
#112
Menuju Kompetisi - Panggilan Manis (part 4)
Diana celingukan di dalam bis mencari kursi kosong.
"Duduk sini Di," Ucap Ari yang langsung berdiri mempersilahkan Diana untuk menempati kursi kosong disampingnya.
Diana masih terdiam. Dia merasa sungkan duduk bersebelahan dengan pelatih tampan itu. Apalagi kedekatannya dengan Ari sudah menimbulkan gosip dikalangan teman-teman satu kontingen.
Sepertinya tidak ada pilihan lain. Semua peserta perempuan sudah duduk berpasangan. Sisanya hanya beberapa bangku kosong yang diisi oleh peserta laki-laki salah satunya barisan kursi milik kak Ari.
"Makasih kak," Ucap Diana yang akhirnya mendapatkan kursi dekat jendela disamping kakak pelatihnya itu.
"Deg deg-an gak?"
Diana melongo bingung dengan pertanyaan ambigu dari Ari. "Deg deg-an apa? Deg deg-an gara-gara duduk samping kak Ari?" Batin Diana.
"Dulu waktu pengalaman pertama ikut kompetisi di luar kota kayak gini, kakak sempet gak bisa tidur selama karantina. Alhasil waktu hari H malah gak bisa maksimal. Jadi buat kamu, manfaatkan waktu istirahat nanti dengan sebaik-baiknya ya, " Tutur Ari.
"Kamu kalau perlu sesuatu, hubungi kakak aja.Gak perlu sungkan."
"Iya, makasih kak." Ucap Diana membalas senyum manis kakak pelatihnya itu.
Diana merasai sesuatu yang bergetar di tas selempang kecil miliknya. Hapenya berdering.
"Super Mario?" Gumam Diana membaca nama kontak yang menghubunginya.
"Ini kan masih jam sekolah. Dia bawa hape ke sekolah? Atau gak masuk sekolah?" Batin Diana.
"Angkat aja Di, siapa tau penting." Ucap Ari mempersilahkan.
"Iya, aku angkat telpon dulu ya kak.."
Diana lantas meletakkan hapenya di telinga kirinya.
"Halo, " Ucap Diana menyapa suara di seberang.
"Halo yank, kamu lagi ngapain sekarang?" Ucap suara diseberang.
"Aku lagi di dalam bis. Perjalanan ke asrama atlet. Ada apa telepon aku? Bukannya ini masih jam sekolah? Kamu bolos ya?" Jawab Diana.
"Lagi kangen aja. Kamu gak kangen yank?"
Diana berdecak kesal. Bisa-bisanya dia menggodai Diana di saat seperti saat ini.
"Eh, kamu kok gak protes sih aku panggil yank? Kalau gitu fix mulai sekarang aku panggil kamu sayang ya.." Terdengar suara Mario cekikikan di sana.
Diana sudah mengepalkan genggamannya karena geram. Samar-samar pipinya mulai nampak merona. Perasaannya mulai bercampur aduk. Ada kesal, malu, tapi berbunga-bunga.
"Di, "
Diana benar-benar terkejut ketika Ari mencolek lengannya.
"Snack kamu nih.." Ucap Ari memberikan sekotak jajanan dan air mineral.
"Makasih kak,"
"Kak?" Ulang suara diseberang telepon.
"Kak siapa?"
Deg,
"Mam pus! Mario pasti gak suka kalau tau aku duduk di samping kak Ari." Batin Diana.
"Eh, kenapa aku peduli sama perasaan dia sih?"
"I-ya, kak Ari. Kamu inget kan?" Jawab Diana sambil terbata dan cengengesan.
"Eh, nanti sambung lagi kalau aku udah sampai aja ya.. da.. " Ucap Diana cepat-cepat memutus panggilan sebelum Mario sempat menjawab perkataannya.
Tut.. tut..
"Kenapa? Habis Jawab telpon kok mukanya bete?" Tanya Ari yang melihat perubahan mood pada gadis di sampingnya.
"Enggak kok kak, lagi agak ngantuk aja. Soalnya tadi bangun pagi banget." Jawab Diana asal.
"Ya udah istirahat aja dulu. Perjalanan juga masih panjang." Ucap Ari sambil memasang headset di sebelah telinganya.
"Mau?" Ucapnya menawarkan sebelah headsetnya pada Diana.
"Gak usah kak, aku juga punya kok." Ucap Diana sambil menunjukkan headset miliknya.
Diana mencoba terpejam sambil memikmati musik dari sebuah micro sd yang berisi lagu-lagu pemberian dari Mario.
Ah, lagi-lagi pemuda itu yang terus bergentayangan di pikiran Diana.
Cling,
*Di, km hati2 dsna.
Kbari aq klo lagi senggang.
Smangat y, smoga smua lancar
Diana mengernyit heran menbaca pesan dari kontak Super Mario itu. Dia pikir pemuda itu akan mengamuk, ternyata tidak. Namun dari gaya penulisan pesannya, terdengar tidak seperti biasanya.
*Makasih Mario
Km gk marah kan?
Kirim,
"Sial! Kenapa aku peduli dia marah atau enggak?" Batin Diana yang merasa heran pada dirinya sendiri.
Cling,
*Enggak yank :-* (emoticon cium)
Diana tersipu malu membaca pesan terakhir dari Mario. Dia berusaha keras menyembunyikan senyum dengan mengalihkan wajahnya menatap pemandangan diluar jendela. Lagu-lagu cinta yang ia dengarkan saat ini yang sambil ia nyanyikan dalam hati seolah membuat bayangan pemuda itu begitu nyata disisinya saat ini.
Mario, bila dengan membagikan lagu-lagu cinta yang engkau dengarkan untuk Diana adalah caramu membuat gadis itu selalu mengingatmu, kau sangatlah berhasil melakukannya.
"Gimana?" Tanya Abdul sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Benar kata kamu Dul, dia gak ada protes ataupun marah. Malahan dia kayak takut kalau aku yang marah." Ucap Mario tersenyum senang sambil menyimpan hape dalam tasnya.
"Cewek itu ibarat air Mar. Semakin kamu berusaha menggenggamnya, dia akan semakin mencari celah untuk keluar. Biarkan aja dia mengalir. Jangan mudah emosi." Tutur Abdul menasihati sahabatnya yang begitu labil.
"Gile lu Dul, kalau ngomong udah kayak pakar cinta aja. Kamu sendiri gimana sama si Hera?"
Abdul menghela nafas pelan. "Masalah aku lebih kompleks Mar, udah menyangkut suku dan ras. Tapi aku enjoy aja lah.. Anggap aja teman rasa pacar. Hehehe.."
"Parah kamu Dul. Itu sama aja gantungin hubungan." Ucap Mario yang turut menertawai jalan pikir sahabatnya itu.
"Santai Mar, kita masih SMP. Perjalanan kita masih panjang. Akan banyak cewek cantik yang kita kenal nanti. Jangan cuma terpaku sama Diana." Ucap Abdul menggodai Mario yang sudah geleng-geleng kepala.
"Terserah lah Dul, konsultasi hati sama kamu malah sesat jadinya." Ucap Mario yang bangkit dan mulai berjalan menjauh meninggalkan Abdul yang masih cekikikan.
"Eh kok pergi sih? Mau kemana?"
"Bo ker. Mau iku?" Jawab Mario tanpa mengalihkan pandangannya.
...
Setelah melalui berbagai rangkaian acara penyambutan sekaligus konferensi mengenai teknis pertandingan, akhirnya Diana baru dapat merebahkan diri di kasur setelah pukul delapan malam.
Diana menonton televisi sendiri di kamar. Dua teman sekamar Diana sedang pergi keluar untuk nongkrong di cafetaria yang berada di lantai dasar, meninggalkan Diana yang menolak ajakan mereka dan lebih memilih untuk beristirahat di kamar.
"Iya Ayah.." Ucap Diana yang melakukan panggilan telepon dengan keluarganya. Nasihat Ayah dan Mama, celotehan Tania, belum genap satu hari rasanya sudah begitu merindukan mereka.
Selang beberapa menit Diana menutup panggilan telepon dari sang Ayah, hepenya kembali berdering oleh panggilan dari kontak bernama Super Mario.
Diana menepuk sendiri jidatnya ketika ia melupakan janjinya untuk memberi kabar setelah sampai di asrama.
"Ah, memangnya dia sepenting itu sampai aku harus laporan?" Batin Diana menertawai pemikirannya sendiri.
"Halo.." Ucap Diana dengan mode galak seperti biasanya.
"Ya ampun Di, gak bisa kalem dikit apa? Aku kaget tau.." Ucap suara di seberang.
"Biasanya juga kayak gini. Ngapain pake kaget?" Ucap Diana.
"Kamu katanya mau ngabari aku kalau udah sampai asrama. Aku kan nungguin jadinya. Mana dari tadi telponnya sibuk mulu." Mario menggerutu di seberang sana. Ia sudah gelisah sedari tadi.
"Tadi Ayah telpon." Jawab Diana singkat.
"Owh, kamu udah mandi belom?"
Wew,
Kening Diana mengerut dalam mendapatkan pertanyaan nyeleneh dari pemuda itu. Rasa kantuk yang mulai menghampiri mendadak lenyap entah kemana.
"Heh, biasanya orang nelpon nanya udah makan belum? Lah ini nanya mandi?"
Terdengar suara pemuda itu terkekeh di sana.
"Mandi itu penting untuk kebersihan dan kesehatan. Makanya jangan sampai kamu melewatkan mandi sebelum tidur biar tidurnya juga nyenyak."
Bibir Diana spontan menyunggingkan senyum mendengar pemuda itu berbicara panjang lebar menasihatinya. Sebuah ungkapan perhatian yang membuat hati Diana berdesir senang.
"Lagian kalau urusan makan kamu gak perlu diingatkan sudah pasti gak akan terlewat, ya kan.. Kan kamu hobinya makan, hahaha... " Ucap Mario tertawa lepas.
"Sialan!" Umpat Diana yang merasa sudah membumbung tinggi lalu dihempaskan ke palung terdalam.
"Ya udah, kamu istirahat ya.. Besok jadwal kamu pasti masih padat banget."
Mengetahui Mario akan segera menutup teleponnya membuat Diana merasa enggan. Jujur, meskipun pemuda itu menyebalkan, tapi ketika mendengar suaranya terasa sangat menyenangkan. Apalagi kini Diana sedang seorang diri di sebuah kamar yang cukup besar dengan tiga single bed yang dua penghuninya masih pergi entah kemana. Sebuah tempat yang begitu asing membuat Diana merasa takut seorang diri di sana.
"Emm.. Mario," Ucap Diana ragu-ragu.
"Ya?"
"Bisa temenin aku dulu? Teman-teman aku lagi keluar. Aku sendirian di kamar. Aku takut." Ucap Diana malu-malu.
Mario merasa terpaan angin sejuk menguasai rongga dadanya. Dia benar-benar sangat bahagia gadis itu berkata demikian. Merasa dibutuhkan olehnya.
"Kamu mau aku ke sana temenin kamu?" Goda pemuda itu.
"Bukaaan! Maksudnya gk usah dimatikan dulu telponnya." Diana mulai terpancing untuk kesal.
"Iya, iya aku ngerti kok. Gak usah pake teriak juga. Nanti demit-demit di sana malah nyamperin gara-gara terganggu sama suara cempreng kamu."
Hahahaha
Aaarrrgggh...
Diana menggeram kesal mendengar pemuda tertawa lepas setelah membuatnya merasa semakin ngeri berada di ruangan itu sendiri. Ah, sepertinya Diana melakukan pilihan yang salah meminta tolong pada Mario.
"Becanda yank, jangan takut ya.. Mau ditemeni sampai pagi juga aku jabanin." Ucap Mario setelah menghabiskan tawanya, dan ajaibnya itu benar-benar menenangkan Diana.
..."Aku merindu, ku yakin kau tau...
...Tanpa batas waktu, ku terpaku...
...Aku meminta walau tanpa kata...
...Cinta berupaya...
...Engkau jauh di mata tapi dekat di doa...
...Aku merindukanmu"...
Diana memejamkan matanya mendengarkan pemuda itu bersenandung di seberang sana. Meskipun perasaan Diana yang masih meragu pada pemuda itu, namun ia begitu bahagia saat ini.
"Mar, kita cuma temenan kan? Kenapa kamu repot-repot manggil sayang? Nanti fans-fans cewek kamu pada kabur lho," Dan pipi itu merona kala mempertanyakannya.
"Karena aku sayang kamu. Aku gak peduli mereka kabur asal jangan kamu yang pergi ninggalin aku."
Oh Tuhan apa engkau menciptakan bibir kaum Adam dari untaian serat-serat madu hingga ia begitu manis ketika berucap?
"Gak usah banyak gombal kamu. Gak mempan di aku." Ucap Diana berdusta.
"Masak sih? Coba aku video call ya.. Kira-kira pipi kamu merah gak?"
"Eh, eh, jangan! Aku matiin aja deh kalau gitu telponnya." Ancam Diana.
"Hahaha.. Jangan marah dong. Aku masih kangen nih.. Jangan dimatiin dulu."
Diana tersenyum penuh kemenangan. Percakapan ini terdengar sangat menggelikan, tapi mengapa rasanya sangat menyenangkan? Diana benar-benar tak habis tersenyum selama panggilan berlangsung.
Entah berapa lama mereka berbincang melalui panggilan itu. Ini adalah durasi panggilan terpanjang yang pernah Diana lakukan.
...
Author's cuap:
Mau tes gula darah dulu ah,
Kebanyakan nulis Diana-Mario bikin diabetes.
Hahaha..