Diana.


"Emm.. gini aja deh balesnya."


Kirim..


"Yah, kok gagal? Aduh, pulsanya habis." Diana merengut kesal kenapa pulsanya harus habis disaat seperti ini.


Cling,


Bunyi nada notifikasi pesan masuk.


*Diana kok g blz?


Maaf ya


Plis, jgn marah


"Aduh, Willy pasti mikir aku udah nolak dia karena gak bales pesannya." Diana jadi gelisah dan kalang kabut dengan kekhawatirannya sendiri.


"Aku keluar ke konter sebentar deh buat beli pulsa, mumpung masih sore." Ucap Diana sembari meraih tas kecil yang berisi dompet uang simpanannya, dan bergegas keluar rumah.


Yah, Diana pergi begitu saja meninggalkan hapenya di atas meja belajarnya.


Diana, entah lupa atau sengaja meninggalkan hapemu di sana, karena nanti kamu pasti akan menyesalinya. Sang mata-mata yang masih begitu penasaran dengan pergaulan sang putri tentu akan merasa gatal untuk sedikit mengintip sekali lagi hape sang putri bila ada kesempatan.


Benar, niat hati Ayah Arman hanya ingin mengintip (tanda kutip) sedikit. Tapi ternyata sedikit-sedikit itu tak ada habisnya hingga akhirnya terobrak-abriklah semuanya.


Meskipun sang Ayah hanya diam dan tidak berkomentar apapun, beliau hanya ingin memantau secara diam-diam. Ayahnya begitu khawatir sang putri melewati batasnya.


Entah tindakan tersebut dapat dibenarkan atau tidak, selama engkau belum menjadi orang tua, mungkin kamu tidak akan memahami rasa khawatir yang dirasakan Ayah Arman. Baginya, putri-putrinya adalah titipan Tuhan yang menjadi tanggung jawabnya, dan ini adalah salah satu bentuk tanggung jawabnya pada Tuhan dalam menjaga putrinya, sampai ia merasa putrinya telah siap diberikan kepercayaan untuk memiliki privasinya.


Hape itu tergeletak dalam mode silent. Sang Ayah yang melintas di depan kamar putrinya tak sengaja melihat layar hape itu berkedip-kedip dari pintu yang terbuka lebar.


"Hmm, Willy si Congek Cakep lagi.." Ucap sang Ayah membaca nama kontak yang tertera di layar hape itu.


Willy yang merasa cemas bila Diana tengah marah dan takut kemarahan itu akan membuat Diana menjauhinya, memilih memberanikan diri untuk melakukan panggilan guna meminta maaf secara langsung dan menjelaskan semuanya.


Biarlah perasaannya tak berbalas bertepuk sebelah tangan asalkan Diana tidak sampai membencinya.


Willy berjalan menjauh sambil terus mencoba menghubungi nomor Diana. Raut wajahnya semakin cemas ketika panggilannya tak kunjung diangkat.


Tut... tut..


Klik,


"Ah, diangkat!" Willy pun gelagapan dan duduk di pinggir trotoar yang tampak sepi, mencari posisi nyaman agar dirinya dapat berbicara dengan lebih tenang.


"Halo, Diana.." Sapa Willy, namun tidak ada sahutan dari seberang.


Berkali-kali dia memastikan teleponnya benar-benar tersambung.


"Huh, pasti dia sangat marah sampai gak mau ngomong." Batin Willy semakin cemas.


"Diana, aku minta maaf. Please, jangan marah." Ucap Willy membuka kata.


"Maaf kalau sikap aku tadi terlalu berlebihan."


Masih tidak ada jawaban di seberang. Willy semakin panik dengan situasi ini. Sebetulnya dia sendiri bingung mengapa Diana begitu marah padahal di awal pesannya tampak biasa saja.


"Ayah kamu pasti bisa nebak kalau aku suka sama kamu ya? Apa Ayah kamu marah? Apa aku perlu menjelaskan ke Ayah kamu kalau kita cuma teman biasa?"


Kening Willy berkeringat menunjukkan tingkat adrenalin yang dirasakan begitu dahsyat. Ini pertama kalinya Willy merasa begitu panik karena seorang gadis.


"Di, ngomong dong. Aku harus gimana? Aku akan lakuin apapun kecuali jangan suruh aku jauhi kamu, please ngomong.." Ucap Willy dengan nada begitu lembut menunjukkan hatinya yang tulus memohon agar Diana mau mengatakan sesuatu.


Tak lama kemudian, samar-samar ia pun akhirnya mendengar suara yang begitu ia harapkan. Namun suara itu terdengar begitu jauh dan pelan.


"Ayah ngapain?" Begitulah suara dibseberang.


"Ayah telpon siapa pake hape aku?"


Deg,


Willy sontak terkejut. Tubuhnya yang sebelumnya terasa lemas tiba-tiba menegang bak disambar petir.


"A-ya-ah?" Gumamnya dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.


"Jadi dari tadi yang dengerin aku ngomong panjang lebar Ayah Diana???"


Jeng jeng jeng...


...


Author's cuap:


Aduh Ayaaah...


Iseng bangeeet sih...


Tuh babang Willy sampe panas dingin.


Gak kebayang jadi Willy, bisa kejang-kejang, gatal-gatal, panuan, kadas kurap kali ya..


Auto ngaku naksir anaknya langsung pada Bapaknya nih ceritanya


hahaha..


Dah, blajar main catur dulu sono Wil..


Biar di Acc ama Ayah..


Readers, punya kandidat tutor main catur gak buat Willy,


Bantuin dong..


wkk