
#65
Bertemu Pacar
Musik klasik mengalun lembut memenuhi ruangan. Balerina mungil itu bergerak mengelilingi orbitnya mengikuti iringan musik pada kotak kecil yang begitu indah.
Diana terpaku begitu lama menatap benda mungil itu. Pikirannya melayang jauh pada senyum seorang pemuda yang hari ulang tahunnya menjadi kode kunci kotak musik tersebut.
"Kamulah yang spesial."
Kalimat itu berputar-putar dikepalanya, membuatnya senyum merekah di bibirnya tanpa ia sadari.
"Wah, itu dari pacar mbak Di ya?"
Suara cempreng dari balik punggungnya membuatnya reflek menutup kotak musik itu.
"Tania! ngagetin aja. Kenapa gak ketuk pintu dulu sih kalau mau masuk kamar?" Ucap Diana salah tingkah berusaha menyembunyikan kotak musiknya.
"Ngapain harus ketuk pintu, ini kan kamar Tania juga." Protes Tania.
"Lihat dong mbak.." Pinta Tania yang masih penasaran dengan benda yang membuat kakak perempuannya itu ketahuan senyum-senyum sendiri.
"Iya, iya, tapi hati-hati jangan sampai rusak."
Diana kembali memutar kode kunci kotak musik tersebut, dan musik klasik pun kembali menggema seiring terbukanya kotak tersebut. Kakak beradik itu pun memandangi balerina kecil yang berputar-putar mengikuti musik klasik yang menangkan.
"Pacar mbak Di ganteng gak?" Tanya Tania sambil terus memperhatikan kotak musik tersebut.
"Mbak gak punya pacar." Jawab Diana.
"Trus ini dari siapa?" Tania masih penasaran.
"Dari temen."
"Pasti cowok ya temennya?"
"Sok tau kamu." Jawab Diana yang sebetulnya tidak menjawab pertanyaan Tania.
"Mbak Di ngaku aja, gak usah bohong. Aku aja udah punya pacar disekolah. Masak mbak Di yang udah smp gak punya." Tutur Tania dengan polosnya.
"Tania, kamu masih kecil. Gak boleh pacar-pacaran dulu." Ucap Diana memperingati.
"Hmm mbak Di ini kayak mama deh. Padahal kan enak kalau punya pacar itu ada yang bisa disuruh-suruh."
Diana menatap adik bungsunya penuh tanda tanya. Sebenarnya konsep pacar itu seperti apa di kepala gadis kecil itu? Dari ceritanya barusan itu lebih kepada perbudakan dari pada disebut pacaran.
Diana tersenyum saja menanggapi kepolosan adiknya. Biarlah waktu yang mendewasakannya. Sepertinya dia tak perlu meluruskannya sekarang.
"Udah ya, nanti baterainya habis." Ucap Diana yang menutup kotak musik tersebut, kemudian menyimpannya.
"Yah, mbak Di pelit." Gerutu Tania yang kemudian keluar dari kamarnya.
...
Mario yang sudah berganti pakaian dari rumah itu, sedang duduk sendiri di sebuah sudut, di kedai COBE milik kakak sepupunya itu. Tangannya tengah sibuk membalas beberapa pesan masuk sambil sesekali menyeruput es kopi latte favoritnya.
Cling
Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
HBD Mario,
Maaf ya,
Aq g bs dtg ke acra km.
Mario tersedak ketika menghisap sedotannya sambil membaca pesan tersebut.
"Kenapa kamu Mar?" Tanya Hendra yang kebetulan berada tak jauh dari sana.
"Gak apa kok Mas, cuma keselek aja. Hehehe."
"Dasar bocah! Bikin kaget aja." Umpat Hendra yang kemudian beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya.
Fokus Mario kembali pada layar hapenya. Dia tersenyum ketika membaca pesan itu berulang-ulang.
Dia begitu penasaran pada seseorang pemilik nomor asing tersebut.
"Mungkinkah ini kamu?"
Mario mencoba menghubungi nomor asing tersebut. Berkali-kali ia mencoba, dan berkali-kali pula panggilan itu ditolak.
"Gak salah lagi. Ini pasti kamu." Mario tersenyum sambil terus berusaha melakukan panggilang pada nomor tersebut.
Sementara di seberang sana, Diana yang sedang nemainkan ponselnya langsung panik dan terkejut ketika hape itu berdering dengan tulisan "Super Mario" muncul di layar hapenya.
Jemarinya reflek mengarah untuk memencet tombol merah. Lagi dan lagi tombol merah itu yang dipilih ketika hape itu berdering.
Diana bukannya tidak tahu caranya menerima panggilan dengan benar. Dia hanya gugup setengah mati saat ini.
...
Malam Minggu ini Diana mendapat kesempatan merasakan menghirup segarnya udara malam diluar rumah.
Yah, dia akhirnya memutuskan ikut pergi ke Alun-alun Kota bersama Ayah dan Tania.
"Yah, ayo liat air mancur disana." Ajak Tania sambil menteret tangan kokoh Ayahnya.
"Iya sebentar dong nak, jajanan mbak Diana belum selesai dibuat ini. Sabar, tunggu sebentar lagi." Ucap Ayah.
"Gak apa-apa Yah, nanti aku tunggu di depan Pendopo sana aja Yah. Lagian kaki aku udah pegel ngikuti Tania muter-muter gak jelas." Balas Diana.
"Namanya juga jalan-jalan Mbak," Protes Tania yang merasa disinggung.
"Ya udah, kmu diem disana aja, nanti Ayah sama Tania samperin kesana kalau sudah mau pulang."
Diana mengangguk menyetujui dan membiarkan Ayahnya mengajak Tania berkeliling sampai puas.
Duduk tenang, main hape, sambil makan pentol korea. Apa begini cara anak muda menghabiskan malam Minggunya?
Diana enjoy saja menikmatinya. Dia memilih sibuk mengunyah sambil main game atau menyelami dunia maya melalui hapenya. Sesekali dia berbalas pesan dengan teman-temannya yang sudah mengetahui nomor ponselnya.
Cling,
Pesan dari Hera masuk.
Di, km kok gk dtg c,
Td acranya rme bgt
Stefi jg dsna td
Kzl bgt liat dy nmpel2 Mario trz
Seketika ada sesuatu yang menyesakkan membaca nama Stefi disebut. Entahlah sejak kapan Diana mulai merasa tidak menyukai gadis itu. Padahal sebelumnya, meskipun gadis itu pernah menamparnya sekalipun, dia merasa biasa-biasa saja.
Pling yg dtg fans Mario smua
bkin mlz g mood
send
Cling
Km cmburu y,
:-D
Td Mario nanyain km loh.
"Cih, siapa yang cemburu." Batin Diana.
"Diana, sendirian aja?"
Diana terkejut mendengar sapaan seseorang yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Eh, Willy. Sama siapa kamu?" Ucap Diana membalas sapaan pemuda disampingnya.
"Tuh, ngajak adik sepupu aku jalan-jalan" Ucap Willy sambil menunjuk bocah laki-laki yang sedang bermain sepatu roda di dekat sana.
"Eh, kamu punya hape? Boleh bagi nomornya dong?" Ucap Willy sambil mengeluarkan hapenya.
"Buat apa?" Tanya Diana bingung.
Pertanyaan yang cukup sulit dijawab. Willy benar-benar memutar otaknya mencari alasan yang logis.
"Yah, kita kan saling kenal. Apa salahnya tukeran nomor hape."
"Iya juga sih. Hehehe."
Willy mencatat dengan benar bilangan angka yang diucapkan Diana, lalu mencoba melakukan panggilan pada nomor tersebut.
"Nah, itu nomor aku, save ya.." Ucap Willy.
Diana pun segera menyimpan nomor tersebut dalam daftar kontak dihapenya. Jemarinya tampak sibuk mengetikkan sesuatu untuk memberi nama kontak baru tersebut.
"Kamu simpan pakai nama apa sih? Kok panjang banget." Ucap Willy sambil berusaha mengintip pada layar hape Diana.
"Ih, rahasia dong.." Jawab Diana sambil menyembunyikan hapenya.
Willy memanyunkan bibirnya, namun hatinya benar-benar berbunga.
Tring ting tring ting..
Diana begitu kaget dan kalang kabut ketika hapenya berdering.
"Wi-lly si Co-ngek Ca-kep?" Ucap Willy mengeja nama yang muncul di layar biru hape Diana.
Diana reflek mengapit hapenya dengan telapak tangan ketika tahu Willy sedang mengintip hapenya.
"Gak sopan banget sih.." Umpat Diana kesal sekaligus malu ketika Willy akhirnya tau nama kontak yang ia berikan untuknya.
"Jadi menurut kamu aku cakep?" Nama yang sebetulnya terdengar menggelikan, namun entah mengapa membuat Willy malah merasa senang.
"Ngeselin banget sih, aku blokir aja kalau gitu."
"Eh, eh jangan dong.." Ucap Willy sontak berusaha mencegah gerakan jemari Diana. Tangannya meraih dan menggenggam tangan Diana.
Deg,
Willy merasa seperti ada sengatan arus listrik yang merayap ketika tangannya menyentuh tangan gadis itu. Jadilah pemandangan yang terlihat adalah sepasang anak manusia yang sedang berpegangan tangan dan bertatapan.
"Ehem.." Seseorang berdehem di depan mereka yang menyebabkan kaitan tangan itu terlepas dan rasa canggung menyelimuti mereka.
"Kalian ngapain?" Ucap seseorang yang berdehem tadi.
"Ayah!"
"Ayah?" Ucap Willy yang terkejut lantas mengikuti gerakan Diana yang tiba-tiba berdiri, bangun dari duduk santainya.
"Ciye, mbak Di pacaran ya.." Ledek Tania.
Diana sudah berkeringat dingin. "Aduh, kejadian lagi." Batinnya.
Willy mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan pria dewasa berbadan tegap tersebut. Tangan Willy terasa begitu dingin. Tak dipungkiri kalau pemuda itu sedang benar-benar gugup
"Om masih ingat saya?" Ucapnya kemudian berusaha mencairkan kebekuan.
Arman memicingkan matanya berusaha mengingat wajah pemuda di depannya itu. Seorang pemuda yang telah berani menggenggam tangan putrinya.
"Saya Willy, yang di bengkel waktu itu." Lanjut Willy memperkenalkan diri sekaligus berusaha membuat Ayah Diana ingat bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Oh iya, saya ingat. Kamu yang anak basket itu kan?" Ucap Arman yang akhirnya mengingat pemuda itu.
"Betul om."
Krik krik..
Suasana kembali sunyi penuh kecanggungan, hingga seorang bocah laki-laki datang sambil menarik-narik kaos Willy.
"Ayok pulang kak, aku udah capek." Ucap bocah itu.
"Faisal?" Kali ini Tania yang bersuara.
"Loh Tania. Kamu malam mingguan ya?" Ucap bocah itu ketika melihat gadis kecil di depannya.
"Iya. Ini sama Ayah dan Mbak aku." Ucap Tania begitu ramah memperkenalkan Ayah dan kakak perempuannya.
Bocah yang bernama Faisal itu lantas mengulurkan tangan mencium punggung tangan Arman dan Diana bergantian. Manis sekali.
"Wah pinternya, sopan sekali kamu. Teman sekolah Tania ya?" Ucap Ayah Arman menyapa dengan nada begitu ramah pada bocah laki-laki tersebut. Senyumnya pun merekah menunjukkan deretan gigi putih yang sebelumnya tersembunyi di balik kumis tipisnya. Perlakuan yang benar-benar berbeda ketika berhadapan dengan Willy tadi.
"Bukan om. Saya pacarnya Tania." Ucap Faisal tersenyum dengan begitu polosnya.
Jeng, jeng, jeng...
Mata Arman membulat sempurna dengan mulut menganga lebar. Begitupun dengan Willy yang tampak sangat terkejut dengan penuturan adik sepupunya tersebut.
Diana berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Ayahnya ketika mendengar penuturan bocah laki-laki yang begitu polos memperkenalkan diri sebagai pacar putri kecilnya.
"Jadi ini pacar Tania." Batin Diana.
...
Author's cuap:
Wakakakkaaaa
Auto pasang muka galak lagi gak tuh Ayah Arman?
Jangan lupa support terus karya author ya..
like comment vote
(sayang banget loh kalau vote nya harus hangus.. mending di klik aja di karya author..
Kan besok dikasih lagi jatah satu vote tiap minggunya..)
Terimakasih..