Titip Salam

Titip Salam
Definisi Orang Baik



Author's cuap:


Guys, udah episode #20 loh..


Terharu akutuh...


Aku berdoa semoga bisa konsisten nulis novel ini sampe tamat.


Aku gak mau ngecewain pembaca yang udah setia ngikutin novel ini kalo putus ditengah jalan'dan nebak2 sendiri gmn endingnya. Udah kesel capek pula.


iya khan...


Udah, kamu gk usah mikir gimana endingnya,


Berat!


Biar aku aja..


(Bang Dilan, nyontek dikit ya..)


Langsung lanjut ke cerita ya..


---


Tengah hari yang sejuk dan teduh. Suasana ini tidak seperti tengah hari biasanya yang begitu panas menyengat. Awan yang masih kelabu sedari pagi tadi seakan masih menyelimuti bumi, atau bumi yang masih enggan melepas selimut kelabu ini?


Diana dan Rosa berjalan pelan keluar gerbang. Rosa memperlambat irama langkahnya karena mengimbangi langkah Diana dengan kaki sedikit terseok.


Mereka biasanya akan menempuh jalur sebelah kiri menuju gang dekat halte untuk mampir dulu membeli pentol korea langganan mereka sebelum menuju titik tunggu angkot. Namun jalur itu sedikit lebih jauh dari pada jalur kanan yang langsung menuju persimpangan yang langsung dilewati angkot.


"Ros, aku ke kanan aja ya. Mau langsung cari angkot." Kata Diana memberi informasi pada Rosa bahwa dia tidak akan melalui jalur yang biasa mereka lewati.


"Ya udah, aku ikut ke kanan aja. Biar aku ntar jalan ke Timur dikit cari angkotnya." Kata Rosa yang merasa tidak tega membiarkan Diana berjalan tertatih sendirian. Meakipun Diana menolak untuk dibantu berjalan, setidaknya dia bisa menemaninya sampai temannya itu naik angkot untuk pulang.


"Makasih ya Ros." Diana nampak berkaca-kaca menerima perlakuan baik dari temannya itu.


"Gak usah lebay Di, minggu depan traktir aku pentol korea abang Min Ho ya, biar impas. Hahaha.." Gurau Rosa dengan tawa renyahnya.


"Sialan, ternyata pamrih banget kamu. Mending aku jalan sendiri aja kalo gitu biar minggu depan makan dua porsi pentol korea sendirian. Hehehe.." Canda Diana membalas gurauan temannya.


"Rakus bener kamu Di. Ntar gendut kebanyakan pentol korea. Hahaha.."


Mereka bersenda gurau sepanjang jalan. Menikmati suasana teduh yang seolah awan kelabu memayungi mereka.


Tiba-tiba fokus Diana terpecah. Dia merasa diawasi.


Diana menoleh kebelakang dan tidak melihat hal yang mencurigakan. Mungkin hanya perasaannya saja.


"Kenapa Di? Cari apaan?" Rosa ikut menoleh mencari sesuatu yang entah apa itu.


"Enggak ada apa-apa kok." Diana mulai melangkah lagi melanjutkan perjalanan.


"Aku tau. Kamu nyariin kak Ari ya.. Kamu berharap dia ngikutin kamu terus nawarin bareng lagi gitu kan? Hmm, sekarang baru nyesel, tadi pake sok nolak." Ledek Rosa pada Diana.


"Hahaha.. Kamu tuh kebanyakan nonton sinetron nonton drakor. Makanya imajinasinya jadi drama banget."


"Lah terus, ngapain kamu noleh-noleh ke belakang? Menatap masa lalu yang kosong? Owh.."


Diana hanya tertawa akan kelakuan Rosa. Dia merasa geli sekaligus terhibur melihat tingkah pola temannya yang satu ini.


"Hei, kaki kamu kenapa?" Tiba-tiba ada suara seseorang dari samping kanan Diana.


Kompak Diana dan Rosa menoleh pada sumber suara.


"Mario?" Sapa Rosa pada si empunya suara tersebut yang ternyata adalah Mario teman sekelasnya.


Rosa cukup mengenal Mario, namun tidak begitu akrab. Rosa bukan termasuk dalam tim pengagum Mario karena dia lebih kepincut dengan kak Ari yang terkesan lebih dewasa.


Diana yang menjumpai Mario disana sekaligus mendapat sapaan tak terduga dari seorang Mario merasa terkejut dan tercengang beberapa saat.


"Kaki kamu kenapa? D i a n a ?" Mario memberikan penekanan pada penyebutan nama Diana. Entah apa maksudnya.


Rosa yang heran melihat temannya itu terbengong langsung menyenggol pelan pundak Diana.


"Di, kamu kenapa?" Bisik Rosa di telinga Diana.


Diana pun tersadar dari keterkejutannya.


"Eh, iya. Tadi keseleo waktu latihan." Jawab Diana tergagap.


Diana tampak mengerutkan keningnya dan menatap heran pada Mario.


"Tunggu! tadi dia panggil aku Diana. Mario mengingat nama aku? Gawat." Gumam Diana dalam hati.


Mario balik menatap Diana yang berseragam bela diri tersebut dengan tatapan yang membunuh. Ekspresi wajahnya sulit ditebak.


"Mungkin kamu kena karma. Makanya kaki kamu bisa sampai keseleo." Ucap Mario sambil sedikit ia bumbuhi tawa ringan.


Deg!


Kata-kata Mario yang terkesan bercanda seolah menghujam jantung Diana.


"Apa maksudnya? Apa dia sudah tau? Tapi tidak mungkin. Dari mana dia bisa tau?" Gumam Diana dalam hati.


"Hahaha.. Mulut kamu sadis banget sih Mar.." Rosa yang melihat Mario tertawa pun merasa lucu dengan kata-kata Mario yang dia anggap candaan.


"Diana itu anak baik. Gak mungkin sampe kena karma. Kalo kamu gak tau lagi tuh. Hahaha"


Rosa terus menanggapi candaan Mario. Sementara Diana hanya memaksakan tersenyum agak tidak terkesan canggung.


"Ros, kayaknya temen kamu kesulitan jalannya. Apa mau aku antar?" Tanya Mario pada Rosa namun matanya tak lepas memandang Diana.


"Matilah aku." Ucap Diana dalam hati. Sontak bola matanya membesar mendengar perkataan Mario tersebut.


"Boleh," "Gak!" kata Rosa dan Diana kompak.


Diana melotot menatap temannya itu. Tatapannya seperti menunggu penjelasan Rosa.


Di mata Diana, Mario bukanlah anak yang baik. Dia tidak disiplin, suka berkelahi, dan suka mempermainkan hati cewek-cewek yang menggilainya. Tapi kenapa Rosa malah menyetujui kalau Mario berniat mengantar Diana? Apa Rosa sengaja membuat Diana sebagai mangsa kucing garong satu ini?


"Gak usah Mario, terimakasih. Aku bisa pulang sendiri." Diana berusaha memasang senyum manis agar terkesan semua baik-baik saja.


"Tapi bukannya lebih baik kamu aku antar pulang? Kalau terlalu dipaksakan jalan nanti cideranya bisa makin parah dan makin lama juga penyembuhannya." Kata Mario yang masih menawarkan diri.


"Bener juga Di. Kamu bareng Mario aja. Kalau dipaksain jalan takutnya malah makin parah." Kata Rosa yang akhirnya ikut khawatir setelah mendengar perkataan Mario.


Diana baru mau membuka mulutnya untuk menjawab namun Rosa memotongnya.


"Kamu tenang aja. Mario ini casingnya doang yang badung. Tapi sebenernya dia baik. Ya kan Mar?" Perkataan Rosa hanya dijawab cekikikan oleh Mario.


"Iya, tapi sekali lagi makasih banget tawarannya. Aku bisa pulang sendiri. Duluan ya.." Diana mulai berjalan pergi.


"Di, tunggu! Mar aku cabut juga ya.. Sorry temenku satu itu emang galak. Hehehe.." Ucap Rosa sambil menyusul temannya yang keras kepala itu.


Sesampainya di titik tunggu angkot, Rosa masih berusaha membujuk Diana untuk menerima tawaran Mario.


Dia tau jalur angkot yang Diana tumpangi tidak ada yang langsung berhenti di depan rumahnya. Diana masih harus berjalan beberapa ratus meter lagi setelah turun dari angkot untuk mencapai rumahnya. Dia khawatir kaki Diana akan semakin parah yang menyebabkan dia tidak bisa ikut latihan.


"Udah lah Ros, aku gak apa-apa. Aku masih sanggup kok pulang sendiri." Dan jawaban Diana masih sama.


"Emangnya kenapa? Masak kamu gak percaya sama aku kalau aku bilang Mario itu sebetulnya anak baik. Dia kalau dikelas baik-baik aja ama smuanya. Bahkan dia sopan kalau sama guru."


Diana hanya tersenyum menghadapi kepolosan temannya itu. "Rosa, kamu belum mengenal Mario seluruhnya. Tentang Mario diluar kelas." Kata Diana dalam hati.


"Aku gak enak Ros, aku gak seberapa kenal ama dia." Semoga Rosa menerima jawaban Diana.


"Terus, kalau gitu kenapa kamu tadi juga nolak tawaran kak Ari?" Rosa yang dari tadi dirundung penasaran akhirnya menanyakan uneg-unegnya. Karena kalau di posisi Diana, dia tidak akan melewatkan ajakan dibonceng kakak pelatih tampan itu.


"Sebenernya aku takut kalau diantar pulang sama cowok. Entar orang sekampung bisa geger. Hahaha.." Diana membuat lelucon seadanya.


"Ya elah Di. Tuh orang sekampung pada care amat sama kamu. Terserah kamu deh. Hati-hati pokoknya buruan di urut yang bener biar bisa ikut latihan."


"Siyap ibu luraah.."


Candaan merekapun harus berakhir dengan perpisahan yang sama sekali tidak mengharukan. Semuanya biasa saja. Hehehe..


Diana melambaikan tangan dari dalam angkot sementara Rosa bergeser sedikit ke Timur mencari angkot menuju rumahnya.


Mario? Dia mengintip dari kejauhan. Matanya benar-benar mengamati hingga objek yang ia amati benar-benar pergi menjauh.


"Sepertinya benar. Kamu orangnya."


...


Author's cuap:


Yuk, rayakan #20 episode ini dengan makan pentol korea bareng-bareng ya..


Tapi beli sendiri ya.. Hahaha..


Kalau di tempat kamu gak ada, kamu bisa tengok gambarnya di episode #2 sambil bayangin deh rasanya..


Jahat banget kan..


Eits, sejahat-jahatnya aku. Aku tetep cintah kalian semuaaa..


Jadi jangan lupa like komennya ya.. Makasih