Titip Salam

Titip Salam
Pertemuan Dua Kumbang



#115


Pertemuan Dua Kumbang


Waktu menunjukkan saat ideal untuk mulai mengistirahatkan diri dari lelahnya aktivitas seharian. Namun beberapa orang harus tetap sadar dan terjaga karena memiliki kepentingannya sendiri. Meskipun Kota juga tampak mulai terlelap, sebagian dari mereka yang harus mencari nafkah di redupnya langit, dan yang lainnya memutuskan tetap terjaga untuk menikmati sang rembulan yang menggantikan sang surya.


Jalanan yang mulai lengang tak lantas membuat Kota kecil di pinggiran Pulau Jawa ini tampak mati. Roda ekonomi terus berputar tiada henti selama dua puluh empat jam. Asap dari cerobong tetap mengepul, deru mesin industri terus menggema, dan puluhan ribu orang tetap harus terjaga demi tanggung jawab yang mereka pikul.


Lina adalah salah satunya. Tanggung jawab pada panggilan kemanusiaan sebagai perawat di sebuah rumah sakit membuatnya tak dapat menolak untuk mencintai pekerjaannya meskipun ia dituntut untuk selalu siap kapanpun dibutuhkan.


Hari ini ia memulai jadwal shift malamnya dan akan berlangsung selama dua minggu. Terkadang hatinya terasa berat meninggalkan anak-anaknya di rumah kala ia harus bertugas. Namun beruntung ia memiliki anak-anak luar biasa yang begitu memahami profesinya.


Belakangan ini kecemasannya kian bertambah mengingat putri sulungnya yang sudah tidak lagi tinggal di rumah karena menempuh pendidikan di luar kota. Itu artinya ia harus meninggalkan sang putra bungsu sendiri kala ia harus bertugas malam seperti saat ini.


"Sebelum tidur pastikan kompor sudah mati dan pintu terkunci, okey?" Tak pernah ia lupa berpesan hal yang sama ketika ia harus meninggalkan putranya itu seorang diri.


"Iya Ma, lagian aku udah gede. Jangan terlalu cemas berlebihan. Aku bisa jaga diri." Ucap Willy seolah merasa bosan dengan pesan mamanya yang selalu diulang. Dia bahkan sudah hafal betul diluar kepala.


Beberapa menit setelah kepergian sang mama, Willy segera memastikan kompor telah mati dan mengunci pintu sesuai pesan sang mama. Namun sebetulnya tidak sepenuhnya pesan itu dilaksanakan olehnya karena ia bukannya mengunci pintu dari dalam, melainkan dari luar setelah meraih jaket, helm, dan kunci sang kuda besi kesayangan. Ah, dasar anak muda!


"Di mana?" Ucapnya pada benda pipih yang ia tempelkan ditelinga.


"Tempat nongkrong biasa." Ucap seseorang diseberang panggilan.


"Oke, meluncur ke sana. "


Dan si Item, kuda besi hitam itu mulai melaju membelah kesunyian jalanan.


Lima belas menit berlalu dan ia sampai di tujuan. Beberapa motor sudah berderet terparkir di sana dengan beberapa dari pemiliknya tampak bertengger dan saling bercengkrama dengan kawan-kawan lainnya.


Willy bergerak perlahan hingga berhenti pada satu motor yang begitu menyolok karena warna merah mengilatnya. Ia mengambil tempat parkir tepat disisi motor itu yang seperti sengaja dikosongkan khusus untuknya.


Willy memasuki warung yang begitu ramai tak jauh dari tempatnya memarkirkan motor. Ia berjalan menghampiri seorang pemuda seumurannya yang menggunakan jeket club motor pinggir jalan yang cukup tenar dikalangan mereka.


"Hei Mar, " Ucapnya menyapa pemuda itu.


"Lama banget baru nongol jam segini?" Jawab Mario menjawab sapaan pemuda itu.


Mario mengangkat tangannya mengarah pada sang pemilik warung yang sibuk membuat pesanan para pelanggannya sambil sedikit berteriak "Pak, satu lagi buat teman saya yang baru datang."


"Siap mas bos!"


Willy mengambil duduk disamping Mario. Dalam hati ia masih ingin menertawai perkataan Mario yang menyebutnya teman pada pemilik warung. Memangnya ia pikir akan disebut sebagai apa? Musuh? Mario masih waras untuk tidak melakukan hal itu meskipun mereka tidak benar-benar berteman.


"Sorry baru bisa ketemuan sekarang. Aku harus nunggu mama aku jadwal shift malam dulu baru bisa kesini. Ada apa sih?" Ucap Willy begitu penasaran ketika mendapat pesan Mario untuk mengajaknya bertemu. Karena terakhir, pesan yang sama seperti itu berakhir pada peristiwa yang tidak mengenakkan. Yah, malam pengeroyokan itu.


"Kirain kamu gak bakal dateng karena takut aku gebukin kayak malam itu." Ledek Mario kala mengingat kejadian itu.


"Aku bukan cowok pengecut. Meskipun kamu manggil aku buat gebukin aku lagi, aku pasti samperin. Cuma sebelum gebukin aku mau pesen jangan pake mukul muka. Bisa mampus kalau ketahuan mama aku anaknya berantem." Ucap Willy berkata apa adanya yang membuat Mario terkekeh geli.


"Iya, iya, anak mama.. xixixixi. "


"Ya iyalah aku anak mama, bukan anak kuncing, Munyuk.." Willy menoyor pundak Mario.


"Minum nih," Mario menyodorkan segelas kecil minuman agar kebih dekat pada jangkauan Willy.


"Eits, minuman apaan nih?" Ucap Willy yang menaruh waspada. Dia selalu diwanti-wanti oleh Om Rudi mengenai berhati-hati pada dunia balap liar malam hari. Karena image buruk sudah lebih dulu menempel pada mereka.


"Ini kopi Congek! Kamu kira apaan?" Ucap Mario sedikit meninggikan suara merasa tertuduh memberi minuman yang tidak baik.


"Aku kan cuma nanya, gak usah ngegas juga lah.." Ucap cengengesan sambil menyentuk gelas berisi kopi panas itu.


"Cara nanya kamu tuh, bikin emosi. Aku orangnya bersih Ngek! No drugs, no alcohol, rokok juga enggak."


"Kenapa kamu melototin aku kayak gitu? "


Willy mengernyit bingung. "Siapa yang melotot sih?"


"Jangan bilang kamu lagi mikir aku ngasih kamu kopi sianida ya?"


"Nih aku cecep dikit kopinya biar kamu percaya." Ucap Mario yang langsung menyesap sedikit kopi panas milik Willy.


"Aman kan?"


"Sialan Munyuk! Gak usah diseruput juga kali. Aku minum bekas mulut kamu dong, haish.. "


Mario terkekeh setelahnya. Apalagi ekspresi jijik yang diperlihatkan oleh Willy membuat wajah pemuda itu tampak kocak dan menggelikan.


"Udah gak usah ngedumel gitu! Pindah kesana yuk, disini ngap banyak asap rokok." Ucap Mario yang mulai bergerak mengangkat gelas kopi miliknya dan berpindah duduk di area lesehan yang lebih sepi.


Willy tak berkomentar dan langsung mengekor pada Mario karena memang tujuannya ke tempat ini adalah memenuhi panggilan pemuda itu.


"Jadi kamu mau ngobrolin apa sama aku?" Tanya Willy setelah memperoleh duduk nyamannya.


"Kamu pasti udah bisa nebak aku mau ngomongin apa?"


Willy tersenyum simpul sambil menyeruput kopinya.


"Terus hubungannya sama aku apa?"


"Aku gak tau harus nitipin Diana ke siapa nantinya kalau aku pergi jauh nanti?"


Willy mengerutkan keningnya begitu dalam mendengar perkataan Mario. Apalagi pemuda yang ia kenal begitu sombong dan belagu itu berucap dengan lirih dan raut wajah sendu seolah menggambarkan rasa putus asa yang begitu dalam.


"Pergi jauh?" Ulang Willy seolah membutuhkan penegasan atas apa yang ia dengar sebelumnya.


"Kamu mau mati?"


Mario spontan menyemburkan kopi yang belum sempat ia teguk.


"Sialan kamu Ngek! Kamu mau aku cepet mati?"


Willy merasa bingung pada respon Mario yang tiba-tiba meninggikan suaranya. Sebelumnya wajah itu tampak ditekuk seperti seorang yang frustasi karena besok akan mati membuat Willy berspekulasi Mario akan pergi jauh yang berarti ia tak berumur panjang lagi.


"Kenapa pada mikir aku mau mati sih? Aku kan bilang mau pergi jauh bukannya mau mati kampret?"


"Gimana aku gak mikir kamu mau mati? Muka kamu kusut banget waktu bilang mau pergi jauh. Persis kayak orang yang mau mati besok."


"Aku akan pindah ke ibukota setelah kelulusan nanti." Wajah itu kembali sendu setelah beberapa saat tampak emosi.


"Ngapain?"


"Kontrak bola. Aku udah taken kontrak beberapa bulan lalu setelah ikut seleksi panjang."


Ada rasa sedih dan kehilangan yang menggetarkan dada Willy. Meskipun pemuda disampingnya ini tak menorehka catatan baik dalam hidupnya, namun Mario seolah sudah melekat pada kerumitan perasaan yang menjadi bagian dari memori otaknya.


"Terus maksud kamu bingung nitipin Diana itu apa? Diana bukan milik kamu. Bahkan dia lebih bisa menjaga diri dari pada kamu." Ucap Willy yang mulai terhanyut pada atmosfer sendu yang tercipta.


"Aku tahu itu. Aku cuma takut dia sedih Ngek! Kamu tau kan kalau Diana juga sama aku?"


Ada sesak dalam dada Willy mendengar pernyataan Mario, namun Willy sendiri tidak dapat menyangkalnya. Ia tahu betul bahwa Diana menyukai Mario. Bahkan mungkin Willy lebih dulu mengetahuinya sebelum Mario menyadarinya.


"Kalau kamu gak mau dia sedih karena kamu pergi, ya udah jangan pergi." Kenapa kalimat itu diucapkan Willy? Harusnya ia merasa senang bila Mario jauh. Itu akan sangat menguntungkan baginya.


"Ini mimpi aku Ngek! Aku belum rela melepaskan mimpi yang sudah aku rangkai dari dulu. Ini kesempatan besar untuk masa depan aku."


"Perasaan ini bikin pikiran aku rumit. Setidaknya bantu aku kali ini Ngek.."


"Jaga dia Ngek. Hibur dia saat dia sedih nanti." Ucap Mario tanpa mengalihkan pandangannya pada lawan bicaranya. Membayangkan saja rasanya sudah begitu menyesakkan.


"Kamu gak takut dia jadi beralih suka sama aku nantinya?"


"Silahkan berusaha Ngek," Jawab Mario dengan penuh percaya diri seolah gadis itu tak akan bisa berpindah ke lain hati.


"Satu lagi! Tapi selama aku masih di sini bisakah kamu memberi kelonggaran pada kami?"


Mario melihat tangan Willy terkepal dalam genggamannya sendiri. Ia tahu permintaannya yang terakhir ini pasti terasa sulit karena pemuda itu juga memiliki rasa yang sama pada gadis itu.


"Kalian udah jadian?" Tanya Willy tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku ditolak."


Willy terkekeh mendengar jawaban Mario. Sudah bisa ia tebak bahwa meskipun gadis itu menyukai Mario tentu tidak akan semudah itu untuk menaikkan level hubungan mereka dari sekedar pertemanan menjadi pacar.


"Kamu mau dia jadi pacar kamu meskipun cuma satu hari?" Ucap Willy menoleh pada pemuda itu.


"Maksud kamu?" Mario mengernyitkan keningnya merasa bingung dengan apa yang dimaksud Willy.


"Aku punya caranya. Aku akan bantu kamu mendapatkan kesempatan itu."


"Serius?" Mario membelalakkan matanya. Ia tak percaya pemuda yang ia yakini sebagai rival paling mengancam malah memberikan tawaran yang sangat menggiurkan? Apa ini jebakan?


"Gimana caranya?" Terserah ini jebakan atau memang Willy memberinya harapan. Ia tidak peduli bagaimana Willy bisa mewujudkan tawaran itu? Yang terpenting bagi Mario ia tidak dapat melewatkan kesempatan itu.


"Tapi gak gratis! Ada harga yang harus kamu bayar. " Ucap Willy sembari menyunggingkan senyum. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada motor merah mengilat berjulukan red fire yang terparkir cukup jaug dari tempat mereka dengan seringai penuh arti.


Mario mengikuti arah pandang Willy. Ia berusaha menebak-nebak apa yang harus ia bayarkan untuk sebuah kesempatan langka yang ditawarkan oleh Willy.


"Diana, kamu pasti akan lebih bahagia bila bisa berkencan dengan Mario dari pada denganku. Aku melakukan ini untuk kamu Diana." Gumam Willy dalam hati.


...


Author's cuap:


Willy, are you sure?


Kamu memberikan kunci emas itu untuk Mario? Saran author sih, mending kamu move on ke hati author aja...


xixixi..


Serius amat bacanya..


Supportnya aja yang serius ya..


Jempolnya manaaaaaa