Titip Salam

Titip Salam
Kumis Beracun



#134


Kumis Beracun


 


Willy memacu cepat kuda besi antik kesayangan menuju rumah tinggalnya. Ia sudah tidak sabar untuk merebahkan diri sambil berbalas pesan dengan kenalan barunya, seorang gadis manis yang tak sengaja bertemu di galeri seni tempo hari.


Getaran ponsel yang ia rasai di saku celananya membuatnya semakin mempercepat laju si item agar segera sampai rumah. Ia sangat yakin itu adalah pesan balasan dari kontak yang bernama Sofia.


Motor terparkir, masuk rumah, menyapa sang mama yang sedang bersantai di ruang keluarga, segera cuci tangan dan kaki di kamar mandi, dan masuk kamar untuk merebahkan diri.


“Mana hape, mana hape..”


Willy segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan benda pipih yang tak kunjung menyala meskipun sudah ia nyalakan berkali-kali. Bahkan ia memutar-mutar benda itu ke segala arah dan beberapa kali menghentak-hentakkannya di udara.


“Sial! Pakai acara lowbat!”


Willy terus menggerutu sambil bergerak mencari kabel pegisi daya dan menghubungkannya ke stop kontak listrik.


Bibir itu terus menyunggingkan senyum ketika ponsel itu kembali menyala. Matanya begitu berbinar ketika melihat ada notifikasi pesan dari kontak atas nama Sofia.


Willy menggosok-gosokkan telapak tangannya merassa begitu antusias dan tidak sabar respon balasan seperti apa yang diberikan oleh gadis yang baru saja ia ajak kenalan itu.


Rupanya kontak atas nama Sofia itu membalasnya dengan sebuah pesan gambar. Sebuah gambar swafoto seorang pemuda dengan kumis tipis dan mata menyipit dengan catatan di bawahnya “Ini cantik?”


Gubrak!!


Seketika hape itu terlepas dari telapak tangan Willy dan jatuh ke nakas.


Willy mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menengok layar yang masih menunjukkan gambar yang sama.


“Hi.. kok kumisan sih?” Willy mulai begidik ngeri.


Merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, Willy berusaha menghidupkan ulang ponselnya dengan harapan ada kesalahan sistem pada aplikasi pesannya.


Namun, kontak atas nama Sofia itu benar-benar mengirimkan swafoto pemuda berkumis tipis itu.


“Sialan! Jangan-jangan dia sengaja ngasih nomor palsu.” Willy pun merutuki dirinya sendiri.


“Hapus.. hapus..”


“Kampret! Malunya aku..”


 


Willy segera menghapus pesan-pesan yang ia kirim untuk kontak bernama Sofia, kemudian mematikan ponselnya.


Begitu malang nasib Willy yang berusaha move on dengan mencoba peruntungan berkenalan dengan gadis yang belum lama ia temui, tapi malah berujung mendapat tatapan sinis dari sang kumis beracun.


Meskipun sangat menjengkelkan, namun hal tersebut membuatnya tertawa terpingkal. Tak dapat ia bayangkan kalau sampai ada orang lain yang tau.


 


Di sisi lain sebuah kota, seorang gadis baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah rapi dengan setelan kasual.


"Aaaaa..."


"Kak Kevin ngapain?"


Ia segera berlari menghampiri seorang pemuda yang sedang merebahkan diri di atas kasurnya dengan ponsel milik sang gadis di tangannya sambil tersenyum-senyum menahan tawa.


"Berhenti pake bahasa lu gue! Geli dengerin lidah medok kamu!"


"Balikin hape aku!"


Gadis itu mengulurkan tangan dengan wajah kesal untuk meminta ponselnya kembali.


"Cuma pinjem game aja pelit amat sih, Nih gue balikin. Dasar Sopia pelit!!!" Ucap pemuda bernama Kevin itu. Ia menggerutu sambil meneyerahkan ponsel milik sang gadis yang berkacak pinggang dihadapannya.


"Sofia ya, bukan Sopia!" Ucap gadis itu sambil meraih cepat ponsel yang terulur ke arahnya.


"Gak mungkin kalau cuma main game kalau sampai senyum-senyum sendiri.. Mencurigakan!" Gadis bernama Sofia itu mengecek ponselnya untuk memastikan ucapan sepupu yang hobi sekali menjahilinya itu.


Tidak menemukan keanehan sedikitpun, Sofia nampak masih menaruh curiga sambil memelototi Kevin yang sudah kembali asik dengan ponsel miliknya.


"Awas aja kalau ada yang di utak-atik, Aku laporin ke tante!" Ancam Sofia sambil berbalik keluar kamar.


Kevin menyeringai menang. Sepertinya Sofia tidak menemukan hal yang mencurigakan. Dia telah menghapus semua jejak keusilan dan selalu bersih.


"Siapa tadi? Willy? Hmm.." Gumam Kevin.


Senyum tersungging di bibirnya seolah mengartikan sebuah ide kejahilan baru yang mulai terlintas di otaknya.


"Aku ledekin habis-habisan kamu nanti.."


...----------------...


Author's cuap:


Permohonan maaf yg sebesar-besarnya untuk para readers tersayaaang...


Terharu sekali ketika tau masih banyak peminat alur cerita yang aku tulis ini.


Author mohon maaf sekali beberapa bulan ini ada kesibukan yang benar-benar menguras otak dan jiwa raga.


Tapi karena cintahnya author pada Diana-Willy-Mario dan terutama pembaca semua author selalu komit untuk menamatkan kisah ini.


Pingin banget bisa crazy up tapi sungguh author belum mampu ke tahap itu.


Boleh sedikit curhat gak sih???


Author selain menulis, juga membaca dan menjadi fans berat novel yg author tulis sendiri. Bukan maksud narsis, tapi alur kisahnya seolah mengobati rindu masa-masa SMP dulu.


Sering juga baper dan geregetan sendiri bacanya.


Terimakasih sudah mengikuti alur kehaluan yg betul-betul seperti inilah masa SMP jaman yg author alami.


Sederhana dan tidak keras seperti pergaulan anak muda saat ini.


Pinginnya novel ini bisa menjadi bacaan renyah remaja. Kocak, lucu, deg-deg an, sedikit2 ada nilai moral di dalamnya


Tapi feeling aku pembaca novel titip salam ini gak ada yg anak2 SMP ya??


🤣🤣


Ada yg berani sebut umur???


Author sih baru kepala "2X" (Tapi sepuluh tahun lalu 😁)