
#100
Belum Impas
"Hah? Impas gimana maksudnya?" Ucap Willy yang baru saja menelan suapan terakhirnya.
"Yang deal-deal an tadi itu loh.. Emmm kencan." Ucap Diana sambil berbisik di bagian akhir kalimatnya.
"Hah? Kamu ngomong apa?" Ucap Willy mendekatkan telinganya.
"Kencan." Ulang Diana masih sambil berbisik dengan raut wajah malu-malu.
"Kamu ngomong apa sih? Yang keras.." Willy semakin mengernyit dan mendekatkan telinganya.
"KENCANNN" Teriak Diana saking jengkelnya yang sontak membuat beberapa orang disekitar mereka menoleh.
Diana cengar cengir merasa malu mengetahui banyak pasang mata yang mengarah padanya. Beberapa diantaranya ada yang menertawai, ada yang bisik-bisik, dan yang lainnya hanya menoleh lalu mengacuhkan.
Mungkin di benak mereka "Dasar bocah. Masih kecil udah pacar-pacaran. Bikin berisik pula."
Diana benar-benar malu. Namun wajahnya mendadak berubah merengut melihat pemuda didepannya sudah jungkir balik menahan tawa sambil memegangi perut.
"Kamu ngerjain aku ya?
"Enggak! Beneran aku gak denger kamu ngomong apaan tadi itu. Lagian ngapain pakai bisik-bisik habis gitu langsung ngegas." Jawab Willy sambil cekikikan.
"Terserah deh, yang penting kita udah impas." Ucap Diana masih dengan mode cemberutnya.
"Eh, mana bisa impas. Ini gak bisa dihitung kencan." Sanggah Willy sambil membersihkan tangannya dalam kobokan yang sudah disediakan.
"Emang kencan itu kayak gimana?"
Willy terdiam. Otaknya berpikir keras mencari jawaban dari pertnyaan Diana. Tapi hasilnya nihil. Dia benar-benar tidak tahu kencan itu seperti apa karena memang belum pernah mengalaminya.
"Yah, pokoknya gak kayak gini." Jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Alasan apapun lah, yang penting ada kesempatan untuk jalan lagi berdua.
Diana hanya melengos kesal mendengar jawaban yang sama sekali tidak memuaskan dari Willy.
"Kamu pasti juga gak tau kencan itu kayak gimana, ya kan?"
Jleb,
Willy meringis malu-malu. "Iya sih, tapi nanti aku cari tau lah, hehe.."
"Haish.. Ya udah ayo pulang, udah sore banget. Belum beli martabak manis pesenan Mama."
"Ya udah, kita cuci tangan dulu. Sekalian aku mau ke kasir, kamu tunggu di motor ya..." Ucap Willy segera beranjak dari duduknya.
"Eh, tuggu Wil. Kita patungan ya.." Ucap Diana menyerahkan selembar rupiah berwarna merah.
"Gak usah Di, aku yang traktir aja. Lagian makan juga banyakan aku. Simpen aja buat kita kencan nanti, xixixi.."
Diana tampak merona mendengar kata kencan terdengar lagi di indera pendengaranya.
"Jangan dong Wil, aku gak enak nih.. Aku kan juga ikitan makan. Hampir setengahnya lho.." Ucap Diana masih bersi keras sambil menarik lengan Willy.
Sekali lagi mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar sana.
Willy menurunkan tangan Diana dengan lembut sambil menyunggingkan senyum.
"Di, kita dilihatin orang-orang lagi tauk. Udah deh gak usah debat. Atau kamu mau aku balas kecupan tadi?"
Deg,
Diana sontak melotot sambil memegangi mulut dan pipinya bergantian. Pipinya merona. Willy semakin terkekeh melihat reaksi Diana yang terlihat lucu dan menggemaskan dimatanya.
"Buruan sana bayar." Ucap Diana sambil mendorong-dorong tubuh Willy sampai pemuda itu hampir terjungkal, setelah itu ia kabur dari sana.
"Astaga, sampe hampir nyungsep." Ucap Willy seraya mengelus dada.
"Kok bisa aku naksir cewek bar-bar kayak dia." Batinnya.
...
Cling,
Notifikasi pesan pada aplikasi chatting berbunyi.
*Thx udah bantu nganter pesanan sekalian nemenin makan.
Kapan2 aku ajak kuliner ke tempat makan enak lainnya.
Diana senyum-senyum sendiri sambil berguling-guling di atas kasur sembari membaca pesan masuk dari kontak atas nama Willy si Congek Cakep.
Cling,
Notifikasi berikutnya berupa foto dirinya dan Willy yang duduk berdampingan tersenyum manis menghadap kamera dengan latar persawahan.
Lagi-lagi Diana tersenyum dan tersipu malu memandang foto dirinya dengan pemuda yang ia pun mengakui ketampanannya.
"Serasi gak sih? hehehe." Begitu gumamnya dalam hati.
Cling,
Kali ini foto Willy mencubit pipinya yang dikirim padanya.
Diana sontak merengut namun tersipu malu. Ah, rasanya jemarinya pun menjadi gemas ingin mencubit balas pipi pemuda itu saat ini.
Yah, foto ini yang membuat tragedi kecupan tak disengaja, mendebarkan namun sedap dirasa, lalu rasa malunya akan selalu membekas seumur hidup.
*Awas kamu Wil, aku balas cubit sampe merah pipi kamu ntar.. (emoticon marah)
Kirim
Willy tersenyum senang membaca balasan dari Diana. Jemarinya menyentuh pipi yang mana bibir gadis itu tak sengaja menempel di sana. Kejadiannya yang kurang dari satu detik, namun sensasi getarannya selalu terasa ketika memorinya mengingat kembali kejadian itu.
Ketika kejadian berebut hape itu, tak disengaja layar hape Willy masih pada mode kamera dengan jempol Willy yang memencet pada tombol lingkaran di tengah yang berarti ambil gambar. Alhasil banyak foto yang tertangkap namun entah apa yang dibidik.
Hingga satu foto pas momen bibir Diana yang tak sengaja mendarat di pipi Willy tertangkap kamera. Meskipun hasilnya miring, namun gambar objek tertangkap begitu jelas. Sisanya hanya gambar Willy yang terkejut sambil memegangi pipinya.
"Kirim gak ya?" Batin Willy sambil cekikikan membayangkan reaksi Diana nantinya.
Cling,
*Bales cubit aja,
Siapa takut (emoticon ludah menjulur)
Tapi aku mau bales juga buat yang ini..
Cling,
Sebuah foto kembali dikirim ke hape Diana.
Diana langsung terbangun dan duduk dengan mata membelalak lebar melihat foto terakhir yang dikirim oleh Willy.
"Loh, kok bisa ada fotonya sih?" Gerutu Diana dalam hati.
Cling,
*Pengen deh fotonya aq jd in status,
Tapi tkut bnyak yg iri, pingin dikecup juga
Hahaha (tiga emoticon tertawa)
Begitu keterangan yang mengikuti foto tersebut.
Cling,
*Hapus gak!
Kalau km gk hapus, KITA BATAL KENCAN!!!
(Emoticon marah campur setan berderet panjang)
Willy terpingkal jungkir balik di atas kasurnya. Rasanya senang sekali membayangkan wajah gadis itu semerah king crab rebus yang berasap, antara malu dan marah.
Cling,
*Hapus sendiri saat kita kencan nanti ya...
(tiga emoticon menjulurkan lidah)
Diana mere mas-re mas guling saking kesalnya. Kini ia mulai cemas takut-takut foto itu tersebar kemana-mana. Pasti dia akan sangat malu.
Cling,
*Plis, km hapus sekarang ya..
Jangan disebar kmna2
Aq mnta maaf
Sumpah gak sengaja..
Aq malu banget,
hapus ya,
Plisss...
(Emoticon menangis)
Willy terus saja memandangi foto itu. "Ah, sayang sekali kalau dihapus." Gumamnya.
Cling,
*Kalo aq gk mau maafin gimna?
(emoticon setan)
Diana benar-benar geram sampai membuat gerakan mencakar-cakar layar hapenya.
Cling,
Sebuah pesan suara masuk ke hape Diana.
*Tenang aja, foto kamu aman di aku.
*Aku seneng lihatnya, makasih buat kejutannya meskipun gak sengaja, tapi aku hepi banget, hehehe..
*Aku gk akan sebar kemana-mana, biar cuma kita dan Tuhan yang tau.
Amarah Diana meredup. Suara pemuda itu terasa meneduhkannya, dan entah mengapa hatinya begitu mempercayai tiap kata yang diucapkan pemuda itu.
Diana membuka galeri fotonya. Menggeser-geser foto-foto yang baru saja dikirim oleh Willy. Senyumnya merekah dan sesekali ia cekikikan pelan menertawai tiap memori yang telah ia lalui tadi. Setiap kejadian menguras emosi yang kini ia tertawai sebagai sesuatu yang kocak dan menggelikan.
...
Author's cuap:
Auto gak bisa bobok tuh..
awas bsok Senin, telat ntar brangkat sekolahnya..
Hahaha..