Titip Salam

Titip Salam
Titipan Salam ke-2



Author's cuap:


Ada yang kangen ama sekolah?


Sama! aku juga.


Β 


#25


Rata-rata lama waktu yang diberikan oleh sekolah untuk jam istirahat siswanya hanya lima belas menit untuk tiap sesinya, dan bila diakumulasikan tidak sampai satu jam. Tapi entahlah, waktu yang begitu singkat seolah sangat bermanfaat bagi tiap siswa untuk sejenak bersantai, melepas ketegangan dari suasana belajar yang kadang mencekam.


Mereka memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan sebaik-baiknya. Yang merasa lapar segera ke kantin. Yang belum mengerjakan pr dengan kekuatan super kilat menyalin pr milik temannya (yang ini jangan ditiru ya..). Yang punya gebetan segera celingukan tebar pesona menemui gebetannya (yang ini juga tidak perlu ditiru kayaknya..). Bermacam-macam kegiatan dapat dilakukan dalam lima belas menit itu. Terakhir yaitu mereka yang mengobrol bersenda gurau bahkan lintas kelas.


Rosa sedikit berlari dari kelasnya yang berada di lantai atas menuju kelas lain di lantai dasar. Kelas 3A, untuk menemui Diana.


Selain saat ekskul bela diri, Rosa jarang sekali berhubungan dengan Diana. Selain karena letak kelas mereka yang cukup berjauhan sehingga menyebabkan mereka jarang berjumpa, juga karena memang tidak akan ada urusan apapun tentang sekolah yang mengakrabkan mereka. Oleh karena itu, di hari-hari biasa mereka tampak tak begitu akrab. Hanya bertegur sapa sekilas ketika berjumpa di kantin.


"Diana.." Teriak Rosa dari bibir pintu kelas 3A. Suaranya seolah menggema ke seluruh sudut kelas.


Beberapa mata langsung teralihkan padanya. Termasuk lima gadis yang sedang bercakap-cakap pada bangku paling ujung itu. Yah, itu adalah Diana dan teman-temannya.


Diana merasa de javu dengan situasi itu. Benar-benar mirip saat dimana waktu itu Silvi yang datang tergopoh-gopoh menyampaikan titipan salam dari Congek. Seseorang yang sampai saat ini menjadi miateri di antara mereka.


Sekarang giliran Rosa yang datang.


"Ada apa ya? Mungkin ini ada hubungannya tentang jadwal tambahan untuk latihan bela diri." Batin Diana.


Rosa setengah berlari menghampiri Diana. Wajahnya menyunggingkan senyum dengan tingkahnya menyenggol-nyenggol pundak Diana.


Aneh!


"Apaan sih Ros, geli tau kamu kayak gini. Hii.." Diana menjadi begidik geli dengan senyum dan tingkah temannya ini.


"Ada titipan salam buat kamu." Ucap Rosa setengah berbisik namun masih dapat di dengar oleh teman Diana yang berada di sana.


"Wah hebat.. Laris banget kamu Di.." Celetuk Zahra.


"Enak aja bilang laris, emangnya aku dagangan." Balas Diana sedikit ketus.


"Sekarang, salam dari siapa lagi.." Lanjut Rida yang mulai penasaran.


"Dari Mario." Bisik Rosa lagi.


What???


"Apa?" Respon Diana yang begitu terkejut dan seketika pula dengan kompak diikuti oleh teman yang lainnya.


"Mario 3C?" Tanya Zahra dengan mulut yang masih menganga lebar saking tak percayanya.


Rosa menganggukkan kepalanya dua kali dengan sangat yakin.


"Mario anak ekskul bola?" Tanya Zahra lagi untuk meyakinkan.


Rosa menganggukkan kepalanya lagi dengan penekanan yang lebih menandakan ia sangat sangat yakin.


"Mario anak band sekolah?" Tanya Zahra sekali lagi yang mungkin masih tak percaya.


Rosa yang mendapat pertanyaan bertubi-tubi mulai merasa jengkel.


"Iya, iya, iya.. Emang di sekolah ini ada berapa Mario?"


Jawaban Rosa membuat mata Zahra membelalak lebar dengan tangan yang dibekapkan ke mulutnya. Semua tampak terkejut dengan infirmasi yang dibawa oleh Rosa. Tak terkecuali Diana.


"Kamu gak salah Ros? Ngapain Mario titip salam buat aku?" Tanya Diana dengan wajah bingung.


"Jadi sebelum jam istirahat Mario nyamperin aku. Dia nanyain kondisi kamu." Kata Rosa berapi-api.


"Gak kenapa-kenapa kok, cuma keseleo aja kemarin pas latihan."


"Trus, trus, Mario ngomong gimana?" Kini giliran Silvi yang antusias.


"Dia bilang gini. Bagaimana keadaan Diana? Apa sudah sembuh? Titip salam ya buat Diana. Gitu Di.."


"Ciye.. Diana.. Ternyata diam-diam kamu dapet perhatian dari Mario. Ciye.." Goda Rida.


"Hmmm Diana.. Aku merasa ditikung. Tapi gak apa-apa aku ikut seneng." Kata Zahra yang ikut-ikutan menggoda Diana.


"Kalian apaan sih, kompak banget kalo urusan begini. Lagian aku gak ngerasa ada hubungan apapun dengan Mario. Kenal aja enggak. Cuma sebatas tau." Jawab Diana berusaha berkelit.


"Iya itukan menurut kamu. Mungkin Mario yang diam-diam perhatikan kamu dari jauh. Waaah.. senengnya punya penggemar rahasia.." Timpal Hera pula.


"Habis si Congek yang masih misteri, sekarang Mario juga.." Sahut Silvi.


"Congek? Congek siapa?" Tanya Rosa yang tidak tahu tentang Congek yang juga telah mengirimi Diana salam sebelumnya.


"Iya, si Congek. Jadi gini ceritanya.. (dan Silvi menceritakan tentang Congek dari awal hingga pemberian bingkisan pada hari itu)."


Mendengar cerita Silvi, Rosa tak hentinya takjub dengan mengucapkan "wah.." berkali-kali.


"Diana ternyata banyak yang naksir." Ucap Rosa.


"Apaan sih, enggak gitu. Paling juga anak iseng aja." Diana menjadi sedikit tersipu karena teman-temannya terus saja menggodanya.


"Tapi Di, kok bisa Mario itu ngincer kamu, tapi gak ada yang tau. Apa sejak kalian makan bareng dikantin waktu hari Senin itu?" Zahra masih merasa heran karena benar-benar tidak mengendus bahwa Diana ternyata disorot oleh Mario. Sebagai fans Mario, dia tau siapa saja yang sedang dekat atau berusaha mendekati Mario.


"Apaan sih Zahra, jangan nyebar gosip aneh-aneh. Yang makan bareng Mario itu si Abdul. Bukan aku. Palingan ini akal-akalan Rosa nih mau ngerjain aku." Kata Diana yang masih berkelit.


"Sumpah Di! Akutuh juga kaget kok Mario tiba-tiba nanyain kamu." Jawab Rosa dengan sorot mata meyakinkan.


Diana bukannya hepi mendapat jawaban yang begitu meyakinkan dari Rosa, tapi dia lebih merasa ngeri dan akan lebih waspada.


"Di, kalau bener Mario itu naksir kamu, kamu harus hati-hati mulai sekarang." Zahra memperingatkan Diana dengan wajah yang begitu serius.


Diana sedikit terkejut dengan peringatan dari Zahra. Sepertinya Zahra sepaham dengannya. Bahwa Mario perlu diwaspadai.


"Betul Zah. Aku juga mikir gitu. Aku harus waspada sama Mario."


"Kok sama Mario sih? Bukan! Maksud aku kamu harus waspada sama para fans gila nya Mario. Kalau sampai berita ini sampai di telinga mereka, pasti ada saja yang bakal gak terima."


Diana makin terbelalak. "Sial! Kenapa jadi runyam begini." Gumam Diana dalam hati.


Diana memang tidak pernah tau bagaimana fanatiknya penggemar Mario. Banyak rumor mereka sering ribut ketika ada salah satu yang mendapat perlakuan khusus dari Mario.


Diana memijat pelan keningnya. "Mario, apa kamu sudah tau semuanya? Sebenarnya apa rencanamu?" Batin Diana.


...


Author's cuap:


Waduh... Mario mulai bergerak nih..


Sebaiknya babang Willy dikasih tau gak ya?


Kata bang Willy ada yg lebih penting lagi..


Yaitu, kasi Like πŸ‘ nya dong...


Biar Author's hepi..


πŸΌπŸ™πŸ»πŸ˜˜