Titip Salam

Titip Salam
Titik Dua Strip Bintang



#104


Titik Dua Strip Bintang


"Apa kamu gak merasa kehilangan sedikitpun kalau aku pergi?"


Suara Mario terdengar bergetar. Nafasnya tersengal menahan rasa sesak yang menusuk dadanya.


Tekat dihatinya sudah bulat. Setelah gadis itu tahu isi hatinya dan gelisah karena akan berpisah jauh nantinya, maka hari ini pula ia harus tahu jawabannya.


Mario ingin menyusun hatinya setelah ini, setidaknya sebelum ia pergi jauh. Apakah ia akan terus berjuang? Atau harus benar-benar mengubur semuanya? Dia sudah mempersiapkan diri untuk patah hati. Namun sungguh ia tidak tahu apakah ia benar siap untuk kemungkinan itu.


Kini gadis itu tampak mematung. Suara sendu dibelakangnya membuat benteng pertahanannya kembali goyah.


"Aku sempat terpikir untuk membatalkan kontrak itu. Kalau masalah dendanya, keluarga aku masih bisa mengusahakan. Tapi taruhan besarnya adalah masa depan aku. Namaku bisa diblacklist karena dianggap mempermainkan kesepakatan kerja dan tidak berlaku profesional. Aku belum siap hancur untuk usia semuda ini. Tapi.."


Mario memberi jeda pada kalimatnya. Dia berusaha mengatur nafasnya.


"Semangat aku akan selalu tertinggal disini."


Diana terpaku ditempatnya mencerna tiap perkataan pemuda dibelakangnya. Dalam hati kecilnya ia begitu sedih. Dia merasa melukai pemuda yang sedang duduk dipinggir trotoar jalan, tertunduk lesu dibelakangnya. Dia tidak tau harus bagaimana.


"Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini muncul. Yang aku sesalkan kenapa rasa ini ada setelah kontrak itu aku setujui?" Mario mengusap kasar kepalanya. Ia benar-benar merasa kacau. Ah, bukankah semua perasaan itu terlalu dini ia rasakan?


Diana mendekat perlahan dan duduk tak jauh dari pemuda itu tanpa berkata apapun. Ia masih ingin mendengarkan banyak hal yang ingin ditumpahkan oleh pemuda itu karena ia masih tidak tau harus berkata apa.


Kondisi jalan yang tak begitu ramai membuat suasana kesedihan semakin ketara di sana.


Keadaan ini seperti planning B yang telah disiapkan pemuda itu mengingat sejak pagi ia telah melewati banyak hal tentang perasaannya. Padahal sesungguhnya tidak ada planning B. Mario kini hanya jujur mengikuti hatinya.


"Aku gak minta apapun Di, aku cuma pingin dengar kejujuran kamu." Mario merem as-rem as tangannya gelisah dan terus menatap tanah aspal di bawah.


"Aku cuma pingin tahu gimana sebetulnya perasaan kamu ke aku?" Mario menoleh pada gadis yang kini sedang tertunduk tak jauh di sampingnya.


Ini merupakan sebuah momen mengungkapan perasaan. Tapi mengapa terkesan seperti sebuah perpisahan?


"Maaf," Hanya itu yang keluar dari bibir Diana. Sebuah kata yang tidak ingin Mario dengar sebagai jawaban. Kata maaf disana masih menyimpan berjuta pertanyaan.


Diana selalu pandai merangkai kata untuk mendebat tiap kalimat yang terdengar begitu menjengkelkan. Tapi untuk kondisi seperti ini, dia tak mampu membuka mulutnya. Ada apa Diana?


Mario lalu mengulurkan sebelah telapak tangannya ke arah Diana yang masih menunduk tak.berani menatapnya.


"Kalau memang ada sedikit saja nama aku dihati kamu, genggam tangan aku ini. Kalau memang aku tidak berarti apapun buat kamu, pergilah dan jangan berbalik menatapku untuk saat ini."


Entah mengapa Mario begitu yakin gadis ini memang benar menyukainya. Mario begitu yakin yang dikatakan Hera sore itu adalah benar bahwa Diana menyukainya.


Mario berpikir Diana hanya terlalu pemalu untuk mengakuinya. Mungkin dengan cara ini setidaknya gadis itu tak perlu susah-susah merangkai kata untuk jujur mengenai yang ia rasakan. Ah, ini sangat mendebarkan.


Diana berpikir sejenak menyelami perasaannya sendiri yang bahkan ia tidak mengerti.


Berawal dari peristiwa pengeroyokan yang membuat ia membenci pemuda itu, kemudian tumbuh rasa kesal ketika pemuda itu terus saja mengusik hari-harinya, hingga ia tak menyadari ada kebahagiaan ketika mengenangnya dalam lamunan menjelang tidur.


Beberapa minggu lalu cemas gelisah menguasai pikirannya ketika pemuda itu tanpa kabar kemudian dilanjutkan dengan rasa sakit ketika pemuda itu menjauhinya.


Kini setelah ia mengetahui sebuah fakta bahwa pemuda itu akan pergi jauh darinya ada kesedihan yang mendalam.


Rasa apa itu?


Diana mengangkat wajahnya memandang telapak tangan yang terulur dari seorang pemuda yang tampak memejamkan mata begitu erat menunggu pergerakan darinya.


Mario menuggu dengan jantung yang sudah berdebar hebat.


Deg,


Mario membuka matanya ketika merasai jemari yang begitu dingin perlahan menja mah telapak tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika penglihatannya menangkap sosok gadis pemilik telapak tangan sedingin es itu tampak memejamkan mata dengan pipi yang merona.


Angin sejuk seolah menerpa wajahnya yang semula layu. Rasa hangat seketika menjalar dan memberikan keteduhan hatinya yang tadinya gelisah.


Diana membuka matanya ketika ia merasakan jemari yang ia setuh mulai bergerak dan menggenggam lembut telapak tangannya yang terasa dingin dan berkeringan karena rasa gugup yang tak dapat ia sembunyikan.


Ketika tatapannya beralih pada pemuda itu, dilihatnya ia sedang tersenyum memandang ke arahnya.


Diana tidak tahu apa jawaban ini adalah benar? Tapi sungguh ia merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa sekarang.


Diana kembali tertunduk malu menyembunyikan bibirnya yang mulai tersenyum.


"Terimakasih."


Suara Mario terdengar berbeda. Begitu lembut ditelinga Diana. Bagai ada iringan lagu-lagu cinta yang ia sering dengarkan dari mp3 player milik Mario saat itu. Bagaimana bisa begitu? Dari mana musik yang tiba-tiba seolah terdengar ditelinganya. Ah, Romantisnya.


Mario masih pada posisinya ketika punggung gadis itu menjauh. Dia masih ingin menikmati lebih lama angin segar di sana sambil terus tersenyum menatap telapak tangan yang baru saja menggenggam sebuah kobaran semangat baru yang akan menghiasi harinya yang tentu tak akan lagi sama.


Senang,


Senang sekali rasanya.


Terserah bagaimana kelanjutannya nanti, yang penting kini ia merasa sangat bahagia.


...


Malam harinya lagi-lagi Diana merasa sulit tidur. Dia terus saja melihat telapak tangan yang memiliki dampak besar untuk sebuah keputusan yang mengartikan kejujuran hatinya. Telapak tangan yang semula terasa begitu dingin perlahan menghangat ketika bersentuhan dengan telapak tangan pemuda itu, seolah ada perpindahan energi panas menuju titik netral disana.


Memori siang itu tak akan pernah ia lupakan. Kenangan yang masih segar itu terus berputar dalam ingatannya. Bahkan ia sampai kedapatan senyum-senyum sendiri ketika sedang memperhatikan papan tulis kala les tambahan berlangsung.


"Di, kamu kenapa sih? Kok senyum-senyum sendiri?" Ucap Hera sambil bersisik ketika mendapati teman sebangkunya memiliki gelagat aneh.


"Hah? Siapa yang senyum-senyum sendiri sih?" Sanggah Diana.


"Hmm.. udah tertangkap basah, masih mau ngeles aja. Emang kamu dari mana aja tadi? Kok lama banget sih? Katanya cuma mau ngantar formulir ke pelatih ganteng kamu itu?"


"Iya emang cuma nganter formulir kok, sekalian cari makan siang." Jawab Diana yang sengaja menutupi kalau Mario turut mengantarnya tadi, dan banyak kejadian mendebarkan yang terjadi setelahnya.


"Masak sih cuma gitu doang? Tapi kayaknya kamu lagi berbunga-bunga banget. Jangan-jangan kamu jadi semakin deket ya sama kakak pelatih ganteng itu?" Hera terus saja menggodai Diana yang sudah salah tingkah.


"Apaan sih Her, jangan bikin gosip aneh-aneh deh.."


Hera hanya tersenyum penuh arti. Setidaknya Hera merasa lega karena Diana sudah tidak terlihat murung lagi. Bahkan sesekali ia mendengar bibir temannya bergumam menyenandungkan nyanyian hari ini.


Cling,


*Di, kmu udah tdur?


Aq gk bsa tdr gara2 kpikiran km mulu nih..


Klo bsok aq telat ke sekolah,


km hrus tanggung jwb ya, (emoticon tersenyum dengan mata bergambar hati berjajar tiga)


Pesan dari kontak bernama Super Mario semakin membuat rasa kantuknya lenyap. Lagi-lagi Diana tersenyum sumringah.


Cling,


*Enak aja nyuruh tanggung jawab.


Mkanya merem, jgn hp an smbil senyum2 mulu.


"Hahaha.. Ketahuan gak bisa tidur juga dia." Mario berguling-guling senang di atas kasur empuknya.


Cling,


*Mario, kejadian siang tadi jgn dcritain ksiapa2 ya..


please..


Aku malu. (emoticon wajah bulat dengan pipi merona)


Mario semakin erat memeluk gemas gulingnya ketika membayangkan wajah Diana yang sedang merona malu-malu.


Cling,


*Hmm.. gimana ya?"


Diana mengeratkan giginya karena kesal. Kenapa pemuda ini tak pernah langsung meng-iya-kan saja. Dia suka sekali mengajak Diana bernegosiasi yang ujung-ujungnya Diana yang merasa dirugikan.


Cling,


*Kalau sampai bocor awas saja!!!


(emoticon marah dan muka setan berderet panjang)


Mario terpingkal sambil berguling-guling di kasurnya. Gadis itu pasti sangat kesal sekarang.


Cling,


*Oke, aku gk akan bocor ke siapapun.


Tapi bsok cari mkan siang bareng lagi ya..


Diana mendengus kesal membaca balasan pesan dari Mario. Seperti yang ia duga, ujung-ujungnya pasti ada maunya.


Cling,


*Oke deh, asal gak boleh ada yang tau ya..


Udah ah, aq ngantuk mau bobok dulu.


Km bobok jga, biar bsok gk telat sekolahnya.


"Eh, kok aku jadi sok perhatian nyuruh bobok segala?" Batin Diana sambil senyum-senyum setelah mengirim pesannya.


"Tunggu, tunggu! Bobok?" Diana merasa geli pada kata yang bobok sebagai kata ganti tidur yang biasanya ia gunakan. Ah, hal itu dianggapnya terlalu imut.


Aaarrggghhh.. Malunya..


Benar yang diduga Diana. Mario semakin geregetan membaca kata-kata manis penuh perhatian dari Diana. Hal tersebut membuat kesan galak menjadi lenyap berganti kesan menggemaskan yang membuat Mario geregetan mencubiti gulingnya.


Cling,


*Iya aq bobok deh..


Met bobok ya cewek galak aq tersayang,


Mimpiin aku ya..


Hehehe :-* (emoticon cium dan hati warna merah)


Mata Diana terbelalak dengan mulut menganga ketika membaca pesan terakhir Mario apalagi emoticon kepala.botak kuning dengan bibir monyong yang, bergerak mengecup ditambah gambar hati disampingnya.


Pipinya terasa menghangat. Dia menutup hapenya dan membenamkan wajahnya dalam bantal. Rasanya sangat geli, memalukan, tapi dia merasa sangat senang.


Diana, kau nampak berbunga-bunga sekarang. Mengingat pipimu yang selalu tersipu karena sikap manis pemuda itu, apa kamu sanggup bertemu dengannya besok berbaur di tempat umum dengan biasa saja seolah tak terjadi apa-apa?


...


Author's cuap:


Sialan!


Anak SMP main suka-sukaan, naksir-naksiran, sayang-sayangan bikin baper aja!


(Author mode sewot)


Bang Mario, mau dong di chat pke emot titik dua strip bintang klo mau bobok..


Hihihi..


Tapi paling hepi kalau mau bobok bca komen2 kalian dulu..


Makasih udah baca


Jangan lupa supportnya yaaa