Titip Salam

Titip Salam
Wahai, Bunga Musim Semi



#72


Wahai, Bunga Musim Semi


Denting suara sendok yang beradu dengan piring mewarnai seisi ruangan. Termasuk Diana yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya.


Acara undangan dari bapak bupati ini benar-benar sarat akan kebahagiaan bagi Diana. Disana banyak makanan enak ala kondangan, namun tidak perlu memberi amplop. Malahan dirinya yang mendapat amplop berisi beberapa lembar rupiah dalam pecahan terbesar yakni yang berwarna merah. Wah, bagaimana Diana tidak cerah sumringah saat ini.


Diana berdiri, meletakkan piring bekas makannya di kotak piring kotor yang telah disediakan, lalu matanya celingukan mencari minuman segar disana.


"Sendirian aja Di?" Seseorang mendekat menyapanya Diana.


"Eh, Abdul. Tadi sih sama teman, cuma sekarang dia lagi pergi sebentar." Ucap Diana sambil menyendok es buahnya.


"Ngomong-ngomong tadi surprize banget gak sih Mario nyanyi lagu Diana buat kamu?"


Pipi Diana lantas bersemu merah. "Iya, udah gila teman kamu itu." Jawab Diana.


"Kamu benar Di. Baru kali ini dia segila itu. Di depan banyak orang termasuk bapak Bupati pun hadir. Nekat dia!" Ucap Abdul sambil menggelengkan kepala tak habis pikir dengan keberanian Mario.


".. Mari kita sambut penampil terakhir kita. Petik Akustik Band featuring Willy dari SMP 10.."


"Willy?" Gumam Diana membalik badan menghadap panggung.


*


(Flash back On)


Satu jam sebelumnya,


"Gila! Gak bisa, gak bisa." Suara Willy menggema tertiup angin di halaman belakang Gedung Olah Raga tersebut.


"Ayolah Ngek, kamu harus bantu kita. Ini demi nama sekolah juga." Ucap seorang yang juga berada disana.


"Yah, kenapa dadakan banget? Kenapa juga harus aku?" Willy masih kekeuh berusaha menolak.


"Kita baru dapat kabar tadi pagi kalau si Adit masuk rumah sakit kena DB. Aku gak tau harus kayak gimana lagi." Wajah panik menghiasi wajah lawan bicara Willy.


"Aku yang ngajuin kamu ke teman-teman Ngek. Aku inget penampilan solo kamu di PENSI sekolah, sumpah itu keren banget. Cuma kamu yang bisa bantu kita sekarang." Ucap seorang lainnya.


"Kenapa gak cancel aja." Ucap Willy masih bersikeras menolak.


"Gak bisa Ngek, soalnya udah masuk rundown acara. Please Ngek, kali ini aja."


Salim yang melihat sulitnya mengubah pendirian Willy, mencoba menengahi. Tangannya melingkar ke pundak Willy dan mencoba untuk membujuk sahabatnya itu.


"Kamu gak pingin narik perhatian doi? Kalau kamu maju, dia ngeliat betapa kerennya kamu, pasti otomatis kesempatan kamu makin lebar Ngek." Ucap Salim mengompori Willy dengan membawa urusan hati.


Willy terdiam sesaat mencerna baik-baik perkataan Salim.


"Benar juga kata Salim. Ada Mario di sana. Mario pasti tampil sama bandnya. Dia pasti berusaha keras kelihatan keren di depan Diana. Kalau aku jalan santai terus, aku bisa kalah langkah dari Mario. Mungkin ini salah satu kesempatan." Batin Willy.


"Tapi masalahnya kita belum pernah latihan sama sekali." Ucap Willy akhirnya.


Salim tersenyum lega. Kompor yang ia sulut benar-benar panas dan sangat berhasil melelehkan kekakuan pendirian temannya.


"Hahaha, disitu kelemahan kamu, Ngek." Batin Salim seperti menemukan sebuah kunci emas harta karun milik Willy.


"Kita bisa latihan sebentar di belakang. Nanti aku minta tukar posisi biar kita belakangan tampilnya."


"Okeh!"


Satu kata yang terucap dari bibir Willy membuat semuanya bernapas lega.


"Kalau gitu aku hubungi panitia sebentar. Yang lain langsung persiapa latihan ya.."


Seketika mereka membubarkan diri dan bersiap dengan pembagian tugas masing-masing. Semua bergerak cepat karena sudah tidak memiliki banyak waktu lagi.


(Flash back off)


*


Willy melangkah dengan percaya diri, membawa stool dan meletakkannya di depan tiang penyangga mic. Kemudian dia kembali meraih gitar klasik sebelum kemudian duduk pada stool yang telah ia siapkan tadi. Beberapa rekannya pun telah bersiap-siap pada posisi dan instrumennya masing-masing.


Diana melebarkan matanya dengan mulut menganga di tempatnya berdiri yang kebetulan sangat dekat dengan panggung. Di sana, di atas panggung, Willy menyunggingkan senyum dan kedipan mata ke arahnya.


"Willy juga bisa nyanyi? Wow!" Begitulah batin Diana yang terkejut sekaligus kagum pada sosok yang kini berada di atas panggung.


Selama ini baginya Mario lah patokan dari sosok bintang yang ia tahu. Tapi ternyata, diluaran sana masih banyak bintang bersinar dan salah satunya adalah Willy, pemuda yang diam-diam sering menitipkan salam untuknya.


Seketika dirinya merasa sangat bangga bisa kenal dengan banyak orang-orang yang populer.


"Siapa yang pernah jatuh cinta?" Ucap Willy membuka kata yang disambut penonton yang riuh bersorak.


"Seingatku, Petik Band SMP 10 vokalisnya bukan si Congek." Gumam Abdul yang berada di samping Diana.


"Kamu kenal Congek?" Tanya Diana ketika mendengar Abdul bergumam tadi.


"Sejak dalam kandungan kita sudah mengenal cinta dari Bunda. Kemudian kita lahir, dan kita mengenal cinta keluarga kita. Kini kita beranjak dewasa, ada cinta lain yang mulai kita rasa." Suara Willy yang ber-syair menggema ke seluruh ruangan.


Diana terdiam, terhenyak meresapi tiap kata yang diucapkan oleh sang penampil. Suaranya begitu dalam dan sampai ke hati, membuat senyum merekah pada bibir gadis itu.


"Jujur, aku belum berani berasumsi itu adalah cinta. Tapi tiap kali bayangannya terlintas di dalam pikiran, alam bawah sadar seolah membawa raga ini menari-nari di tengah sejuknya embun pagi. Dirinya bagaikan bunga musim semi yang bermekaran,"


Diana terpikat semakin dalam. "Bunga musim semi?" Batin Diana mendengar istilah yang sangat familiar.


"Membahagiakan tiap rongga kehidupan. Aku berharap kamu mengerti debaran ini untukmu, wahai bunga musim semi.."


Pikiran Diana melayang pada beberapa bulan terakhir, bahkan sampai saat ini, di mana hampir setiap minggu dirinya mendapat titipan berupa secarik kertas dalam amplop yang tersegel yang belakangan dia pun baru tau siapa pengirimnya, Congek adalah Willy.


Bait-bait kata-kata manis yang membuatnya tersipu, dengan catatan terakhir yang selalu berulang "...Terimakasih, bunga musim semi ku,"


Diana menyentuh dadanya yang bergemuruh. Dia takut berkesimpulan, namun hatinya seolah begitu yakin. "Bunga musim semi yang dimaksud adalah, aku?"


Untaian kata puitis Willy pun berakhir, satu persatu alat musik mulai menyuarakan melodi lembut yang disambut pula suara sang vokalis,


...Menatap indahnya senyuman diwajahmu...


...Membuat ku terdiam dan terpaku...


...-...


Mata itu terus dan terus tertuju pada satu titik, bunga musim semi yang kini sedang menatap dalam padanya. Diana yang terpaku menatap Willy, dengan gemuruh di dadanya, dan banyak tanda tanya dalam pikiran yang sebetulnya jawabannya sudah ia temukan dalam hatinya.


Bayang-bayang seorang pemuda yang babak belur dan tersenyum ke arahnya malam itu, bayang-bayang senyuman seorang pemuda yang terpaku menatapnya dikala pertemuan tidak sengaja mereka, bayang-bayang tiap bingkisan manis yang selalu mengejutkannya, bayang-bayang pemuda yang berlari membawa bouquette bunga dan boneka di hari kemenangannya, dan terakhir wajah panik seorang pemuda yang menatapnya penuh kecemasan tadi pagi. Willy.


"Apa maksud semua ini?" Gumam Diana.


...-...


...Aku ingin engkau slalu...


...Hadir dan temani aku...


...Disetiap langkah...


...Yang meyakiniku...


...Kau tercipta untukku...


...Sepanjang hidupku...


...-...


Tak terasa setes air mata luruh dari pelupuk mata Diana. Benar-benar hanya setetes, mengalir ke pipinya.


"Apa ini?" Batin Diana yang merasa matanya tengah berkaca-kaca.


Diana menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang entah apa namanya. Dadanya terasa sesak membuatnya berkali-kali mengatur napas.


"Diana, apa kamu ada hubungan spesial dengan Congek?" Tanya Abdul yang masih berada di sana dengan sedikit berbisik.


"Hah? Maksudnya?" Diana beralih menatap Abdul dengan bingung.


"Matanya Di. Aku yakin banget matanya cuma mengarah ke sini. Matanya benar-benar tak beralih dari kamu." Ucap Abdul.


Diana terperanjat kaget dengan penuturan Abdul. Hal tersebut membuatnya kembali menatap ke arah panggung.


Benar, mata itu sesekali terpejam merasai syair lagunya, sesekali menatap jemari yang memetik gitarnya, selebihnya hanya ada satu tujuan di mana bunga musim semi berada, Diana.


...


Tercipta Untukmu - Ungu


Author's cuap:


Diana, leleh ya..


Aku kok nulisnya agak agak bawang goreng sedep gitu ya?


Kalau kalian leleh juga,, jangan lupa supportnya yaaa


Like


Comment


Vote


Tenang aja, tiap minggu akan selalu ada kuota vote baru dari noveltoon.


Jadi jangan lupa gunakan hak vote kalian buat vote novel favorit kalian.


Terimakasih