Titip Salam

Titip Salam
Final Show - Mario Berlaga



#49


Priiit..


Peluit wasit ibarat ketukan palu dari hakim menandakan sahnya suatu goal mutlak dari seorang pemain andalan SMP 10, Mario.


Penonton bersorak dan jimprak-jimprak bahagia. Jeritan gadis-gadis pun menggema tatkala sang jagoan melakukan selebrasi kemenangan dengan melemparkan kecupan jarak jauh dengan tangaannya ke arah penonton.


Tidak, bukan ke arah penonton, tapi ke salah satu gadis yang duduk diantara banyaknya penonton. Diana.


Dia melihat jelas arah mata Mario mengarah padanya. Mengedipkan sebelah mata sambil mengangkat telunjuknya.


"Satu.." Gumam Diana.


Diana merasa dadanya berdebar hebat. Perasaannya kini campur aduk. Senang, cemas, takut, namun tetap ada rasa jengkel disana.


"Rasanya kamu terlalu sombong kalau menjanjikan sampai tiga goal." Gumam Diana menampik rasa kagum atas kemampuan Mario yang mulai dirasakannya.


Skor sementara 2-1 untuk SMP 10. Sang pelatih nampak duduk santai di bench. Sepertinya kondisi permainan tim bimbingannya sudah stabil. Sementara ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Keadaan Mario pun yang pada babak pertama mengalami cidera seolah tak berbekas. Dia menggila di lapangan.


Menit ke delapan puluh, lagi-lagi suara drum yang dibawa oleh penonton menggema ke seluruh penjuru stadion. Sorakan para penonton mengiringi para peserta yang sekali lagi saling berpelukan.


Mario berselebrasi mengedipkan matanya dan mengangkat dua jarinya tinggi-tinggi. Goal kedua yang dijanjikan oleh Mario.


Diana merasakan dadanya semakin bergemuruh. Namun dia tetap memasang wajah tenang dan duduk rileks diantara teman-temannya yang lompat-lompat kegirangan.


"Gila! Mario hebat banget ya Di. Sekali diberi bola dekat gawang langsung ditendang masuk aja.. KEREEEN.." Ucap Hera yang sudah jimprak-jimprak di samping Diana.


"Yah, lumayan juga ternyata." Sahut Diana.


Sebenarnya hatinya tidak begitu. "Aaarrgh.. Sumpah itu Mario hebat bangeeet.." Begitulah teriakan dalam hati Diana. Sungguh dia menahan ekspresi gembira yang terlalu berlebihan. Tangan itu berkeringat dan mengepal keras diatas pahanya menjaga emosinya agar tetap tenang.


"Di, kamu kenapa sih? Kayak gak hepi gitu liat tim kita menang. Duduk diem aja." Ucap Rida yang berada di dekat Diana.


"Yah seneng lah," Jawab Diana kikuk.


"Mau taruhan gak?" Tiba-tiba Zahra menengahi.


"Kalau sampai Mario berhasil kasi goal lagi, kalian berempat patungan traktir aku makan bakso bu Ida besok, khusus Diana harus ngasih bunga ke Mario dan bilang kalau suka sama Mario."


Diana melotot kaget dirinya dijadikan bahan taruhan. "Kok aku sih?" Ucap Diana menunjuk hidungnya sendiri.


"Kalau gak ngasi goal lagi gimana?" Tanya Hera antusias.


"Yah aku yang traktir kalian berlima makan bakso bu Ida besok, gimana?"


"Setuju..." Kompak Rosa, Silvi, dan Rida menjawab.


Well, mereka tidak terlalu direpotkan apapun dalam taruhan ini. Karena taruhan ini lebih banyak menyangkut Zahra dan Diana saja. Jika Zahra kalah, mereka mendapat traktiran. Jika Diana yang kalah mereka cukup patungan seribu dua ribu sekaligus dapat menyaksikan pertunjukan yang sangat menarik antara Diana dan Mario.


"Gak, gak bisa. Enak aja maen setuju setuju." Sahut Diana cepat-cepat.


"Santai aja Di, waktunya udah kurang sepuluh menit. Kemungkinan besar si Zahra bakal kalah." Ucap Rida.


"Bener juga Di, kalau dilihat dari jarak antar goal tadi jauh banget. Kayaknya susah nambah skor lagi. Atau nanti yang nge-goal-in bukan Mario tapi Abdul." Lanjut Hera.


"Abdul lagi.. Duh yang baru anget-angetnya.." Goda Rosa pada Hera. Hera pun nampak tersipu akibat perkataannya sendiri yang semakin sering menyebut nama Abdul.


"Setuju lah Di.. Seru tauk.." Silvi pun memaksa.


Teman-temannya yang lain pun ikut merengek pada Diana agar Diana menyetujui ide Zahra.


"Gak adil dong! Kenapa taruhannya aku dapat hukuman khusu. Kesannya aku kayak jadi tumbal sih?" Gerutu Diana masih tidak setuju.


"Ya kan ada hiburan tersendiri buat aku nanti Di.." Ucap Zahra.


"Liat dong Di, mereka kayaknya lagi bertahan doang. Waktunya udah mau habis. Terima aja Di.. Lumayan besok kita kenyang uang jajan utuh." Ucap Rida.


Diana memerhatikan sekejap jalannya pertandingan.


"Iya juga sih, waktunya sudah mau habis. Mario pasti gak sempet bikin goal lagi." Batin Diana.


"Okeh." Ucap Diana.


"Deal ya.." Zahra mengulurkan tangan pada Diana.


"Deal." Ucap Diana mantap dengan membalas jabat tangan Zahra diikuti dengan tepuk tangan kegirangan empat teman lainnya.


Diana tertawa setan dalam hati. "Katanya mau ngasih tiga goal. Kamu kehabisan waktu Mario.. Hahaha.. Dasar sombong!" Batin Diana.


Zahra menyimpan senyuman. Dia tidak mungkin mengajukan taruhan yang membuat dirinya hanya akan menjadi yang kalah. Sedikitpun dia tidak meragukan kemampuan Mario. Dia sudah mengikuti sepak terjang sang jagoan dari awal masuk tim sepak bola sekolahnya. Zahra begitu yakin dia akan memenangkan taruhannya.


Skor sementara yang terpaut cukup jauh tentu akan membuat mental lawan menjadi down. Hal tersebut membuat lawan menjadi lengah dan merasa semakin sulit untuk menhejar skor. Alhasil, performa lawan akan turun sehingga tidak ada penyerangan yang berarti.


Lengahnya pertahanan lawan harus dimanfaatkan. Terciptanya goal tambahan dari pihak yang menang menjadi sangat sangat mungkin. Apalagi oleh seorang Mario. Dia suka membuat kejutan di menit tambahan.


Priiit..


GOAL!


Diana melompat bangun dari duduk manisnya. Matanya membulat sempurna mendapatkan kejutan di menit terakhir pertandingan.


Matanya menatap lekat seseorang dibawah sana mengedipkan mata, mengecup tiga jarinya, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Lunas ya, Diana.." Batin Mario menatap lekat gadis yang tengah menatapnya pula.


Diana menelan salivanya. "Matilah aku.." Batinnya.


"Hore.. hore.." Suara berisik teman-teman disekitar Diana atas kemenangan mutlak sekolahnya.


Skor 4-1. Lawan kali ini dibuat bertekuk lutut dan harus benar-benar mengakui kehebatan tim bola SMP 10 dengan seorang Mario di dalamnya. Penampilan Mario yang menggila di babak kedua membuatnya menjadi seorang yang layak mendapatkan gelar pemain terbaik tahun ini.


Mario membabat habis skor babak kedua tanpa memberi jeda lawan untuk berhasil mencetak goal. Entah karena dia berjuang mati-matian untuk mempertahankan gelar juara sekolahnya, atau karena hutangnya pada Diana. Terserah! Yang jelas semuanya terbayar sudah.


"Di.." Zahra mencolek lengan Diana sambil memainkan alisnya menggodai Diana.


Diana tampak pucat dengan keringat dingin yang mulai mengembun didahinya.


"Udah siap?" Lanjut Zahra.


"Hah? Apa?" Hanya itu yang keluar dari mulut Diana.


"Gak usah pura-pura amnesia. Banyak saksinya kalau kamu udah deal." Ucap Zahra.


Zahra membuka tasnya dan mengeluarkan buket bunga yang tidak terlalu besar dan menyerahkannya pada Diana.


"Wah, kamu udah persiapan banget sih Zah?" Ucap Rida yang takjub melihat Zahra telah menyiapkan buket bunga.


"Jangan-jangan settingan nih taruhannya.." Seloroh Rosa.


"Ya enggak lah, aku emang sengaja bawa bunga buat dikasih ke Mario. Aku udah yakin kalau sekolah kita pasti menang." Jawab Zahra.


"Ya udah, kasih aja langsung ke Mario tuh bunga." Ucap Diana.


"Tadinya sih maunya kayak gitu. Tapi sekarang ada yang lebih berhak daripada aku." Zahra tersenyum penuh kemenangan.


"Ayo, terima Di.." Silvi pun menyemangati Diana yang tak kunjung menyentuh bunga dari tangan Zahra itu.


"Harus banget sekarang ya? Kan bisa besok aja aku bayar taruhannya.." Tawar Diana.


"Gak bisa Diana.. Harus sekarang." Jawab Zahra tegas.


Dengan enggan Diana menerima bunga dari tangan Zahra. Dadanya berkecamuk. Ini adalah kesalahannya karena terlalu percaya diri. Kesalahannya karena terlalu meremehkan kemampuan Mario. Kesalahannya karena menyetujui taruhan yang dilontarkan Zahra.


Diana merasa lututnya sudah lemas. Dia akan menyerahkan bunga dan mengatakan suka pada seseorang yang benar-benar ia hindari belakangan.


"God, kenapa jadi begini? Batin Diana sesenggukan dalam hati.


...


Author's cuap:


Nah hayo...


Gimana tuh Diana?


Kira-kira suka beneran gak sih Diana?


Diana-Mario


atau


Diana-Willy


???


Hmm siapa yang mau jadi cenayang bisa baca pikiran author??? Hahahaha..


So, kalau penasaran,


Like


Comment


Vote


Bunga Kopi


Biar semangaaaaat author up nya..