Titip Salam

Titip Salam
Rencana Menikmati Senja



#93


Rencana Menikmati Senja


Sore yang sejuk dengan semilir angin menggoyangkan dedaunan memberikan sensasi teduh dan rileks bagi siapapun yang menikmatinya.


Kesyahduan sajian alam yang membawa kedamaian seolah tak berlaku untuk suasana di sebuah teras rumah yang tidak begitu luas.


Dua orang laki-laki saling menghadapi ketegangannya di depan papan hitam putih. Ayah Arman dan Willy.


Bibir pria dewasa itu tampak berkedut ketika pemuda di hadapannya tersenyum puas setelah mengucapkan "Skak!" dengan penuh percaya diri.


Menyerah? Tentu tidak ada dalam kamus Ayah Arman. Apalagi menyerah pada pemuda yang selalu menjadi bocah dimatanya. Rajanya masih bisa diselamatkan.


"Tidak semudah itu anak muda. Mari kita memainkan emosi juga." Batin Ayah sambil menyunggingkan senyum diam-diam.


"Apa yang membuat kamu suka sama anak Om?"


Hah?


Willy tampak gelagapan mendapat pertanyaan dadakan dari sang lawan.


"Jawab!"


"Eh, iya Om. Emm.. apa ya?" Ucap Willy sambil mengerutkan kening tampak berpikir keras.


"Ternyata kamu cuma main-main aja ya?" Ucap sang Ayah sambil menggerakkan pion dan melahap bishop (istilah lain dari buah catur gajah). Bibirnya berkedut menahan senyuman.


"Saya serius Om, saya cuma gak tau alasannya apa. Putri Om itu unik, beda dari yang lain." Ucap Willy jujur sambil menggerakkan benteng melahap pion yang merenggut bishopnya.


Ayah Arman seperti tergelitik mendengar jawaban pemuda itu. Jawabannya terdengar begitu lugu dan penuh kejujuran tanpa ada kiasan-kiasan memuji.


Sementara yang diradakan Willy sendiri, dia merasakan ketegangan ganda. Fokus pada permainan mulai terpecah oleh pertanyaan-pertanyaan Ayah Arman. Memang itu tujuannya.


"Skak!"


Willy terkejut sambil menatap pria di hadapannya. Senyum yang seolah mengisyaratkan "Jangan terlalu percaya diri anak muda.."


"Sial! Aku terkecoh." Batinnya.


Willy diam sejenak, mencari celah lain untuk menyelamatkan rajanya dan memutar keadaan.


Dan benar saja. Dalam dua langkah dia berhasil menemukan titik lemah yang mungkin dilewatkan oleh Ayah Arman.


"Skak lagi Om," Ucapnya sembari menahan cekikikan. Ada sedikit rasa sombong muncul dlm hatinya.


Ayah Arman nampak menggaruk-garuk alisnya tanda dirinya sedang berpikir keras.


Vroom.. vroom..


Sebuah motor merah mengilat berhenti di pelataran rumah.


Perhatian kedua lelaki itu pun teralihkan pada sosok yang turun dari motor dan berjalan mendekati mereka.


"Kayak pernah lihat motor itu." Gumam Arman.


Willy langsung memasang wajah masamnya. Dia sudah sangat hafal siapa pemilik motor berjulukan red fire itu.


"Sialan! Ngapain si munyuk itu muncul." Umpat Willy dalam hati.


"Permisi Om, Diana ada?" Sapa seorang pemuda dengan senyum yang sangat ramah. Mario.


Arman menatap tajam pemuda yang tampak familiar itu. "Kamu siapa?" Tanyanya.


"Saya Mario Om,"


"Ah.." Arman kini ingat betul. Pemuda ini yang sudah berani membonceng putrinya waktu itu. "Ternyata Super Mario itu bocah ini." Gumam Ayah Arman dalam hati.


"Nak Willy, ini pesanannya." Ucap seorang wanita dengan tiga kotak besar dalam kantong plastik jumbo.


"Loh, barengan sama..."


"Mario tante," Jawab Mario yang melihat ekspresi Mila yang nampak berusaha mengingat namanya.


"Kita gak barengan Tante. Saya baru datang. Saya mau ketemu Diana." Ucapnya begitu percaya diri.


Ayah Arman memandang Mario penuh selidik. "Nekat juga nyalinya." Batin Diana.


Belum sempat Mila memanggil putrinya, yang ditunggu-tunggu pun muncul dari balik punggung Mamanya.


"Eh, kok ada Mario juga?" Ucap Diana yang heran melihat sosok Mario juga ada di sana.


Diana benar-benar lupa akan kejadian salah kirim pesan tempo hari.


Wlly menghela nafas pelan ketika justru Mario yang mendapat perhatian gadis itu duluan. Padahal dia datang lebih awal. Dia merasa sangat kecewa.


"Oh iya!" Diana menepuk keningnya ketika sudah mengingat semuanya. "Sebentar ya Mar, aku ambil dulu headsetnya."


Buru-buru Diana berlari mengambil barang yang menjadi tujuan pemuda itu kerumahnya.


Tidak Diana, headset itu hanyalah alasan, bukan tujuan.


Mario pun dipersilahkan duduk di sana, berhadapan dengan Willy.


"Hai Ngek," Sapa Mario dengan senyumnya. Senyum yang seolah berkata "Nagapain kamu ada di sini juga kampret?"


"Hmm.." Jawab Willy singkat.


"Eh, nak Willy ini kuenya."


Willy lantas menerima bingkisan besar kue pesanan Mamanya kemudian meletakkannya di kursi yang semula ia duduki.


"Terimakasih Tante, pembayarannya sudah lunas kan?" Tanya Willy memastikan.


"Sudah lunas kok,"


Derap langkah Diana dari dalam rumah yang setengah berlari terdengar semakin jelas.


"Nih Mar," Ucap Diana menyerahkan headset berwarna putih milik Mario.


"Kemarin keselip di kasur. Maaf ya, kamu jadi bolak balik deh," Lanjut Diana.


"Gak masalah, santai aja Di.." Jawab Mario menerima headset yang diserahkan oleh Diana.


"Ya jelas gak masalah, kan hepi bisa mampir kesini." Sindir Ayah Arman.


"Ayah nih, ngopi dulu sana.." Ucap Diana kesal merasa diledek sang Ayah.


"Loh, Ayah kan ngomong apa adanya. Ya kan?" Ucap Ayah melirik pada Mario sambil tangannya merapikan buah catur kembali pada kotaknya.


Mario hanya cengar cengir merasa tersindir namun memang benar begitu adanya.


"Kalau gitu aku balik dulu ya," Ucap Mario undur diri. Yah, sebetulnya dia masih enggan untuk beranjak dari sana. Tapi sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama disana.


"Lho Om, kok udah diberesin aja. Kan belum selesai mainnya?" Ucap Willy yang baru menyadari papan catur di hadapannya sudah terkemas rapi.


Semua mata yang tadinya terpusat pada Mario jadi teralihkan pada Ayah Arman dan Willy.


"Kamu kan mau balik juga. Tuh, kuenya sudah harus dikirim kan?" Ucap Ayah Arman yang menunjuk bungkusan kantong plastik besar dengan dagunya.


Willy hanya menghela nafas pelan "Sialan! Padahal selangkah lagi aku bisa menang." Batin Willy.


"Jangan-jangan Ayah kalah ya?" Ledek Diana.


"Ck, Gak lah.. Ayah belum kalah."


"Ayah curang berarti. Padahal Willy masih ada waktu kalau mau lanjut main caturnya." Ucap Mama Mila yang masih berdiri di ambang pintu.


"Mana Ayah tau, kirain dia buru-buru." Jawab Ayah gak mau kalah.


"Huh, alasan aja nih Ayah Diana. Dia kan sudah terdesak tadi." Batin Willy.


Mario cekikikan puas melihat ekspresi Willy yang melengos kesal.


"Om, Tante, saya balik dulu." Ucap Mario sambil menyalami kedua orang tua Diana.


Mario beralih mengulurkan tangan pada Diana sambil berkata, "Di, aku ba--"


"Heh! Mau ngapain?" Potong Ayah Arman yang membuat Mario menarik kembali tangannya sebelum Diana sempat membalasnya.


Sekarang gantian Willy yang cekikikan "Rasain kamu munyuk! Kena juga. Xixixixi.." Batinnya.


"Mau da daah Om.." Ucap Mario lalu ganti melambaikan tangan pada Diana.


Diana pun tak kuasa menahan cekikikan melihat Mario yang cengar-cengir menghadapi keusilan sang Ayah. Dia tau betul pemuda itu pasti menggerutu dalam hati sambil berlalu menuju motornya.


"Kalau gitu saya pamit juga Om, Tante," Willy pun undur diri seraya menyalami.kedua orang tua Diana.


Ketika dia mendekati Diana, "Di, ini--"


"Kamu mau ngapain juga?" Potong Ayah Arman lagi.


"Mau ngasih ini om, pesenan Diana." Ucap Willy menyerahkan bungkusan plastik pentol korea sesuai janjinya.


"Saosnya aku pisah Di,"


"Makasih ya Wil, jus jumbonya lain kali ya.." Ucap Diana menerima bungusan yang diberikan Willy.


"Gak usah Di, cuma becanda kok. Aku balik ya.." Ucapnya yang kemudian berlalu dengan bungkusan kue pesanan sang Mama.


"Loh, nak Willy sendirian aja? Emang bisa bawa sendirian?" Tanya Mila setelah Willy berjalan beberapa langkah.


Willy menunduk dan tersenyum. "Yes! Ini dia.." Gumamnya.


Mario yang sudah bertengger di atas motor mendadak mengurungkan niatnya memutar tuas kuncinya melihat Willy yang diam-diam menyunggingkan senyum. "Wah, kayaknya si kampret merencanakan sesuatu." Begitu pikirnya.


Willy menoleh pada Mila "Iya nih Tante, kayaknya bakal kerepotan deh. Mama gak bilang kalau ternyata pesanannya sebanyak ini. Kalau jatuh di jalan bisa rusak kue-kuenya." Jawab Willy dengan raut wajah yang dibuat seperti orang kebingungan.


"Ya udah, kalau gitu Diana bantuin Willy bawa ya.. Kasian tuh nak Willy kerepotan bawa kuenya." Ucap Mila memberi perintah.


Willy sebisa mungkin menahan ekspresi gembiranya. Hatinya sudah melompat kegirangan. "Yes! Rencanaku berhasil. Jalan-jalan deh sama Diana, hore.." Batinnya.


Ayah tampak melengos mendengar istrinya mudah sekali tersentuh. "Pasti ini cuma akal-akalan bocah itu." Gumam Ayah Arman.


Mario yang mendengar semua itu pun melotor terkejut. "Kampret si Congek! Modus banget sih! Wah, gak bisa dibiarin nih.." Ucapnya sambil memasang kembali dongkrak motornya.


"Tunggu ya Wil, aku ambil helm dulu." Ucap Diana sambil berbalik hendak masuk rumah.


"Sama aku aja." Terdengar suara sahutan dari belakang Willy.


Senyum Willy langsung lenyap melihat Mario yang tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Mario turun dari motor mendekati Willy, menepuk-nepuk pundak pemuda yang tengah memicingkan matanya itu.


"Sama aku aja Ngek, aku free kok." Ucap Mario.


Diana yang melihat kedua pemuda itu tampak berdamai merasa senang sekali. Ternyata dugaannya yang mengira kedua pemuda itu tak akan pernah berbaikan ternyata salah.


"Serius Mar? Gak ngerepotin nih?" Tanya Diana memastikan.


"Gak Di, santai aja. Itung-itung nolongin teman." Ucap Mario sambil menepuk-nepuk sekali lagi pundak Willy.


Mario tersenyum puas melihat Willy yang tampak merengut menatapnya. Wajahnya memerah seolah ada kepulan asap menguap dari ubun-ubunnya.


"Ya udah kalau gitu salah satu motornya minggirin dekat pohon aja. Jangan lupa dikunci." Ucap Mama Mila yang menunjukkan posisi parkir yang teduh di dekat motor miliknya.


Mario segera memindahkan motornya ke lokasi yang ditunjukkan oleh Mama Diana.


"Ayo Ngek, jalan.." Ucapnya kemudian sambil meraih bunkusan besar yang berisi kue-kue dari tangan Willy.


"Ya udah, kalau gitu saya jalan dulu Tante, Om, Diana.."


Ucap Willy mendekati motornya yang mana Mario sudah menunggunya dekat sana.


"Hati-hati ya.." Sahut Mila.


Diana melambaikan tangan dengan penuh senyuman.


Willy melajukan motornya dalam diam. Rencana yang ia susun rapi, nyaris sempurna, harus kacau karena pemuda yang duduk dibelakangnya.


"Ngek, kok diem sih? Kesel ya?" Ledek Mario sambil cekikikan.


"Diam kamu munyuk!" Umpat Willy.


Bayang-bayang menikmati senja kota berdua menyusuri jalan dengan Diana harus rusak berganti sore kelabu di atas motor dengan Mario. Mimpi apa dia semalam.


"Sabar dong Ngek, kan kamu sendiri yang bilang. Segala sesuatu kalau pakai emosi akhirnya tidak baik." Ucap Mario membalikkan kata-kata Willy tempo hari.


Huh,


Willy menghela nafas kasar. Menghembuskan amarah yang menyesakkannya.


"Selama aku masih di sini, jangan harap kamu bisa dekat-dekat sama Diana." Ucap Mario sambil menepuk pundak sang joki.


"Makanya buruan cabut sonoh. Ke London, Brazil, Portugal, yang jauh sekalian." Ucap Willy yang masih kesal.


Mario tertawa tertawa terbahak-bahak. Dirinya sangat puas membuat Willy sangat kesal sekaligus menggagalkan rencana jalan-jalan pemuda itu dengan gadis gebetannya.


"Nikmati aja lah Ngek, kan romantis menikmati matahari terbenam berdua di atas motor kayak gini." Ucap Mario sambil cekikikan.


"Mau lebih romantis lagi?"


Willy menambah kecepatan tiba-tiba mebuat Mario tersentak kaget.


"Congek kampret! Aku hampir jatuh sialan!"


Dan begitulan senja kali ini terlewati dengan penuh sumpah serapah dan tawa dari dua pemuda itu.


...


Author's cuap:


Romantis banget gak tuh?


Makin romantis kalau abis baca tinggalin like comment vote nya ya..


Apalagi kalau ditambah bunga-bunga..


Hihihi..