Titip Salam

Titip Salam
Perang Dingin



#70


Perang Dingin


Kuda besi antik hitam mengkilat itu telah memasuki area parkir kawasan GOR pusat Kota. Tempat itu begitu ramai dengan hiruk pikuk manusia. Mungkin Diana hanyalah sebutir biji padi di tengah persawahan luas, dirinya tampak tidaklah penting. Namun entah mengapa dirinya merasa banyak mata yang sedang menatapnya, atau pemuda yang berada di depannya saat ini? Hal tersebut membuat Diana enggan sedikit pun tidak menoleh kiri dan kanan.


Diana turun, meletakkan helmnya pada kaca spion si item.


"Di, barengan ya masuknya. Kalau kamu ketemu teman kamu, silahkan gabung sama mereka. Tapi kalau kamu gak ada teman mending bareng sama aku aja sampai acara selesai. Toh kita pulangnya bareng kan?" Ucap Willy sambil memperbaiki tatanan rambutnya melalui pantulan kaca spion.


Diana tersenyum geli melihatnya. "Udah ganteng kok," Ucap Diana mengejek.


Willy tidak sadar sedang diperhatikan tampak tersipu dengan ledekan Diana. Antara malu-malu tapi hepi dibilang ganteng. Mereka mulai berjalan beriringan menuju gedung nan megah dihadapan mereka.


"Kalau aku bareng sama kamu ada yang marah gak?" Tanya Diana.


"Maksudnya?"


"Siapa tau pacar kamu marah, atau nanti ada teman kamu yang lihat terus lapor ke pacar kamu?"


Willy cekikikan mendengar penuturan Diana.


"Kok malah ketawa sih? Ada yang lucu?" Diana merasa heran Willy malah cekikikan seperti itu. Padahal dia hanya berusaha berhati-hati agar tidak terjadi kesalah pahaman. Karena bagaimanapun dia memang tidak terlalu mengenal Willy, yah dia memang tidak sedekat itu dengan pemuda tersebut.


"Jadi menurut kamu aku sudah punya pacar?" Willy balik bertanya.


Diana mengedikkan bahunya. "Secara cowok keren jago main basket kayak kamu, pasti banyak yang naksir." Ucap Diana. Dalam pikirannya, Willy pasti sekeren Mario di sekolahnya.


"Kalau kamu naksir gak?" Tanya Willy. Dadanya berdegup kencang menunggu jawaban apa yang akan dikatakan gadis yang berjalan disampingnya itu.


"Hah?" Diana merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri. Diana lantas tertawa saja menanggapi pertanyaan Willy. Entahlah apa itu bisa disebut jawaban?


...


Diana, kmu sdh dtg?


send


-


Cling,


Notifikasi pesan masuk


Sdah,


knapa?


-


Km duduk sebelah mana?


Aq ksana ya,


-


Cling,


Notifikasi pesan masuk


Aq d baris nmr 5 sisi kiri


Ksni aja, masih bnyak kursi kosong


Ada Willy juga


-


"Sial! Ngapain dia sama cowok itu?" Umpat Mario yang berada di belakang panggung setelah membaca pesan terakhir di hapenya.


"Ngapain sih, kok uringa-uringan?" Ucap Roni, salah satu personil bandnya yang terkejut mendengar Mario tiba-tiba mengumpat marah.


"Gak ada apa-apa." Mario pun berdiri dan melangkah menuju pintu masuk panggung, mengintip sebentar dari sisi samping panggung.


Mata itu menelisik menyapu seluruh ruangan yang dapat dijangkau penglihatannya. Ruangan yang berisi ribuan manusia, hingga pandangannya berhenti pada satu titik.


Tangan itu mengepal kuat. Rahangnya pun mengeras. Wajah itu nampak begitu marah.


Dari tempatnya berdiri, dia dapat menyaksikan seorang gadis mengenakan jaket yang sangat ia kenal, dialah yang sedang ia cari nampak berbincang dengan seorang pemuda disampingnya. Seorang pemuda yang sama sekali tidak ia harapkan berada di sana.


"Bagaimana bisa mereka duduk berdmpingan seperti itu? Apa mereka sudah janjian? Sial!" Umpat Mario dalam hati.


Mario kembali ke sisi belakang panggung sejenak.


"Ron, ntar kalau ada apa-apa telpon aja ya. Aku mau keluar sebentar." Ucap Mario berpamitan pada rekan bandnya.


"Oke bro,"


...


Cling,


Notifikasi pesan masuk


Oh,


-


"Kok cuma oh balesnya?" Gumam Diana.


"Gak ada apa-apa kok, cuma baca pesan masuk aja." Ucap Diana menyimpan kembali hapenya.


"Dari siapa emangnya?"


Diana menatap wajah pemuda disampinya yang saat ini juga sedang menatapnya, "Dari Mario." Jawab Diana.


"Oh," Ucap Willy sambil membuang wajahnya menuju layar hape yang ada ditangannya.


Diana mengernyitkan dahinya. Dia merasa heran pada dua pemuda ini. Jawaban mereka sama persis ketika nama salah satu dari mereka disebut pada yang lainnya.


"Kalian itu kompak banget tau gak?" Ucap Diana yang masih terus memandang heran pada Willy.


"Kalian?" Tanya Willy bingung tidak mengerti.


"Iya, kalian. Kamu sama Mario."


Willy mengernyitkan dahinya benar-benar tidak mengerti.


"Kalian harusnya bisa jadi teman baik lho,"


Willy tertawa. "Kamu bercanda?" Ucap Willy yang menganggap perkataan Diana adalah lelucon.


"Kok ketawa sih! Aku serius. Kalian itu punya banyak kesamaan." Lanjut Diana.


Willy tersenyum kali ini. "Kamu benar Di, kami punya satu kesamaan. Kami menyukai orang yang sama." Batin Willy.


"Ehem, hai Di." Ucap seseorang yang tiba-tiba mengambil duduk disamping Diana.


"Eh, Mario." Ucap Diana lantas tersenyum pada pemuda yang baru saja menyapanya tersebut.


Diana merasa senang ternyata Mario benar-benar menghampirinya. Sepertinya ini akan menjadi momen yang sangat tepat untuk mempertemukan Mario dengan Willy agar mereka bisa meluruskan kesalah pahaman antara mereka.


Berbeda dengan Diana dengan pemikiran baik hatinya, Willy sedikit terkejut ketika melihat Mario datang menggunakan setelan jaket yang serupa dengan jaket yang kini juga dipakai Diana.


"Kok jaket mereka sama? Pasti jaket Diana ini pemberian dari Mario. Apa Mario sengaja pakai jaket itu buat nunjukin identitas dirinya dimataku?" Batin Willy menaruh prasangka pada Mario.


Tak berbeda jauh dengan Willy, Mario yang sudah mengawasi Willy setelah menemukan pemuda itu duduk disamping gadis yang sedang ia tuju, nampak tidak menujukkan aura persahabatan sedikitpun. Apalagi ketika pandangannya tertuju pada pergelangan kanan Willy. Disana melingkar jam tangan yang serupa dengan jam tangan yang melingkar dipergelangan kiri Diana.


"Ternyata jam tangan itu dari dia." Batin Mario.


Suasana mendadak canggung. Semua hanya diam tidak ada yang membuka obrolan.


"Kok pada diem-dieman sih?" Ucap Diana akhirnya.


"Oh ya Mario, ada yang mau kamu jelaskan ke Willy?" Lanjut Diana berusaha membuka jalan untuk dua orang pemuda itu mencapai perdamaian.


Mario tau apa yang dimaksud oleh Diana. Dia benar-benar masih merasa enggan untuk berdamai dengan Willy, karena kenyataannya genderang peperangan malah ditabuh semakin kencang. Yah, ketegangan antara Mario dan Willy justru baru saja benar-benar dimualai.


"Mario, Willy, mengenai kejadian malam itu, aku tahu kalian berdua cuma salah paham. Aku pingin kalian bisa ngobrol dan saling memaafkan. Diem-dieman kayak gini juga gak akan pernah asik seumur hidup kan?"


Mario menghela napasnya "Di, aku tau maksud kamu baik. Tapi kayaknya, sekarang bukan waktu yang tepat buat bahas masalah itu." Ucap Mario masih meninggikan gengsinya.


Willy tampak tersenyum smirk mendengar perkataan Mario. Apalagi Mario berbicara dengan begitu lembut pada gadis disampingnya. Baginya itu menggelikan. Seperti bukan Mario yang ia tahu.


"Sudahlah Di, kalau Mario emang gak pingin menjelaskan apapun, jangan dipaksa. Percuma juga kalau semuanya gak dari hati." Jawab Willy sambil menatap tajam pada Mario yang juga menatap tajam padanya.


Diana yang berada ditengah-tengah sebuah ketegangan seolah melihat pancaran dua bilah pedang yang saling beradu dari tatapan mata mereka.


"Okeh, kalian atur aja ya. Tapi yang jelas jangan kelamaan tegang-tengan kayak gini."


"Siapa yang tegang sih? Aku santai kok." Ucap Willy tersenyum smirk mengejek pada Mario.


"Iya, gak ada ketegangan sama sekali." Lanjut Mario dengan.senyum yang tak kalah mengerikannya.


Diana masih merasa kikuk berada diantara dua pemuda itu. "Santai apaan?" Batinnya.


"Ya udah, kita ganti topik pembicaraan aja ya. Hmm, apa ya?" Diana berpikir keras mrncari cara memecah ketegangan antara mereka. Namun otaknya berasa buntu. Dia merasa menyesal duduk diantara mereka.


Aaarrrgghh


"Apa aku pura-pura ke toilet aja ya buat kabur? Terus cari tempat duduk mojok di belakang yang lebih tenang." Batin Diana.


Willy yang menangkap kegelisahan pada Diana, merasa sedikit bersalah karena membuat gadis itu menjadi tidak nyaman. Tidak, dia pikir itu bukan salahnya, karena sebelum Mario datang semua berjalan normal saja.


"Gimana kalau topiknya tentang kamu?" Ucap Willy akhirnya.


"Hah?" Diana menatap heran pada Willy yang terlihat sedang berusaha tersenyum untuknya.


"Iya, kamu cerita aja tentang diri kamu, keseharian kamu, teman-teman kamu, kesukaan kamu, apa aja deh. Aku pingin tau banyak hal tentang kamu." Ucap Willy sambil terus memberikan senyuman pada Diana.


Bagi Mario kata-kata Willy terdengar bukan seperti jalan keluar. Kata-kata itu justru terdengar seperti aba-aba menyerang untuk perang dingin antara keduanya.


"Congek, Congek! Kamu ternyata benar-benar berusaha keras." Batin Mario.


"Setuju! Aku juga pingin denger cerita kamu. Aku kan pingin kenal lebih dekat lagi sama kamu." Ganti Mario yang buka suara.


Diana beralih menatap Mario yang juga memberikan senyuman untuknya. Keningnya terlipat semakin dalam karena merasa bingung pada dua pemuda yang tiba-tiba menjadi kompak itu. Namun kekompakan mereka merupakan bomerang bagi Diana.


"Sialan! Kok malah aku yang kena?" Batinnya.


...


Author's cuap:


Kalo akuh jadi Diana juga ikut bingung ya ama dua babang ganteng ini.


Hadeh...