
#119
Perang
(Pov. Willy)
Kuhirup harumnya aroma kopi dari asap mengepul ketika tutup tumbler mini terbuka. Sebuah kenikmatan dalam dinginnya malam di sebuah bukit di pinggir Kota.
Disinilah aku kala ingin menikmati kesunyian dengan hamparan kerlip lampu Kota bak bintang darat yang begitu cantik.
Menyendiri dengan ditemani suara jangkrik dan angin malam yang mencoba menembus celah jaket kulitku, seketika semakin harmoni dengan kopi panas yang kubawa dalam tumbler mini agar selalu terjaga hangatnya.
Tempat ini, titik ini, seolah menjadi saksi bisu tiap keresahan yang kurasakan.
Aku tak berbicara sepatah katapun. Aku juga tak pernah mencoba berteriak untuk melepas sesak di dada. Aku hanya diam menikmati kopi dan hamparan pemandangan dalam gulita disekitarku, dengan mencoba mencari ketenangan dalam pikiran yang berkecamuk.
"Wil, kamu pernah bilang kalau kamu suka sama aku?"
Gadis itu tampak malu-malu menanyakannya.
"Memangnya kenapa?" Jawabku.
Gadis itu tak menjawab. Ia hanya mengaduk-aduk gelas yang isinya sudah berkurang setengahnya. Ekspresi wajahnya menunjukkan keraguan.
Aku mencoba menerka-nerka apa yang ingin ia katakan. Apa ia ingin mengatakan kalau dia juga suka padaku? Apa aku boleh mengharapkan hal itu?
"Kamu mau ngomong apa sih? Ngomong aja gak usah malu-malu."
"Emmm... Kalau aku bilang aku juga suka sama kamu, tapi aku lebih menyukai orang lain, kamu marah gak?" Diana seperti sangat berhati-hati dalam berucap.
"Maksudnya gimana sih? Aku gak ngerti." Willy sebetulnya benar-benar paham kemana arah pembicaraan mereka. Namun ia ingin mendengar sendiri dari bibir gadis itu.
"Aku sama Mario udah baikan." Ucap Diana tanpa memandang ke arah pemuda itu. Dia merasa sangat tidak enak hati.
"Bagus." Ucap Willy yang tetap memasang mimik biasa saja, padahal dalam hatinya ia mulai merasa kacau.
"Dia juga bilang kalau dia menyukaiku."
"Dan kamu juga menyukainya kan?" Ucap Willy dengan nada yang terdengar begitu tenang.
Diana mengangkat wajahnya. Ia begitu takjub mendengar Willy yang terdengar begitu tenang bahkn tidak terdengar setitikpun emosi pada nada bicaranya. Ia melihat Willy tersenyum sekilas lalu meneguk habis minumannya.
"Ka-mu gak marah?"
"Di, aku sudah pernah bilang ke kamu untuk tudak perlu melakukan apapun, cukup biarkan saja aku begini." Willy berusaha membuat bibirnya tersenyum.
"Jadi kita bisa berteman seperti biasanya kan?" Ucap Diana dengan penuh kelegaan.
"No! Kita bukan teman biasa. Kita adalah teman yang luar biasa."
Diana mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Willy.
"Meskipun nantinya ada cewek yang suka sama kamu, dia harus bisa menerima kalau kita berteman, setuju?"
Willy menautkan kelingkingnya pada kelingking Diana.
"Dan kalau ada cowok yang naksir sama kamu, dia gak boleh melarang kamu berteman sama Raden Willy Ardian." Ucap Willy dengan menghentakkan tautan kelingkingnya.
"Eh, Raden Willy Ardian itu siapa? Kamu?"
Willy menepuk keningnya. "Jadi selama ini kamu belum tau nama lengkap aku? Ini namanya teman? Haish... "
Diana menjawabnya hanya dengan terkekeh geli karena wajah pemuda di depannya itu merengut kesal. Namun melihat gadis itu tertawa membuat Willy tak sanggup lama-lama untuk cemberut. Bibirnya pun spontan berubah membentuk busur manis dan semkin merekah menjadi tawa ketika gantian gadis itu yang merengut kesal memegangi pipinya yang terasa panas karena cubitan jemarinya.
Huh..
Berkali-kali aku menghela nafas berat memandang hasil bidikan di layar ponselku. Dua jari kelingking yang saling tertaut yang sengaja Willy dan Diana abadikan melalui kamera ponsel masing-masing.
Bahkan Diana mengunggahnya di akun sosial medianya dengan kalimat "Best Friend Forever? Deal!!!" yang mengikuti di deskripsinya.
Kesepakatan macam apa ini sebenarnya? Kisah ini harus terjebak dalam friendzone tapi tak bisa mengharap lebih meskipun ingin. Aku akan bahagia sekaligus tersakiti.
Aku hanya bisa berharap perasaan egois yang ada bisa memudar dan berganti dengan perasaan tulus persahabatan seperti yang ia inginkan.
Kopiku sudah habis. Kupacu kuda besi hitam si item kesayangan menuju tempat dimana kuda besi hitam lain berjajar ketika malam.
Mario pasti ada di sana. Pesan singkat yang menanyakan keberadaanku satu jam yang lalu kuabaikan begitu saja. Aku tahu apa yang ingin diketahuinya dengan menanyakan keberadaanku.
Mario sudah menatapku dari kejauhan melihat motorku yang bergerak mendekat hingga terparkir dengan sempurna.
Mario berjalan mendekat dan menepuk pundakku dengan sekali tepukan yang cukup kuat.
"Cowok kalau ngomong sekali tapi selalu dipegang omongannya. Jadi, apa kamu mau menjelaskan sesuatu?"
"Itu tangan kamu kan?" Lanjut Mario.
"Iya betul, itu tangan aku."
Mario berkacak pinggang sambil menatap langit luas. Bibirnya tampak tertawa namun tak bersuara.
"Aku sudah berjanji akan menraktirnya jika dia menang, dan itu diluar kesepakatan kita."Ucap Willy.
"Jadi sebetulnya kamu ngajak aku berteman atau berperang?"
Telapak tangan Mario mengepal kuat seolah menahan emosinya.
Aku yakin kalau bukan karena perkataan Bang Dion di bengkel tempo hari, tangan itu sudah mendarat di wajahku.
Kutepuk balas pundak Mario. Kutepuk dengan hangat berkali-kali.
"Hari Minggu tepat setelah ujian kelulusan."
Sepertinya aku tidak perlu susah payah menjelaskan cerita tentang aku dan Diana siang tadi. Aku tau Mario hanya memerlukan tiket emas itu. Dan benar saja, dia tak lagi berkomentar.
"Aku balikin NOS kamu hari Sabtu, dan hari Minggu Diana akan melunasi hutangnya." Lanjutku.
"Asal kamu tahu Mario, aku bukan seorang penghianat. Aku selalu menepati janji yang aku buat. Maaf kamu harus capek-capek cemburu untuk jari kelingking ini." Kuacungkan kelingking yang diabadikan di postingan sosial media Diana.
"Jujur, aku masih sulit sepenuhnya percaya sama kamu. Tapi aku merasa kamu orang yang baik." Ekspresi Mario begitu sulit ditebak. Batinnya seolah berperang.
"Kamu memang gak boleh sepenuhnya percaya sama aku. Justru kamu harus waspada."
Haha, lucu sekali.
Kenapa aku harus ada diantara mereka. Mereka saling menyukai tapi seolah ada benteng yang membatasi mereka. Sementara aku yang harus menelan pil pahit tentang rasa yang hingga saat ini aku sendiri masih belum yakin kalau kisah ini bertepuk sebelah tangan, seolah dapat bergerak lebih leluasa bahkan untuk pergi bersama gadis itu beberapa kali tanpa harus sembunyi-sembunyi dari orang tuanya.
Yah, Mario memang layak cemburu dan waspada meskipun Diana sendiri sudah memberi keputusan bahwa kita hanya berteman.
Ah, teman? Tentu ini bukan murni pertemanan.
Aku sudah bertekat akan membuat perasaan ini murni hanya sebagai teman yang akan saling mendukung, membantu, melindungi, dan menghilangkan satu rasa yang disebut cemburu.
"Ayo balapan."
Aku tersenyum menatap tangan yang melingkar di pundakku ini.
"Kamu yakin? NOS kamu kan di item?" Aku harus kembali memastikan sebelum Mario kesal bila harus kalah dengan kualifikasi yang tak seimbang.
"Red fire istirahat dulu dari dunia balap. Aku bisa pakai motor Bang Dion. Sekali aja Ngek, setelah itu kita pulang. Besok kan sekolah."
Tawaku begitu lepas mendengar pemuda ini masih mengingat tentang sekolahnya. Aku saja hampir lupa kalau besok hari Senin.
"Oke."
Aku mulai menggiring motorku menuju garis start.
Melihat aku dan Mario yang berada di belakang garis start membuat beberapa orang yang tampak acuh sebelumnya langsung turun dalam kerumunan yang membentuk pagar pembatas dekat garis start.
Informasi dari beberapa teman yang kukenal di arena balap liar ini, balapan terakhirku dengan Mario benar-benar menyuguhkan tontonan yang mengesankan dan sangat ditunggu-tunggu kelanjutannya. Pertandingan yang menjadi asal muasal semua kerumitan ini.
"Siap?" Ucap sang pembawa bendera di depan garis start.
Suara deru mesin motor bagai benderang yang memekakkan telinga. Asap putih dari knalpot pun mengepul membuat suasanan semakin memanas. Sorakan dan tepuk tangan riuh penonton membuat adrenalin berkobar.
Kami saling berpandangan sambil beradu deru mesin motor dari gas yang kita putar bersahut-sahutan. Aku bisa melihat sepasang matang Mario menyipit dari celah helmnya. Dia sedang tersenyum.
Ah, ini benar-benar seperti adegan film.
"Mulai!!!"
Aku dan Mario bersama-sama melepas rem yang menahan kuda besi kami.
"Item, berikan kesan terbaikmu malam ini."
...
Author's cuap:
Mana ya nomor Tante Suster?
Mau ngadu kalau anaknya balapan di jalanan.
Eh,