Titip Salam

Titip Salam
Suara Barritone



#75


Suara Barritone


Pukul 21.00 waktu setempat, Mario yang baru membereskan buku-buku sekolahnya, kini sedang mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


Matanya mulai terpejam namun rasa kantuk belum menghampirinya. Pikirannya masih berkelana pada seorang gadis galak yang tersenyum malu-malu dengan pipi merona. Mario jadi teringat janjinya yang akan melakukan paggilan pada gadis itu.


"Kamu sudah tidur belum ya?" Gumam Mario sambil menatap langit-langit kamarnya.


Mario meraih hapenya dan mencari kontak yang ia namai Cewek Galak Q lalu menekan tombol panggil.


*Tut.. tut..


Tut.. tut*..


Mario menunggu dengan harap-harap cemas. Ini kedua kalinya ia melakukan panggilan setelah usahanya yang pertama selalu saja di riject.


"Semoga kali ini diangkat." Gumam Mario.


Ceklek,


"Wah diangkat!" Kini giliran Mario yang gelagapan.


Dia bingung bagaimana cara memulai kata meskipun hanya sekedar menyapa.


"Hei, cewek galak! Belum tidur?" Itulah yang keluar dari mulut Mario. Tidak ada kesan manis sama sekali.


"Besok ujian, kalo udah belajar langsung tidur ya," Lanjutnya.


"Iya," Terdengar sahutan dari seberang.


Mario terperanjat kaget. Berkali-kali ia melihat ulang layar hapenya untuk memastikan dia menghubungi kontak yang tepat.


Dia merasa heran, karena bukan suara cempreng Diana yang ia dengar, melainkan suara barritone seorang pria dewasa.


"Waduh, apa salah sambung ya?" Batin Mario.


"Eh, maaf ini benar nomor Diana?" Tanya Mario berasa keki karena langsung menyambar sok akrab tanpa basa basi.


Memang dia belum memastikan betul kalau itu adalah nomor hape Diana. Dia hanya menerka dari pesan terakhir yang dikirim untuknya.


"Betul ini nomor Diana. Ada apa cari Diana?" Ucap suara barritone disana.


"Ma-af, terus ini siapa ya?"


"Ini Ayahnya Diana."


Jedeeeer...


Mario serasa disambar petir. Dia langsung duduk menegakkan punggungnya. Sungguh, dia tidak ada persiapan untuk situasi seperti ini.


"Eh, O-m A-yah ma-af kalau ganggu." Mario berusaha mengatur napasnya.


"Ah, gak ganggu kok. Lagi santai." Sahut Ayah Diana.


Mario mulai berkeringat dingin. "Aduh mau ngomong apa ya?" Batinnya.


"Eemm, Diana nya ada Om?" Tanyanya memberanikan diri.


"Ada, kenapa?"


Antara deg-deg-an tapi kesal "Ya mau ngobrol lah sama Diana nya Om, makanya aku telpon." Sayangnya kata-kata itu hanya ada dalam pikiran-pikiran Mario.


"Emm, Kalau Diana nya gak bisa diganggu kalau gitu gak apa-apa Om. Maaf." Lebih baik disudahi saja, begitulah pikir Mario.


"Oh iya, kamu yang nganter Diana tadi?"


"Hah?" Mario kembali gelagapan mendapat umpan percakapan dari suara diseberang.


"Terimakasih ya, maaf merepotkan." Lanjut sang Ayah.


"Oh, iya sama-sama. Gak masalah kok Om." Ucap Mario sambil garuk-garuk kepala.


Hati Mario benar-benar ingin menyangkal karena memang bukan dirinya yang mengantar Diana tadi melainkan Willy. Tetapi apalah daya, rasanya semua akan lebih cepat selesai bila di-iya-kan saja.


"Tapi begini ya nak,-" Suara sang Ayah terjeda karena Ayah mengecek layar hape Diana untuk mengetahui nama sang penelepon. Dan yang tertulis disana membuat Ayah mengerutkan keningnya.


"Nak- Super Mario-" Ucap Ayah mengeja tulisan yang ada disana.


Mario yang masih dengan ketegangannya seolah otaknya lambat mencerna apapun yang dikatakan Ayah Diana di seberang telepon. "Nak Super Mario?" Gumam Mario.


"Nak Super Mario, lain kali kalau sudah pulang gak usah belok-belok ya. Langsung pulang aja. Apalagi kalau beloknya belum ijin sama orang tua ya.. Jangan buat orang tua khawatir." Ucap Ayah Diana dengan nada yang santai.


Namun tidak pada indera pendengaran Mario. Sesantai apapun cara bicara seorang diseberang sana tetap membuat jantungnya memompa secara marathon.


"Ya udah, besok kamu kan ujian juga. Mending sekarang istirahat biar besok pikirannya segar, gak kecapekan." Ucap Ayah Diana.


"Iya Om, terimakasih. Kalau gitu saya tutup teleponnya. Selamat malam Om." Ucap Mario.


"Iya selamat malam." Jawab Ayah Diana dari seberang telepon.


Tut.. tut.. tut..


Huft,


Mario mengatur napasnya yang ngis-ngosan. Rasanya lega sekali setelah telepon itu dimatikan.


"Kenapa yang angkat Ayahnya? Ini nomor Diana atau Ayahnya sih? Apa Diana pinjam hape Ayahnya untuk sekedar kirim pesan waktu itu? Tauk ah," Monolog Mario pada dirinya sendiri.


Dia melempar kesal hapenya ke atas kasur lalu meraih guling dan berbaring memeluknya.


Berkali-berkali Mario menghembuskan nafas guna menetralisir rasa kesal campur tegang yang masih tsrsisa.


Namun tak beberapa lama dia tertawa atas apa yang baru saja menimpanya. Dia sudah benar-benar tidak waras. Ini adalah kali pertama dia menelepon cewek namun yang mengangkat malah bapaknya. Sungguh pengalaman yang tak akan ia lupakan. Gemetarnya itu loh, hmm pahit pahit syedaaap.


Pikirannya kembali pada perkataan Ayah Diana yang "... lain kali kalau sudah pulang gak usah belok-belok ya. Langsung pulang aja..."


"Congek ngajak Diana kemana ya?" Pikiran Mario mulai resah.


"Apa jangan-jangan dia nembak Diana?" Mario termenung menatap langit-langit.


Sejenak kemudian dia memejamkan matanya "Diana, bagaimana perasaan kamu pada Congek?" Gumam Mario.


Sejenak rasa percaya diri yang berapi-api kembali surut. Mario kembali merasa ragu.


Jujur, Mario begitu terkejut dengan tampilnya Willy dipanggung kala itu. Karena yang ia tahu pemuda itu tidak termasuk dalam pengisi acara. "Kok bisa?" Itulah yang masih menjadi pertanyaan di kepalanya.


-


Sementara di kediaman keluarga Arman, Ayah Diana, dimana sang Ayah yang sebelumnya gak ada niat mengobrak-abrik isi hape Diana menjadi terpancing untuk memeriksa apa yang ada di benda pupih mungil itu setelah menutup panggilan dari kontak yang bernama Super Mario.


"Dasar anak muda, ngasih nama kontak kok aneh-aneh." Gumam Ayah Diana sambil cekikikan merasa lucu dengan kelakuan putrinya itu.


Cling,


Bunyi notifikasi pesan masuk.


"Ini siapa lagi malam-malam sms." Gumam Ayahnya.


"Wi-lly si- Co-Ngek Ca-kep? Humphfft.." Ucap Ayah Arman yang merasa geli mengeja nama kontak si pengirim pesan.


Diana udah selsai blajarnya?


bsk ujian,


Semangat ya


Smoga lancar


Amin :-)


"Siapa ini? Sok perhatian sekali dia." Gumam Ayah.


Ada rasa cemburu di hati sang Ayah ketika mengetahui ternyata banyak teman laki-laki putrinya yang memberikan perhatian.


"Memangnya Diana sepopuler itu ya?" Batin sang Ayah.


Sementara sang Ayah yang sibuk dengan hape putri sulungnya? Sang putri sendiri masih dirundung gelisah du atas tempat tidurnya.


"Tadi Mario bilang mau telpon kan? Kiea-kira dia jdi telpon gak ya? Kalau Ayah yang angkat gimana? Aduh perasaan jadi gak enak." Gumam Diana. Bagitulah pikirannya yang membuat dirinya semakin gelisah hingga akhirnya tertidur karena kelelahan memikirkannya.


...


Author's cuap:


Santai Di, gak usah dipikirin


paling juga diajak duel catur sama sang Ayah.


Hahahaha


Siapa ya, yang pernah mengalami kayak gitu?


Mau telpon gebetan, eh yang angkat bapak atau ibu nya


Hahahaha auto jiperrr