Titip Salam

Titip Salam
Dijadikan Fakta!



#76


Dijadikan Fakta!


Segelas susu hangat, roti tawar dengan selai kacang, dan surat kabar harian berita terupdate. Sungguh sebuah rutinitas sarapan kaum elit seperti yang ada di tivi. Yah, hanya di tivi.


Roti Tawar? Mungkin bagi keluarga Arman sepotong roti merupakan menu camilan yang bahkan tidak dapat disandingkan dengan nasi putih meskipun hanya sebagai sarapan. Dalam arti lain bila mereka makan roti saat pagi hari itu dikatakan "Pagi ini belum sarapan, cuma makan roti."


"Kami butuh nasi Ma..."


Itu hanyalah pembiasaan. Namun ya sudahlah, toh Mama Mila selalu bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya dengan menyajikan nasi hangat setiap paginya. (Sehat terus Mama, biar nasi hangat selalu dapat tersaji untuk sarapan keluarga tercinta).


Diana melahap sarapannya sambil melirik pada Ayahnya yang sedang menikmati kopi sambil membaca surat kabar. Pikirannya masih tidak tenang sejak semalam. Ingin hati menanyakan "Yah, ada sms atau telepon penting gak?" Namun rasanya sangat sulit seolah tenggorokannya tercekat.


"Baiklah, nunggu Ayah sendiri saja yang ngomong. Dari pada Ayah malah berpikir aku nunggu telepon dari seseorang." Batin Diana, yang padahal benar begitu adanya. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan nama kontak Super Mario?


"Oh ya Di,-" Ucap Ayah membuka obrolan.


Diana nampak menoleh antusias. "Nah, ini dia.." Batinnya.


"Kemarin itu-"


Diana benar-benar cemas mendengarkan tiap perkataan Ayahnya. "Kemarin kenapa?" Sambar Diana.


"Kemarin Ayah sempat pinjam pulpen kamu yang warna biru. Belum Ayah kembalikan. Pulpen Ayah hilang. Nanti kamu beli yang baru ya, yang lama buat Ayah aja." Ucap sang Ayah tanpa mengalihkan pandangannya dari berita hangat ditangannya.


Diana mengunyah sambil cemberut. Ternyata yang ingin disampaikan oleh Ayahnya bukanlah jawaban untuk rasa penasarannya.


"Kenapa Di?" Tanya sang Ayah sambil melirik sekilas putrinya.


"Gak kenapa-kenapa kok," Jawab Diana dengan perasaan dongkol.


"Ooh," Sang Ayah berusaha keras menahan senyumnya. Dia tahu putrinya pasti ingin sekali menanyakan perihal hapenya.


"Ayah kenapa gak pakai punya Tania aja? Biar Tania bisa beli pulpen baru lagi." Sahut Tania yang juga tengah menikmati sarapannya di sana.


"Gak mau," Ucap Ayah spontan.


Tania cemberut mendengar penolakan dari Ayahnya. "Ayah pilih kasih," Ucapnya kesal gara-gara dirinya tidak punya alasan membeli pulpen baru sekarang.


"Ayah gak mau karena Ayah malu kalau pakai pulpen Tania di tempat kerja Ayah. Masak kumis Ayah sangar gini pakai pulpen Hello Kitty?"


Huppfftth..


Ucapan sang Ayah sontak membuat kedua putrinya yang cemberut jadi tegelak karena membayangkan saat ada pulpen imut terselip di seragam kerja Ayahnya. Auto turun wibawa ya Ayah? Hahaha..


...


Ujian semester berlangsung dengan penuh kepulan asap dari tiap kepala yang serius mengerjakan tiap soalnya. Bagaimana tidak sampai berasap ubun-ubun mereka, ujian hari pertama langsung dihajar dengan tiga mata pelajaran, diawali Bahasa Indonesia, lanjut matematika, terakhir Fisika. Amazing bukan?


"Bu Ida, es coklat satu di plastik aja." Ucap Diana pada penjaga kios kantin.


"Aku juga mau satu ya buk," Ucap Hera yang berada disebelahnya.


Yah, disanalah mereka terdampar untuk mencari kesegaran menghilangkan rasa dahaga setelah otak mendidih mengerjakan deretan angka dari soal fisika.


"Duduk dulu mbak, saya buatkan sebentar." Ucap bu Ida sang penjaga kios kantin.


Bu Ida bukanlah seorang barista. Namun keahliannya meracik minuman instan benar-benar memiliki kecepatan dan ketepatan bahkan barista pun akan kalah beradu bila ada seribu macam pesanan minuman instan. Beliau benar-benar ibu kantin yang profesional. (berlebihan gak sih muji buk Ida-nya? Hehehe)


"Hera, belum pulang?" Sapa seseorang tepat berada di belakang mereka.


Hera pun menoleh pada sumber suara yang begitu familiar ditelinganya. Yah, seseorang yang selalu membuatnya sumringah.


"Eh, Abdul, kok masih disini?" Sapa Hera balik pada pemuda yang- baiklah, semua orang sudah tau bila mereka saling tertarik namun entahlah mereka menamai apa untuk kedekatan mereka.


Ada Abdul, maka kemungkinan besar pemuda itu tidak akan sendirian. Tentu saja ada satu pemuda lagi yang juga berada di sana.


"Lagak mu Dul, kayak gak sengaja ketemu. Padahal sengaja tuh, ngajak ke kantin gara-gara lihat Hera belok ke kantin juga." Ucap pemuda lain di belakang Abdul. Yaps Mario di sana.


"Resek kamu Mar! Ya gak usah dijelasin juga kali." Ucap Abdul kesal sambil menoyor pelan pundak Mario. Skenario pertemuan yang seolah tidak disengaja itu pun terbongkar sudah, menimbulkan kekonyolan di sana.


Ucapan Mario lantas membuat dua gadis itu tergelak. Apalagi Abdul benar-benar salah tingkah dibuatnya.


"Ya udah, kalau begitu kita duduk dulu aja gimana sambil ngabisin minumnya?" Ajak Abdul.


"Ayuk," Ucap Hera yang langsung meng-iyakan saja. Dia benar-benar lupa ada Diana juga disana.


"Loh Her, katanya tadi capek mau cepet-cepet pulang. Kok jadi duduk duduk dulu sih?" Ucap Diana yang merasa terabaikan.


"Sebentar aja Di. Lagian minum sambil jalan itu gak baik." Ucap Hera mencari alasan.


Diana pun hanya memanyunkan bibirnya melihat tingkah sahabatnya itu. "Bisa aja ngelesnya." Batin Diana.


Diana menatap sekilas pada Mario sebelum akhirnya menuruti Hera untuk duduk sebentar di sana.


"Bu, Bakso satu ya.." Ucap Mario yang lantas langsung mengambil duduk di depan Diana.


Ada rona merah yang berusaha keras Diana sembunyikan. Ada perasaan malu-malu ketika berdekatan dengan Mario. Sungguh Diana ingin sekali beranjak dari sana namun hatinya berperang dengan logikanga karena karena ada setitik rasa senang untuk sedikit berlama-lama di sana. Pubertas ini sangat rumit.


Sejak kapan? Entahlah.


Yang dirasakan Diana saat ini hanya dag dig dug tak karuan yang berusaha ia tutupi.


Diana mulai merasa spesial sejak Mario menyanyikan lagu untuknya di depan banyak orang. Tapi sekali lagi Diana menekan dalam-dalam perasaannya. Dirinya takut terlalu percaya diri.


Duduklah mereka berempat di bangku kantin yang sudah sepi karena memang sudah saatnya pulang sekolah.


Hera begitu senang menikmati minumannya yang semakin segar karean ada ekstra penyejuk mata dan hati di depannya.


"Udah kayak double date ya kita?" Ucap Hera tanpa malu-malu.


"Apaan sih Her." Ucap Diana mencubit lengan Hera.


"Aw, sakit Di."


"Oh iya Mar, gimana rasanya ngobrol sama camer kemarin?" Ucap Abdul menggodai Mario yang sedari tadi sibuk mengunyah bakso yang ia pesan.


Mario menatap sekilas Diana. Tidak ada perubahan ekspresi di sana. "Kayaknya Diana gak tau kalau aku telpon nomornya kemarin." Tebak Mario dalam hati.


Gadis itu hanya diam, menyeruput esnya pelan-pelan, sambil memperhatikan siapapun yang bersuara.


"Biasa aja." Ucap Mario sambil melanjutkan makannya. Jawabannya begitu santai seolah dirinya benar-benar memiliki tingkat percaya diri yang tinggi kala itu. Padahal yang terjadi semalam, panggilan yang berlangsung singkat itu dapat membuatnya sampai berkeringat dingin.


"Camer?" Tanya Hera penasaran.


"Iya Her. Gila gak sih nyali temen aku ini. Udah sampai sejauh itu loh usahanya." Ucap Abdul sambil merangkul pundak sahabatnya.


"Emang gak deg-deg-an Mar?" Tanya Abdul lagi.


Mario menelan kunyahannya sebelum menjawab "Yah, deg-deg-an lah. Tapi karena Om Arman orangnya nyantai, jadi aku juga bisa asik-asik aja ngobrolnya."


Uhuk, uhuk,


Mendadak Diana terbatuk mendengar nama seseorang yang disebut camer dalam perbincangan mereka terdengar begitu familiar ditelinganya.


"Om Arman? Ayah?" Batin Diana.


Hera langsung panik menepuk-nepuk punggung Diana yang masih terbatuk.


Mario berusaha menahan senyumnya. Inilah ekspresi yang ia nantikan. Rasanya benar-benar menyenangkan.


"Maksud kamu, kemarin kamu jadi telpon ke nomor aku?" Ucap Diana setelah batuknya mereda.


Melihat ekspresi terkejut Diana, Mario jadi tahu kalau sang Ayah pasti tidak menceritakan apapun pada putrinya.


"Iya." Jawab Mario singkat.


"Ayah aku ngomong apa?" Ucap Diana sambil dag dig dug berdebar-debar antara malu bercampur takut ketika membayangkan bagaimana menghadapi Ayahnya nanti.


"Tunggu dulu! Maksud dari camer tadi- Wah," Hera menutup mulutnya dengan telapak tangan menunjukkan ekspresi yang begitu terkejut.


"Kalian beneran pacaran?" Lanjut Hera dengan suara yang begitu lantang sambil menatap Mario dan Diana bergantian.


"Enggak!" Jawab Diana spontan.


Diana melirik Mario meminta dukungan penjelasan. Namun seperti biasa, Mario hanya tersenyum tanpa berkomentar dan menikmati pertunjukan.


"Mario aja gak menyangkal. Kamu gak usah nutup-nutupin lagi deh Di," Goda Hera yang semakin membuat Diana salah tingkah.


"Tau nih Diana gak usah malu-malu. Kita bisa jga rahasia kok." Timpal Abdul yang sangat kompak dengan sejolinya Hera. Mereka berdua tertawa bahagia sambil ber-toss ria.


Diana merasa menyesal menemani Hera untuk duduk sebentar di sana. Tau begitu dia lebih baik langsung pulang sendirian.


Matanya beralih menatap pemuda yang menjadi dalang situasi menjengkelkan ini. Benar-benar wajah tenang yang sembari perlahan menikmati tiap suapan bakso yang sudah tinggal kuahnya. Ingin radanya Diana cakar cakar saat ini juga.


"Heh, Mario!" Akhirnya Diana pun menyebut nama itu.


"Ngomong dong. Jangan bikin gosip yang gak bener beredar kemana-mana jadinya." Wajah Diana tampak merah padam. Diana sadar dirinyalah yang akan sangat dirugikan bila sampai ada gosip dirinya berpacaran dengan Mario. Diana tidak ingin berurusan dengan Stefi Stefi yang lain.


Mario menatap gadis yang sudah tampak begitu sangar dihadapannya. Satu tendangan di perut, satu pukulan di hidung, dan banyak sekali pukulan dan cubitan kecil di kepala, di lengan kiri, dan kanannya, buah karya gadis itu. Namun semua itu justru membuat sosoknya semakin menarik dimata Mario.


"Heh! malah senyam senyum." Ucap Diana yang sudah semakin mendidih ke ubun-ubun.


"Apa sih mau kamu Diana?" Ucap Mario sambil terus tersenyum.


Hera dan Abdul seolah mendapat tontonan yang begitu menarik. Mereka duduk manis menyaksikan dua temanya itu adu mulut berkat umpan dari mereka berdua.


"Kamu gak mau kalau jadi gosip?" Lanjut Mario.


"Ya iya lah! Please, jangan cuma diem aja kalau ada yang ngomong kayak gitu!" Diana berkacak pinggang kesal.


Yah, Diana memang layak untuk kesal pada Mario. Karena hidupnya akan semakin tidak tenang mengingat betapa sadisnya para fans fanatik Mario. Satu tamparan dari Stefi rasanya sudah cukup sebagai bukti.


"Ya udah, dijadikan fakta aja. Beres kan.." Mario berucap dengan entengnya.


"Hah?" Diana tercengang heran.


Hera dan Abdul pun turut bingung dalam ******* drama yang sedang mereka saksikan itu.


"Kamu mau aku nembak kamu? Itu kan yang kamu mau? Jadi gak perlu ada gosip lagi, melainkan fakta!"


Brak!


Diana berdiri menggebrak meja. Matanya melotot tajam menatap ke arah Mario yang tampak sangat terkejut dengan reaksi yang diberikan Diana. Begitupun dengan Abdul dan Hera yang sampai terlonjak memegangi dadanya saking kagetnya.


"Gak usah kepedean ya Mario!" Ucap Diana dengan penuh penekanan.


Hera yang berusaha menenangkan Diana yang begitu murka langsung menciut ketika tatapan Diana beralih padanya.


"Aku pulang duluan!" Diana langsung beranjak pergi.


Hera pun gelagapan dan langsung turut berpamitan kemudian berlari mengejar Diana.


Mario masih belum reda dari rasa keterkejutannya. "Kenapa dia semarah itu?" Batin Mario.


Sebuah telapak tangan menepuk-nepuk punggung Mario.


"Sabar bro. Lain kali jangan terlalu frontal gitu." Ucap Abdul.


"Frontal apanya sih? Kayaknya aku nyantai-nyantai aja."


Lagi-lagi Abdul menepuk-nepuk punggung Mario.


"Kamu tau Congek anak SMP 10 kan? Saingan kamu cukup berat bro!" Ucap Abdul.


"Kamu ingat cara dia nyanyi kemarin? Meleleh bangeeeet.. So, be calm bro.." Lanjut Abdul


Mario termenung mencerna peringatan yang diberikan Abdul. Tangannya terkepal menonjolkan urat-urat halus di permukaan kulit tangannya mengingat rentetan kejadian kemarin yang berakhir dengan menatap punggung Diana menjauh bersama Willy.


"Gak usah sok tau kamu Dul, " Ucapnya uring-uringan. Mario pun turut beranjak dari sana.


"Lah, kok malah sewot." Gumam Abdul yang bergerak menyusul Mario yang lebih dulu melangkah.


"Santai aja dong Mar, jalan kita masih panjang. Apalagi kamu masih punya mimpi buat berangkat ke ibukota." Ucap Abdul setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Mario.


Mario terhenyak mendengar penuturan Abdul. "Ah, mimpi itu.."


Mereka memang teman sebaya. Namun Mario yang masih begitu labil merasa sangat beruntung dapat mengenal baik sosok Abdul yang terbilang jauh lebih tenang dan terkesan begitu bijak.


"Makasih Dul, kamu udah ingetin aku tentang mimpi yang udah aku rintis dari dulu. Benar juga kata kamu. Jalan kita masih panjang banget. Tapi jujur, sulit banget buat gak ambil pusing." Mario menatap sahabatnya itu dengan berkaca-kaca "Sekali lagi makasih udah jadi best best friend aku." Ucapnya lalu merangkul pundaknya.


"Iya, tapi jangan ngeliatin aku sambil berkaca-kaca gitu. Jijik tau! Hahaha.."


"Sialan!"


...


Author's cuap:


Mario ke ibukota?


Aduh,