Titip Salam

Titip Salam
Hari Pembalasan



#30


Matahari semakin condong ke Barat. Panas terik kini berganti suasana yang mulai teduh dengan angin semilir yang menggoyangkan dedaunan.


Dua gadis berjalan dengan santai menyusuri jalanan hingga memasuki area gang dengan rumah penduduk yang terlihat cukup lengang. Pagar rumah area perkampungan itu rata-rata memiliki ketinggian lebih dari satu meter yang mampu menyembunyikan.kehidupan dibaliknya.


Diana dan Rosa saling berbincang memecah kesunyian gang yang lengang dan cukup panjang dengan beberapa tikungan sempit.


Gang itu selalu ramai saat jam pulang sekolah. Banyak anak-anak memilih melalui jalur tersebut menuju titik tunggu angkot karena banyak penjaja jajanan di bibir gang itu. Termasuk pentol korea langganan Diana.


Namun saat ini sudah hampir senja. Penjaja makanan sudah tinggal beberapa dan tak banyak pula nampak orang berlalu lalang yang melewati gang tersebut.


Hal itu sudah biasa bagi Diana dan Rosa yang hampir setiap pulang sekolah melewati gang tersebut. Tidak ada kecemasan meskipun keadan tengah sepi seperti saat ini.


Diana sangat jarang melewati jalur sebelah kiri untuk menuju titik tunggu angkot. Dia menghindari untuk melewati warung kopi dekat persimpangan yang mana di sana sering menjadi tempat nongkrong Mario.


Rasanya Diana sudah sangat tidak ingin bertatap muka dengan Mario lagi mengingat kelakuan Mario di kantin tadi yang benar-benar membuatnya jengkel setengah mati.


"Di, semoga kita gak sampai ketemu di gelanggang ya.. Aku gak mau ngelawan kamu." Kata Rosa.


"Kenapa Ros? Kamu takut kalah?" Jawab Diana.


"Iya lah.. Kamu ingat gak waktu kak Ari sempat terjungkal menahan tendangan kaki kamu. Ngeri banget itu." Ucap Rosa sembari mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika latihan.


"Hehehe.. Kamu masih inget aja Ros. Sumpah aku gak enak banget waktu itu. Tapi kak Ari malah kasi applause buat aku." Diana pun jadi mengingat kejadian itu.


Ketika asik mengobrol, Diana dikejutkan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba menepuk pundaknya dari arah belakang. Reflek Diana pun menoleh karena kaget. Namun dia semakin dibuat kaget ketika melihat siapa pemilik tangan itu.


Mario.


"Eh, kok ada Mario?" Rosa pun ikut merasa bingung dengan kehadiran Mario di sana.


"Ada apa?" Tanya Diana dengan ketus. Diana sudah hilang keramahan untuk menghadapi Mario. Dia sudah terlanjur kesal.


Mario menatap lurus ke dalam mata Diana. Begitupun Diana yang tak gentar sedikitpun mendapatkan tatapan yang begitu mengintimidasi dari Mario.


"Jadi benar kamu yang di malam itu?" Ucap Mario.


Deg,


Jantung Diana seakan berhenti sesaat yang kemudian berdenyut memacu lebih cepat. Keringat dingin mulai mengembun di dahinya.


"Mario sudah tau?" Tanya Diana dalam hati.


Diana hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Mario. Dia tidak meng-iya-kan sekaligus tidak menampiknya.


Berkelit pun rasanya sudah tidak mungkin. Diana tidak pandai berbohong atau memikirkan alasan-alasan dusta untuk menutupinya.


Mario mencengkeram lengan kanan Diana yang membuat Diana tersentak kaget mendapat perlakuan fisik dari Mario.


"Jaket ini. Noda di jaket ini. Persis sekali." Terang Mario.


Diana nampak menelan ludahnya. Perasaan was was mulai menggelayutinya.


"Kalian kenapa sih? Ada masalah apa?" Rosa pun semakin heran menyaksikan apa yang terjadi.


Tak satu pun dari Diana atau Mario yang menjawab pertanyaan Rosa. Rosa mendengus kesal dan menjadi tidak nyaman dengan situasi ini. Dia merasa seperti obat nyamuk bagi mereka berdua.


"Kenapa diam?" Tanya Mario lagi.


"Aku harus bilang apa? Toh kamu sudah tau semuanya." Jawab Diana tanpa ada ketakutan sedikitpun.


Mario sedikit terkejut mendengat pernyataan Diana. Dia berpikir gadis ini akan ketakutan dan berkelit mencari alasan untuk mengelak.


Ternyata tidak. Gadis ini dengan mudah mengakui semuanya tanpa terlihat ketakutan sedikitpun.


"Apa hubunganmu dengannya?" Mario mengatur nafasnya berusaha meredam emosi yang menguasainya.


"Kenapa kamu perlu tau? Itu bukan urusan kamu." Jawab Diana


Entah mengapa Diana merasa tidak perlu menjelaskan apapun. Diana mulai masuk dalam perang argumen dengan Mario. Dua orang yang sama-sama keras kepala.


Rosa yang tidak mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya hanya berusaha menerka-nerka dari percakapan mereka.


"Sepertinya Mario sedang cemburu pada Diana. Jadi, Mario benar-benar naksir sama Diana. Wah, berita besar ini.." Batin Rosa sambil terus menajamkan telinganya.


"Tentu saja jadi urusan aku sekarang. Karena kamu sudah ikut campur urusan aku." Mario mulai meninggikan suara.


Mario terus mencengkeram lengan Diana seolah tidak membiarkan gadis ini kabur. Diana merasa kesakitan karena cengkeraman Mario cukup keras. Dia mengibas-ngibaskan lengannya berusaha melepaskan diri.


"Mar, Mar, lepasin Diana. Jangan main fisik sama perempuan." Rosa mulai panik melihat Diana yang meringis kesakitan.


Seketika Rosa menciut mendapat lirikan tajam dari Mario. Singkat namun terasa begitu pedas.


Cengkeraman Mario melemah. Perlahan Mario melepaskan cengkeramannya.


"Apa kamu pikir jika aku membalasmu, dia akan datang membelamu?" Mario tersenyum meremehkan.


"Dia? Dia siapa sih?" Rosa mencoba menerka-nerka dalam pikirannya sendiri. Dia merasa masalahnya tidak sesederhana yang dia bayangkan.


"Aku gak perlu dibela siapapun. Aku gak takut sama kamu." Jawab Diana tegas.


Mario tertegun melihat nyali Diana yang tak sedikitpun menunjukkan rasa takut. Kalau saja ini antar lelaki, mungkin sudah terjadi baku hantam sedari tadi.


"Kamu yang salah. Kamu melakukan pengeroyokan waktu itu. Bukankah itu tindakan pengecut?" Ucap Diana.


Mario seperti mendapat tamparan keras. Ada rasa tersinggung dari kata-kata Diana barusan.


"Memangnya kamu tau apa tentang masalahku dengan dia?"


Diana mulai habis kesabaran. Dia benar-benar merasa lelah dan ingin segera pulang.


"Terserah apa masalah kamu. Sekarang mau kamu apa? Aku capek, mau pulang."


"Aku akan balas perbuatan kamu Diana."


Mario terlihat tak main-main dengan kata-katanya. Wajahnya benar-benar menunjukkan keseriusan.


Diana sedikit tersentak. Dia tidak pernah berpikir Mario akan tega membalasnya karena dia seorang perempuan.


"Silahkan saja." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Diana.


Sesaat kemudian dia merasa sedikit menyesalinya mengingat kejadian di belakang halaman ketika mereka sedang di hukum karena terlambat. Ketika Mario menendang sebuah botol sampai membentur tembok pagar dengan begitu kerasnya.


"Sial, kenapa mulutku gak bilang maaf aja sih.."Gumam Diana dalam hati.


"Jangan nyesel kamu. Kamu sendiri yang mulai." Kata Mario.


Rosa merasa bingung dengan suasana yang memanas. Sebenarnya ada masalah apa antara Mario dan Diana. Mereka tidak seperti pasangan yang sedang bertengkar karena cemburu.


"Udah Di, mending kita kabur aja. Kayaknya Mario benar-benar marah. Mukanya serem banget." Bisik Rosa pelan.


Diana tidak menggubris perkataan temannya. Dia sudah kepalang nekat. Jadi, maju saja.


"Oke. Kamu mau berantem? Ayo! Aku gak takut." Tantang Diana.


Rosa menatap wajah Diana. Dia sudah sama menakutkannya dengan Mario. Rasanya Rosa ingin kabur saja dan tidak ikut campur. Tapi dia tidak tega meninggalkan temannya sendirian. Bagaimana bila mereka benar-benar akan adu jotos?


"Udah dong Di, ayo kita pulang aja." Rosa mulai menarik-narik tangan Diana.


"Ros, lepasin dia! Kamu mending minggir. Gak usah ikut campur." Ucap Mario membentak Rosa.


"Udah dong Mario, kalian kan bisa ngomong baik-baik. Gak usah pakai berantem." Timpal Rosa penuh kekhawatiran.


"Orang kayak dia gak bisa diajak ngomong baik-baik Ros.." Kata Diana dengan mata yang tetap menatap Mario dengan tajam.


"Di, kamu jangan bikin makin panas dong.. Kamu tuh perempuan." Bisik Rosa berusaha meredam emosi temannya itu.


"Heh, Diana. Kamu kira aku bercanda." Mario mulai maju selangkah.


Reflek Diana mundur selangkah. Dia sedikit ciut. Meskipun Dia memiliki kemampuan bela diri, tapi dia tidak pernah menggunakannya untuk bergulat selain di arena latihan.


Mario semakin mendekat memperpendek jaraknya. Mario dapat merasakan rasa takut yang mulai nampak pada raut wajah Diana.


Mario mengangkat tangannya. Dia mengepalkannya begitu kuat sampai urat-urat tangannya bercokolan.


Jantung Diana seperti mau copot. Matanya menatap tangan mengepal menuju ke wajahnya.


Kakinya terasa lemas dan bergetar. Dia merasa takut. Ada rasa bersalah karena ia yang sebenarnya memulai segalanya dengan ikut campur dalam urusan malam itu. Dia merasa tidak kuasa melawannya. Dia merasa layak mendapat balasan meskipun yang ia lakukan ia pikir adalah hal yang benar.


Diana menutup matanya dengan telapak tangan. Dia ingin berteriak namun suaranya tercekat.


Rosa mulai histeris melihat Diana yang akan mendapatkan serangan dari Mario. Dia memasang kuda-kuda bersiap membela temannya itu.


Dan hanya dalam hiitungan detik, tiba-tiba..


Cup


Eh,


...


Author's cuap:


Eh, ada apaan itu tadi?