
#101
Pengakuan Mario
"Sial, sial, sial..." Diana terus memaki sambil berlari.
Tas yang ia panggul benar-benar terasa berat membuat pergerakannya terasa begitu lambat, sementara jarum jam ditangannya menunjukkan ia sudah terlambat lima menit. Jalanan juga terasa licin karena hujan yang mengguyur semalaman membuat Diana harus bergerak lebih berhati-hati.
Tap,
Sebuah telapak tangan menangkap lengannya, membuatnya mengerem langkah mendadak.
"Percuma. Gerbang udah ditutup. Gak usah lari-lari."
Diana menarik lengannya berusaha melepaskan diri. Namun benar yang dikatakan pemuda itu. Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat barisan berseragam putih biru dikejauhan menandakan gerbang sudah tertutup.
"Aku sengaja nungguin kamu."
Diana mengernyitkan kening merasa heran. Kenapa? Dia sudah berusaha menjauh tapi sekarang malah dipertemukan kembali. Hal tersebut hanya membuat moodnya semakin rusak hari ini.
"Aku minta maaf."
Deg,
Diana mendengarkan sebuah kepahitan dalam ungkapan maaf dari mulut pemuda itu. Dia mengucapkan dengan begitu lembut, perlahan, seolah penuh luka di sana.
"Ah, Diana.. Jangan mudah tersentuh." Batin Diana pada dirinya sendiri.
Diana ingat betul apa yang terjadi padanya belakangan ini. Sering murung, uring-uringan tanpa sebab, semua karena rasa cemas dan khawatir pada pemuda dihadapannya. Tapi selama itu tidak ada respon darinya, yang padahal belum.lama ini pemuda itu selalu berseliweran disekitar area orbit Diana. Dan sekarang dia minta maaf?
"Minta maaf buat apa?" Ucap Diana berusaha menahan getar di dadanya.
"Maaf udah bikin kamu kayak gini." Ucapnya.
"Hah?" Kening Diana terlipat semakin dalam.
"Maaf udah bikin kamu suka sama aku."
Diana tertawa. Entah tertawa untuk dirinya sendiri atau ucapan pemuda itu yang memang benar adanya. Ingin rasanya ia teriak membenarkan perkataannya, lalu memakinya sesuka hati, atau bahkan melayangkan pukulan dan tendangan di ulu hatinya untuk meluapkan emosi.
Kini, ia semakin merasa benar-benar dikerjai oleh pemuda itu.
"Ini yang kata Willy dia terlihat tulus? Hahaha.." Batin Diana.
"Gak usah kepedean kamu Mario!" Ucap Diana sambil melangkah pergi.
Namun langkahnya langsung terhenti karena pemuda itu menghadang langkahnya. Ia bergerak ke kiri, Mario ikut ke kiri. Ia bergerak ke kanan, Mario pun menghadangnya.
"Kamu maunya apa sih?" Ucap Diana dengan intonasi tinggi.
"Kamu gak usah bohong Di, jangan tutupi perasaan kamu dari aku." Raut wajah Mario tampak bersungguh-sungguh.
"Jangan kamu pikir karena kamu populer dan banyak cewek yang suka sama kamu berarti aku juga suka sama kamu gitu?" Diana tertawa.
"Udah lah, mending aku ikut baris di depan gerbang dari pada lama-lama di sini, yang ada cuma bikin kesel." Diana menabrakkan bahunya ke bahu Mario yang sontak membuat Mario akhirnya minggir dan memberi jalan.
Mario tersenyum menahan rasa nyut-nyutan di bahunya. Yah, dorongan Diana begitu keras dirasa. Gadis itu bak bertulangkan besi dengan kulit beton saat menyerang. Apalagi bila disertai emosi.
Satu tendangan, kedua tonjokan di hidungnya, dan sekarang dorongan bahunya. Hal itu yang membuat gadis itu terkesan semakin istimewa di matanya.
...
Kantong plastik besar masih terisi setengahnya. Sampah-sampah ini harus segera terkumpul mengingat jadwal pelajaran pertama adalah matematika. Hukuman ini harus cepat diselesaikan.
Diana memilih spot di lorong belakang kelas paling ujung bersama seorang siswi dari kelas satu. Tempat tersebut sering dijadikan markas persembunyian murid-murid badung yang belajar merokok. Hal tersebut terlihat dari banyaknya puntung rokok dan beberapa bungkus rokok. Titik ini dikenal dengan dark spot atau blind spot yang mana jarang sekali terjamah dari pemeriksaan para guru. Lokasi-lokasi seperti ini seharusnya segera dibasmi.
Dia sengaja buru-buru menghilang dan mengajak adik kelas yang menjadi timnya itu berlari menuju spot yang dituju oleh Diana. Perkara senioritas, sang adik kelas menurut saja tanpa tahu salah satu tujuan Diana adalah sembunyi dari Mario.
"Kamu mau main petak umpet?"
Diana menoleh pada suara di belakangnya. Adik kelas yang tadi terlihat sibuk mengumpulkan sampah di belakangnya, kini berubah wujud menjadi rupa seorang pemuda yang menguras emosinya sejak pagi tadi.
"Loh, Ayu mana?" Ucap Diana bingung.
"Dia minta tukar sama anak yang tadi satu kelompok sama aku. Katanya Mbak Diana galak, serem, jadi dia takut." Jawab Mario sambil mulai memunguti sampah di sana.
"Haish, pasti dia sendiri yang nyuruh si Ayu pindah tadi." Batin Diana berprasangka.
Diana memilih diam tak meladeninya. Fokusnya sekarang hanyalah menyelesaikan hukuman secepatnya.
Suasana terasa hening karena mereka bergerak saling memunggungi. Ketika Mario berpindah mendekat, Diana yang bergerak menjauh. Mereka hanya sesekali bertemu ketika menuju kantong plastik yang sengaja diletakkan di tengah-tengah mereka.
"Aku punya alasan kenapa aku menjauh?" Mario membuka pembicaraan.
Diana tetap tak bergeming seolah tak mendengar apapun, padahal ia benar-benar menajamkan telinganya.
"Aku merasa bertepuk sebelah tangan Di."
Diana tampak menghentikan gerakannya sesaat karena terkejut. Namun selanjutnya ia berusaha bersikap normal, yang padahal dadanya sudah bergemuruh hebat.
Bibir Diana tampak berkedut. "Segitu doang ternyata, cemen amat udah menyerah." Batin Diana mencibir pemuda di belakangnya. Secara tidak langsung hatinya kecewa karena dirinya tak lagi diperjuangkan.
"Maaf aku gak peka sama kamu Di.. Aku gak menyadarinya sendiri." Mario masih terus melanjutkan bicaranya. Meskipun lawan bicaranya terlihat tak memberikan reaksi apapun, tapi ia yakin perkataannya benar-benar didengarkan.
"Aku akan pergi jauh."
Deg,
Diana terlihat membeku.
"Nah kan, beneran didengerin. Sok sok an pura-pura budeg." Batin Mario yang menahan senyumnya ketika melihat Diana mulai bereaksi.
Sementara Diana, pikirannya sudah meracau kemana-mana.
"Mario mau pergi jauh? Kemana? Luar kota? Luar pulau? Luar negeri? Atau-atau jangan-jangan ke surga." Batinnya berspekulasi.
Diana berbalik mengintip punggung pemuda yang sedang berjongkok memunguti sampah.
"Dia kelihatan sehat dan baik-baik aja. Masak sih dia lagi sakit keras seperti di sinetron-sinetron sampai putus asa begitu. Oh God, gak mungkin hidup aku sedrama ini kan?" Batin Diana yang mulai merasa cemas.
Mario merasa dirinya diperhatikan. Dia berusaha menahan senyumnya. Bahkan ia sengaja tak berbalik dan berlama-lama memunggungi gadis itu. Akhirnya ia berhasil menarik perhatian gadis itu lagi.
"Maaf karena udah bikin kamu cemas selama ini. Maaf udah bikin kamu akhirnya suka sama aku." Ucap Mario dengan suara sendu. Yah, sedikit banyak ia memainkan perannya. Dia berharap bisa menarik sempati Diana lagi.
"Aku seneng banget ketika tahu perjuanganku gak sia-sia. Tapi aku juga merasa bersalah karena nantinya malah akan membuat kamu merasa kehilangan."
Sekonyong-konyong air mata Diana mulai menetes. Entah mengapa dia merasa begitu cemas dan takut saat ini.
Benar yang dikatakan Mario, ia sungguh takut Mario benar-benar pergi.
Sekuat apapun ia memerangi perasaannya, namun akhirnya ia sudah kalah dari awal.
"Aku sungguh-sungguh suka sama kamu Di.."
Mario berbalik dan mendapati gadis itu sudah sesenggukan dan berurai air mata.
"Di?" Mario mengernyit heran. Dia merasa tidak berkata terlalu berlebihan. Tapi mengapa gadis itu sampai menangis seperti itu?
Diana mendekat dan langsung menggenggam tangan Mario. Dia tak peduli tangan kotornya atau tangan Mario yang kotor karena memunguti sampah.
Kini giliran Mario yang terkejut dan membeku. Tubuhnya terasa kaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi dihadapannya gadis itu tengah menangis sesenggukan.
"Kamu harus terus semangat dong Mar, jangan berputus asa kayak gini.." Ucap Diana lirih sambil sesekali menghisap ingusnya.
"I-iya Di.." Jawab Mario kikuk. Reaksi gadis itu benar-benar melebihi espektasinya. Bahkan ini terlalu berlebihan.
"Please, kamu jangan patah semangat dan berfikir akakn mati, kamu pasti kuat.."
"Hah? Mati?" Mario membelalak kaget. Ia bingung dan tidak mengerti apa yang dikatakan gadis ini.
Huaa..
Diana masih sesenggukan dan menangis sejadi-jadinya. Tangannya pun semakin kuat menggenggam tangan Mario, bahkan lebih kepada mencengkeram dari pada menggenggam.
"Kamu gak boleh mati Mario, kamu gak boleh ninggalin aku.." Diana menangis dan merengek.
Kening Mario terlipat semakin dalam.
"Siapa yang mau mati sih?" Ucapnya kebingungan.
...
Author's cuap:
Kebanyakan nonton sinetron lu Di..
Hahaha
Para readers tercintaaah.. makasih masih terus seria ngikutin jalan cerita karya aku yaa
Karya aku dijamin fresh dan orisinil, no plagiat plagiat yah,
Curhat dikit nih kenapa kok kemaren2 slow up
Jadi author kan mudik, nah dikampung provider akuh signalnya susaaah
Trus pas udah balik, eh tepaaaarrr laaah
kecapekan gak enak badan, cuaca juga lagi pancaroba kan..
hiks,,
Tapi sekaraaang udah on lagi..
Sekali lagi makasih buanyaaak buat yang udah setia dan nungguin terus kelanjutan karya aku..
kecup muwach muwach buat kalian semuaaaa