
#129
Lanjut atau Putus?
Willy sedang duduk menunggu minuman pesanannya di sebuah meja bersama beberapa teman yang tak sengaja bertemu di sana. Berkali-kali ia melihat jam ditangannya sambil mengecek ponselnya.
“Ngapa sih kamu Ngek? Kayak lagi galau gitu?” Ucap Salim yang duduk di dekat Willy.
“Siapa yang galau sih? Biasa aja kok.” Jawab Willy sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
“Gak usah ngeles deh Ngek, kayak kita baru kenal kemaren hari aja. Aku udah hapal gelagat kamu.” Desak Salim agar Willy mau menceritakan permasalahannya.
“Gak usah kepo.” Willy merengut kesal. Temannya satu ini memang begitu lama dekat dengan Willy. Bahkan pada Salim juga Willy selalu berkisah apabila ia sedang butuh teman untuk bicara. Pantas saja keresahannya kali ini akan dengan mudah terbaca oleh Salim.
“Harusnya aku yang nanya nih, sejak kapan kamu move on dari Lala?” Willy berusaha mengubah topik pembicaraan pada salah seorang gadis yang duduk tepat di ddepan Salim.
Salim sampai hampir tersedak mendengar pertanyaan Willy. Pasalnya yang sedang mereka bicarakan juga ada di tempat itu.
“Pelan-pelan kampret! Orangnya ada di meja ujung.” Gerutu Salim sambil menepuk pundak Willy. Bukan sebuah tepukan, itu adalah pukulan yang memberikan sensasi panas.
“Kalian berisik sekali sih?” Gadis itu mulai terganggu dengan percakapan dua pemuda di depannya. Pasalnya ia merasa dirinya di sebut di sana. Dia adalah Silvi, teman Salim di kelas bimbelnya yang juga merupakan teman satu sekolah Diana.
“Kalian kalau ribut gak usah bawa-bawa aku dong. Aku sama Salim gak ada apa-apa. Lagian amit-amit kalau sampai ada apa-apa ama onta satu ini.” Celetuk Silvi tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
“Eh Mak Lampir, gak usah pakai bawa-bawa onta ke sini ya.. Ujung-ujungnya pasti rasis deh, kebiasaan!” Salim tampak kesal ketika ia disamakan dengan salah satu satwa khas timur tengah itu.
“Aku sumpahin ntar naksir ama aku, amin..” Ucap Salim dengan tatapan seriusnya.
Silvi cekikikan melihat reaksi Salim yang kesal. Ah, dia dan pemuda itu memang tidak pernah akur, tapi kalau ada acara kumpul-kumpul teman kelas bimbel mereka selalu tampak bersama. Seperti saat ini.
“Kalau udah beneran naksir gimana?” Ucap Silvi sambil balas menatap Salim dengan tatapan yang begitu serius.
Salim dan Willy yang mendengar hal itu sontak terkejut.
“Hah? Serius Sil?” Salim masih dalam mode terperangah tak percaya.
“HAHAHAHAAAA.. Kamu percaya?” Silvi tertawa penuh kemenangan melihat Salim yang sepertinya mempercayai ucapannya barusan.
Wajah Salim sontak memerah karena malu. Apalagi Willy juga tertawa terpingkal di sampingnya.
“Sialan! Bisa-bisanya nih cewek ngerjain aku.” Gerutu Salim.
“Pantes aja Lala nolak kamu berkali-kali. Kamu orangnya ge-er an sih. Sekali disenggol cewek aja udah nerveous kayak tadi. Hahaha..” Tambah Willy.
“Eh, Congek kampret gak usah kenceng-kenceng kalau sebut merk. Orangnya ada di ujung kampret!” Salim terus memaki karena sepertinya gadis yang mereka sebut juga tengah mencuri pandang ke arah mereka.
Dari Salim, Silvi beralih pada Willy. “Congek, eh maksud aku Willy..”
“Santai aja Sil, panggil Congek juga gak apa-apa.”
“Kalau boleh tau, kamu sama Diana kayak gimana sekarang?” Silvi mulai membuka pembicaraan yang membuat telinga Willy terasa panas.
“Sial! Nambah lagi yang kepo. Mereka emang jodoh banget kayaknya.” Umpat Willy dalam hati.
“Yah, kita temenan baik kok. Emangnya kenapa?”
“Yakin cuma teman? Soalnya yang aku lihat Diana makin dekat sama Mario.”
Willy hanya tersenyum kecut. Meskipun ia berusaha merelakan perasaannya yang tak sempurna, namun rasanya masih ada desiran yang menyesakkan ketika nama Diana dan Mario disebut sekaligus bersamaan.
“Dan kayaknya mereka lagi jalan bareng hari ini. Coba lihat, ini Diana bukan sih?”
Silvi menunjukkan gambar di ponselnya. Salim sontak begitu antusias melihat gambar itu. Sebuah gambar dari postingan terupdate dihalaman sosial media milik Mario. Gambar punggung Mario dan seorang gadis yang sedang duduk berdua di tepi bukit. Dari penunjuk lokasi, tempat itu adalah Bukit Jamur, Gresik.
Willy yang melihat sekilas gambar itu langsung tau dan dapat memastikan memang benar itu adalah Diana. Dari pakaian dan postur tubuh yang begitu ia kenali, punggung itu memang milik Diana.
Willy merasa panas di dadanya. Sepeti ada sayatan yang belum kering kini harus ditabur garam. Namun ia berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja. Bahkan untuk yang satu ini, ia tak ingin Salim pun mengetahuinya. Cukup ia simpan seorang diri.
Sementara di lokasi yang berbeda, Mario yang merasai ponselnya bergetar, melihat ada sebuah pesan masuk di sana. Wajahnya yang ceria seketika berubah murung setelah membaca pesan tersebut.
Mario melihat jam ditangannya dan menyadari betapa waktu begitu cepat berlalu.
“Habis ini kita kemana lagi?”
Mario menatap wajah Diana yang tampak masih begitu antusias dengan jalan-jalan mereka. Namun dengan berat hati ia harus mengatakannya juga.
“Kita pulang.” Jawab Mario sambil memaksakan senyumnya.
Diana menengok jam yang melingkar di tangan kirinya. Wajahnya murung ketika mengetahui waktu sudah hampir sore.
“Diana, sesuai perjanjian bahwa hari ini kita akan berkencan dan jadi pacar sehari.”
“Please, jawablah sesuai isi hati kamu.”
Diana mengalihkan pandangannya pada hamparan batuan kapur di depannya. Beberapa kali ia mengatur napasnya untuk menjernihkan hatinya yang sedang bergejolak. Logika dan hatinya berperang saat ini. Apa yang harus ia jawab?
“Ayah memang tidak dengan gamblang menyatakan larangan pacaran untukku. Tapi aku tau Ayah tidak menyukai hal itu. Tetapi juga, aku merasa bahagia menjadi yang spesial seperti saat ini..” Gumam Diana dalam diamnya.
“Diana, aku tidak akan memaksa. Aku akan menerima keputusan kamu. Aku sudah cukup senang hari ini. Aku tidak akan pernah melupakannya.” Melihat gadis itu berpikir keras, Mario dapat menebak bagaimana hasilnya.
“Jika memang harus berakhir sekarang, kamu yang harus mengakhirinya. Karena aku tidak akan sanggup mengatakannya.” Mario memejamkan matanya. Sungguh ia ingin sekali menutup telinganya ketika satu kata yang tidak ingin ia dengar akan terucap dari bibir gadis itu. Putus.
“Tuhan jika memang semua ini harus berakhir saat ini juga, bisakah kau atur ulang sebuah skenario agar aku bisa terjebak lagi dengannya seperti hari ini?” Doa Mario dalam hati.
Kembali di sebuah cafe dimana beberapa anak muda sedang menikmati kumpul-kumpul sore mereka, Willy terus saja diliputi keresahan. Beberapa menit sekali ia akan mengecek notifikasi ponselnya, mengecek jarum jam di pergelangan tangannya, dan memandang ke arah jalan bergantian.
“Kamu nungguin siapa sih?” Ucap Salim yang merasa geregetan dengan tingkah temannya itu.
“Ntar juga kamu tau.” Jawab Willy singkat sambil lagi-lagi mengetik sesuatu di layar ponselnya.
“Kalau sampai kemaleman, bisa bahaya nih..” Batin Willy yang merasa kesal karena seseorang yang dikirimi pesan tak merespon satu pun pesan yang ia kirim.
Beberapa menit kemudian terdengar suara deru motor yang sontak membuat Willy menengok ke arah parkiran. Redfire baru saja tiba dari perjalanan panjangnya.
“Kirain bakal ngaret. Bikin ketar ketir aja nih bocah.” Batin Willy yang dapat bernapas lega.
Kehadiran motor merah mengilat milik Mario itu sontak memancing perhatian beberapa orang di afe tersebut. Termasuk seorang gadis yang berada di meja ujung cafe tersebut.
Lala yang juga berada di sana, tampak mengernyit heran ketika mengetahui siapa yang baru saja datang. Dia mengenali wajah Diana. Seorang gadis yang menyebabkan pemuda yang disukainya tidak sedikitpun melirik ke arahnya, kini datang dengan pemuda lain?
“Apa Willy ditolak?” Pikir Lala mencoba mengartikan situasi yang terjadi.
“Tuh kan, apa aku bilang! Cewek dipostingan Mario tadi benar Diana.” Ucap Silvi pada Salim perihal foto yang mereka perdebatkan tadi.
Salim lantas melirik pada Willy. Ia berusaha mengorek sedikit saja perubahan ekspresi dari Willy. Namun hasilnya nihil. Willy bersikap wajar dan biasa saja. Ia hampir percaya kalau Willy tidak sakit hati melihat gadis gebetannya bersama pemuda lain.
“Hai Di..” Sapa Silvi ketika Diana mendekat ke arah meja mereka.
“Eh, kok ada Silvi. Nah, Salim juga ada.” Diana pun menyapa Salim yang juga melambaikan tangan ke arahnya.
“Kita habis dari tempat bimbel, trus nongkrong sebentar deh.. Kamu dari mana? Kencan ya?”
“Kita habis jalan-jalan aja kok.” Jawab Diana sambil tersipu malu. Diana lalu melirik Willy yang duduk santai sambil meminum jus alpukat miliknya. Rasanya ia ingin memaki Willy karena mengajak bertemu ditempat yang ramai oleh orang-orang yang ia kenal. Ia benar-benar merasa malu tertangkap basah oleh temannya seperti situasi ini. Sudah dapat dipastikan, besok di sekolah dirinya akan diinterogasi habis-habisan oleh teman-temannya.
“Kita foto-foto dulu yuk, jarang banget Diana mau keluar dari kandangnya dan nongkrong-nongkrong kayak gini.” Ajak Silvi sambil mulai menyiapkan kamera ponselnya.
“Makasih ya Mar, gara-gara deket sama kamu, Diana akhirnya bisa keluar menatap dunia.” Ucap Silvi dengan kiasan yang begitu hiperbola.
“Sialan kamu Sil,” Umpat Diana yang dibalas tawa renyah temannya itu.
Beberapa foto diabadikan dan saling dibagikan. Setidaknya foto ini bisa menjadi alliby bahwa Diana memang pergi beramai-ramai dengan kawan-kawannya.
“Mau balik sekarang?” Ajak Willy pada Diana tepat setelah gadis itu menghabiskan minumannya.
“Ayok, udah sore.” Jawab Diana.
“Aku juga balik deh,” Mario pun ikut berdiri dan berpamitan pada yang lainnya.
Mereka bertiga meninggalkan cafe bersama meninggalkan banyak pertanyaan pada beberapa pasang mata di sana. Apalagi ketika Diana memilih naik di motor hitam milik Willy. Itu adalah hal yang sangat aneh ketika akhirnya motor mereka bergerak menuju arah yang sama.
“Menurut kamu mereka iu kayak gimana sih?” Tanya Silvi pada Salim yang masih melongo melihat pemandangan yang baru saja ia lihat.
“Aku gak ngerti deh,” Ucap Salim sambil memegang kepalanya. Salim yakin hubungan mereka pasti sangat rumit.
.
.
Author’s cuap:
Eh, si Mario ngikutin Diana ama Willy ya?
Mario : Iya thor.. Aku gak percaya sama Willy. Jangan-jangan pacar aku gak dipulangin..
Author : Eh, emang masih status pacar?
Mario : Bikin “masih pacar” aja ya thor, please...
Author : Hahahahaaa... wani piro???