
#95
Usaha Move On
Satu minggu sudah Diana murung dengan berjuta tanda tanya tentang Mario dikepalanya. Rasanya benar-benar mengganggu dan menyesakkan. Dia berusaha keras mengalihkan dengan kesibukan namun lagi-lagi akan kembali kepikiran ketika menjelang tidurnya.
Ingin sekali dia mengirim pesan duluan, namun kembali ia hapus sebelum dikirim mengingat begitu sakit hatinya ketika pesan itu tak berbalas. Hingga ia menyimpulkan "Apa mungkin Mario sudah punya pacar? Terus dia menjauhi aku?"
Sakit? Yah, sakit sekali rasanya.
Diana masih benar-benar mengingat kata-kata yang diucapkan Mario kala terjebak hujan di kedai es krim. Bahkan intonasi suara nya pun masih terekam jelas di ingatan Diana.
"Gak akan ada yang nyakitin kamu, Diana."
Diana tertawa getir. "Omong kosong." Batin Diana.
Malam itu, Diana bertekat akan menghapus nama Mario dalam pikirannya. Rasa sakit yang berusaha ia hindari dengan menekan perasaannya, namun bunga-bunga itu seolah tumbuh subur bermekaran dihatinya bagai rumput liar. Inilah patah hati pertamanya.
...
Minggu pagi ia kembali ceria. Lebih tepatnya berusaha ceria dengan melupakan keterpurukan patah hati yang ia ***** habis semalaman.
Pagi ini ia menhikuti ekskul beladiri seperti biasa. Kegiatan rutinitas hari Minggu seperti biasa, namun energi yang terpancar hari ini seperti berkali-kali lipat.
Saat pemanasan berlari mengelilingi lapangan, Diana benar-benar berlari kencang. Saat menirukan gerakan jurus-jurus yang di ajarkan oleh sang pelatih, Diana tampak begitu bersemangat, mengencangkan kuda-kuda, menghentakkan pukulan dengan sangat kuat ke udara.
Ketika latihan berhadapan satu lawan satu, sang pelatih sendiri yang maju menjadi lawan Diana. Kak Ari sedari tadi telah memperhatikan Diana yang tak fokus. Emosinya terlihat sekali tidak stabil.
Setiap serangan dari sang pelatih gagal ia tangkis. Diana jatuh berkali-kali.
"Kamu ada masalah?" Tanya kak Ari setelah latihan selesai.
"Gak ada kak." Jawab Diana.
"Jangan bohong kamu."
Diana hanya diam dan memasang wajah bingung. Dia merasa tidak ada masalah apapun. Tapi mengapa kak Ari bertanya seperti itu?
Mungkin Diana tidak menyadari beban pikiran yang ia pikul berdampak pada emosi dan perilaku yang dapat dilihat secara kasat mata oleh orang lain.
"Masalah sekolah? Yah, mendekati kelulusan memang sangat membebani pikiran." Ucap kak Ari.
"Jangan terlalu dipikirkan hasilnya bagaimana. Berusahalah yang terbaik saat ini. Hasil akhir nanti akan mengikuti kerja keras kamu. Seperti kompetisi waktu itu. Siapa yang menduga kamu bisa menyabet medali emas?" Lanjut kak Ari.
"Aku tunggu di SMA 7 ya.. Kamu pasti bisa masuk sana."
"Makasih kak," Ucap Diana.
"Oh ya, ini surat untuk POR Prov bulan depan. Barangkali kamu masih berminat. Kakak tunggu tiga hari."
Diana tampak murung menerima amplop coklat dari kak Ari mengingat ijin dari sang Ayah begitu sulit ia dapatkan.
"Kalau orang tua kamu tidak mengizinkan, jangan kecewa. Tahun depan kamu masih bisa ikut. Kesempatannya masih panjang Di.." Kak Ari menepuk-nepuk pundak Diana berusaha menghibur gadis itu.
"Makasih kak, nanti aku kabari." Ucap Diana sambil memasukkan amplop tadi ke dalam tasnya.
"Kamu balik sendirian? Mau bareng kakak?" Ucap kak Ari.
"Gak usah kak, aku sama Rosa. Tuh, anaknya baru keluar dari toilet. Duluan ya kak.." Diana bangkit dari duduknya, dan pamit undur diri.
Sepeninggal Diana, Ari pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju motornya yang terparkir dekat pos satpam. Dari sana, ia dapat melihat Diana dan Rosa yang sedang berjalan bersama, berbincang, dan tertawa bersama.
Seketika senyumnya terbit memandang wajah ceria yang meneduhkan hatinya.
"Kita pasti bisa satu sekolah nantinya.." Gumamnya.
...
Diana duduk termenung sendirian di pinggir trotoar. Sudah sepuluh menit tidak ada angkot yang lewat.
Rosa sudah mendapatkan angkotnya lebih dulu. Mungkin saat ini dia sudah merebahkan punggungnya di rumah.
Dari kejauhan nampak sebuah motor dan helm pengendaranya yang terlihat begitu familiar. Motor hitam legam mengilat perlahan mendekat ke arahnya.
Sang joki membuka helm dan merapikan rambutnya sambil berkaca di kaca spion. Hal yang selalu ia lakukan, dan selalu membuat Diana merasa tergelitik.
"Iya, iya, udah ganteng kok.." Ucap Diana sambil menahan tawanya.
"Sorry Di, kebiasaan. Hehehe.." Jawabnya sambil cengar cengir. Dia Willy.
"Kamu mau pulang kan? Bareng aku yuk.. Aku sekalian ambil kue pesanan Mama."
"Ngapain ditolak sih? Kita kan searah, sejalan, satu tujuan, dunia akhirat. Eh,"
Plak!
Diana memukul lengan Willy sambil tertawa.
Willy pun tentu tertawa sambil mengusap rasa panas bekas telapak tangan gadis yang tertawa riang di depannya.
Vroom.. vroom.. klek,
Motor merah mengilat tiba-tiba melipir dan berhenti tepat di depan motor Willy. Sang red fire.
"Kenapa munyuk satu itu selalu muncul sih?" Gumam Willy mendengus kesal.
Setelah motor merah itu terparkir dengan benar, sang joki langsung melepas helmnya, melompat turun dari motornya, dan menghampiri seorang gadis yang sedang berdiri memandang ke arahnya di pinggir trotoar.
"Di, kita perlu bicara." Ucap Mario tanpa basa basi dan mengabaikan pemuda yang sudah berwajah masam yang bertengger di kuda besinya.
Diana beralih memandang Willy yang hanya diam menunggu respon Diana.
"Tapi aku mau balik bareng Willy. Kapan-kapan aja ya Mario. Sorry!" Ucap Diana yang langsung naik ke motor Willy.
Willy sontak terkejut, namun kemudian timbul senyum di bibirnya.
"Sebentar aja," Ucap Mario dengan wajah yang memohon.
"Besok aja lah, di sekolah."
"Ayok, jalan Wil.." Ucap Diana sambil menepuk pundak sang joki agar segera melajukan kuda besinya.
"Duluan Mar," Ucap Willy sebelum berlalu membawa serta Diana bersamanya.
Mario tak dapat mencegahnya lagi. Ia hanya mampu menghela nafas beratnya sembari berusaha melepas sesak di dadanya menatap bayang-bayang Diana menjauh.
Sekali lagi, ia harus melihat gadis itu lebih memilih pergi bersama Willy. Seperti sebuah karma karena menggagalkan rencana Willy waktu itu.
Sementara diatas kuda besi dengan julukan si item, Diana hanya terdiam sepanjang jalan. Diana melamun.
Willy menepikan motornya di sebuah kedai kopi pinggir jalan kawasan Alun-alun Kota.
"Loh, kok kita berhenti di sini?" Ucap Diana bingung ketika menyadari mereka berhenti bukan di halaman rumahnya.
"Udah, ikut aja." Jawab Willy yang langsung masuk dan menuju meja kasir tempat memesan menu.
Tak lama ia keluar dengan dua gelas minuman dingin dan memyerahkan salah satunya pada Diana.
"Kesana sebentar!" Ucap Willy yang langsung beranjak menuju ke arah yang ia tunjuk tanpa menunggu persetujuan Diana.
Diana hanya bengong tak sempat berkata. Namun kakinya akhirnya melangkah mengikuti pemuda yang telah berjalan beberapa meter di depannya.
Willy mengambil duduk di bawah pohon yang teduh dengan pemandangan tugu Alun-alun Kota dengan air mancur di sekelilingnya.
"Ngapain sih Wil? Kenpa gak langsung pulang? Malah ke sini?" Gerutu Diana yang merasa diculik tanpa permisi.
"Duduk dulu." Ucap Willy sambil menyeruput es kopinya.
Wajah Willy terkesan serius membuat Diana menciut. Dia memilih menurut saja untuk duduk sembari meminum es kopi dari Willy tadi.
"Kamu ada masalah apa sama Mario?"
Deg,
Diana menoleh menatap pemuda disampingnya yang tak bergeming menghadap depan.
"Gak ada apa-apa kok?" Ucap Diana.
"Cerita aja Di, gak usah kamu tutupi. Aku tau kamu lagi menghindar dari Mario kan? Kenapa? Apa dia nyakitin kamu?"
Diana hanya diam. Dia tak tahu harus menjawab apa. Jika dikatakan menyakiti, jawabannya adalah "ya," Tapi sakit itu dari diri Diana sendiri. Mario tidak melakukannya secara langsung. Apakah hal tersebut dapat berarti Mario lah yang menyakitinya?
"Kamu suka sama Mario?" Willy beralih menatap gadis yang tertunduk menyeruput es kopi ditangannya.
"Apa Mario mengabaikan kamu, membuat kamu merasa bertepuk sebelah tangan? Dan semua itu menyakiti kamu?" Willy memberondong Diana dengan banyak pertanyaan yang berusaha ia simpulkan.
Diana terkejut dan beralih menatap Willy. Pemuda itu seolah punya ilmu cenayang yang dapat menerawang yang ada dipikirannya.
"Willy, kamu punya indera keenam? Atau kamu lagi mendalami ilmu perdukunan?" Tanya Diana sambil begidik ngeri.
Gubrak!!!