Titip Salam

Titip Salam
Menuju Kompetisi - Support Salah Paham (part 3)



#111


Menuju Kompetisi - Support Salah Paham (part 3)


Kompetisi POR Prov tinggal menghitung hari. Surat dispensasi sudah disetujui pihak sekolah. Seragam beladiri yang baru dengan lambang garuda pancasila di dada, bendera merah putih dan logo Kabupaten di lengan kanan, bangga sekali rasanya berkesempatan mengenakannya.


Esok pagi Diana akan berangkat bersama rombongan menuju asrama atlet untuk masa karantina selama dua hari sebelum kompetisi berlangsung. Semua perbekalan sudah disiapkan. Beberapa pakaian ganti, peralatan mandi, cemilan dari mama, multivitamin dari suster Lina yang diberikan oleh Willy juga sudah masuk dalam tas kopor. Semakin mendekati hari H rasanya semakin mendebarkan. Ini akan menjadi pengalaman pertama bagi Diana tinggal berjauhan dari orang tuanya.


Cling,


Notifikasi pesan masuk dari kontak Willy si Congek Cakep.


*Bsk km berangkt kan?


Selamat berjuang ya..


Gak tau nih bisa nonton apa enggak wkt km tanding.


Mama aq pasti gk kasi ijin kalau kluar kota tanpa pendampingan


(emoticon sedih)


Senyum itu tergores dengan sendirinya di bibir Diana. Perhatian kecil yang membuatnya begitu senang. Hal itu benar-benar membuatnya merasa istimewa.


Cling,


*Gpp Wil,


Doain aja smuanya lancar.


Klo smpe menang traktir ikan bkar lagi y.. hehehe


(emoticon menjulurkan lidah berderet tiga)


Kirim,


Cling,


"Cepet amat balesnya." Ucap Diana yang masih dengan senyum malu-malunya.


*Oke


Sekalian kita kencan ya..


(emoticon mengedipkan sebelah mata)


Ah, kata kencan lagi yang dibahas. Semburat merah itu lagi-lagi nampak. Meskipun entah apa ia memiliki bayangan kencan itu maknanya seperti apa? Tapi setiap mendengar atau membaca kata itu rasanya berdebar.


Cling,


"Eh, ada pesan lagi."


Notifikasi pesan dari kontak bernama Super Mario.


*Yank, aq gk bsa tdr nih..


kpikiran km.


Diana membelalakkan matanya. Dengan perlahan, sekali lagi ia memindai tiap huruf dalam sensor indera penglihatannya.


"Nih orang ngigau ya? Yank yank apaan?" Batin Diana yang merasa merinding geli dengan pesan yang baru ia baca.


*Heh Mario, slah kirim ya? Baru jm sgni udah ngelindur


(emoyicon tertawa)


Kirim,


Selang beberapa menit,


Cling,


*Gak slah kirim kok


Aq kpikiran km mulu,


Kita bkal gk ketemu beberpa hari.


Jgan kangen ya..


Diana memegangi perutnya merasa geli ingin tertawa.


*Pede bgt sih..


Siapa jga yg kangen.


Km kali.. (emoticon tertawa miring-miring)


Kirim


Tak selang berapa lama,


Cling,


*Iya, aq yg kangen


Diana tersenyum penuh kemenangan.


"Kangen?"


Pikiran Diana melayang pada wajah sendu pemuda itu. Dia mengingat jelas wajah Mario yang berubah murung ketika membicarakan perihal kepergiannya nanti ke ibukota.


"Aku pasti kangen banget sama kamu Di.." Ucapnya lirih penuh kesedihan.


Ah, Diana selalu merasa sesak ketika pemuda itu mengatakan rindu. Apa ia juga akan merindukan pemuda itu nantinya? Bila iya, apakah rasanya akan sangat menyiksa? Diana, selamat menikmati manis pahitnya perasaan yang mulai menja mah hatimu itu.


*Jgn kangen mulu,


Samperin sini


hahaha..


(emoticon tertawa jungkir balik)


Kirim


Selang beberapa detik.


Cling,


Diana sontak gelagapan karena mendapat balasan begitu cepat.


*Aq udah d depan dr td


Buruan bukain pintu!!!


Diana sontak terbangun dari tidurnya. Ia mulai menurunkan kakinya dari atas ranjang. Dia melangkah keluar kamar dan menuju ruang tamu. Disingkapnya gorden yang menutupi jendela kaca rumahnya. Diintipnya suasana teras dan pekarangan rumahnya yang begitu sepi.


"Ah, sialan! Aku dikerjain." Geritu Diana sambil melangkah kembali ke kamarnya.


"Dari mana kamu Di?" Tanya Mila yang baru keluar dari toilet.


"Abis ngunci pintu depan Mah," Ucap Diana asal.


"Eh, jangan! Ayah kamu masih nongkrong di pos sama bapak-bapak."


Mila melangkah menuju ruang tamu untuk membuka kembali kunci pintu utamanya. Dahinya mengernyit heran karena mendapati pintunya yang masih belum terkunci.


"Katanya dikunci? Ah, anak ini.. " Gerutu Mila karena merasa dikerjai Diana.


Diana merebahkan diri di atas kasur sambil bersiap mengetik kata makian untuk kontak bernama Super Mario yang telah berhasil mengerjainya.


Namun belum sempat ia membalas pesan itu, notifikasi pesan baru sudah berdering.


Cling,


Km pasti nengok kedepan ya?


Hahaha..


Gitu kok ngakunya gak kangen


(emoticon menjulurkan lidah)


"Sialan!" Gumam Diana.


"Mbak Di kenapa? Kok ngedumel gitu sih? Berantem ya ama pacarnya?" Ejek Tania yang sudah mendongakkan kepalanya menengok sang kakak perempuan di bawah.


"Berisik! Siapa yang pacaran sih? Tidur sana!"


Tania terkekeh melihat kakaknya yang tampak kesal sambil memegangi hapenya.


Tok.. tok.. tok..


"Ayah masuk ya.." Suara seseorang dari balik pintu yang tertutup.


"Tumben pakai ketuk pintu. Biasanya juga langsung masuk." Cibir Tania yang masih terjaga di kasur atas.


"Hei anak kecil, Ayah kan mengajari kalian berperilaku sopan. Malah dicibir. Tidur sana.." Ucap Arman sambil mencubit gemas pipi putri bungsunya itu.


"Jangan panggil aku anak kecil Ayah," Jawab Tania yang cemberut kesal. (terdengar seperti ucapan tokoh kartun ya, hehehe..)


"Terus kalau bukan anak kecil apa? Masa anak gede nangis-nangis minta sepeda terbang kayak di film kartun." Balas cibiran dari Arman yang berhasil membuat bibir gadis kecil itu kian mengerucut.


"Kebiasaan Ayah sama Tania nih kalau udah ketemu gak pernah akur. Emang Ayah kesini ngapain?" Tanya Diana yang sudah akan beranjak tidur.


Arman mendekat dan duduk di samping ranjang putri bungsunya.


"Ayah punya sesuatu buat kamu." Ucap Arman mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.


Diana duduk bersila di atas kasur dengan wajah antusias ketika sang Ayah merogoh saku bajunya.


"Wah, tambahan uang saku nih.." Batin Diana sambil menggosok-gosok telapak tangannya.


Tania pun turut mendongak ke bawah. Rasa penasarannya terpancing mendengar sang Ayah yang berbicara dengan sedikit berbisik.


"Apaan nih?" Diana mengernyit heran melihat benda yang diletakkan sang Ayah ditelapak tangannya. Pemberian sang Ayah ini benar-benar diluar espektasinya.


"Ini namanya cincin batu bacan sakti." Ucap Arman sambil berbisik.


"Hah? Cincin macan?" Diana mengulangi perkataan sang Ayah.


"Batu bacan Diana.." Ulang Arman.


"Iya terserah deh apa namanya. Terus ngapain Ayah nunjukin ini ke aku?" Ucap Diana sambil membolak balikkan benda itu.


"Cincin ini dikasih pinjam sama teman Ayah. Katanya bisa bikin sakti." Ucap Arman berapi-api yang membuat kening Diana semakin terlipat dalam.


"Bisa bikin kebal. Kalau kena pisau, golok, celurit, samurai, gak mempan." Lanjut Arman dengan begitu meyakinkan.


"Terus kenapa dikasih ke aku?" Diana mulai begidik ngeri pada benda kecil itu.


"Kamu kan mau tanding silat. Kamu pakai cincin ini. Biar makin sakti. Ciat.. ciat.." Ucap Arman sambil menirukan gerakan-gerakan silat para pendekar yang ia tonton di tivi.


Hmpft..


Hahaha...


Diana tak sanggup lagi menahan tawanya. Begitupun Tania yang terdengar cekikikan di kasur atas.


"Eh, kok ketawa kamu? Ayah serius! Ayah bantuin kamu biar kamu menang ini.."


Diana meraih telapak tangan Arman dan meletakkan benda yang dikatakan cincin batu bacan sakti itu disana.


"Nih, aku balikin!" Ucap Diana setelah menghabiskan tawanya.


"Lho kenapa? Ini berguna lho nak. Sebagai perlindungam diri kamu juga dari serangan lawan kamu. Kan bahaya kalau sampai kamu kena sabet senjata lawan kamu nanti?"


Lagi-lagi Diana tertawa lepas. Kasih sayang dan perhatian yang ditujukan Ayahnya sangatlah besar. Namun sayangnya terjadi salah pengertian pada apa yang dipahami oleh sang Ayah mengenai bagaimana kompetisi beladiri itu sendiri.


"Ayah, beladirinya itu gak pakai senjata-senjata gitu Ayah.. Cuma mengandalkan kemampuan diri aja. Jadi gak perlu pakai benda-benda yang bikin kebal kayak gitu. Emangnya Diana mau perang pakai samurai segala?" Diana tertawa guling-guling sambil memegangi perutnya.


"Ayah kebanyakan nonton film pendekar di tivi sih.." Sahut suara dari kasur atas disusul cekikikan yang begitu nyaring.


"Hei anak kecil udah malam, tidur!"


Arman merasa malu pada dirinya sendiri. Ia berpikir dirinya sudah menjadi Ayah yang terbaik. Namun nyatanya, masih banyak hal yang ia tidak ketahui tentang putri-putrinya.


"Jadi cuma adu jotos kayak tinju gitu?" Tanya Arman.


"Iya mirip-mirip gitu lah. Makanya Ayah nonton dong waktu Diana tanding besok. Biar tahu kalau anaknya berjuang keras selama ini. Masa support anak pake cincin batu macan. Nanti dikira mbah dukun pake cincin begituan."


Arman menghela nafas berat setelah mendengar keluh kesah putri sulungnya itu. Dibelainya kepala Diana dengan tatapan malu.


"Maaf ya, Ayah merasa kurang perhatian sama kalian. Tau-tau udah gede, udah pinter, udah hebat." Ucap Arman terdengar begitu tulus.


"Ayah pasti nonton." Ucap Arman yang membuat putri sulungnya itu langsung menghambur memeluk dirinya.


"Tania ikut ya.." Celetuk si bungsu yang mendongakkan kepalanya ke bawah.


"Hei, jangan kebiasaan nengok-nengok ke bawah gitu. Nanti kalau nyungsep itu hidung sudah pesek makin masuk ke dalem." Gurau Arman yang lagi-lagi menggodai putri bungsunya itu.


Begitu hangat keluarga itu.


"Di.. " Ucap Arman sebelum beranjak dari sana.


"Yakin gak mau bawa cincinnya buat jaga-jaga?" Tanya Arman untuk yang terakhir kalinya.


"Ayah tuh sama aja gak percaya kemampuan aku kalau percaya sama benda itu." Diana akhirnya cemberut kesal juga.


"Iya maaf. Besok Ayah kembalikan aja lah kalau begitu." Ucap Arman kembali menyimpan cincin itu di saku bajunya.


"Mending Ayah pakai sendiri aja dulu. Pakai waktu bantuin mama ngiris bawang. Biar gak sampai keiris jarinya. Xixixi.." Balas Tania yang diakhiri dengan cekikikan.


"Hei, kalau meledek Ayah lagi, gak akan Ayah ajak nonton Mbak kamu tanding."


"Yah, bercanda ya.. Jadi ikut ya.." Tania mulai merengek kelimpungan karena keusilannya.


"Gak mau, " Ucap Arman lagi-lagi untuk menggodai putrinya.


Dan Tania masih terus merengek dari jasur atas hingga sang Ayah menghilang di balik pintu.


Yah, begitulah Arman dengan putri bungsunya Tania. Ibarat copy dan paste. Hubungan darah daging yang begitu hangat meskipun dalam konteks saling gurau yang membuat kesal.


...


Author's cuap:


Ya ampun Ayah,


Pinjem sini cincin saktinya, mau author pake ngadu ilmu lawan Limbad


hahaha...


Buat yang udah baca


Terimakasih banyaaaak


Jgn lupa ngadu jempol ama komen


ntar author blz pake komen balik..


Mau blz pke duwit, gk mau ah, authornya pelit.. hahahaaa