
55
Dia Berbeda
Sebuah bingkisan berwarna coklat itu sudah dipandanginya selama lebih dari lima belas menit. Hanya untuk membukanya saja dirinya telah berpikir terlalu keras. Seperti sedang menimbang-nimbang banyak keraguan.
Bingkisan itu dikirim tanpa nama. Ditinggalkan di laci bangkunya begitu saja, hingga ia menemukannya. Dia hanya menebak-nebak saja pengirimnya adalah orang yang sama yang menyapanya pagi tadi. Bentuk dan sampulnya meang sama persis. Tapi tidak ada seorang pun dikelasnya yang melihat siapa pengirimnya, membuatnya tak begitu yakin pengirimnya adalah orang yang dimaksud.
“Buka saja lah..” Ucap Diana akhirnya tak kuat menahan rasa penasarannya.
Perlahan ia robek kertas pembungkus itu dengan hati-hati, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di dalamnya. Kotak hitam yang menyembunyikan hadiah sebenarnya.
“Wah..” Diana terperangah ketika membuka kotak itu.
Dia menduga itu adalah kotak musik seperti yang pernah ia lihat di sebuah tayangan acara layar kaca. Kotak kecil dimana ketika dibuka akan lengeluarkan alunan musik klasik dengan patung balerina mungil yang berputar pada orbit di permukaan kotak itu. Sangat cantik.
Tapi sayang, Diana tidak bisa membuka kotak musik itu.
“Kok pakai kunci kuncian segala sih? Kayaknya yang di tivi gak pake kunci kuncian.” Ucap Diana.
Diana mengutak atik kode putar untuk membuka kuncian kotak musik tersebut, membolak balik kotak musik itu mencari petunjuk kode angka yang tepat yang mungkin saja ditulis atau diselipkan di sisi kotak musik entah bagian mananya.
Nihil.
Diana ganti meraih kotak kemasan benda itu. Dia menemukan kertas kecil terselip di sana. Sayang sekali isinya hanya deretan kata yang membuat Diana kesal.
Cari kodenya?
Tiga puluh menit setelah pulang sekolah,
Halte dekat rel.
“Sialan! Mario niat sekali sih ngerjain aku.” Umpat Diana.
Diana menggerutu kesal sambil tangannya menyimpan kotak musik itu dalam laci mejanya. *******-***** kertas pembungkus yang berserakan menjadikannya gumpalan menyerupai bola, dan melemparkannya dalam tong sampah.
Three point.
“Mbak Di, kenapa marah-marah?” Ucap seseorang dari ranjang atas. Tania.
“Enggak kok, siapa yang marah-marah. Udah ah, tidur.” Ucap Diana berjalan mamatikan lampu sebelum akhirnya naik ke atas tempat tidurnya.
…
Hari-hari Diana berlalu dengan tenang. Istilah tenang yang dimaksudkan adalah berjalan seperti biasa. Kehidupan sekolah yang wajar. Berangkat pagi, menjalani proses belajar mengajar, bergaul dengan teman-teman, dan pulang tepat waktu. Benar-benar rutinitas yang tenang tanpa ada debaran akibat kejutan-kejutan yang belakangan sering terjadi.
Hal tersebut tidak terjadi selamanya. Seperti saat ini, Diana berada dalam kecanggungan mendapat tatapan tajam dari Mario. Duduk berhadapan di ruang kepala sekolah. Sorot mata yang begitu menukik tajam menyerang tepat pada sasarannya. Sementara sang target, Diana, hanya mampu menunduk menghindari tatapan itu.
“Kenapa sih kok dia ngeliatin terus? Udah gitu mukanya serem banget. Apa dia lagi marah sama aku?” batin Diana.
Mereka tidak hanya berdua di sana. Masih ada berberapa teman lain yang sama-sama merupakan peraih juara pada beberapa cabang kompetisi tingkat kabupaten yang berlangsung pekan kemarin.
Suasana begitu sunyi. Mereka yang saling mengenal hanya berbincang dengan bisik-bisik. Sisanya hanya diam dan sabar menunggu bapak Kepsek yang sedang menerima panggilan telepon di luar ruangan.
“Maaf sudah menunggu lama ya..” Suara pak Jamal memasuki ruangannya.
“Kok kayaknya tegang sekali. Padahal saya mau ngasih undangan dari bapak Bupati lho.”
Pak Jamal lantas menuju mejanya, mengambil beberapa tumpuk amplop dan membagikan pada kami yang berada disana.
“Yang juara dalam bentuk tim, undangannya memang satu tapi datangnya rame-rame semua timnya. Nanti dikabari teman-teman yang lain ya.. Di dalamnya ada nama-namnya. Bisa dibaca sendiri.” Ucap pak Jamal khusus pada Mario dan satu anak lainnya dari cabang voli putra.
jadwal meeting khusus pengisi acara. Jangan sampai dilewatkan karena pasti sangat penting. Kalau memang jam sekolah, nanti saya beri dispensasi.”
“Siap pak.” Ucap Mario sambil menerima amplop terakhir dari tangan pak Kepsek.
“Bapak sekali lagi mengucapkan terimakasih atas usaha keras kalian. Prestasi kalian tidak hanya bermanfaat untuk kalian sendiri, tapi juga berarti untuk mengharumkan nama sekolah. Bapak sangat bangga.” Ucap pak Jamal sambil menyentuh dadanya sebagai bentuk rasa hormat pada prestasi anak didiknya.
“Okeh, sudah beres semua, kalian boleh kembali ke kelas masing-masing.” Ucap pak jamal mengakhiri pertemuan singkat dan mendadak di ruangannya. Satu persatu dari mereka mulai bangkit dan bergerak menyalami pak Jamal sebelum berjalan meninggalkan ruangan beliau.
Diana yang lebih dulu keluar sebelum Mario seolah sengaja memperlambat langkahnya dan berhenti sejenak di depan pintu ruangan pak Kepsek. Entah mengapa dia merasa sangat tidak enak pada Mario.
“Apa Mario marah karena aku mengabaikan pesannya dibingkisan itu ya? Apa dia datang dan menungguku di halte? Aduh, gimana nih..”
Jujur Diana merasa sedikit bersalah. Dia sengaja memilih mengacuhkan pesan pada bingkisan itu, yang
membuat isi dari bingkisan itu yang berupa kotak musik dalam keadaan terkunci hanya tersipan tak berguna dalam laci belajar di kamarnya.
“Apa aku harus minta maaf?” Batin Diana.
“Masih di sini Di?”
Diana tersentak kaget mendengar sapaan dari belakangnya. Dia sampai mengelus dada saking terkejutnya.
“Eh, iya. Itu.. em,-“ Diana bingung harus menjawab apa atas sapaan temannya yang merupakan salah satu juara dari cabang beladiri putra. Diana menggaruk-garuk rambutnya, bertingkah konyol dan salah tingkah. Dia mengira sapaan itu dari Mario. Ternyata bukan. Diana seolah menertawai dirinya sendiri dalam hati.
Ceklek
Pintu ruang kepsek pun terbuka menampakkan sosok yang sedang ditunggu oleh Diana. Perlakuan Mario padanya kali ini berbeda. Mario hanya lewat mengacuhkan Diana yang tengah berada di sana. tidak ada sapaan bahkan melirik pun tidak. Padahal di dalam ruangan tadi mata Mario benar-benar tidak lepas dari gadis itu sampai pak Jamal tiba.
Deg,
Diana tiba-tiba merasa sesak. Mario yang semula hangat dengan segala polah usilnya yang sering membuat Diana merasa kesal, kini menjadi dingin seolah tak mengenalnya sama sekali.
“Eh, akum au balik ke kelas juga.” Ucap Diana pada teman yang telah menyapanya tadi, dan berlalu menuju kelas dengan pikiran yang resah.
“Kenapa? Kok Mario berubah banget. Gaqk usil kayak biasanya. Kayaknya dia beneran marah. Aduh, kok aku jadi gak enak hati sih.. Bukannya ini yang aku inginkan?” Batin Diana. Diana benar-benar berperang dalam hati dan pikirannya.
Diana berjalan pelan menatap punggung Mario dari kejauhan. Nyali yang selama ini tampak terus menantang dan tak mau kalah ketika berhadapan dengan Mario seolah menciut seciut-seciutnya. Bahkan untuk memulai menyapa saja bibir Diana terasa kelu. Apalagi untuk minta maaf. Bukan gengsi, tapi sungguh dia tak memiliki keberanian itu.
…
Mario kenapa ya?
Author’s cuap:
Halo readers sayang.. maaf banget ya lama up nya,,
Karena kesibukan author kemarin-kemarin, kalian jadi lama deh nungguin up ceritanya.
Tapi semoga kalian tetep setia ya nungguin lanjutan kisahnya.
Sekali lagi author minta map banget sekaligus terima kasih buanyaaak buat kalian semuaaah
Inget ya.. Jangan Cuma like, tapi dibaca juga..
Jangan Cuma dibaca, tapi di like comment vote juga..
Salam sayang author Titip Salam
Baca baca baca