
#127
Jawaban Diana
Di suatu bangku sudut food court masih di area mall yang sama dengan gedung bioskop, dua anak musia sedang duduk berhadapan namun saling tak bertegur sapa.
Diana masih dalam suasana hati yang tak baik meskipun pemuda di depannya sudah berulang kali meminta maaf. Ia tak hanya merasa kesal saat ini, tapi ia juga merasa malu karena salah satu titik lemahnya diketahui bahkan ditertawakan oleh pemuda di hadapannya itu.
Sungguh Diana sudah berusaha keras memeranginya. Tapi film horor yang ia tonton memiliki alur cerita yang begitu dekat dengan kehidupan nyata membuat pertahanan Diana runtuh dan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa takutnya.
“Ya udah gak usah cemberut gitu dong..” Mario sudah kehabisan kata untuk membujuk gadis yang tengah merajuk di hadapannya itu. Jujur tangannya sangat gatal ingin mencubit pipi yang mengembung itu karena wajah itu justru terlihat sangat menggemaskan dimata Mario.
“Aku harus berapa kali minta maaf biar kamu gak marah lagi?” Mario memasang wajah memelasnya.
“Kamu pasti sengaja memilih genre horor. Padahal tadi kayaknya poster film selain horor yang lagi tayang di sana. Ada film kartun juga kan..” Diana akhirnya meluapkan kekesalannya setelah lama terdiam dengan bibir mengerucut.
“Yang kebetulan tayang di jam waktu aku pesan tiket pilihannya cuma film itu yang bisa kita tonton. Sisanya gak bisa ditonton dengan usia kita. Atau kamu pingin nonton film dewasa?”
Diana membulatkan matanya melotot pada Mario. Entah Mario berbohong atau tidak, Diana tidak dapat memastikannya karena ia tidak begitu memperhatikan jam tayang film-film yang ada di sana.
“Maaf kalau aku salah. Kamu ketakutan banget ya tadi yank?” Mario memasang wajah begitu menyesal.
Sesungguhnya tidak ada penyesalan bagi Mario. Ia begitu menikmati ketika gadis itu mendekap erat lengannya sambil menyembunyikan wajahnya di sana. Bahkan ia sengaja sesekali ikut berteriak yang membuat gadis itu semakin tegang ketakutan dan membenamkan wajahnya semakin dalam bersembunyi di balik lengan Mario. Mario memupuk telapak tangan gadis itu, mengusap rambutnya, menyandarkan kepalanya pada kepala gadis yang tengah meringkuk dilengannya itu, bahkan mencium puncak kepalanya. Ia adalah pemenangnya.
“Gak usah yank yank-an.”
“Sekarang kamu udah tahu kalau aku penakut, seneng kan?”
Mario menyandarkan punggungnya sambil tersenyum menatap Diana yang masih diliputi rasa kesal.
“Kalau kamu merasa takut, kan ada aku. Aku pasti melindungi kamu.”
Diana ikut menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap heran pada pemuda yang tersenyum percaya diri di hadapannya. Kata-katanya seolah dirinya adalah super hero yang akan melindungi Diana, namun nyatanya dia adalah ancaman yang sesungguhnya.
“Kamu gak sadar kalau kamu itu bukannya melindungi tapi malah membahayakan.”
Mario mengusap lengannya yang menjadi tempat Diana meringkuk selama pemutaran film sambil berkata “Kamu lupa kalau lengan ini yang menjadi sandaran saat kamu ketakutan tadi?”
Diana menganga terkejut mendengar perkataan Mario. Ia kemudian memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah yang perlahan muncul di pipinya. Diana benar-benar merutuki reaksi spontannya di dalam bioskop tadi. Ah, malu sekali.
Grep,
Eh,
Diana gelagapan ketika Mario menarik pergelangan tangannya. Ia berusaha menarik tangannya kembali namun cengkeraman Mario terlalu kuat untuk mempertahankannya.
“Sekali aja gak usah berontak bisa gak? Kamu gak percaya banget sih sama aku?” Ucap Mario ketika Diana menatap tajam seperti akan menerkamnya.
“Percaya pada cowok sejuta modus?”
Mario tak menanggapi perkataan Diana yang mencelanya. Mario mengeluarkan sesuatu dari tas compact yang melingkar di dadanya.
“Hadiah pertama dari pacar kamu.”
Mario melingkarkan gelang tali berwarna coklat yang terlihat manis di pergelangan tangan Diana. Melihat sesuatu yang baru melingkar ditangannya membuat urat-urat tangan Diana yang sebelumnya menegang kini melemah. Ia memandanginya beberapa saat.
Melihat perubahan raut wajah Diana yang melembut membuat Mario tersenyum lega. Ia mendekatkan tangannya dan menempelkannya pada tangan Diana untuk menujukkan gelang yang sama juga melingkar di tangan Mario.
“Gelang ini akan selalu mengingatkan kamu sama aku. Kalau kamu merasa takut, kamu tinggal lihat gelang ini dan bayangin kalau aku di samping kamu. Aku yakin rasa takut kamu akan hilang.”
Mario merasa senang sekali dapat mengutarakan rangkaian kata-kata manis pada gadis yang kini telah resmi menjadi pacarnya itu. Semoga perkataannya dapat menyentuh dan meluluhkan hati gadis itu agar selalu tertaut padanya.
Hahahaha..
Tawa Diana begitu lepas yang membuat Mario melongo heran. Espektasi yang dibayangkan gadis itu akan tersenyum manis atau bahkan terharu dengan kata-kata bertabur gula yang telah ia rangkai susah payah. Namun ternyata..
“Udah kayak drama di tivi aja. Lebay deh, hahaha...” Diana tertawa begitu puas. Apalagi wajah Mario yang tampak kesal saat ini membuat Diana tertawa sampai menitikkan air mata.
“Kamu rese banget sih.. Aku udah berusaha membangun suasana romantis, eh kamu malah ketawa. Gak menghargai banget usaha keras aku.” Mario menggerutu kesal.
“Terus aku harus gimana?” Ucap Diana sambil menyeka embun dimatanya.
“Kamu bilang apa tadi?” Mario seperti menangkap sebuah kalimat yang begitu menyehatkan pendengarannya.
“Bilang apa?” Diana pura-pura lupa untuk menggodai pemuda yang hampir sumringah lagi itu.
“Kalimat terakhir tadi. Coba ulangi.” Mario masih berusaha agar Diana mengatakannya sekali lagi.
“Yang mana sih?”
“Tauk ah!” Mario merengut kesal. Dadanya naik turun sambil memandang pemandangan di luar jendela.
“Aw,” Mario mengeluh sakit sambil mengusap pipinya. Matanya kembali beralih pada gadis yang cekikikan dihadapannya.
“Makasih pacarku sayang,” Ucap Diana sambil memainkan gelang pemberian Mario di pergelangan tangannya.
Mario berusaha menahan senyumnya, namun gagal. Ia tidak bisa berpura-pura untuk terus cemberut kesal padahal dalam hati begiru berbunga-bunga. Pipinya terasa menghangat dengan dadanya bergemuruh hebat. Gadis itu berhasil membuatnya merona.
“Saat kamu jauh nanti, ada gelang ini yang akan selalu nemenin aku, dan juga ada gelang yang sama di tangan kamu, yang harusnya selalu membuat kamu ingat juga sama aku.”
Diana menatap nanar pada gelang yang melingkar ditangannya. Jujur ia merasa sangat bahagia. Namun ia tak yakin apakah kebahagiaan ini nyata karena toh status pacar yang mereka dapatkan ini karena skenario yang dirancang oleh Willy sebagai timbal balik atas bantuan Willy membujuk ayah Diana waktu itu.
Mario melihat perubahan raut kesedihan pada wajah Diana. Meskipun ia tidak dapat memaknai kesedihan seperti apa yang dirasakan Diana, tapi ia bisa merasakan bahwa gadis itu seolah takut pada perpisahan yang akan terjadi pada mereka nanti.
“Di,”
Mario memberanikan diri menggenggam tangan gadis itu dan tidak ada perlawanan disana. Diana balas menatap Mario dan mendapati wajah pemuda itu menjai sendu.
“Ini adalah perasaan yang baru buat aku. Aku gak tau harus menamainya apa, tapi aku merasa sangat senang bisa melihat kamu dan berdekatan dengan kamu.”
Diana hanya terdiam menunggu pemuda itu melanjutkan perkataannya.
“Aku gak bisa menjanjikan kapan aku kembali, tapi aku akan selalu berusaha untuk bisa tetap menjadi Mario yang seperti ini, yang hanya selalu menatap ke arah kamu.”
Diana menundukkan pendangannya menatap tangan yang membungkus telapak tangannya dalam sebuah genggaman yang hangat.
“Aku gak akan menuntut janji sama kamu. Aku tau waktu dapat merubah apapun. Tapi apa kamu bisa berusaha untuk tetap menjadi Diana yang seperti ini?”
Mario begitu berdebar mendengar jawaban apa yang akan dikatakan gadis itu.
“Jawab iya, Diana..” Gumam Mario dalam hati penuh dengan harap.
“Aku..” Diana menjeda kalimatnya membuat Mario bahkan merasa sesak menahan napas penuh ketegangan.
Kruuk.. kruuk..
Diana memandang Mario sambil cengar cengir malu. Ia menarik tangannya dari genggaman tangan Mario dan berlih mengusap perutnya.
Mario yang juga mendengar dan mengetahui hal itu sontak menghela napas berat dan terkulai lemas. Ia membenturkan keningnya pada meja dihadapannya sambil memaki dalam hati.
“Sialan! Aku udah hampir kejang karena tegang nungguin jawabannya..” Batin Mario.
“Mario, makan yuk..” Ucap Diana merasa malu dan bersalah karena melihat perubahan wajah Mario yang begitu serius menunggu jawabannya, namun perutnya malah berbunyi keroncongan.
.
.
Author’s cuap:
Ya udah makan aja dulu.
Nabur gula juga butuh energi kali Mar..
Hahaha...
Jangan lupa tabur support ya readers sayaaang..
Terimakasih sudah membaca