Titip Salam

Titip Salam
Tangan Sakti



Author's cuap: 😉


Mau nya sih di skip ajah..


Tapi kayaknya seru deh part "Pijat urut" kaki Diana yang keseleo itu di tuliskan..


Bagi yang pernah ngerasain dipijit urut, moga bisa kbayang ikutan ngilu..


Hahaha..


Next...


 


Rumah kediaman keluarga Arman selalu ramai setiap hari. Selain karena adanya toko kecil di sisi sebelah kanan rumah tersebut, rumah itu sering menjadi tempat singgah ibu-ibu tetangga untuk saling bersilaturrahmi sambil menunggu pedagang sayur keliling, alias ngerumpi.


Rumah itu memiliki pelataran yang cukup teduh dengan pohon mangga yang sangat rindang yang memayungi trotoar tepi jalan. Pemilik rumah meletakkan kursi kursi kayu di teras rumah dan batas sempadan menggunakan dinding cor setinggi setengah meter yang nyaman pula untuk dudukan.


Hampir setiap malam bila pak Arman sedang di rumah, giliran bapak-bapak tetangga yang nongkrong sambil memesan kopi atau minuman dingin di toko bu Mila, istri pak Arman.


Rumah itu adalah rumah tinggal Diana.


Malam itu rumah pak Arman tak hanya menjadi tempat singgah bapak-bapak tetangga di teras rumah, tetapi sedikit berbeda dari biasanya. Bu Mila sengaja mendatangkan tamu khusus.


Seorang wanita yang sudah cukup sepuh datang memenuhi undangan tuan rumah. Dia adalah Mbok Sanimah. Tukang pijat urut yang sudah tersohor hingga seluruh penjuru kabupaten. Waiting list-nya begitu panjang. Waaah...


Mbok Sanimah hanya menerima pasien pijat sampai sore saja. Beliau beralasan karena sudah sepuh jadi tidak kuat lagi bila menerima pasien pijat terlalu banyak.


Mbok Sanimah memberi pengecualian untuk tetangga dekat dengan kondisi darurat. Begitulah akhirnya bu Mila, mama Diana dapat membawa Mbok Sanimah ke rumah sebagai dewi penolong putri sulungnya yang cidera kakinya hingga terseok-seok ketika berjalan.


Mbok Sanimah benar-benar lihai dalam menjalankan profesinya. Pijatannya yang mujarab seperti tongkat sihir ibu peri yang menyulap buah labu menjadi kereta kuda.


Ditambah bumbu-bumbu bahan obrolan yang menggelitik membuat pasien pijatnya berasa akrab dan tidak sungkan.


"Wah, hebat adeknya ya.. Perempuan tapi jago silat." Ucap mbok Sanimah dengan aksen Madura yang begitu kental setelah mengetahui penyebab keseleonya kaki Diana.


Lidahnya yang begitu manis memuji-muji pasien pijatnya tidak sejalan dengan jemari jempolnya yang langsung menukik ke sumber urat yang keseleo.


"WADAAU... Pelan-pelan mbok.. Sakit.." Keluh Diana sampai meneteskan air mata.


Diana sampai dibuat menggeliat jumpalitan, meringis kesakitan. Keringatnya bercucuran berusaha keras menahan air mata agar tidak meleleh, namun ternyata bendungan itu terlalu rapuh yang akhirnya tumpah juga.


"Byuh, byuuh.. Masak jagoan silat, tapi dipijat dikit sampe nangis. Malu sama musuhnya toh.. Hihihi.."


Sudah kesakitan ditambah dapat ledekan pula. Diana benar-benar merasakan sakit lahir dan batin jadinya. Antara meraung karena sakit sekaligus tertawa merasa lucu pula dengan candaan mbik Sanimah.


Begitulah cara kerja mbok Sanimah. Beliau bisa saja mengalihkan rasa sakit pasien pijatnya menjadi candaan yang menggelitik. Membuat pasien pijatnya meringis-meringis tertawa dalam nyeri yang menusuk.


Mama dan Tania sampai terpingkal-pingkal mendengar celotehan mbok Sanimah. Mama sampai rela menutup sebentar tokonya bukan demi menemani anaknya yang sedang di pijat, melainkan tak ingin melewatkan sajian ketoprak humor yang sangat menghibur.


"Langsung di tarik aja uratnya yang kejepit itu mbok, biar cepet sembuh.. Hihihi.." Timpal mama yang duduk setia di samping mbok Sanimah.


"Mama kejam banget sih ma.. Sakit tauk ma.. Hiks hiks.." Diana sampai sesenggukan menahan klimaks sakitnya di urut.


"Lemah sekali mbak Diana ini.. Hahaha.." Celetuk Tania yang ikut tertawa terbahak-bahak.


"Hepi banget kamu liat mbaknya tersiksa. Awas saja kalau nanti kamu yang dipijat, mbak rekam kamu nangis-nangis ntar mbak tunjukin ke teman-teman kamu." Ancam Diana sambil menghapus lelehan air matanya.


"Sadisnya mbak Diana.. Huhuhu, takut aku.. hahaha.."


Diana cemberut menghadapi adiknya yang pandai bersilat lidah.


"Aw, aw, mbok.. istirahat dulu dong mbok.. Jangan langsung digenjot gitu mijitnya.." Rengek Diana yang menggeliat kesakitan.


"Iya sudah dek, istirahat dulu. Kasih minum dulu anaknya buk, kasihan itu sampe merah mukanya keringetan semua. Hehehe.." Ledek mbok Sanimah yang diikuti mama yang menyerahkan segelas air pada Diana.


"Dipijet dikit saja keringetnya sudah kayak tarung silat sama macan ya dek.. Padahal kan mbok kalem kalem mijitnya ya?"


Diana memanyunkan bibirnya. "Kalem apanya.. Kalau bkan karena pingin ikut kompetisi mending dikompres aja sendiri trus dioles salep pereda nyeri. Biar sembuh sendiri" Gerutu Diana dalam hati.


"Ini keseleo kalau gak cepet dipijet, bisa lama sembuhnya. Malah nanti bsa pincang-pincang terus jalannya. Ditahan sedikit tapi sebentar lagi bisa silat silatan lagi ya.." Ucap mbok Sanimah.


Diana sedikit tersentak. Mbok Sanimah seakan bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya. Apakah sesakti itu beliau?


"Dikit lagi ya dek.. Itu sudah betul lagi uratnya, tinggal dilemesin aja. Di jamin udah gak sakit kayak yang tadi." Ucap mbok Sanimah sambil memulai aksinya lagi.


"Tapi pelan-pelan mbok, jangan langsung ditekan gitu. Aku kan kaget, gak siap." Gerutu Diana setelah meminum habis segelas air.


"Lah, kalo pake siap-siap dulu, bisa ditendang saya sama sampean. K.O. Saya." Jawab mbok Sanimah yang diikuti cekikikan dari mama dan Tania.


"Tuh, sampe diketawain adeknya, belum kalau diketawain pacarnya.. Apa gak tambah malu sampean dek, Hehehe.." Kata mbok Sanimah yang masih terus melanjutkan ledekannya.


Diana hanya cemberut mendengar candaan mereka. Dia merasa korban teraniaya disini.


Memang benar yang dikatakan mbok Sanimah. Pijatan berikutnya sudah tidak begitu sakit. Semakin lama rasa sakit itu pun berangsur sirna.


Benar-benar mujarab tangan mbok Sanimah. Pantas saja namanya sudah dikenal bahkan hingga ke luar kota.


Beliau tidak pernah mematok harga untuk upah pijatnya. Dia selalu bersyukur seberapapun yang diberikan. Meskipun begitu, dari upahnya memijat, beliau berhasil menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana. Beliau juga mampu menyisihkan sebagian uangnya untuk menabung ongkos naik haji. Bahkan, sekarang dia termasuk salah satu donatur di panti asuhan di kampungnya. Benar-benar pribadi yang mengesankan.


Dia cukup merasa senang dapat meringankan penyakit orang lain. Benar-benar mulia hatimu mbok.


"Nah, sudah enak kan dek.. Sudah gak pake pincang-pincang lagi sampean." Mbok Sanimah mengakhiri pijat urutnya dengan mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa.


"Iya mbok, udah enakan. Tapi masih nyeri dikit." Kata Diana sambil menggerak-gerakkan pergelangan kakinya.


"Itu nyeri bekas dipijitnya. Besok sudah hilang itu.." Jawab mbok Sanimah sambil meminum habis sisa teh hangatnya tadi.


"Makasih ya mbok.." Ucap Diana kemudian.


"Kalo gitu saya pamit ya.." Mbok Sanimah pun perlahan berdiri dari duduknya.


"Kok buru-buru mbok, duduk dulu disini. Kan jarang-jarang mbok ke rumah saya." Ucap bu Mila, mama Diana.


"Haduh terimakasih buk, langsung pulang saja saya. Mau istirahat sambil nonton tipi. Biar gak ketinggalan sinetron idola saya.."


"Jangan bosen saya mintai tolong ya mnok," Mama menyalami mbok Sanimah sambil menyelipkan amplop dalam sesi berjabat tangan itu.


"Saya juga makasih. Maaf kalo omongan saya kadang remnya blong ya dek, sehat terus ya.."


Diana pun bersalaman dan diikuti oleh Tania. Mama mengantar mbok Sanimah sampai depan rumah.


"Mbak Diana lucu deh waktu nangis.." Ucap Tania sambil memperlihatkan video waktu Diana teriak sambil terisak dari hape ayah.


"Taniaaaaa..."


Begitulah kakak beradik itu menikmati keakraban mereka.


...


Author's cuap: 😉


Yang perlu jasa mbok Sanimah,


bisa langsung chat author aja ya buat dpt nomernya..


Hahahaa...