
#123
Dating - Pangeran Sebenarnya (part 2)
Ces.. ces..
"Yah habis." Ucap Mario ketika mendapati hanya udara yang keluar saat menyemprotkan parfum di bajunya.
"Ya udah lah, cuma ketemu Congek doang, ngapain juga kudu wangi-wangi. Kalau besok ketemu doi, baru kudu mandi parfum kalau perlu. Xixixi.."
Mario hanya memakai kaos putih polos lengan pendeknya, celana pendek warna mocca selutut, sandal jepit hitam, sisiran rambut biasa tanpa pomade, dan terpaksa melewatkan kebiasaan memakai parfum.
Rencananya Sabtu ini ia akan mendapatkan kembali tabung NOS miliknya, lalu memasangkannya di bengkel bang Dion, dan redfire kembali terlihat macho berkobar seperti sedia kala. Ah, kuda besi tampannya itu sudah beberapa minggu gerlihat melempem tanpa tabung NOS nya.
Dia tidak memiliki banyak agenda hari ini. Ia sengaja mengosongkan waktu untuk persiapan kencan besok. Mencari tahu apa saja yang harus dipersiapkan saat kencan, apa saja yang biasa dilakukan untuk kencan pertama yang mengesankan. Ia juga harus membeli beberapa hadiah seperti bunga dan coklat, dan tak lupa parfum baru.
"Ngapain Congek ngajak ketemuan di bukit? Gak langsung ke tempat bang Dion aja sih?" Gerutu Mario ketika membuka pesan di hapenya.
"Jangan lupa bawa coklat? Dari pada bawa coklat buat si Congek, mending coklatnya buat doi aja besok."
Mario segera memasukkan memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas compact yang ia selempangkan di dadanya, kemudian berlalu menghampiri redfire yang baru saja ia poles mengilat.
"Mau kemana kamu?" Tanya seorang perempuan yang sedang berjongkok diantara pot bunga. Dia adalah Mega, ibunda Mario.
"Main Ma," Jawab Mario.
"Main atau ngapel?" Goda Mega pada putra sematawayangnya itu.
"Sekarang main, besok ngapel. Hehe.."
"Besok bikinin bouquette dari bunga mawar mama ya.. Nanti aku bilang kalau bunga ini ditanam oleh mama handa ku paling cantik tersayang." Mario balas menggoda Mega.
"Idih, mau ngapel kok gak modal." Mega hanya melengos menanggapi perkataan putranya.
"Pokoknya besok aku panen semua bunganya."
"Jangan coba-coba kamu ya! Nanti mama gak kasih uang jajan lagi!"
Mario terkekeh melihat Mega yang langsung mengangkat pot pot bunga mawarnya ke pojok belakang guna menyembunyikannya dari incaran putranya.
"Jangan marah-marah mulu Ma.. Ntar cepet keriput lho.. " Seperti tak ada bosannya Mario menggoda Mamanya.
"Aku berangkat ya.."
Redfire melaju membelah kota menuju kawasan hijau perbukitan. Tanpa ada pikiran yang aneh mengapa Willy mengajaknya bertemu ditempat seperti itu, Mario melaju dengan santai sambil bernyanyi-nyanyi menikmati udara pagi.
"Kok aku deg-deg an ya?" Gumam Mario ketika motornya semakin mendekati titik pertemuan.
Suatu kawasan yang tidak asing, tapi sangat jarang ia lewati, membuat Mario sedikit berhati-hati dengan medan yang todak terlalu mulus.
Beberapa menit berkendara, sampailah ia di area lapang perbukitan.
Dari jarak pandangnya, ia dapat melihat motor hitam Willy terparkir di dekat pohon. Sebuah motor tanpa tuannya.
Mario memarkirkan motornya tepat disamping motor Willy. Ia mengedarkan pandangan mencari si empunya sang kuda besi hitam itu.
Ah, di sana rupanya. Mereka tampak duduk di sebuah batang kayu yang telah tumbang di pinggir jurang.
Mereka?
Mario membelalakkan matanya ketika melihat punggung Willy bersama punggung seorang gadis yang begitu ia kenal. Punggung yang selalu ia pandangi kala sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Punggung yang selalu ia tepuk untuk mengagetkannya. Punggung yang belakangan ini diam-diam ingin ia dekap hangat.
"Eh, dia udah datang."
Diana menoleh ke belakang dan beberapa kali mengedipkan mata guna mempertajam penglihatannya. Keningnya terlipat dengan pikiran yang diselimuti kebingungan.
"Mario?" Ucapnya pada Willy yang melambaikan tangan pada pemuda yang tampak mematung di atas motornya.
Mario masih belum beranjak dari posisinya. Ia masih berusaha mencerna keadaan. Apa maksud semua ini?
Ia bergerak perlahan mendekati Willy dan Diana. Dadanya berdegup cepat kala memikirkan kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi. "Jangan-jangan?"
"Diana.." Willy mulai membuka suara ketika Mario sudah mendekat.
"Hari ini, kamu akan pergi kencan. Bukan sama aku, tapi bersama orang yang kamu sukai."
Diana menatap heran pada Willy. "Kenapa? Bukannya ini imbalan untuk bantuan kamu waktu itu?"
"Di, kencan dengan orang yang kita suka itu akan jauh lebih berkesan dan menyenangkan. Untuk bantuan itu aku ikhlas kok."
Diana memaki dalam hati. "Sialan! Kalau emang ikhlas ngapain bahas kencan mulu."
Willy menyikut lengan Mario ketika mendapati pemuda itu hanya diam dengan kening terlipat.
"Heh munyuk, ngomong dong!" Ucap Willy.
Mario pun gelagapan di buatnya.
"Udah bawa coklat? Atau bunga?" Bisik Willy pada Mario.
Benar yang Mario duga. Termyata Willy mengajaknya bertemu di bukit ini untuk mengantarkan Diana padanya.
Mario kemudian melihat dirinya sendiri dari kaos yang ia kenakan, celana pendek, lalu kaki yang beralaskan sandal jepit.
"Ngek, kita perlu ngobrol sebentar."
Mario menarik lengan Willy untuk menjauh dari Diana.
"Ini gimana sih maksud kamu Ngek? Kencannya hari ini?"
"Iya. Kenapa?"
Mario melingkarkan tangannya menjepit leher Willy sampai pemuda itu terbatuk karena sesak.
Diana kembali duduk sambil menopang dagu menyaksikan dua pemuda itu tampak adu mulut dutambah sedikit percikan adu fisik yang tidak berbahaya. Sesekali ia tertawa pelan melihat kedunya bertingkah kekanakan.
"Kenapa kamu gak bilang kalau kencannya hari ini, kampret!" Umpat Mario setelah melepaskan pitingannya.
"Emangnya aku gak bilang?" Kini Willy yang berbalik tanya.
"Kamu bilangnya Sabtu balikin NOS aku, Minggunya Diana bayar hutang kencan. Kenapa sekarang kencannya jadi hari Sabtu?"
Willy menggaruk janggutnya mencoba mengingat perkataannya sendiri pada Mario.
"Masa aku ngomong gitu?"
Mario menyikut lengan Willy sambil berdecak kesal.
"Ngeselin ya kamu Ngek!"
"Tapi aku kan udah ingetin kamu buat bawa coklat dari kemarin?" Willy masih berkelit.
"Trus sekarang coklatnya bawa kan? Atau bunga? Atau bingkisan?"
"Kamu lihat tampilan aku dong Ngek!" Mario bersungut kesal.
Willy menatap Mario dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Hmpfth..
Willy berusaha menahan tawanya yang berhadiah sikutan lagi dari pemuda itu.
"Sialan jangan ketawa kamu!" Umpat Mario.
Willy kini tahu letak kekhilafannya. Seirang Mario tidak mungkin berpenampilan seperti ini jika tahu ia akan kencan. Minimal ia pasti memakai sepatu, bukan sandal jepit seperti ini.
"Sorry Mar.." Willy tuljs meminta maaf tapj sungguh ia masih ingin menertawai keadaan.
"Terus NOS aku mana?"
"Aku titip di bengkel bang Dion. Nanti sore langsung aja ke sana sekalian dipasang."
Klutik, klutik,
Dua buah kerikilkecil mendarat di dekat kaki mereka. Kerikil itu berasal dari telapak tangan seorang gadis yang sudah tampak cemberut di sana.
"Gimana? Kalau kamu gak mau, ya udah biar aku aja yang jalan." Willy bergerak untuk mendahului Mario.
Puk,
"Siapa yang gak mau? Munggir!" Mario mencengkeram bahu Willy agar pemuda itu tak melanjutkan langkahnya.
Mario berjalan melewati Willy dengan langkah tegap penuh percaya diri.
"Kalau kalian masih lama, aku pulang aja deh!" Diana langsung berdiri dengan wajah ditekuk kesal. Ia merasa terabaikan.
Grep,
Mario menarik pergelangan tangan Diana hingga gadis itu tak berkutik ditempatnya.
"Diana," Mario menarik nafas dalam.
"Seperti yang kamu lihat, aku tidak ada persiapan sama sekali. Kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Tak ada bunga ataupun coklat."
Diana menatap mata yang penuh keseriusan itu dengan dada yang berdegup cepat.
"Kamu mau kan, kencan sama aku seharian?"
Diana beralih menatap Willy yang berada tak jauh di belakang Mario.
"Ah, aku punya ide." Diana mengangkat sebelah telunjuknya.
"Gimana kalau kita kencan bertiga?" Ucapnya dengan wajah riang seolah telah menemjkan sebuah pemikira brilian yang menjadi win win solution.
"Setuju!"
Mario mentap sumber suara yang menyahut di blakangnya. Tatapannya begitu menusuk sangat tajam.
"Hehe.. bercanda." Willy menepuk-nepuk pundak Mario sambil cengengesan.
"Aku gak mau jadi setan diantara kalian." Ucap Willy kemudian.
"Seperti rencana awal, aku akan ke pertunjukan seni dan beberapa tempat bersejarah di sekitar kota. Kita akan ketemu lagi nanti sore. Diana akan tetep pulang bareng aku karena irang tua Diana taunya dia pergi sama aku." Ucapnya menatap dua wajah dihadapannya bergantian.
"Jagain Diana baik-baik. Hari ini aku yang bertanggung jawab untuk memulangkannya utuh." Willy menatap serius pada Mario.
"Kamu tenang aja. Dia aman sama aku." Ucap Mario.
"Kamu beneran gak apa-apa Wil?" Diana kembali meyakinkan.
Pertanyaan Diana pada Willy menyimpan kelegaan untuk Mario. Pertanyaan itu menandakan bahwa Diana setuju untuk pergi berkencan dengannya.
"Aku gak apa-apa Di, kalian have fun ya.. Aku jalan duluan."
Willy berbalik dan menghirup nafas panjang. Ada denyutan yang menyesakkan yang berusaha ia tahan.
Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya berlalu memacu kuda besi hitamnya meninggalkan tuan putri bersama pangerannya.
Yah, dia bukanlah pangerannya hari ini.
...
Author's cuap:
Suprize banget ya buat Mario.