Titip Salam

Titip Salam
De Javu



7


De Javu


(Masih POV. Willy)


Matahari semakin menunjukkan eksistensinya dalam menyinari bumi. Pancaran panas sinar ultraviolet yang diberikannya pun menyebabkan kepadatan lalu lintas terlihat mulai lengang. Mungkin karena orang merasa malas terpapar panas tengah hari bolong kecuali memang untuk urusan mendesak. Tidak seperti tadi pagi yang padat


banyak orang berlalu lalang mengisi hari Minggunya baik untuk jogging atau sekedar jalan-jalan mencari udara segar dan membeli sarapan dari para penjaja makanan.


Aku sudah berada di tempat ini semenjak pagi tadi. Tidak banyak yang aku lakukan. Hanya memoles si item kesayanganku, sisanya termenung memandangi kendaraan berlalu lalang.


Aku mulai merasa bosan hanya duduk memandang om Rudi yang berjibaku dengan peralatan bengkelnya. Beliau melarangku membantunya memperbaiki motor pelanggan seperti biasanya karena menganggapku sedang tidak sehat. Bahkan menyentuh baut yang menggelinding jatuh saja beliau langsung memelototiku. Padahal kan tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku baik-baik saja. Rasa nyeri ditubuhku sudah hampir tidak terasa.


Aku mulai bangkit dan sedikit menggerakkan tubuhku ke kanan dan ke kiri melepas rasa pegal dan pantat yang panas akibat terlalu lama duduk. Ketika itu pula dari kejauhan aku bisa melihat seorang perempuan yang mungkin berumur sedikit lebih muda dari mamaku sedang kelelahan mendorong motornya. Sepertinya ban motornya kempes.


"Yes, ada kegiatan deh aku." Batinku sembari mulai mengambil langkah.


"Kenapa motornya tante?" Tanyaku yang berjalan menghampirinya.


"Ini dek, ban belakangnya bocor" jawabnya.


"Mari saya bantu dorong, bengkelnya sudah dekat kok"


"Waduh, makasih ya. Tertolong sekali aku."


Setibanya di bengkel aku mengecek keadaan motor ibu tadi.


"Om, ban belakangnya bocor. Aku kerjain boleh ya?" tanyaku meminta ijin pada om Rudi si empunya bengkel karena pasti tidak sopan kalau langsung mengerjakan tanpa ijin darinya. Dia bos nya.


"Yakin kamu sudah gak apa-apa?" Kata om Rudi sudah beranjak untuk mengambil pekerjaanku.


Mendengar nada bicara om Rudi yang nampak khawatir membuat ibu tadi menatapku lebih dalam.


"Loh iya, adek nya apa habis kecelakaan? Apa lagi gak sehat? Tuh mukanya masih biru-biru. Biar bapaknya aja dek yang ngerjain kalo emang lagi sakit" timpal ibu tadi yang ikut khawatir.


"Cuma kecelakaan kecil kok tante, lagian saya sehat, sudah tidak terasa sakitnya" Ucapku berusaha menenangkan.


Om Rudi tau kalau aku tidak akan menyerah sampai dia memberi ijin agar aku yang mengerjakannya. Dia benar-benar tau keponakannya satu ini paling tidak bisa merasa bosan.  Lagi pula kalau cuma urusan menambal ban bocor aku sudah experts.


"Okelah, ambil!" Ucap om Rudi akhirnya.


Om Rudi berganti memandang pelanggannya. "Gimana Bu? kalau yang ngerjain ponakan saya saja gak apa kan bu? Dia sudah biasa kok bu. Saya cuma kuatir dia kecapekan karena habis kecelakaan. Tapi kayaknya gak apa-apa."


"Iya emang gak apa-apa lah, om Rudi aja yang berlebihan." Batinku.


"Iya gak apa apa. Terserah gimana cepetnya. Kalau adeknya sanggup ya silahkan. Pokoknya


cepet beres lah."


Yes!


Aku mulai bekerja dengan cekatan. Ibu itu memperhatikan betul tiap gerakanku. Sepertinya beliau terlihat takjub melihat keterampilanku mengerjakan proses demi prosesnya dengan cepat dan rapi.


"Adeknya umur berapa? Kayaknya masih muda sekali." Kata ibu itu yang mulai mengajakku berbincang.


"Lima belas tahun tante, masih kelas tiga smp."


"Oh, ternyata seumuran sama anak saya. Pantes keliatan masih muda sekali. Sekolah dimana?"


"Dekat sini te, di SMP 10"


"SMP 10 yang di pertigaan jalan sana itu ya? Dulu tante juga alumni situ. Kalau anak tante di SMP 15. Ini mau jemput ekskul, eh kok apes bannya bocor. Biar dia tante suruh jalan sedikit nyamperin kesini." Cerita ibu itu sehingga kesunyian menjadi cair. Aku pun senang mendapatkan konsumen yang ramah seperti beliau.


Disela obrolan terdengar nada dering handphone yang menunjukkan ada notifikasi pesan masuk. Ibu tadi membuka hapenya, membaca pesan tersebut, kemudian melakukan panggilan telepon. Sepertinya itu dari anak yang ia ceritakan tadi.


"Tante, sudah beres motornya."


"Loh, cepet juga ternyata. Berapa biayanya dek?"


"Langsung ke Om saya saja te,"


Ibu itu pun mendatangi om ku dan melakukan transaksi pembayaran. Aku langsung membereskan kembali semua peralatan agar tidak berantakan.


Ketika ibu tersebut hendak melajukan motornya, tiba-tiba ada seseorang yang berlari menghampirinya.


"Tunggu ma!" Ucapnya.


"Memangnya udah selesai tambal bannya?"


Suara cempreng yang familiar. Sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Aku pun mendongak mengalihkan perhatianku dari kotak perkakas yang baru selesai aku rapikan.


Sontak aku terbangun dari duduk dan terpaku memandang gadis berjaket longgar warna abu-abu yang baru datang itu. Suara yang sama, jaket yang sama, dan pastinya orang yang sama. Ternyata benar dia.


"Udah kok, ayo pulang." Sahut ibu itu kemudian beralih menoleh ke arahku.


"Mari dek ya, makasih sudah dibantuin."


Gadis itu langsung turut naik dibelakang berboceng dengan ibunya dan ikut menoleh ke arahku. Dia sama terkejutnya denganku. Alisnya mengkerut menatapku namun tak sepatah katapun terucap.


"Iya tante, sama-sama". Jawabku sambil mengangguk dan tersenyum. Anggukan untuk ibu itu dan senyuman untuk seorang dibelakangnya.


Sekali lagi aku terpaku di posisiku memandang punggung itu menjauh dan semakin jauh. Seakan waktu berhenti dan telinga ini kehilangan fungsi. Semua menjadi sunyi.


Kejadian itu terulang lagi. Dari kejauhan dia menoleh dan tersenyum lagi. Tepat seperti kejadian malam itu. Kupandangi hingga sosoknya hilang ditelan hiruk pikuk jalanan.


"Cakep ya anaknya?" Tiba-tiba seperti ada yang berbisik di telingaku.


"Iya, manis" jawabku spontan dengan mata yang masih memandang ke arah kepergiannya.


Suara tawa yang sangat keras mengejutkanku dan seketika membuyarkan lamunanku.


"Eh,"


Aku mengatupkan mulutku rapat-rapat. Nampaknya bibir ini telah bekerja tak terkontrol mengikuti alam bawah sadarku.


Kulihat om Rudi sudah tertawa terpingkal-pingkal di sebelahku. Aku pun dibuat malu jadinya.  Aku merasakan pipiku menghangat yang sudah pasti sangat merah warnanya.


"Hahaha.. Nanti om lapor ke mamamu ya, mbak Lina ternyata anak bungsumu sekarang sudah gede. Sudah mulai naksir-naksir cewek. Hahaaa" canda om Rudi sambil terus tertawa dan memegangi perutnya.


“Om.. gak usah resek deh.” Aku mendengus kesal.


Sial sekali aku! Kenapa harus tertangkap basah terbengong memandang cewek di depan om-ku yang paling julid ini.


Aku lebih baik diam tidak usah mengelak atau meladeninya lagi karena hal itu hanya akan membuat om Rudi semakin bersemangat meledekku. Rasanya, sudah tidak kuat kalau harus diperpanjang lagi ledekannya. Aku sudah kepalang malu bagai kepiting rebus.


Namun dalam diam aku tersenyum dalam hati. Mengingat kembali cerita yang disampaikan oleh ibu tadi.


"Diana, ternyata kamu anak SMP 15.."


...


Author's cuap:


Ayo support karya author dengan klik jempol di bawah ya...


Jangan lupa komen unek unek temen-temen, kritik dan saran yang membangun untuk karya author yang lebih baik lagi


Terimakasih sudah membaca..