Titip Salam

Titip Salam
Berjuang Menumbangkan Sang Raja



#83


Berjuang Menumbangkan Sang Raja


Hahaha...


Kebisingan terjadi di deretan bangku paling ujung. Empat sekawan sedang tertawa bersama di sana.


"Sumpah! Ayah kamu emang paling juara. Hahaha.." Ucap Rida setelah Diana menceritakan kejadian kemarin.


"Terus, terus, si Congek bilang apa setelah tau yang telponan ama dia ternyata Ayah kamu?" Zahra begitu bersemangat mendengarkan kisah selanjutnya dari Diana.


"Ya gak bilang apa-apa. Dia juga gak mau bilang Ayahku udah ngomong apa aja ke dia. Ayah aku juga sama gak mau ngomong apa-apa. Aku takut kalau Willy diomongin aneh-aneh atau dimarahi sama Ayahku. Aku kan jadi gak enak sama dia." Ucap Diana sambil merengut cemas.


"Kemarin Mario, sekarang si Congek. Wah udah satu sama poin mereka, hahaha.." Ucap Hera yang masih merasa geli dengan kisah Diana.


Diana melotot pada Hera yang bercerita dengan leluasa padahal ia sudah diwanti-wanti sebelumnya oleh Diana agar jangan sampai cerita tentang telpon dari Mario itu menyebar. Terlambat sudah,


"Apa? Mario? Telpon Diana?" Zahra semakin antusias mendengar nama Mario disangkutpautkan.


"Wah Diana, udah tukeran nomor telepon aja ke semua gebetannya. Hmm, jadi kamu itu pilih yang mana?" Rida mulai menggodai Diana.


"Gebetan apaan sih?" Diana cemberut menutupi rasa tersipunya.


"Tapi Di, kamu jadi belum jawab pertanyaan si Congek dong? Kira-kira kamu mau gak kalau jadi pacarnya kalau dia berhasil ngalahin Ayah kamu?"


Deg,


Pertanyaan Hera sontak membuat dada Diana berdebar.


"Ayah aku cuma bercanda ke Tania. Gak mungkin lah terang-terangan ngasih ijin anaknya pacaran."


"Ya siapa tau Di, kan belum dicoba." Ucap Hera.


"Di, kayaknya Mario perlu tau info ini juga deh. Biar dia belajar main catur juga. Kita lihat aja nanti kira-kira siapa yang lebih dulu berhsil mengalahkan Ayah kamu? So sweet banget ya, ada dua cowok ganteng berjuang ngerwbutin kamu. Jadi iri.." Zahra sudah mulai berfantasi kemana-mana.


"Iya nih, jadi iri.." Timpal Rida.


Diana jadi merasa geli dengan tingkah teman-temannya. Mereka memang layak merasa iri karena Diana pun diam-diam sangat senang merasa dikejar-kejar dengan limpahan perhatian dari seorang cowok tampan. Ups, dua orang sekaligus.


"Di, aku Ada titipan." Seseorang tiba-tiba datang dan memberikan bungkusan kecil. Silvi.


"Wah, buka dong.." Zahra dan yang lainnya tampak sangat antusias.


Diana ingin sekali membukanya di rumah. Rasanya pasti akan lebih spesial. Tapi mana mungkin bisa. Bahkan mata teman-temannya lebih berbinar melihat bingkisan kecil itu dari pada Diana sendiri.


Sebuah gantungan kunci berbentuk buah catur queen dan sepucuk surat.


*Diana, aku sudah menemukan guru yang tepat.


Sebaiknya Ayah kamu bersiap-siap dan tidak mengingkari peraturan yang dibuatnya.


Hehehe,


Dari seseorang yang sedang berusaha merebut sang raja dari Ayah kamu


Willy si Congek Cakep


"Di, ada stok Congek lain gak sih di dunia ini? Aku juga mau satu dong.." Ucap Rida sambil memegangi kedua pipinya.


"Aduh Di, aku bisa diabetes kalau jadi kamu." Ucap Zahra yang ikut merona setelah membaca sepucuk surat itu.


"Aku gak ngerti maksudnya, tapi kayaknya so sweet banget pake bawa-bawa Ayah kamu segala." Ucap Silvi yang mentoel toel lengan Diana.


"Hmm.. Abdul bisa kayak gitu gak ya?"


Yah, tentu ucapan terakhir itu milik Hera yang sontak membuat semua mata mengarah padanya. Diana harus banyak berterimakasih pada tamannya yang satu itu. Celotehannya benar-benar sangat membantu mengalihkan perhatian, menyelamatkan Diana dari cie-cie-an yang berkepanjangan.


Selama perhatian teman-temannya mulai teralihkan pada Hera, Diana meraih bingkisan dan surat yang dititipkan pada Silvi tadi untuk disimpan di dalam tasnya. Dia masih ingin membacanya lagi nanti di rumah.


...


Dia sengaja memasang level hard champion pada kategori tingkat kesulitan. Itu adalah lever tertinggi di aplikasi tersebut. Kau benar-benar berusaha sekeras itu Willy?


"Wil, makan dulu." Teriak sang Mama dari dapur.


"Iya Ma.." Willy segera keluar kamar dengan perasaan kesal. Dari banyak putaran permainan dia belum memenangkannya sekalipun. Alhasil penampilannya benar-benar kusut saat ini.


"Kamu kenapa? Kok mukanya kusut banget." Ucap sang Mama yang sudah memulai makan terlebih dahulu.


"Susah banget ya main catur. Padahal kemarin sudah berguru ke Om Toni." Keluh Willy.


"Ya kan sekali berguru gak bisa langsung jago. Semua perlu proses, perlu latihan. Lagian ngapain kamu kok tiba-tiba pingin banget jago main catur?"


"Ya pingin aja Ma..." Jawab Willy sekenanya.


Sang Mama hanya melengos tidak percaya. Yah, pasti ada sesuatu sampai-sampai Willy benar-benar bersemangat berlatih main catur secara tiba-tiba.


"Mama kapan pesan kue lagi ke Tante Mila?"


Sang Mama tercengang sampai-sampai tidak jadi memasukkan suapan ke dalam mulutnya. Matanya menelisik dalam wajah putranya yang duduk manis sambil memulai makan malamnya.


"Kamu naksir ya sama Diana?"


Hmmpft uhuk uhuk,


Willy sontak tersedak kaget dengan pertanyaan sang Mama yang tak mampu ia jawab. Willy memang dekat dengan Mamanya, namun tidak sampai pada tahap sering curhat tentang perasaannya.


"Minum dulu," Ucap sang Mama menyodorkan segelas air sambil senyam senyum melihat reaksi anak bungsunya itu. Sepertinya tebakannya tidak.meleset.


Tangan hangat itu mengacak-acak rambut putranya sambil berkata "Pantes aja sekarang kalau dandan lama." Ucap sang Mama sambil cekikikan menggodai putranya yang sudah memerah pipinya. Entah karena tersedak tadi atau malu karena perasaannya begitu transparan semudah itu terbaca oleh sang Mama.


"Apaan sih Mama nih, godain anaknya mulu." Ucap Willy yang cemberut menutupi rasa malunya.


Willy benar-benar salah tingkah jadinya. Dia makan dengan suapan penuh dan mengunyah cepat-cepat agar bisa segera pergi menyembunyikan rona di pipinya.


"Kayaknya tiap bulan bakal langganan kue ke Tante Mila." Ucap sang Mama sambil melirik putranya menunggu reaksi lucu dari remaja yang baru mengenal cinta itu.


Willy sontak menoleh pada Mamanya. Cepat-cepat ia menelan kunyahannya dan berkata "Beneran Ma?" Senyum sumringah tersungging di bibirnya.


"Iya, soalnya kuenya enak, gurih, manis, kayak putrinya." Sang Mama tersenyum menggodai.


"Mama nih, gak puas-puas godain anaknya. Gak lucu!" Willy segera melahap suapan terakhirnya, membawa piring bekas makannya ke dapur, mencucinya, lalu kembali bersemedi di dalam kamarnya.


Sang Mama hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah konyol anak bungsunya.


"Anak aku sudah besar rupanya, sudah bukan bocah kecil lagi." Gumamnya lantas melanjutkan makannya.


Sementara Willy yang sudah kembali ke kamar langsung duduk menegakkan punggung di depan komputernya lagi.


"Okeh, waktu aku satu bulan." Ucapnya menyemangati dirinya.


Willy melakukan peregangan kecil pada lengan dan jemarinya sebelum kembali bergulat dengan papan hitam putih yang akan menguras energi dan emosinya.


Willy, semangat!


...


Author's cuap:


Ciyee.. Niat banget bang Willy ngalahin Ayah Arman..


Sepertinya beneran Ngareeep buangeeet ya,


Emangnya Ayah Arman seriusan bikin peraturan kayak gitu..


Hahaha...