Titip Salam

Titip Salam
Masa Lalu Menyapa



Author's cuap:


Mohon maap.. Episode #28 gak sengaja kehapus..


Khilaf jempolku tuh..


Karena gak ada data copy nya.. Jadi ni episode #28 yang baru aku tulis ulang..


Ceritanya sama kok, mungkin ada sedikit perbaikan kata.


Sekali lagi author minta maaf bgt ya.. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Happy reading ya readers tercintaaah...


----


#28


Diana tidak pernah memiliki musuh. Dia juga tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Hidupnya nyaman-nyaman saja dengan orang-orang yang berbuat baik padanya seperti dia yang juga berbuat baik pada orang lain.


Kejadian kemarin benar-benar mengusik ketenangan Diana. Dia merasa malas untuk beranjak dari kelas meskipun hanya sekedar untuk ke kantin.


Diana bukannya merasa takut dengan para fans fanatik Mario. Dia hanya merasa malas untuk berhubungan dengan hal-hal yang tidak penting. Jadi menurutnya akan lebih baik jika dia membiarkan masalah kemarin untuk mereda beberapa saat.


Diana sedang duduk sendirian di bangkunya. Dia mengistirahatkan matanya, membiarkannya terpejam sesaat, menelungkup di bangku.


"Diana, terimakasih ya. Maaf baru sekarang aku kembalikan."


Diana menoleh menatap sumber suara. Di depannya berdiri seorang anak laki-laki menyerahkan bingkisan kantong plastik. Dia adalah Rian, teman sekelas Diana.


"Apa ini?" Diana masih bingung dengan maksud kedatangan temannya itu.


"Ini jaket yang kamu pinjamkan. Ibuku sudah mencucinya." Jawab Rian.


"Oh, iya. Terimakasih ya, sudah dicuci sekalian. Jadi merepotkan." Ucap Diana menerima bingkisan tersebut.


"Gak masalah. Aku yang terimakasih kamu sudah mau meminjamkan jaketmu."


"Iya, sama-sama." Diana memasukkan bingkisan itu dalam tasnya.


Rian tak lantas pergi setelahnya. Dia termenung sesaat seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa lagi Rian?" Tanya Diana yang merasa heran.


"Gak ada apa-apa Diana. Ya udah aku mau ke kantin." Rian segera pergi meninggalkan Diana yang masih merasa heran.


"Aneh, Rian kayak nyembunyiin sesuatu. Apa jaket aku rusak ya? Makanya dia merasa gak enak." Diana membuka bingkisan itu.


"Ah, jaketnya baik-baik aja kok. Trus tadi Rian kenapa ya?" Tanya Diana pada dirinya sendiri.


Tak mau dipusingkan dengan hal yang mungkin memang bukan urusannya, Diana memilih untuk melanjutkan kegiatan bermalas-malasannya tadi.


...


Kruuuk.. Kruuuk..


Diana memegangi perutnya.


"Aduh, lapar.."


Waktu memang sudah masuk untuk jam makan siang. Tak heran bila sistem pencernaan Diana seolah berontak ingin bekerja sebagaimana fungsinya.


Sekolah sudah sepi. Hanya ada penjaga sekolah, segelintir murid dan guru yang masih hilir mudik. Sisanya sudah dalam perjalanan pulang karena sekolah telah berakhir beberapa menit yang lalu.


Diana menenteng tasnya beranjak dari bangkunya. Dia bukan ingin pulang, karena sebentar lagi ada jadwal latihan bela diri tambahan khusus untuk sepuluh orang yang telah terpilih dalam seleksi hari Minggu kemarin.


Dia berjalan gontai menuju kantin berharap masih ada makanan yang mungkin tersedia di kios yang masih buka.


"Yes! Masih ada yang buka." Wajahnya sumringah menatap beberapa kios yang masig buka meskipun dagangannya sudah hanya tinggal satu-dua saja.


Dia menuju kios bu Ida yang menjual bakso. Perutnya sudah sangat lapar. Dia harus mengisi perutnya dengan makanan berat. Apalagi satu jam kemudian dia ada latihan bela diri yang pasti membutuhkan asupan energi yang cukup besar.


Diana nampak bahagia melihat asap yang menerobos celah tutup panci bakso di kios bu Ida. Hal tersebut menandakan mungkin saja baksonya masih ada.


"Bu, baksonya satu ya.. Makan disini saja." Pesan Diana pada bu Ida penjaga kios.


"Waduh mbak, maaf. Baksonya habis. Itu yang terakhir sudah dipesan duluan sama masnya." Jawab bu Ida sambil menunjuk seseorang yang sedang menikmati semangkuk bakso di bangku paling ujung.


Deg,


Mario.


"Sial! Seharian berusaha menghindari, Malah sekarang harus ketemu disini." Umpat Diana dalam hati.


"Ya sudah bu, terimakasih." Ucap Diana yang hendak berlalu pergi.


Diana sedikit mengumpat-umpat berharap Mario tidak melihatnya meskipun sepertinya mustahil.


"Hai Diana. Mau pesan bakso juga?"


Terlambat sudah!


"Sialan! Kenapa harus ngajak ngobrol sih.." Lagi-lagi Diana mengumpat dalam hati.


Diana menoleh dan sedikit menyunggingkan senyum. Sedikit, sangat sedikit hingga senyum itu hampir tidak tampak.


"Iya, mau beli bakso. Tapi sayang sudah habis." Jawab Diana.


"Apa? Sayang?" Ucap Mario setengah berteriak.


Bu Ida nampak celingukan mengintip dari balik kiosnya mencari tau apa yang terjadi di luar. Beberapa anak yang berada disekitar kantin reflek menoleh ke arah mereka. Penjaga sekolah yang sedang menyapu halaman kantin pun sampai ikut terkejut dan menatap heran mendengar suara Mario yang sangat keras.


"Kenapa mas Mario kok teriak-teriak?" Tanya penjaga sekolah.


"Dia bilang sayang ke aku pak.. Aku kan jadi kaget." Ucap Mario dengan ekspresi seolah terkejut.


"Owh, gitu aja sampai bikin kaget. Ya, bilang sayang balik dong mas. Gitu kok repot. Hehehe.." Jawab penjaga sekolah itu sambil geleng-geleng kepala.


Beberapa murid yang sedang berada di sekitar sana pun ikut cekikikan.


Diana seperti hilang muka saat itu. Antara marah, sebal, dan malu.


Dia berbalik dan mempercepat langkahnya. Lebih baik dia segera pergi sebelum terkena kejahilan Mario lagi.


Hatinya semakin panas oleh amarah tatkala mendengar Mario yang masih cekikikan disana.


"Dasar Mario sinting!" Umpat Diana begitu kesal.


...


Diana masih menggerutu dalam hati. Mulutnya komat-kamit memgumpat tanpa bersuara. Kakinya melangkah seolah meninggalkan jejak bara yang menyala saking terbakar oleh amarah.


Diana melangkah keluar gerbang sambil memegangi perutnya yang masih kelaparan. Dia terus berjalan dan berhenti di depan gerobak pentol korea dekat halte langganannya.


"Pak, beli tiga ribu aja. Yang pedes ya pak.."


"Siap mbak, tapi ngantri ya.. Mas yang itu duluan." Kata Pak penjual pentol korea itu sambil menunjuk seorang anak laki-laki yang duduk di trotoar sambil memainkan hape.


Deg,


Cowok itu.


Diana merasa sedikit kesal dengan nasibnya hari ini. Setelah bertemu Mario dan terkena keusilannya, sekarang cowok itu.


Semua rentetan kejadian hari ini seolah ingin mengingatkannya pada kejadian malam pengeroyokan itu.


"Tuhan, bukankah aku berbuat baik malam itu? Lantas mengapa Engkau tak membiarkan aku melupakannya saja? Sebenarnya apa rencanaMu Tuhan?" Keluh Diana dalam hati.


Kejadian yang perlahan hampir ia lupakan seolah melambai menyapanya lagi dan lagi.


"Hai, kamu Diana kan? Apa kabar?" Cowok itu menyapanya.


"Iya, baik." Jawab Diana singkat.


"Kamu masih ingat aku?"


Diana hanya tersenyum. Dia merasa tidak enak mengakui kalau dia lupa pada cowok itu.


"Aku Willy, yang kamu tolong waktu itu.."


"Ah, iya. Maaf aku baru ingat." Jawab Diana cengengesan.


Diana memperhatikan seragam cowok yang bernama Willy itu. Dia mengenakan seragam putih biru, sama seperti Diana. Hanya saja bed logo sekolah mereka berbeda. Bed logo sekolah Willy bertuliskan SMPN 10.


"Willy, kamu sekolah di SMP 10?" Tanya Diana basa basi.


"Iya, kenapa?" Jawab Willy.


Diana nampak memikirkan sesuatu. Dia seperti ingin bertanya sesuatu namun terlihat ragu.


"Willy, apa kamu kenal dengan yang namanya Congek?" Akhirnya Diana pun berani untuk menanyakannya.


Willy tampak terkejut sesaat. Kemudian dia kembali tersenyum dan menjawab.


"Aku pernah dengar nama itu. Memangnya kenapa? Apa kamu ada perlu sama dia?"


"Enggak, Gak ada apa-apa kok. Cuma nanya aja." Diana balas tersenyum.


"Mas ini pesanannya."


Pesanan pentol korea Willy ternyata sudah jadi. Willy pun mengeluarkan uang di sakunya untuk membayar.


"Ini Diana, kamu duluan aja." Kata Willy sambil menyerahkan bungkusan pentol korea miliknya.


Diana sedikit tersentuh dengan niat baik Willy yang menawarinya untuk memiliki pesanannya lebih dulu.


"Gak usah Wil, punyaku sebentar lagi juga matang." Jawab Diana.


Tak lama Diana pun mendapatkan pentol korea pesanannya.


"Bener kan, punyaku juga sudah jadi. Aku duluan ya.." Diana segera pamit dan kembali ke sekolahnya.


Willy menatap kepergian Diana. Entah mengapa dia selalu saja terpaku memandang punggung gadis itu semakin menjauh.


Lagi dan lagi. Seolah ada daya magnet yang menarik urat leher Diana untuk menoleh kebelakang. Menatap seseorang disana yang juga sedang menatapnya. Hanya senyum yang dibalas senyuman pula. Kemudian mereka benar-benar berpisah.


...


Author's cuap:


Sekali lagi aku minta maap banget atas kekhilafan jempol aku, gak sengaja kehapus deh ep#28 sebelumnya.


Semoga ep 28 yang dengan sedikit revisi namun alur cerita tetep sama ini, tetep bisa bkin kalian hepi ya..


Klo hepi jempol 👍🏼 dan ❤️ nya jangan lupa..