
Author's cuap:
Makasih ya temen temen pembaca tersayang yang masih setia nungguin kelanjutan novel "TITIP SALAM"
Semoga kalian suka..
Oh ya, jangan lupa klik jempolnya 👍🏼 untuk terus support karya aku..
Langsung lanjoooot...
Halaman belakang sekolah terbagi menjadi dua bagian. Disana terdapat lapangan basket sekaligus sebagai lapangan futsal dan sisanya area rerumputan.
Ternyata bukan kelompok kami saja yang memilih area halaman belakang. Ada beberapa yang sudah mulai aktif memunguti sampah. Area ini begitu luas dengan banyak sampah yang berserakan. Sepertinya generasi muda sekarang benar-benar acuh pada kebersihan lingkungan. Tapi baguslah, semakin banyak sampah maka semakin cepat pula aku bisa kembali ke kelas.
Aku pun mulai memunguti sampah agar cepat selesai. Ekor mataku melirik dua orang yang berada tak jauh dariku.
Sial! Mereka malah asik bermain-main.
Tiba-tiba sebuah botol bekas menarik perhatianku. Botol bekas yang isinya masih setengah yang tergeletak di pinggir lapangan. Aku berjalan mendekat untuk memungutnya. Namun di sisi lain, Mario mengambil ancang-ancang dan..
DUGG...
Sebuah tendangan yang sangat keras menyentuh kulit botol itu dan menerbangkannya. Botol dengan kondisi tertutup seketikan melayang, memuntahkan sisa isi diperutnya, dan dengan keras menghantam tembok belakang sekolah.
BRAK!!!
Aku menelan ludahku. Menyaksikan tendangan yang begitu dahsyat perutku ikut nyut-nyutan. Tidak bisa dibayangkan kalau tendangan itu mengenai perutku. Kalau sampai Mario punya niat membalasku, bisa muntah darah aku.
Beberapa murid yang ada disana sontak menoleh dan berdecak kagum pada tendangan kaki Mario. Pantas saja dia sangat diakui dilapangan bola. Penjaga gawang pun pasti lebih memilih menghindar seumpama mendapat serangan bola yang begitu keras seperti itu.
"Ayo Dul, ke kantin." Ajak Mario pada Abdul.
What? Kok mereka pergi? Terus aku harus mungutin sampah sendiri?
Hiks,
"Hei, kamu. Siapa nama kamu tadi?" Tiba-tiba dia menoleh dan melemparkan pertanyaan padaku.
Sial! Kenapa harus diajak bicara. Lebih baik tidak usah menjadi akrab.
"Diana." Jawabku datar.
"Ikut kita ke kantin aja." Ajak Mario.
"Lah, hukumannya gimana?"
"Gampang, ntar juga penuh. Ayok santai aja." Jawabnya sambil berjalan menjauh.
"Percaya aja ama Mario, dia kan udah sering kayak gini." Ujar Abdul yang berjalan mengikuti Mario.
Aku masih tercengang heran. Seringnya mendapat hukuman seperti ini seolah menjadi prestasi yang membanggakan. Karena kantong plastiknya juga dibawa oleh Mario, tidak ada pilihan lain aku pun mengikuti mereka.
Kantin sekolah berada di sisi Barat. Disana terdapat empat kios berupa bangunan kayu sederhana yang beratapkan seng. Kami menuju satu kios yang menjual bakso.
"Bu Ida, Bakso lima ribu pake lontong ya. Minumnya es teh di plastik aja es nya." Kata Mario pada penjaga kios itu.
"Saya juga Bu, sama." Lanjut Abdul.
"Mbak nya pesen apa? Biar sekalian dibikininnya." Tanya bu Ida penjaga kios tersebut.
"Es Teh juga bu, diplastik. Ini uangnya bu, saya langsung bayar aja."
"Oh iya, makasih mbak,
"Mario plastiknya sini. Biar aku lanjutin mungutin sampahnya." Aku ingin hukuman ini segera selesai dan kembali ke kelas. Aku tidak mau terlalu lama meninggalkan pelajaran. Terutama, terlalu lama berurusan dengan mahluk bernama Mario.
"Santai aja Diana, tunggu bakso aku habis." Jawab Mario dengan mulut yang penuh makanan.
Sial!! Namaku mulai diingat. Semoga ingatannya tentang namaku tidak permanen. Amin..
"Iya nih, buru-buru amat sih.." Timpal Abdul dengan keadaan yang sama.
"Ya udah cepetan. Nanti kalau ada guru yang lewat bisa ditambah hukuman kita." Jawabku sambil menunjukkan wajah kesal, dan mereka tetap melanjutkan makan dengan santai. Kesel kan..
Beberapa menit kemudian kulihat mangkuk mereka sudah kosong.
"Ayo cepetan bayar, trus langsung lanjut ngambil sampah nya. Cowok kok makannya lelet banget." Aku mulai habis kesabaran.
"Astaga ni cewek, baru juga selesei. Lagian buru-buru amat. Kebelet apa sih?". Tampaknya Abdul mulai jengkel denganku.
"Sabar Dul, lagi dapet kali. Udah buruan bayar yuk" Kata Mario sambil cekikikan.
"Sabar Diana,," Gumamku dalam hati.
Setelah selesai transaksi, Mario mulai bergerak dengan menenteng kantong plastik besar yang masih kosong. Namun bukannya memunguti sampah, dia malah memasuki kios kantin dari pintu samping.
"Bu Ida, biasa buk.. Sampahnya saya buangin ya buk.." Ucap Mario pada buk Ida yang sedang sibuk menggoreng.
"Oh iya mas Mario. Ini kebetulan sudah penuh." Jawab bu Ida sambil menuang sekeranjang sampah pada kantong plastik kami.
Astaga, ternyata ini rencananya. Mengumpulkan sampah sampah. Bukan memunguti sampah. Sangat cerdas. Aku jadi terkagum dibuatnya. Mungkin karena terlalu sering terlambat makanya ide briliant ini jadi terpikir dikepalanya.
Selesai dari satu kios kami bergeser ke kios lainnya. Mario yang dibantu Abdul saling bahu membahu memindahkan isi dari tiap keranjang sampah ke dalam kantong plastik kami. Yes, tanganku bersih. Hehehe..
Keluar dari kios terakhir, Mario mengikat kantong plastik yang sudah penuh oleh sampah.
"Beres kan,," Mario menyunggingkan senyum menyombongkan diri.
Eh, kok manis banget senyumnya. Sejak kapan Mario yang menyebalkan jadi keliatan imut. Ternyata hanya dengan mengumpulkan sampah bisa mengubah persepsiku pada seseorang.
"Gak sampe lima menit." Lanjut Abdul.
"Wah, hebat juga kalian. Kenapa gak dari tadi aja. Pake makan bakso segala. Lama." Aku yang mulanya cemberut mulai tersenyum kagum.
"Kalau langsung dikumpulin, ketahuan dong kalau kita cuma mindahin sampah bukan mungutin sampah."
"Betul juga, ya udah yuk." Ajakku untuk segera menyerahkan kantong sampah ini dan segera masuk kelas.
"Heh, ayok ayok aja. Kamu yang bawa sampahnya! Enak aja tangan kamu bersih." Kata Mario dengan ketus.
"Hah?" Mataku membulat seketika.
"Jangan manja ya buk, hihihi.." Ledek Abdul sambil nyelonong pergi.
Sumpah! Mario.. Kamu gak jadi imutnya.
...
Author's cuap:
Makasih teman-teman pembaca setia "Titip Salam"
udah ngikutin terus kelanjutan novel ini. Maaf kalo ada typo typo.
Jangan lupa jempolnya ya 👍 untuk terus support karya aku dan ikutin terus kelanjutan ceritanya.