
#131
Sebuah Foto
Willy tampak serius dengan komik detektif favoritnya di sebuah selasar yang teduh seorang diri. Andai ini adalah hari normal belajar mengajar, maka ia tidak akan berani terang-terangan menampakkan sampul komiknya di tempat umum seperti ini, atau koleksinya itu akan berakhir di ruang BP.
Ini adalah minggu tenang setelah ujian akhir. Willy sengaja membawa beberapa komik baru yang ia beli sepulang dari pameran seni kemarin.
“Wil,” Sapa seseorang yang tiba-tiba langsung duduk di samping Willy. Namun Willy masih tak bergeming. Ia terlalu fokus dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Lala.
“Wil..” Merasa tak sabar, Lala menggoncang pelan bahu Willy.
“Apa sih La! Ganggu aja. Lagi seru nih!” Sahut Willy yang mulai merasa terganggu.
“Nih, lihat sendiri!” Lala menyodorkan ponselnya diantara buku komik dan wajah Willy.
Willy mendengus kesal, namun akhirnya perhatiannya mulai teralihkan. Tanpa menyentuh ponsel itu, ia dapat melihat sebuah gambar yang ditampilkan di layar ponsel itu.
“Apa maksudnya?” Tanya Willy masih tak mengerti.
“Lihat saja sendiri, foto siapa itu?”
Willy menerima ponsel itu dan memperbesar tampilan gambar agar lebih jelas terlihat objek yang ada di sana. Sebuah gambar seorang pemuda yang sedang merengkuh seorang gadis dalam pelukannya. Itu aadalah wajah Mario dan dapat ia pastikan punggung gadis itu adalah Diana. Ia tersentak kaget.
“Hah? Sialan!” Umpat Willy dalam hati.
Willy benar-benar terkejut. Sesaat dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang menusuk di sana.
“Owh,” Ucapnya sambil mengembalikan ponsel pada Lala. Ia berusaha menyembunyikan amarahnya dengan kembali meraih komik dan melanjutkan membaca.
“Owh doang? Gak salah?” Lala tampak kecewa dengan reaksi yang ditunjukkan Willy.
“Aku tau gadis itu adalah cewek yang kamu taksir kan? Siapa namanya? Diana..”
“Terus kamu maunya aku gimana? Marah?” Ucap Willy dengan nada yang sedikit meninggi.
“Lagi pula, itu bukan urusan kamu.”
“Kamu jangan seperti orang bodoh yang mengemis cinta sama cewek yang jelas-jelas gak menghargai perasaan kamu.” Lala mulai ikut tersulut emosi.
“Kamu tau apa tentang hubungan aku sama Diana? Ini masalah aku, jadi kamu gak usah ikut campur.” Willy mulai merasa Lala terlalu ikut campur masalah pribadinya. Ia merasa tidak suka.
“Aku kayak gini karena peduli sama kamu.” Ucap Lala lirih ketika melihat Willy memilih beranjak dari sana.
“Terimakasih La, tapi aku harap kamu gak usah terlalu mencampuri masalah pribadi aku. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Maaf,” Ucap Willy sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dari sana meninggalkan Lala yang tampak murung menatap kepergiannya.
Willy berjalan dengan langkah cepat. Tangannya mencengkeram kuat buku komik yang tergulung di genggaman tangannya. Tak dipungkiri ada kemarahan yang menyelimuti dirinya. Ia lebih baik menyingkir sebelum orang lain yang terkena imbas kemarahannya.
Dari foto yang dilihatnya tadi, Willy menyadari foto itu diambil secara sengaja oleh seseorang dari jarak yang cukup jauh. Itu artinya bisa saja Diana dalam masalah nantinya bila semakin banyak orang yang tau gadis di foto itu adalah dirinya. Apalagi kalau sampai foto itu tersebar luas.
“Biar aku pastikan sendiri nanti.” Batin Willy sambil berlalu menuju sudut lain untuk menyendiri.
Sementara pada beberapa kilometer dari sana, Diana sedang berjalan cepat menuju ruang kepsek untuk memenuhi panggilan yang telah disiarkan melalui pengeras suara. Mario tampak mengekor dan berusaha mensejajarkan langkah dengan Diana yang tampak tak ada niat untuk menunggui pemuda itu.
“Di, jangan cepet-cepet jalannya.” Ucap Mario setelah berhasil menyusul langkah Diana.
“Kita udah dipanggil dari tadi. Pak Jamal pasti udah nungguin.” Jawab Diana tanpa memperlambat langkahnya. Mario tak mencegahnya lagi karena memang benar apa yang dikatakan gadis itu. Panggilan sudah berlangsung lima belas menit yang lalu. Pak kepsek pasti sudah menunggu cukup lama diruangannya.
“Kamu kenapa kelihatan tegang banget sih? Kayak mau disidang aja sama pak Jamal.” Celetuk Mario melihat wajah Diana yang tampak sangat serius.
Diana tak menanggapi apapun. Ia tidak ingin membuang energi sia-sia untuk menjelaskan sebuah prasangka yang belum pasti mengenai pemanggilan mereka. Lebih baik ia menata hati dan pikiran untuk menjawab segala pertanyaan yang akan dilontarkan oleh pak kepsek.
Ketika sudah mendekati ruang kepsek, Mario sengaja berjalan mendahului untuk mengetuk pintu. Setelah mendapat izin untuk masuk, ia membukakan pintu dan mempersilahkan Diana untuk masuk lebih dulu.
“Ladies first.” Ucapnya sambil tersenyum manis. Hal tersebut terlihat manis, namun tidak untuk saat ini. Bahkan Diana tak menganggap perlakuan manis itu tampak spesial. Ia menarik napas dalam dan masuk ke dalam ruang kepsek tanpa membalas senyum pemuda yang membukakan pintu untuknya.
“Kenapa sih dia?” Pikir Mario dalam hati.
Tampak Pak Jamal duduk dikursinya sedang berbincang dengan seseorang melui ponselnya. Ia menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Diana dan Mario menunggu dan duduk di kursi tamu yang terdapat di tengah ruangan.
“Iya Man, dari foto yang saya kirim itu sudah terlihat jelas kan?” Terdengar suara pak Jamal yang sedang berbincang melalui panggilan teleponnya.
Deg,
“Man? Foto?” Batin Diana yang tak sengaja ikut mendengar sekilas percakapan pak kepsek.
“Apa Man itu maksudnya Arman? Ayahku? Dan foto yang dimaksud adalah...”
Diana tampak pucat. Tangannya berkeringat dan kakinya terasa lemas. Ah, habis sudah!
“Di, kamu kok keringetan gitu? Kamu sakit?” Bisik Mario yang melihat perubahan raut wajah gadis dihadapannya itu.
Diana meraup wajahnya sambil mengatur napasnya. Bila semua prasangkanya itu benar, apa yang harus ia katakan nanti pada sag Ayah, sang hakim sesungguhnya.
“Maaf ya sudah membuat kalian menunggu, saya terima telpon penting dulu.” Suara barritone yang tiba-tiba masuk diantara ketegangan itu sontak membuat Diana dan Mario terkejut.
“Ada apa ini? Kok sepertinya tegang sekali?”
“Diana kenapa? Kamu sakit?”
“Enggak kok pak, saya baik-bauk aja.” Jawab Diana berusaha tenang.
“Bapak manggil kita berdua ada keperluan apa ya pak?” Tanya Mario langsung pada intinya.
“Owh iya, langsung saja saya ingin menyampaikan pada kalian berdua..”
Deg deg,
Dada Diana bergemuruh hebat. Ini benar-benar masalah yang ditimbulkan oleh dia dan Mario. Apa lagi kalau bukan foto itu? Wajah seram sang Ayah, tatapan tajam sambil berkacak pinggang dari sang Mama, rasanya ia begitu takut untuk pulang hari ini.
“..Saya ingin kalian berdua, bersedia untuk mengisi acara pada perpisahan siswa yang akan diadakan dua minggu lagi.”
Gubrak!
Diana hampir terjungkal dari tempat duduknya. Ia sangat terkejut mendengar perkataan pak Jamal. Namun di sisi lain ia merasa sangat lega ternyata hal buruk yang ia bayangkan tidak benar-benar terjadi.
“Mengisi acara yang gimana maksudnya pak?” Mario tampak bersemangat. Tuhan benar-benar mengabulkan doanya pada hari itu secepat ini.
“Saya ingin kalian berdua duet seperti Pensi kemarin. Dua atau tiga lagu boleh lah..” Jawab pak Jamal menerangkan.
Mario tampak berbinar. Ia ingin sekali lompat-lompat jumpalitan jimprak-jimprak saking girangnya, namun syukurlah ia masih dapat mengontrol diri.
“Tapi pak, saya kan bukan penyanyi. Saya juga gak bisa nyanyi.” Diana tampak keberatan dengan permintaan pak Jamal.
“No, No! Suara kamu bagus. Yah, dengan latihan lagi kalian pasti bisa makin klop. Kamu harus percaya diri Diana. Sepertinya kamu memiliki bakat terpendam, yaitu suara kamu yang merdu. Nanti kalian akan dibantu oleh guru paduan suara dari sekolah untuk latihan persiapan. Setuju ya?” Pak Jamal berusaha membujuk Diana.
Belum sempat Diana menjawab lagi, pak Jamal sudah mengeluarkan rayuan pamungkasnya. “Ayolah ya.. Ini terakhir lho.. Buatlah kenangan untuk sekolah ini dengan penampilan kalian yang lebih fantastis dari pensi kemarin di perpisahan siswa nanti.”
“Tapi pak,”
“Kami bersedia. Kami akan sangat bangga bisa meninggalkan sesuatu yang berkesan untuk sekolah kami. Apalagi nanti orang tua kami juga dapat menyaksikan langsung. Mereka pasti juga ikut bangga, ya kan Di?” Mario dengan cepat memotong perkataan Diana dengan menyetujui permintaan pak Jamal. Hal tersebut membuat Diana menatapnya dengan bulatan mata sempurna.
Prok!
Pak Jamal menepuk kedua telapak tangannya.
“Oke, sudah diputuskan. Terimakasih untuk kalian berdua yang sudah bersedia menerima permintaan saya.”
Diana menghela napas beratnya. Sepertinya ia sudah tidak dapat menolak lagi. Akhirnya ia memilih pasrah dan menerimanya.
Reaksi yang berbeda yang ditunjukkan oleh Mario. Ia tampak begitu antusias dan bersemangat. Ia dapat membayangkan dalam beberapa hari kedepan akan selalu berdekatan dengan gadis itu karena harus terjebak dalam suatu projek bersama. Wah, senangnya..
“Tapi ada satu lagi, saya ingin sebuah kejutan di akhir acara.”
“Kejutan?” Diana mengulangi perkataan pak Jamal dengan sebuah kalimat tanya.
“Kejutan apa lagi? Hal ini saja sudah sangat mengejutkan.” Batin Diana.
.
Kejutan apa yang diinginkan pak Jamal?
.
.
Author’s cuap:
Ciye terjebak berdua lagi nih ye..
Jodoh kali ya...
Readers tercintaaah
Mohon maaf baru bisa up sekarang
Beberapa minggu author sekeluarga lagi gak sehat,
Satu rumah bisa kompak gitu sakitnya..
Cuaca emang lagi gak bagus,, semoga kalian sehat-sehat semua ya.. Amin..
Terimakasih sudah membaca..