
#81
Bidak Catur
Motor matic berwarna merah yang membawa ibu dan anak itu menyusuri jalanan Kota hingga sedikit ke pinggir dekat Pusat Pembangkit Jawa Bali di Kota Gresik.
Suasana jalanan dengan hilir mudik suara deru kendaraan bermotor yang melewatinya seolah tak dapat dibandingkan dengan suara keributan dari dua orang yang tak habis-habisnya berdebat diatas motor.
"Trus ini arahnya kemana?" Ucap Willy yang mulai kesal dengan instruksi dari sang Mama yang tidak jelas.
"Udah, kamu lurus aja pokoknya." Ucap sang Mama.
"Dari tadi lurus lurus melulu. Kasih tau alamatnya sini, biar Willy aja yang nyari."
"Kamu kan lagi nyetir. Nanti kamu jadi gak fokus sama jalannya."
Begitulah ibu dan anak itu saling ngeyel tak ada yang mau mengalah.
"Nyebutin alamatnya aja apa susahnya sih?" Willy merengut komat kamit menggerutu kesal. Sungguh, sang Mama adalah navigator terburuk se-alam semesta.
"Ini sudah betul jalannya. Tinggal cari rumahnya. Nomor 83." Ucap sang Mama kembali memberikan petunjuk yang samar-samar.
"Huh, " Willy hanya mampu menghela nafas dengan kelakuan sang Mama.
Willy melambatkan laju motornya agar dapat mengawasi nomor yang tertempel di tiap rumah, hingga ia akhirnya berhenti di sebuah pelatran rumah yang terdapat toko kecil di sisi rumah tersebut.
Deg,
"Ini kan?" Jantung Willy berdegup kencang ketika melihat sebuah motor yang begitu familiar terparkir di teras rumah itu.
"Bentar ya, Mama terima telpon dulu." Ucap sang Mama yang turun dari motor dan bergerak agak menjauh.
Willy melihat punggung tegap seorang laki-laki yang berbalut kaos tipis dan mengenakan sarung sedang menyirami tanaman. Benar-benar kostum ala bapak-bapak yang lagi nyantai di rumah.
Willy berusaha menetralkan rasa gugupnya dengan berkali-kali mengambil napas panjang.
"Permisi Om," Ucapnya.
Pria itu menoleh pada sumber suara. Dia adalah Arman, Ayah Diana.
Wajah Ayah Arman nampak terkejut melihat seorang pemuda yang wajahnya begitu familiar. Yah, wajah seorang pemuda yang berani-beraninya memegang tangan putrinya.
"Besar juga nyalinya, pagi-pagi sudah berani bertamu ke rumah." Batin Ayah Arman berprasangka.
"Eh, kamu!" Ucapnya bergerak menghadap Willy yang menyapanya. Namun sialnya, tangan kanan yang sedang memegang selang air itu pun turut menghadap ke arah Willy.
"Woy, woy, Om airnya!" Ucap Willy yang sontak mendur-mundur menghindari semprotan air.
"Eh, maaf maaf gak sengaja." Ayah Arman segera menurunkan selang lalu mematikan kran airnya.
"Gak apa kok Om," Ucap Willy mengibaskan bajunya yang terkena percikan air.
Dengan sopan Willy pun mengulurkan tangan, mencium punggung tangan pria yang merupakan Ayah dari gadis yang selalu menyirami hatinya itu.
"Harus berusaha akur nih," Batin Willy.
"Kamu ngapain pagi-pagi sudah bertamu ke sini?" Sambutan yang tanpa basa basi membuat Willy langsung menciut sebelum mulai mengakrabkan diri.
"Cari anak saya?" Tanya Ayah Arman dengan gaya santai namun penuh dengan penekanan.
"Iya Om." Ucap Willy spontan.
Wew,
"Eh, maksudnya saya mau-"
"Permisi pak, ini rumah Mbak Mila kan? Saya mau ambil kue pesanan saya." Ucap sang Mama yang akhirnya datang juga.
"Oh iya, silahkan masuk Bu, saya panggilkan dulu istri saya." Ucap Ayah Arman berubah ramah.
"Ma, ada tamu.."
Mama Lina melirik heran baju anaknya yang tampak basah.
"Gak ada hujan kok basah semua?" Tanya Mama Lina.
Willy hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
"Dimandiin calon besan Ma," Batin Willy sambil terkekeh.
"Loh, Mbak Lina. Kok sudah kesini? Katanya mau diambilnya jam sepuluh?" Ucap Mila, mama Diana yang muncul dari dalam rumah.
"Iya Mbak, sengaja pingin mampir dulu. Siapa tau perlu bantuan." Jawab Mama Lina dengan lembut. Benar-benar berbeda ketika berdebat dengan anaknya sepanjang jalan tadi.
"Tinggal bungkus-bungkus aja kok. Eh, ada nak Willy juga. Mari masuk." Ajak Mama Mila sang pemilik rumah mempersilahkan tamunya masuk.
Ayah Arman yang masih berada di teras rumah melirik pemuda yang disapa istrinya dengan nama Willy itu. "Ah, Willy? Apa dia kontak yang bernama Willy si Congek Cakep? Cakep sih, tapi masak congek-an?" Batin sang Ayah.
"Ayo nak Willy masuk, Diana-nya ada di dalam lagi bantuin Tante." Ajak Mama Mila yang memang sudah mengetahui kalau putrinya juga mengenal pemuda itu.
Seperti mendapat angin semilir segar untuk berkah luar biasa tentang doanya disepanjang jalan mengenai keinginannya sekilas saja bisa melihat sang penyemangat hati benar-benar didengar dan dikabulkan Tuhan. "Thank God," Gumam Willy dengan senyum yang begitu cerah.
"Iya Tante, terimakasih." Willy spontan merapikan rambutnya sebelum bergerak menyusul sang Mama dengan Mamanya Diana yang sudah masuk terlebih dahulu.
Tapi,
"Eits, mau ke mana kamu?" Ucap Ayah Arman ketika Willy hendak melangkah masuk setelah melepas sandalnya.
Willy menoleh menatap Pria tegap itu dengan perasaan tak karuan. "Hmm, kok perasaan gak enak?" Batin Willy.
"Sini aja temenin Om di teras." Ucap Ayah Arman menunjuk kursi kosong tepat dihadapannya.
Willy menelan salivanya. Ada semburat kecewa dan bumbu deg-deg-an mengguncang rongga dadanya.
"Ya Tuhan, kenapa gak ngasih kisi-kisi atau pertanda sebelumnya kalau harus ngadepin Ayahnya dulu.." Keluh Willy. Ujianmu rintangan sungguh berat Wil,
"Iya Om." Willy menurut saja dan langsung mencari kenyamanan yang tak kunjung ia dapatkan di kursi kayu yang terasa begitu panas.
"Bisa om, tapi belum jago." Ucap Willy dengan kening yang terasa panas dingin.
Papan catur pun digelar dan tersusun rapi bidak catur diatasnya pertanda permainan akan segera dimulai.
Permainan baru berjalan sepuluh menit namun kening Willy sudah nampak begitu berkeringat. Willy benar-benar serius memikirkan langkah bidak caturnya agar tidak dikalahkan dengan mudah oleh Ayah Arman selaku rivalnya. Ditambah tekanan psikologis dari rasa grogi menghadapi Arman yang berstatus Ayah dari Diana. Gadis yang sedang mendag-dig-dug-kan hatinya.
Sang Ayah tampak tersenyum melihat kening Willy yang berkerut dalam menunjukkan pemuda itu benar-benar memikirkan tiap langkah yang ia ambil. Meakipun terlihat hasilnya budak catur berwarna putih milik Willy sudah banyak yang berbaris di luar papan. Willy sedang terdesak.
"Minum dulu Wil,"
Suara manis yang begitu Willy rindukan sontak membuyarkan konsentrasi pemuda itu.
"Eh, iya. Makasih Di." Ucap Willy menerima segelas jus alpukat yang disodorkan oleh Diana.
"Kata Tante Suster, kamu gak biasa ngopi atau minum teh pagi-pagi. Jadi aku buatkan jus aja deh." Ucap Diana dengan senyum manisnya.
"Iya betul, maaf ya ngerepotin jadinya. Aku suka banget jus alpukat. Aku minum ya- Hmm manianya pas, makasih Di." Willy memberikan senyum bahagianya. Hatinya benar-benar jimprak-jimprak kegirangan saat ini.
"Iya sama-sama." Ucap Diana sambil tersipu malu.
"Ehem, " Sang Ayah benar-benar tak mau mengalah dengan merusak suasana bertabur gula yang dirasakan oleh Willy.
"Ngapain sih Yah, dehem dehem gitu. Nih, kopinya." Perubahan drastis perlakuan pada sang Ayah yang usil, dari yang sebelumnya ramah ke Diana yang sebenarnya, si gadis galak.
Sang Ayah langsung meminum kopinya dan berkata "Kopinya juga manisnya pas."
Diana mengerutkan keningnya menatap heran tingkah konyol Ayahnya. Sepertinya naluri keusilan Ayah mulai muncul.
"Biasanya juga gak pakai muji gitu." Batin Diana heran.
"Eh, ada kakak cakep." Suara cempreng seorang gadis muncul dari balik pintu dan langsung duduk di pangkuan sang Ayah.
"Kamu anak kecil tau cakep segala." Ucap sang Ayah sambil mengusap kepala putri bungsunya.
"Ya kan emang cakep, iya kan Mbak?" Ucap Tania melempar pertanyaan pada kakaknya .
Diana yang menghadapi tingkah celoteh sang adik perempuan sontak melotot tajam.
"Panggil kak Willy aja Tan," Ucap Willy menyapa gadis kecil itu.
Tania hanya manggut-manggut. Matanya menyusuri meja yang sudah terhampar papan catur dengan bidak catur yang sudah berantakan.
"Wah, Ayah nantang kak Willy main catur ya?" Ucap Tania mengomentari aktivitas yang sedang berlangsung di depan matanya.
"Kak Willy pasti lagi berjuang keras ya? Wah, so sweet banget.."
Semua nampak heran dengan ucapan yang terlontar dari bibir gadis polos itu.
"Main catur so sweet apanya sih Tan?" Tanya Diana merasa heran dengan pola pikir adiknya.
"Ih, mbak Diana ini. So sweet lah, kak Willy pasti lagi berusaha keras biar bisa ngalahin Ayah." Jawab Tania yang masih penuh teka teki.
"Terus so sweet dimananya?" Ucap sang Ayah ikut bingung.
"Iya kan kalau kak Willy berhasil ngalahin Ayah main catur, baru deh boleh jadi pacarnya Mbak Diana. Kan Ayah sendiri yang buat peraturannya."
Deg,
Wah?
"Serius Om?" Ucap Willy spontan dengan wajah penuh antusias.
Eh,
Ayah yang terperangah dengan perkataan putri kecilnya semakin terbelalak kaget dengan respon spontan pemuda yang tiba-tiba sangat bersemangat itu.
Diana menepuk keningnya lalu menunduk malu menutupi pipinya yang merona. "Aduh Willy.." Batin Diana.
Ayah Arman mulai menangkap sesuatu yang tersembunyi pada diri Willy. Benar, Ayah akhirnya memahami bahwa pemuda di depannya tengah menaruh hati pada putri sulungnya itu.
Sang Ayah memicingkan matanya menatap pemuda yang juga tampak terkejut dengan reaksi dirinya sendiri tadi dengan tatapan mengintimidasi.
"Kamu Ngarep?" Ucap sang Ayah.
Willy pun tersipu karena bingung harus menjawab apa. Dalam lubuk hati tentu jawabannya adalah "Ngareeep buangeeet." Tapi tentu jawaban itu tidak mungkin ia katakan.
Willy melirik sekilas Diana yang masih tertunduk malu salah tingkah.
"Aku masuk dulu deh, mau lanjut bantuin Mama." Ucap Diana memilih kabur dari segala kecanggungan di sana.
Ekspresi tersipu malu-malu Diana yang tampak sangat menggemaskan dimata Willy.
"Diana? Apa kamu ingin aku perjuangkan melalui bidak catur ini?" Batin Willy sembari menahan senyumnya.
...
Author's cuap:
Kapok si Ayah, terjebak sendiri sama peraturan yang dibuatnya dengan maksud bercanda pada Tania.
Tania emang te ow peh be ge teeh..
Top Bangeeet!!!
Bang Willy, langsung SKAAAK MAAT!!!
FYI,
Ini hari b'day nya author
Semoga kalian menikmati traktiran dari author ya...
(maafkan ke-narsis-an author yaaak...)
hihihi