Titip Salam

Titip Salam
Sejak Kapan Jadi Teman Spesial?



#47


Menu makan malam hari ini begitu spesial. Gurami asam manis kesukaan Diana.


Mila, mama Diana sengaja memasak hidangan favorit anak sulungnya itu sebagai bentuk hadiah atas keberhasilan Diana menyabet medali emas.


"Waah.. mewah nih makan malamnya. Kayak di kondangan." Ucap Tania begitu polos.


"Haduh, kasian banget anak ayah. Mau makan gurami asam manis aja nunggu kondangan dulu. Hehehe.." Ucap Arman, ayah gadis itu sambil mengusap lembut kepala anak bungsunya.


"Ya sudah, ayo makan. Kalau sampai makannya tidak habis, besok mama mogok masak." Ancam Mila sambil bercanda.


"Tenang ma, kalau yang ini sampai tulangnya juga pasti ludes." Jawab Tania.


"Memangnya siapa mau habiskan tulangnya dek?" Lanjut Diana yang bertanya.


"Ayah lah.. Ayah kan makannya paling banyak. Hahaha.." Sekarang ganti Tania yang meledek sang ayah.


Ayah pura-pura ngambek dan berakhir dengan gelitikan yang membuat suasana makan malam semakin ramai dengan tawa bercampur jeritan dari si bungsu Tania.


...


Matahari mulai merayap menuju Barat pertanda telah lewat tengah hari. Panasnya masih begitu menyengat tak menyurutkan seorang Diana untuk berbenah diri bersiap keluar rumah.


"Ehem, udah rapi aja anak gadis." Goda Arman, ayah Diana ketika melihat putri sulungnya keluar kamar.


"Kemaren kan Diana sudah bilang, mau nonton pertandingan final sepak bola sama Hera ayah.." Ucap Diana sambil mengenakan sepatu ketsnya.


"Beneran sama Hera? Bukan sama cem-ceman kamu kemarin?" Lanjut Arman sambil matanya tak beralih dari koran yang dipegangnya.


*Cem-ceman itu salah satu jenis minyak rambut atau hair tonic lokal. Namun istilah tersebut juga ada yang memaknainya lain yaitu berarti gebetan.


"Apaan sih ayah. Belum puas kemarin ledekin Diana seharian. Dia itu bukan cem-ceman atau apapun lah.." Ucap putri sulung itu sambil memanyunkan bibirnya.


"Oh, kalau bukan cem-ceman berarti udah jadi pacar?"


"AYAAAAAH..."


"Hei, hei, bapak anak ini berisik sekali. Sana diteras biar makin rame kalau mau perang. Sekalian biar tetangga datang semua." Ucap Mila, mama Diana menengahi.


"Itu tuh ma.. Ayah godain Diana mulu. Kesel kan jadinya." Rengek Diana.


Mendengar putrinya kesal sang ayah malah cekikikan dibalik korannya. Wajahnya penuh kepuasan mendengar rumahnya ramai bahagia. Ups, yang bahagia cuma ayah lebih tepatnya.


"Makanya, kamu kalau punya teman laki-laki gak usah sembunyi-sembunyi. Kenalin ke ayah. Biar diajak adu catur atau adu panco. Hahaha.." Lanjut ayah.


"Tuh kan ma.. Ayah yang mulai. Mending Diana berangkat aja deh." Diana pun segera mencium tangan mama.


"Bawa kunci rumah ya.. Siapa tau pas kamu pulang kita masih di rumah Eyang." Ucap mama.


"Iya ma.."


Dari mama, Diana beralih pada ayahnya. Ayahnya pun memberikan tangannya untuk disalami putrinya. Tak berhenti sampai di situ Diana menengadahkan tangan sambil tersenyum manis.


"Apa? Mau salaman lagi?" Ucap Ayah pura-pura tidak peka.


"Ayo dong yah.. Jangan pelit sama anak. Tambahin uang sakunya.."


Yah, begitulah ayah dan anak. Akhir-akhirnya uang jajan juga.


...


Pusat Olahraga termasyhur di kota Gresik tampak belum begitu ramai. Seorang gadis sedang berteduh dibawah pohon dekat pintu masuk stadion sepak bola. Itu adalah Diana.


Entah Diana yang terlalu semangat yang datang tepat waktu atau sahabatnya itu yang jam karet membiarkannya menunggu hampir setengah jam.


"Kenapa gak masuk?" Sapa seseorang dari belakang Diana.


Mario sudah mengenakan jersey bola yang bertuliskan logo sekolahnya sedang menenteng beberapa kotak peralatan.


"Nunggu Hera." Jawab Diana singkat.


"Hera? Dia sudah duduk di bench peserta dari tadi." Ucap Mario.


"Loh, kok bisa."


"Iya, tadi bareng Abdul dia. Makanya bisa masuk dari pintu bawah." Terang Mario.


"Wah, resek banget Hera. Kalau udah sama Abdul temennya dilupain." Batin Diana.


"Loh kok. Aku kan belum bilang mau."


"Kelamaan! Kamu pasti maunya nolak." Ucap Mario sambil berjalan mendahului.


Seperti yang sudah ditebak, Diana bermaksud menolak. Tapi karena tangannya sudah dipaksa untuk membawa amanat, apa boleh buat.


"Tau gini, mending aku ke Eyang aja tadi. Awas aja kamu Hera, aku gelitikin sampai kaki kamu nanti." Gerutu Diana sambil terus mengekor Mario. Sementara Mario tampak tersenyum penuh kemenangan.


...


"Her, aku naik ke atas ya.. Mau gabung sama teman-teman yang lain aja. Gak enak kalau disini." Ucap Diana membuyarkan fokus Hera.


"Disini kan enak Di, bangku VVIP. Bisa lihat lebih dekat."


"Malu Her, ini kan bangku khusus panitia atau kerabat peserta. Lah kita kan cuma nonton biasa." Ucap Diana sambil melirik ke atas dimana supporter yang berisikan teman-teman satu sekolahnya berada.


Zahra, Rida, Rosa, dan beberapa lainnya yang ia kenal dan sisanya ia tak mengenali. Bahkan Stefi pun tampak disana. Berberapa dari mereka sesekali tertangkap mata Diana tampak berbisik-bisik sambil menatap sinis pada Diana.


"Kita emang bukan kerabat Di, tapi kita itu termasuk tamu spesial dari peserta." Jawab Hera dengan mata terus menatap lapangan.


"Maksudnya spesial gimana?" Tanya Diana bingung.


"Ya spesial Di. Aku teman spesialnya Abdul. Kamu teman spesialnya Mario. Kita itu penyemangat ngusus."


"Ngaco kamu kalau ngomong. Temen spesial Mario apaan? Tunggu! Kamu? Temen spesial Abdul? sejak kapan?" Tanya Diana menemukan ungkapan yang janggal.


Hera tampak terkejut mendengar pertanyaan Diana. "Aduh, keceplosan." Batin Hera. Dia menoleh pada Diana sambil tersipu malu.


"Hehehe.. Udah ah, gak usah dibahas."


Semburat merah tampak pada pipi Hera. Diana manggut-manggut mengerti. Hera dan Abdul tampaknya benar-benar ada sesuatu.


Beberapa menit kemudian Diana semakin merasa tidak nyaman disana. Dia merasa tidak berhak duduk di area itu. Matanya berkeliling memandang kesana kemari tidak menikmati pertandingan yang begitu seru.


Di sudut yang tidak begitu penuh supporter, dia melihat sosok yang dia kenali.


"Willy, dia nonton juga." Gumam Diana.


Seseorang itu pun balas menatapnya dan melambaikan tangan seolah menyapa.


"Hera, aku ke sana sebentar ya.." Ucap Diana yang langsung berlalu pergi sebelum Hera mencegahnya.


Diana mengambil kesempatan untuk kabur dari Hera dan berjalan mendekat menyapa Willy.


"Hai, Wil. Maaf ya kemarin gak bisa nonton sampai akhir. Udah kesorean." Ucap Diana mengambil duduk di samping Willy.


"Gak apa Di. Makasih udah sempetin nengok kemarin. Aku yang minta maaf gak nonton kamu tanding. Habisnya, aku gak tau kalau kamu ikutan kompetisi juga. Aku baru dapat infonya pas udah jalan kamu masuk final." Tutur Willy merasa tidak enak.


"Gak masalah Wil. Malah kamu orang pertama yang ngasi aku hadiah kemenangan. Makasih ya.."


Willy tersenyum puas. Meskipun dia mendapat informasi di menit-menit terakhir, gerakan cepatnya dengan langsung membawa hadiah untuk Diana memberikan kesan tersendiri pada gadis itu.


"Oh ya, kemarin hasilnya gimana? Dapet juara berapa?"


"Coba tebak?" Willy malah balik bertanya.


Willy dan Diana tampak asik dengan obrolan mereka sendiri. Sorak sorai para supporter bola seolah tak menarik minat mereka untuk fokus menikmati pertandingan.


Mario yang beberapa kali mencuri pandang ke tempat dimana Diana semula duduk mulai hilang fokus ketika tak menemukan gadis itu di sana.


"Kemana dia? Masak udah pulang?" Gumam Mario dalam hati.


...


Author's cuap:


Kalau Diana kan gak fokus nonton bola karena ngobrol, kalau akutuh gak fokus kalau ada makanan..


hahaha gimana dong ya..


Beda kalau ama bunga kopi dari kalian ya..


Bikin author makin fokus lanjutin ceritanyaa


So, like comment vote ya..