
#52
Antara Dia dan Dia
Diana keluar stadion dengan perasaan dongkol. Di belakangnya, Hera, Zahra, Rida, Silvi, dan Rosa berusaha mengimbangi langkahnya yang begitu cepat.
"Diana, tungguin.." Ucap Hera berusaha menggapai pundak Diana.
"Udahan dong Di.. Jangan marah lagi." Ucap Rida setelah Diana akhirnya menghentikan langkahnya.
Sementara Zahra masih bungkam. Dia pun turut merasa kesal. Namun kesal itu ia tujukan pada Stefi yang tiba-tiba datang merusak momen Diana dan Mario kala itu.
Flasback on
“Apa? Bisa kamu ulangi lagi Hera?” Tanya Mario.
Keceriaan Hera pun sirna menatap wajah Diana yang melotot menyeramkan ke arahnya. Teman-teman yang lain pun hanya diam. Ada yang menahan tawa, ada yang merengut cemas.
"Aku salah ngomong ya?" Ucap Hera masih bingung dengan keadaan.
"Enggak Her, kamu ngomong apa tadi? Coba ulangi sekali lagi." Ucap Mario memaksa.
Hera kembali menatap Diana yang sedang menggeleng pelan padanya.
"Oh ya, aku tadi ngomong apa ya? Hahhaa.." Hera pun memaksa bibirnya tertawa.
Mario tampak kecewa dengan jawaban Hera. Dia menyadari Hera dan yang lainnya sedang menutupi sesuatu.
"Karena gk ada yg mau ngomong, aku aja deh kalau gitu." Zahra mulai buka suara.
Diana nampak gelisah memutupi wajahnya.
"Keterlaluan Zahra, kenapa dia bersemangat sekali?" Batin Diana.
"Jadi gini Mar,-"
"Hai kak Mario.."
Belum sempat Zahra melanjutkan kalimatnya, Stefi tiba-tiba datang menggelayut manja pada lengan Mario.
"Apaan sih Stef, gak usah pegang-pegang juga kali." Ucap Mario merasa risih berusaha melepaskan diri dari tangan Stefi.
Stefi yang mendapat penolakan pun merengut kesal. Namun bibirnya kembali tersenyum ketika melihat wajah-wajah kesal di depannya. Terutama wajah Diana.
"Oh ya, aku mau kasih hadiah buat kemenangan kak Mario, selamat ya.." Stefi memberikan sebuah bingkisan dalam paperbag pada Mario.
Ketika fokus yang lainnya berpindah pada Stefi, Diana pun mengambil kesempatan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Loh, Di.. Mau kemana? Tungguin." Ucap Silvi yang langsung berbalik mengikuti Diana. Begitupun teman-teman yang lainnya. Kecuali Zahra.
Diana yang tiba-tiba meninggalkan tempat itu setelah kedatangan Stefi, membuat kesan bahwa dirinya tengah cemburu. Teman-temannya pun nampak cemas berusaha mengejar dan menenangkan Diana yang tampak kalut.
Sungguh, padahal tidak seperti itu. Diana hanya berusaha secepatnya menjauh karena takut Zahra masih bersikeras akan mengatakan hal-hal aneh yang akan membuatnya malu dihadapan Mario.
Zahra masih terus menatap jijik pada Stefi yang sudah merusak suasana. Padahal sedikit lagi misinya untuk mendekatkan temannya dengan idolanya itu akan berhasil.
"Dasar cewek genit ganjen sok kecantikan resek!" Umpat Zahra dan kemudian pergi menyusul teman-temannya.
Mario yang hendak ikut mengejar Diana langsung dihadang oleh Stefi.
"Mau kamu apa sih Stef?" Ucap Mario geram.
"Ini, diterima dong hadiah dari aku." Ucap Stefi santai tanpa rasa bersalah sambil kembali menyodorkan paperbag yang ia bawa.
"Ya udah, makasih." Ucap Mario meraih paperbag itu begitu saja dan mengambil langkah untuk beranjak mengejar Diana.
"Tunggu!" Sekali lagi Stefi menarik lengan Mario, mencegahnya pergi.
"Apa lagi sih Stef?" Mario benar-benar kesal kali ini.
"Kakak mau ngejar Diana? Buat apa?" Ucap Stefi dengan nada tinggi.
"Kenapa sih kak, kakak sedikitpun gak ngasih aku kesempatan. Padahal aku selalu ada buat kakak. Kenapa harus Diana yang jelas-jelas gak peduli sama kakak? Apa sih kurangnya aku dibanding dia?" Akhirnya emosi Stefi pun tak terbendung lagi. Matanya tampak nanar memandang Mario.
Melihat mata berembun di depannya, Mario bingung harus menjawab apa. Dia takut salah bicara yang membuat air mata gadis itu malah tumpah.
"Stef, mending kamu cari tempat duduk ya.. Aku mau balik ke dalam menemui pelatih."
Mario melepas tangan Stefi perlahan, dan pergi mencari pelatihnya.
"Maaf Stef, andai aku bisa memilih. Rasa ini ada begitu saja."
Flashback off
"Zah, kok kamu diem aja sih? Ngomong dong.. Ini kan gara-gara ide kamu ngajak taruhan tadi.." Bisik Rida pada Zahra yang hanya terdiam.
"Serius?" Seketika wajah Diana sumringah.
"Resek kamu Di, kirain beneran ngambek." Celetuk Silvi yang tadi ikut ngeri melihat Diana yang terus merengut.
"Beneran kok ngambeknya tadi.. Kalian keterlaluan banget gak ada yang belain aku. Terutama Zahra tuh, kayaknya semangat banget jodohin aku sama Mario."
Zahra yang mendapat cibiran seperti itu hanya cengengesan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Gak tau Di, aku seneng aja kalau kamu tuh bisa deket sama Mario. Yah, ketimbang Mario sama si nenek lampir Stefi itu. Gedeg banget liat cewek keganjenan kayak gitu."
"Ya elah Zah, kalau kamu jadi aku udah muntah darah mungkin liat cewek keganjenan tiap hari gantian nyapa Mario dikelas." Ucap Rosa yang membuat Zahra terbelalak kaget.
"Beneran Ros? Siapa aja cewek yang keganjenan itu?" Tanya Zahra antusias.
"Banyak, selain Stefi ada,-"
"Stop, stop! Kok malah bahas Mario sih. Bikin gak mood lagi." Ucap Diana memotong kalimat Rosa.
"Emang kenapa sih Di? Katanya gak suka, kok sewot." Sahut Zahra yang begitu antusias kala ber-ghibah tentang Mario.
"Jujur deh Di, kamu tadi kok buru-buru pergi setelah Stefi datang? Kamu jealous?" Ucap Silvi sambil menaik turunkan alisnya menggodai Diana.
"Apaan sih, enggak lah.. Aku tuh kabur biar mulut kalian gak makin aneh-aneh ngomongnya." Sanggah Diana.
"Halah.. ngaku aja deh kamu Di.."
"Tuh, pipi udah merah merona."
"Bilang aja sama kita-kita.. Kamu pasti ada hati kan buat Mario. Meskipun sedikit.."
"Enggak! Enggak sama sekali!" Diana benar-benar kesal pada teman-temannya mengapa begitu bersemangat mendekatkan Diana dengan Mario.
Ejek mengejek pun masih terus berlanjut sepanjang perjalanan keluar stadion. Rasa kesal itupun hanya sesaat kemudian menguap berganti candaan antara sekumpulan cewek yang membuat suasana sore menjadi berisik.
"Kita klop banget deh kayaknya. Gimana kalau kita bikin geng?" Cetus Rida.
"Wah, boleh juga tuh. Biar keren.." Ucap Silvi.
"Setuju.."
"Setuju.."
Antara diskusi dan bercanda, mereka mulai benar-benar membahas keinginan untuk memberi nama pada komunitas kecil mereka.
Diana dan Hera tampak tersisih berjalan berdua d barisan paling belakang. Trotoar yang tidak begitu lebar itu jelas tidak mampu menampung mereka berenam bila berjalan sejajar.
"Eh Di, ngomong-ngomong kamu tadi ngilang kemana waktu pertandingan babak pertama tadi?" Tanya Hera sedikit berbisik pada Diana. Hera begitu penasaran kemana Diana sebelum tragedi Mario yang cidera.
Mendengar pertanyaan Hera, Diana pun dibuat teringat sesuatu.
"Oh iya, Willy. Kemana ya dia tadi? Masak udah pulang duluan. Pertandingannya kan belum selesai." Batin Diana.
"Di, ditanya kok malah bengong?" Bisik Hera menepuk pelan bahu Diana.
"Eh, iya, gak kemana-kemana kok Her. Tadi liat temen duduk di atas. Yah, aku kesana nyapa sebentar." Ucap Diana sekenanya saja. Meskipun memang seperti itu. Hanya saja, dia tidak ingin menyebutkan nama Willy pada temannya untuk saat ini.
"Siapa Di? Cewek apa cowok?" Tanya Hera masih penasaran.
"Mau tau banget deh, emang kenapa?"
"Bukan apa-apa sih.. Soalnya tadi pas kamu ngilang Mario tuh langsung kayak gak fokus gitu mainnya. Pelatihnya aja sampe triak-triak mulu dari pinggir lapangan."
"Masak sih? Kebetulan aja kali Her.." Ucap Diana yang dibalas Hera dengan hanya mengedikkan bahunya.
Yah, Diana berusaha tak mau ambil pusing untuk apa yang terjadi pada Mario. Meskipun sejujurnya kata-kata Hera tadi masih membebani pikirannya.
Diana dibuat bingung dengan semua keadaan yang menimpanya. Dua laki-laki yang berkelahi karena memperebutkan seorang cewek, mengapa malah bersikap manis padanya?
Diana benar-benar menekan otaknya agar jangan sampai berpikir bahwa dua laki-laki itu tengah menyukainya. Padahal hati itu benar-benar telah tersentuh oleh siakap manis keduanya.
"Apa cewek yang tengah mereka perebutkan itu tidak memilih diantara mereka alias mereka berdua ditolak? Kalau memang benar begitu..Wah, aku ingin sekali mengenal cewek itu. Dia pasti sangat keren. Hahaha"
...
Author's cuap:
Hatimu lebih peka dari pada otakmu Diana..
Mereka itu beneran suka sama kamu..
Author jd ikut geregetan..