
#91
Jangan Keduanya Sekaligus
Ketika fisik tidak begitu lelah, saat menjelang tidur otak akan bekerja lebih keras.
Bagi seseorang yang pemikir, tenggang waktu menuju rasa kantuk adalah saat untuk memikirkan banyak hal. Entah itu sesuatu yang terjadi di masa lalu, peristiwa seharian ini, atau tujuan untuk hari esok bahkan masa depan.
Terkadang saat-saat tersebut adalah momen yang tepat untuk introspeksi diri, mengoreksi apa yang telah terjadi seharian ini, dan berusaha memperbaiki esok harinya.
Termenung. Mungkin itu istilah yang cocok.
Seperti yang terjadi pada Diana saat ini. Perkataan sang Mama dalam perbincangan hangat sore tadi masih terngiang-ngiang ditelinganya.
Diana benar-benar memikirkan setiap nasihat yang dikatakan oleh Mamanya kala itu.
Ketika itu Diana sedang membantu sang Mama membuat sambal uleg untuk makan malam.
"Di, teman kamu sekarang banyak cowoknya ya?" Pertanyaan pembuka yang langsung pada inti.
"Gak juga Ma." Jawab Diana singkat.
"Nah itu, Willy sama satu lagi siapa ya namanya?" Ucap Mama Mila berusaha mengingat.
"Mario." Jawab Diana singkat.
"Mama baru lihat kamu berteman sama mereka. Apalagi Willy yang beda sekolah. Gimana caranya bisa berteman akrab?"
Diana menghela nafas pelan "Ih, Mama nih lupa ya kalau Mama juga turut andil membuat kita semakin akrab gara-gara berangkat dan pulang bareng ke acara di GOR waktu itu?" Jawab Diana.
"Iya Mama tau, tapi kan sebelumnya kalian sepertinya sudah akrab."
Diana bingung bagaimana cara menceritakannya. Tidak mungkin dia menceritakan kejadian sebenarnya tentang pertemuan awal mereka. Diana khawatir Mamanya akan berpikir yang tidak-tidak yang akan merugikan Diana nantinya.
"Gak sengaja ketemu, terus kenalan, dan berteman deh.."
"Gak sengaja ketemu dimana?" Tanya Mama Mila penasaran.
"Udah lupa Ma, udah lama juga." Ucap Diana berbohong.
"Kamu jangan sembarangan kenalan-kenalan sama orang. Iya kalau orang itu baik. Kalau gak bener gimana?" Ucap sang Mama yang mulai khawatir dengan pergaulan putrinya yang tengah beranjak dewasa.
"Mereka berdua suka sama kamu ya?"
Deg,
Diana sontak menghentikan gerakan mengulegnya sesaat. Diana hanya terdiam kemudian melanjutkan kembali menghaluskan cabai-cabai yang entah berapa jumlahnya.
"Apa salah satunya pacar kamu?"
"Enggak Ma," Jawab Diana spontan.
"Diana gak pacaran sama siapa-siapa kok." Lanjutnya dengan intonasi yang tetkesan sedang kesal.
Mila menghela nafas pelan. Inilah sulitnya memiliki anak seusia remaja. Mila harus pandai-pandai mengambil sikap dalam setiap nasihat. Jangan sampai sang anak merasa terlalu dikekang tetapi juga tidak dibiarkan terlalu bebas begitu saja.
"Di, kamu sekarang sudah besar. Sudah harus dapat memilah mana yang baik dan tidak."
Diana terdiam hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Tiap ucapan sang Mama kali ini penuh dengan keseriusan. Tangannya terus bergerak menguleg sambal di sebelah sang Mama yang
"Mama gak membatasi kamu bergaul sama siapa pun, boleh. Tapi ingat, jaga diri, jaga kepercayaan Mama dan Ayah." Ucap Mila sembari membelai kepala putri sulungnya.
"Teman, sahabat, pacar, itu hanya istilah Di.. Apapun istilahnya itu, Mama gak mau kamu salah bergaul yang membuat sekolah kamu terganggu."
"Mama gak akan pernah bosan buat terus ingatkan kamu, untuk kebaikan kamu, karena Mama sayang kamu. Kamu ngerti kan?"
Diana mengangguk. "Iya Ma, makasih ya.." Diana memeluk sebentar sang Mama. Inilah rasanya disayang.
"Mama mau nanya lagi, tapi kamu harus jawab jujur ya.."
Diana melepaskan pelukannya lalu menatap sang Mama yang sedang mengiris bawang sambil tersenyum penuh makna.
"Kamu suka ya, sama Willy?"
Deg,
Diana langsung memalingkan wajah ketika Mamanya bertanya sambil menatap lekat dirinya.
"Atau sama Mario?"
Diana semakin salah tingkah dengan pertanyaan Mamanya.
"Mama apaan sih, kok nanya kayak gitu?" Ucap Diana sambil menambahkan gula dan garam pada sambalnya.
"Kamu boleh cerita sama Mama, lebih terbuka sama Mama, gak usah malu. Mama juga pernah muda. Lebih bagus kamu cerita sama Mama, biar Mama bisa kasih saran yang baik." Ucap Mama.
"Jadi yang mana? Willy atau Mario?" Mama sampai cekikikan melihat putrinya salah tingkah.
"Ayo dong, jujur sama Mama.."
"Mama ih, gak usah godain mulu ah," Diana cemberut kesal. Dia sering sekali mengobrol dan bercerita banyak hal dengan Mamanya. Namun entahlah untuk yang satu ini, Diana ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri saja.
"Keduanya baik, ganteng, tapi kamu gak boleh naksir keduanya sekaligus."
Jleb!
Diana terdiam. Kata-kata yang terucap dengan santai seolah menohok menusuk ke relung hati.
"Naksir keduanya?" Ucapnya dalam hati.
"Emangnya kenapa Ma?" Tanya Diana dengan polosnya.
Mama menatap putri sulungnya yang begitu lugu. Tangan hangatnya sekali lagi membelai kepala putrinya sambil tersenyum.
Namun satu kejadian membuat Mama tersentak. Diana mundur menjauhi sentuhan hangat tangannya.
"Kenapa Di?"
"Mama habis motong bawang ya? Aduh, rambut aku jadi bau bawang nih Ma.." Diana menggerutu kesal sambil mengendus-endus rambutnya.
"Eh iya, maaf Mama lupa belum cuci tangan." Sang Mama pun hanya cekikikan karena ketidaksengajaan yang ia lakukan membuat putrinya cemberut.
"Udah selesei uleg sambelnya?" Tanya Mama mengalihkan masalah.
Diana kemudian menyerahkan hasil ulekannya. Halus, merah, dan menggugah selera untuk segera mengambil gorengan lalu mencocol sambal tersebut. Pedas..
"Coba cicipin sambalnya." Ucap sang Mama sambil menumis sayuran.
Diana segera pergi mengambil handuk di kamarnya untuk mandi sekaligus mencuci rambutnya. Dia tidak mau kalau aroma bawang ini lama-lama menempel di rambutnya.
"Diana, kok asin sekali sambalnya." Ucap sang Mama ketika Diana melewati dapur hendak ke kamar mandi.
Diana mendekat mencolek sedikit sambal hasil karyanya. Dia selalu membuat sambal dengan rasa yang pas. Lalu kenapa sekarang terlalu asin?
"Kayaknya tadi aku ngasih garam satu sendok aja kayak biasanya." Ucap Diana.
Tak lama ia membelalakkan matanya. "Cuma satu sendok sih, tapi kayaknya satu.. dua.. tiga kali.." Gumam Diana sambil cengar cengir di hadapan Mamanya.
"Ya udah mama tambahin aja gula sama tomatnya biar gak keasinan, hehehe.."
Diana segera kabur masuk ke kamar mandi sebelum sang Mama berkomentar lebih lanjut.
Dalam kesendiriannya di kamar mandi, Diana kembali terngiang ucapan Mamanya yang "... tapi kamu gak boleh naksir keduanya sekaligus."
Diana masih tudak mengerti dengan apa yang ia rasakan. "Emangnya naksir itu kayak gimana ya?" Batinnya.
Dan hal tersebut masih terus mengganggu pikirannya sampai sekarang ketika menjelang tidur.
"Naksir? Emangnya aku naksir mereka?" Tanya Diana pada dirinya sendiri.
Diana jadi tersenyum sendiri mengingat semua peristiwa yang ia alami dengan Mario ataupun Willy. Semuanya terkesan lucu dan menyenangkan ketika dikenang.
"Kalau besok SMA kita bertiga satu sekolah, Mario sama Willy bakalan berantem mulu gak ya?"
Cling,
Bunyi notifikasi pesan masuk.
Diana tersenyum ketika membaca nama kontak Willy si Congek Cakep pada notifikasi pesannya.
"Umur panjang banget, lagi dipikirin langsung nongol." Batin Diana.
*Minggu bsok mau dibawain pentol korea yg kmrin gk?
Skalian ambil kue psenan Mama
Diana benar-benar senang mendapat tawaran yang sangat sulit untuk tidak di-iya-kan. Cepat-cepat ia mengirim balasan.
*Mau bingit..
Nanti aq gnti uangnya di rmh ya,
Kirim
Tak selang berapa lama ada balasan dari Willy lagi.
*Gausah diganti Di,
Bikinin aja aku jus alpukat jumbo nanti..
hehehe :-P
Diana cekikikan di depan layar hapenya, sambil jemarinya mulai menari mengetik balasan.
Diana mengetik dengan lincah sampai ia tak menyadari ada notifikasi pesan baru lainnya yang tak sengaja terbuka pula.
*Okeh, ditunggu ya..
Duh, gak sabar banget jdnya
Kirim
Sementara di seberang, Mario tersentak kaget mendengar notifikasi pesan masuk dihapenya hanya selang satu detik setelah ia mengirim pesan,
*Hei cwek galak!
Headsetnya udak ketemu blm?
Hari Minggu aku ke rmh km lg ya,
Mau ambil headsetnya
Awas aja kalau gk ada
Aq culik km nanti
Mario tersenyum membaca pesan balasan dari kontak Cewek Galak Q .
"Cepet banget balasnya?" Batin Mario dengan senyum riang gembira.
Di otaknya sudah membayangkan balasan caci maki dari gadis itu. Tentu hal itu membuat Mario bersemangat agar dia dapat memperpanjang durasi saling berbalas pesan.
*Okeh, ditunggu ya..
Duh, gak sabar banget jdnya
"Loh, kok balesannya gini?" Mario mengernyit heran mendapat balasan manis dari Diana. Ini diluar espektasinya.
Mario semakin tersenyum senang. Dia benar-benar merasa kehadirannya begitu dinantikan oleh gadis itu.
Sementara yang terjadi pada Diana, kini dia kalang kabut sendiri karena salah kirim pesan.
"Aduh.. sialan! Kok bisa salah kirim.." Gerutu Diana akibat kecerobohannya sendiri.
Diana segera mengirim pesan ulang untuk mengonfirmasi kekelirua tadi.
"Yah, pulsanya abis.. " Diana merengek kesal pada dirinya sendiri.
"Aduh, Mario mikir apa nanti?"
Aaarrrghh..
...
Author's cuap:
Makanya Di, jangan dua dua..
Bagilah author satu..
Hahaa