
#71
Ini Kejutannya, Diana
"Hai, aku boleh duduk di sini sebentar?" Seorang gadis berparas cantik menghampiri Diana tak lama setelah Mario beranjak dari sana.
"Silahkan, kosong kok." Ucap Diana dengan ramah.
Gadis itu mengulurkan tangannya, "Kenalin, aku Lala."
Diana membalas uluran tangan itu sambil tersenyum ramah.
"Aku temannya Willy. Yah, lumayan dekat." Ucap gadis bernama Lala itu dengan penuh penekanan.
Jleb,
Senyum Diana meredup. "Feeling aku kok gak enak ya?" Batin Diana. Melihat Lala membuatnya teringat pada Stefi. "Jangan-jangan.."
"Aku Diana." Ucap Diana.
Lala, tersenyum ramah dipermukaan wajahnya, namun Diana sadar gadis ini datang sepertinya bukan untuk berteman dengannya.
"Kelihatannya kamu bukan anak SMP 10?" Tanya Lala.
"Iya, aku dari SMP 15." Jawab Diana.
"Aku lihat tadi kamu datang bareng Willy. Kalian tetangga-an?"
Diana mulai merasa tidak nyaman. Diana mulai berpikir gadis ini pasti ada hubungan khusus dengan Willy.
"Bukan." Jawab Diana singkat.
"Kalian saudara-an?" Tanya Lala lagi.
"Bukan juga." Jawab Diana lagi.
"Terus, kamu siapanya Willy? Kok bisa barengan?" Tanya Lala bertubi-tubi.
Sebetulnya Lala dapat menebak kalau Diana adalah gadis yang diceritakan oleh Willy tempo hari di parkiran sekolah. Hanya saja, dia ingin lebih memastikan lagi bagaimana peran Willy bagi Diana. Setidaknya Lala ingin tau seberapa besarkah peluang untuk dirinya sendiri.
Diana yang dicerca pertanyaan habis-habisan itu pun bingung harus menjawab bagaimana. Dia takut salah bicara dan terjadi kesalah pahaman. Perasaannya mengatakan gadis ini menaruh hati pada Willy. Mungkin saat ini dia tengah cemburu melihat dia datang bersama pemuda yang sedang ditaksirnya. Tapi menurut Diana, mendesak dengan banyak pertanyaan yang seperti ini tetap sangatlah tidak sopan.
"Katanya kamu teman dekatnya Willy, kenapa kamu cari tau banyak hal dari aku? bukan dari Willy-nya aja?" Ucap Diana.
Lala sedikit terkejut rupanya dirinya bukannya mendapat jawaban malah pertanyaan balik yang membuatnya terpojok.
Topeng keramahan di wajah Lala mendadak lenyap. Dia tidak menyangka gadis yang sedang dihadapinya bukanlah seseorang yang mudah terintimidasi olehnya. Kini malah dirinyalah yang merasa terdesak.
"Diana ini cewek yang diceritain Congek waktu itu La," Ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Lala.
Lala pun terkejut dengan kehadiran pemuda yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Aku Salim." Ucapnya lantas mengulurkan tangan pada Diana yang langsung dibalas oleh Diana.
"Aku teman bimbelnya Silvi. Jadi kalau ada salam atau bingkisan dari Congek, ya itu aku yang jadi penghubungnya." Ucap pemuda yang tampak selalu riang gembira itu.
"Salam? Bingkisan?" Batin Lala semakin mengernyitkan dahinya. Rupanya benar apa yang menjadi tebakannya. Gadis ini yang membuat Willy mendadak keluar lapangan saat latihan hanya untuk menyapanya ketika melintas di depan sekolah, gadis ini pula yang Willy ceritakan sebagai gadis yang tengah Willy perjuangkan. Gadis ini yang membuat Willy menolak untuk datang ke acara ini bersamanya.
Sakit kah mendengar kenyataan itu? Jangan ditanya lagi. Tangan Lala sudah berkeringat karena mengepal begitu kuat.
"Oh, makasih ya. Maaf kalau ngerepotin. Aku Diana." Ucap Diana tersipu malu. Dia merasa semakin tidak enak pada Lala.
"Santai aja. Kan yang ngerepotin si Congek, bukan kamu. Lagian aku seneng kalau bisa bantuin teman yang lagi usaha." Jawab Salim sambil tersenyum riang.
"Usaha?" Diana mengerutkan keningnya.
Lala yang merasa diabaikan akhirnya berdiri dan berusaha menggeser Salim agar memberi ruang untuknya lewat.
"Mau kemana La?" Tanya Salim.
"Mau pindah. Di sini gerah ada kamu." Ucap Lala sambil mendorong pelan Salim agar memberinya jalan, dan segera pergi menjauh dari sana.
Selepas kepergian Lala, Salim menggeser duduknya tepat di samping Diana.
"Kamu gak diapa-apain kan sama dia?" Tanya Salim sedikit cemas.
"Enggak kok," Jawab Diana.
"Oh iya, kamu kan juara beladiri, ngapain si Congek cemas kamu diapa-apain Lala. Kan tinggal sikat balik aja. Hahaha.." Salim terkekeh.
"Congek cemas?" Diana semakin tidak paham dengan apa yang dibicarakan Salim.
"Congek lihat tuh cewek deketin kamu, terus dia berpesan suruh aku jagain kamu sebentar selama dia ada urusan."
Kali ini Diana yang tertawa. "Emangnya aku bakal diapain sampai harus dijagain? Ada-ada aja."
"Willy kemana sih?"
Salim tersenyum mendengar Diana menanyakan Willy. "Ciye, udah kangen ya?" Ucapnya menggodai Diana.
Diana merengut kesal. Sepertinya pemuda bernama Salim ini akan sangat merepotkannya.
Acara sudah berlangsung beberapa menit yang lalu. Diana yang duduk ditemani Salim masih asik bercanda membahas hal-hal yang tidak penting. Sosok Salim yang tengil dan humoris membuat Diana melupakan bahwa dirinya baru saja berkenalan dengan pemuda itu.
"Cewek tadi itu pacarnya Willy?" Tanya Diana akhirnya.
"Siapa? Lala? Bukan, cuma teman biasa. Tapi Lala itu naksir Congek." Jawab Salim sambil mengunyah kotak jajanan yang sepertinya itu adalah milik Willy.
"Oh gitu. Pantes aja dia kayak gak suka aku tadi datang bareng sama Willy. Aku jadi gak enak." Ucap Diana sambil ikut mengunyah lemper dari kotak jajanan miliknya.
"Apa? Datang bareng? Jangan bilang kalian berangkatnya bareng-bareng?"
Diana mengangguk namun memasang wajah bingung. "Kenapa? Aku salah bicara kah?" Batin Diana yang melihat ekspresi terkejut Salim.
"Sialan si Congek! Pantes aja tiba-tiba sms bilang gak bisa nebengin aku." Umpat Salim langsung melahap semua sisa lemper ditangannya.
Ah, Diana mulai mengerti situasinya. Sepertinya Willy harus membatalkan janjinya berangkat bersama dengan pemuda ini karena dirinya. Tentu saja Diana berpikir Willy pasti sungkan menolak permintaan Mamanya, Eyang, dan Mama Diana saat itu.
"Waduh, gak usah minta maaf, santai aja. Klo aku jadi Congek juga pasti milih barengin kamu aja lah. Kapan lagi kesempatan boncengin gebetan? Pasti gak bisa tidur ntar malem tu bocah, hahaha.."
"Apa? Gebetan?" Diana mengernyitkan dahinya mendengar celotehan Salim.
Salim menutup mulutnya yang tadi tertawa lebar. "Ups,"
"Mulut kamu kenapa Lim? Kok pke ditutup gitu?" Ucap Willy yang tau-tau sudah duduk di kursinya semula.
"Hehe, gak kenapa-napa kok. Gimana udah beres?" Ucap Salim.
Willy mengacungkan jempolnya tanda semua urusan berjalan dengan lancar.
"Apanya yang beres?" Diana pun terpancing untuk mau tau.
"Ada deh," Ucap Willy sambil senyum-senyum.
"Tadi aja bilang ogah gak mau, sekarang senyam senyum." Sindir Salim yang dibalas cengar cengir oleh Willy.
"Lim, itu kotak jajanan aku ya?" Tanya Willy yang tidak melihat kotak snack miliknya yang ia tinggalkan tadi.
Kini giliran Salim yang cengar cengir sambil mengembalikan kotak yang sudah kosong itu. "Hehe, sorry Ngek. Kirain kamu gak mau. Itung-itung ongkos jagain tuan putri kamu." Jawab Salim.
"Kam-pret kamu Lim. Dihabisin lagi!" Umpat Willy kesal.
"Nih, ambil punya aku aja. Aku baru makan lempernya aja kok." Ucap Diana menawarkan jajanan miliknya.
"Aduh, berasa diabetes nih, kebanyakan taburan gula disini. Maniiis banget.." Ledek Salim.
Plak,
"Wadaw," Salim terkejut mendapat smash-an mendadak dari Diana. "Gila tangan kamu mungil gitu tapi kok pedes banget yak?" Ucap Salim meringis kesakitan.
"Maaf ya, reflek. Habisnya kamu ngeledekin mulu. Aku udah gemes dari tadi tau gak." Ucap Diana sambil cekikikan, begitupun dengan Willy.
"...Mari kita sambut penampilan Fire Freeze Band dari SMP 15.." Ucap sang pembawa acara dari atas panggung. Sorakan para penonton dan tepuk tangan riuh mengiringi sang penampil yang mulai mengambil posisi.
"Wah, band nya Mario." Gumam Diana.
Perhatian Diana kini terfokus ke arah panggung. Diana memang sudah beberapa kali menonton aksi panggung Mario ketika ada acara PENSI di sekolah. Namun entah mengapa sensasinya terasa berbeda saat ini.
Dada Diana berdegup kencang. Kata-kata Mario kala itu "..Aku udah nyiapin kejutan buat kamu di acara besok." membuat Diana harap-harap cemas menanti kejutan apa yang dimaksud Mario.
"Lagu pertama untuk kalian semua para juara, lagu dari salah satu band favorit kami Queen, We are the champion."
Suara Mario menggema ke seluruh ruangan membuat Diana benar-benar terpukau. Diana benar-benar terhipnotis. Telinganya seolah menyeleksi hanya untuk suara merdu Mario, dan menolak suara-suara lainnya untuk didengarnya saat ini.
Willy hanya memandang lesu gadis disampingnya yang sedikitpun tak berkedip menatap panggung.
Salim melihat perubahan wajah Willy yang menjadi sendu. Kini dia pun tau siapa saingan Willy. "Ngek, aku ambil makan duluan ya." Ucap Salim memilih pergi menjauh dari aura sesak disana.
"Ini pasti akan sulit kawan, lawan kamu benar-benar tangguh. Mario." Batin Salim menatap sahabatnya itu.
Kembali pada Willy yang masih menatap sendu pada Diana. Ada rasa nyeri di dadanya ketika menatap gadis itu tersenyum menikmati pertunjukan. Maaf, sepertinya bukan pertunjukannya, lebih tepatnya pada satu orang penampil disana, Mario.
"Di, aku yakin kalau akulah yang lebih dulu menyukaimu. Tapi kenapa dia yang bisa lebih dulu mengambil perhatian kamu?" Batin Willy.
"Keren ya Di?" Ucapnya lirih.
"Huumph."
"Kamu suka ya, sama Mario?" Pertanyaan itu begitu berat keluar dari bibir Willy. Sebuah pertanyaan yang mana dia berharap Diana tak perlu menjawabnya.
"Suka. Semua orang juga pasti suka sama dia. Dia hebat, keren, dan populer banget." Ucap Diana spontan.
Willy menghembuskan nafasnya, "Bukan suka yang kayak gitu maksudku. Tapi suka dalam arti yang lebih spesial?" Ucapnya lirih sambil beralih menatap ke arah panggung.
Deg,
Diana menoleh pada pemuda disampingnya itu. Ditatapnya wajah Willy yang tak seirama dengan musik yang bersemangat. Wajahnya tampak sendu menatap ke arah panggung.
"Willy kenapa ya? Apa dia segitu gak suka-nya sama Mario?" Batin Diana.
"Ehem, lagu kedua ini spesial untuk seseorang." Suara sang penampil menggema ke seluruh ruangan.
Riuh suara penonton bersorak mengiringi Mario yang tersenyum melanjutkan kata-kata manis pembuka lagu keduanya.
"Lagu dari salah satu band legendaris di Indonesia, Koes Plus. Lagu yang selalu mengingatkan aku pada seseorang. Inilah kejutannya, Diana."
Mendengar namanya disebut, Diana kembali mengalihkan pandangannya ke arah panggung. Disana, Mario tersenyum menatapnya.
Suara petikan gitar mengalun. Mario memejamkan matanya, menikmati musiknya, mengambil napas dalam, dan suara lembutnya mulai menggema..
Diana, Diana, kekasihku
Bilang pada orang tuamu
Cincin yang bermata jeli itu
Tanda cinta, kasih untukmu,
Bait bagiah chorus lagu berjudul Diana itu dinyanyikan begitu lembut dengan hanya iringan petikan gitar seolah ada rasa begitu dalam yang ingin disampaikan.
Diana terhenyak begitu dalam. Mario yang terus menatapnya ketika bait-bait itu terucap dari bibirnya. Hingga akhir bait, dan dilanjutkan dengan nada musik sesungguhnya.
"Mario sudah gila! Sepertinya dia sungguh-sungguh menyukai gadis ini. Tapi aku tidak akan menyerah Mario, karena akulah yang lebih dulu menyukainya." Ucap Willy dalam hati.
Willy kembali menatap dalam pada Diana yang menganga takjub menatap panggung. Saat ini, dirinya hanya mampu tersenyum saat ini, menikmati perih dalam kecemburuan yang menyayat hati.
"Mario, kamu sungguh mengejutkanku." Batin Diana.
...
Author's cuap:
Kok ni acara undangan Pak Bupati mendadak panas ya?