Titip Salam

Titip Salam
Debat On the Road



#80


Debat On the Road


Apa kabar Congek?


Willy sedang menikmati hari Minggunya dengan bangun pagi, membantu Mamanya bersih-bersih area teras rumah, memandikan si item tersayang, sisanya menonton kartun di televisi sambil sarapan pagi.


"Kebiasaan ya.. Belum mandi udah sarapan." Ucap Lina, Mama Willy sambil menjewer putranya yang sedang bengong nonton kartun di televisi.


"Aw, aw, sakit Ma.." Ucap Willy mengusap-usap telinganya.


"Ini kan masih pagi banget Ma.. Lagian ini tuh hari Minggu. Santai dikit lah Ma.."


"Pagi banget apanya? Sudah jam delapan Wil. Mau mandi jam berapa kamu?" Ucap sang Mama sambil berkacak pinggang.


"Ntar habis Doraemon ya?" Ucap Willy sambil melahap sepiring nasi goreng di pangkuannya.


"Cepat habiskan sarapannya, langsung mandi, terus bantu mama ambil pesanan kue buat acara di rumah sakit, Oke!" Ucap sang Mama sambil menyapu lantai rumah.


"Yah Mama. Aku lagi males kemana-mana nih. Lagi mager, badan cap-"


"Ini bukan tawaran ya, tapi perintah." Ucap sang Mama langsung memotong perkataan putranya.


"Kamu nih ya, kalau nganter cewek aja langsung semangat di-iyakan. Giliran nganter Mamanya sendiri alasannya sejagat raya." Ucap sang Mama dengan nada kesal sambil terus melanjutkan aktivitasnya bersih-bersih rumah.


"Hmm Mama cemburu nih?" Ucap Willy yang malah meledek Mamanya.


"Ngapain cemburu. Pacar aja bukan!"


Jleb,


Ucapan sang Mama benar-benar menohok relung hati terdalam.


Iya! Memang benar bukan pacar atau istilah apapun yang dirasa spesial. Hubungannya benar-benar murni hanya orang lain yang saling mengenal.


Bahkan pesan yang Willy kirim tidak berbalas sampai saat ini.


Usaha Willy memang harus jalan ditempat karena jarak yang memisahkan. Mereka memang tinggal di Kota yang sama namun perbedaan sekolah membuat intensitas pertemuan mereka berdua sangat sulit terjadi. Apalagi sang rival yang tengah sama-sama berjuang memiliki keberuntungan memiliki zona yang lebih dekat dengan target alias berada di satu sekolah yang sama dengan doi.


Willy melihat jelas usaha keras Mario dalam menarik perhatian Diana. Mario tampak bersungguh-sungguh menyukai gadis itu. Bahkan hal paling nekat ia berani lakukan terang-terangan di depan umum.


"Bagaimana mungkin Diana tidak tersentuh dibuatnya?" Begitulah pikir Willy.


Setidaknya Willy sudah cukup puas dan lega setelah dapat mengungkapkan isi hatinya.


Harapan berjumpa dengan sang pujaan hati yang dirasa sangat mustahil membuat Willy harus sedikit berjuang dengan menguntit diam-diam dari jarak jauh hanya untuk sekedar sekilas melihat senyuman gadis itu ketika lewat gang dekat halte saat jam pulang sekolah.


Namun hari itu berbeda. Ada pemuda lain yang tersenyum bersamanya. Diana sedang duduk berdua bersama Mario di halte itu. Sekali lagi, Willy merasakan pahitnya sebuah rasa yang tidak sempurna.


Putus asa kah?


Beruntung Willy memiliki kewarasan yang membuatnya tetap kuat dalam menghadapi patah hati pertamanya. Nilai-nilai keTuhanan yang telah ditanamkan sejak dini membuat rohaninya senantiasa sehat meskipun dalam keterpurukan sekalipun.


Jalannya masih begitu panjang. Mungkin saat ini dia tidak sedang beruntung. Tapi nanti, siapa yang tahu. Willy sedang menunggu kesempatan itu. Saat mereka SMA nanti, karena tujuan Sekolah lanjutan sang gadis ternyata sama dengannya. SMA favorit se-Kota Gresik, SMA 7.


"Sabar Willy, cukup belajarlah yang sungguh-sungguh, dapatkan nilai bagus, lulus tes seleksi, agar dapat diterima di SMA itu." Ucap Willy menguatkan dirinya dengan mengingatkan prioritas utamanya adalah sekolah. Masalah doi anggap saja bonus penyemangat.


"Willy, cepetan sarapannya! Nanti Mama kesiangan jadinya." Ucap sang Mama dengan intonasi tinggi membuat Willy sontak gelagapan dan cepat-cepat melahap sepiring nasi goreng di pangkuannya.


...


Lina, sang Mama Willy sudah rapi dengan seragam perawat yang dilapisi jaket tipis, sudah bertengger cantik diatas motor matic miliknya.


Rencananya hari ini Willy dimintai tolong oleh sang Mama untuk membantu beliau membawa pesanan kue untuk acara seminar di aula Rumah Sakit, sekalian mengantar sang Mama menuju tempat kerjanya.


"Willy, cepetan! Anak cowok dandannya lama banget sih." Gerutu sang Mama yang sudah keringetan menunggu anak bungsunya di atas motor.


"Iya, iya Ma.. Masih tanggal muda kok udah uring-uringan melulu sih," Ucap Willy setelah mengunci rumah dan menghampiri Mamanya.


"Aw," Cubitan kecil yang mendarat di lengan pemuda jangkung itu terasa begitu pedas.


"Makanya, mulut jangan usil. Buruan naik!" Ucap sang Mama yang langsung memutar kunci motor.


"Kamu kan belum punya SIM? Nanti Mama diceramahin Pak Polisi kalau terang-terangan biarin anak di bawah umur nyetir motor." Ucap sang Mama. Perdebatan akan terasa panjang.


"Tapi aku kan udah biasa bawa motor sendiri. Kalau ada teman aku yang lihat kan malu Ma.."


"Haduh, ya udah! Tapi pelan-pelan jangan ngebut." Ucap sang Mama yang mengalah saja dari pada panjang.


Willy mengemudikan motor dengan kecepatan standar. Sementara sang ibu Ratu yang duduk manis di belakang sang joki muda nan tampan itu sedang mengecek alamat yang akan mereka tuju dari kotak masuk pesan di hapenya.


"Wil, anak muda kok naik motor kayak siput gini." Celoteh sang Mama sambil terus memperhatikan hapenya.


"Aduh, emak-emak aku satu-satunya yang paling aku cintai ini... Tadi nyuruh pelan. Sekarang dipelanin malah ngeledekin." Gerutu Willy.


"Iya kalau ini terlalu pelan. Kebiasaan kalau boncengin cewek suka di pelan-pelanin ya? Biar lama di atas motor berdua gitu? Hehe, "Ledek sang Mama.


"Astaga Ma! Masa muda Mama sama Papa seromantis itu ya? Sampe hapal banget kebiasaan anak muda." Balas Willy.


"Berarti bener ya? Hmm dasar modusnya kaum Adam dari jaman nomaden sampai jaman online sama aja!" Ucap sang Mama yang terus menggodai putranya yang baru akil balig.


"Kok jadi bawa-bawa kaum Adam segala? Papa aja kali yang suka modusin Mama. Aku mah gak gitu!" Gerutu Willy.


"Halah, Mama gak percaya. Pasti bakat modusnya Papa kamu itu menurun ke kamu!" Ucap sang Mama yang masih belum menyerah.


"Bonceng cewek juga baru kemarin Ma, masak udah dikatain tukang modus." Jawab Willy sembari menahan senyum mengingat kembali masa indah itu.


"Masak sih? Tapi kok kayak udah biasa gitu. Gak ada canggung-canggungnya sama sekali."


Lagi-lagi Willy tersenyum, otaknya memutar kembali memori saat itu. Menertawai sensasi deg-deg-an dan getaran seperti tersengat listrik yang membuatnya panas dingin ala dispenser.


"Mungkin karena kita udah saling kenal." Jawab Willy menutupi perasaannya.


"Oh, gitu. Tapi kalian kenal dari mana ya? Kalian kan beda sekolah?" Cecar sang Mama yang sangat penasaran. Jiwa kepo sang Mama meronta-ronta.


"Kepo banget sih Ma! Alamatnya dimana ini? Aku dari tadi nyetir gak tau arahnya mau kemana?" Ucap Willy mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya! Mama sampai lupa gak ngasih tau tujuannya. Haha.. Ini masih lurus terus. Rumahnya dekat PJB sana."


Eh,


"Rumah Diana harusnya di daerah sana kan?" Gumam Willy dalam hati.


"Semoga bisa gak sengaja ketemu Diana, yah minimal busa lihat sekelebatan aja. Ya Tuhan, kabulkan dong, please.." Doa Willy dalam hati.


Willy menambah kecepatan motornya secara perlahan sesuai keinginan sang Ibunda yang mengatainya naik motor kayak siput.


Plak,


"Aw," Willy mendpat tepukan dahsyat dikepalanya yang terlindungi helm dari arah belakang yang disusul suara nyaring..


"PELAN-PELAN WILLY!!! Kamu mau bikin Mama jantungan??"


Aarrgghhh,


"Tadi katanya kayak siput. Nambah kenceng dikit ngomel-ngomel. Repot!" Gerutu Willy yang kesal dengan ulah cerewet sang Mama.


Begitulah hubungan harmonis ibu dan anak. Terkadang rasa sayang tak hanya nampak dari sikap saling manja yang lemah lembut. Namun dalam setiap perdebatan sengit pun menunjukkan rasa ketergantungan yang penuh cinta kasih.


Ah, ibu.. Lindungilah telapak kakimu, karena surga anakmu ada di sana.


...


Author's cuap :


Yang kangen abang Congek, nih kita kasih obat kangennya..


Sabar ya Wil, emak-emak emang kebanyakan kayak gitu. Rempong!


Hihihi..


Ampuni aku yah para emak-emak seduniaaa...