Titip Salam

Titip Salam
Saembara Papan Catur Ditutup



#97


Saembara Papan Catur Ditutup


Dikawasan Alun-alun kota, dua anak manusia sedang duduk berdampingan di bawah rindangnya pohon. Mereka duduk ditemani es kopi di tangan masing-masing dengan kerumitan perasaan yang merupakan pengalaman baru bagi mereka.


"Mungkin Mario punya alasan." Ucap Willy setelah akhirnya Diana bercerita singkat.


"Alasan apa? Aku aja yang terlalu mudah terbawa perasaan." Jawab Diana.


"Mungkin kamu memang satu sekolah dengan Mario. Tapi aku lebih dulu mengenalnya dari pada kamu."


"Dari matanya aku bisa lihat ketulusannya. Tapi aku juga gak tau apa yang membuat dia berubah secepat itu."


Diana menghela nafas beratnya. "Kamu jangan bikin aku seolah punya harapan dong Wil. Aku pingin hidup aku kayak dulu aja. Tenang, gak ada beban." Ucap Diana yang tampak begitu lelah.


"Kenapa gak kamu aja ya Wil? Kenapa aku gak naksir kamu aja ya?" Lanjut Diana sambil cemberut menatap pemuda yang terkekeh dengan ucapannya.


"Aku tau kamu sebetulnya juga naksir aku. Cuma kamu belum nyadar aja. Xixixi.."


"Cowok cakep gini, masak iya kamu gak tertarik."


Wajah Diana berubah merengut. "Pede banget sih kamu!" Ucap Diana menoyor pelan pundak Willy sambil ikut terkekeh.


"Gitu dong, senyum ketawa. Kamu jelek banget kalo merengut." Ucap Willy sambil mencubit hidung Diana yang kembali merengut dikatakan jelek.


"Pulang yuk, nanti orang tua kamu khawatir kalau kelamaan di sini." Ucap Willy yang sudah bangkit dari duduknya sambil mengulurkan tangan pada gadis yang malah bengong menatap telapak tangan di depan matanya.


Diana tersenyum dan menyambut uluran tangan itu, lalu melepasnya setelah ia berdiri dengan tegap.


"Udah lega sekarang?" Ucap Willy yang kemudian menyeruput habis minumannya.


Diana mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya Wil udah mau jadi tempat sampahku. Makasih juga buat es kopinya."


"Sial! Cowok cakep gini dikata tempat sampah?"


Diana kembali tertawa. Seolah beban berat sedikit terlepas dari pundaknya. Rasanya benar-benar lega.


"Nanti aku bantu ngomong ke Ayah kamu masalah POR Prov, gimana?" Ucap Willy sekembalinya mereka ke parkiran motor.


"Emang kamu berani?" Tanya Diana meragukan.


"Mau taruhan?" Tantang Willy.


"Emmm.. Boleh." Jawab Diana.


Willy tampak berpikir sejenak tentang reward apa yang ia jadikan taruhan saat ini. Senyumnya terbit ketika terpikirkan satu hal yang begitu menarik.


"Oke, kalau aku berhasil kita kencan." Willy mengulurkan tangan menunggu Diana berkata sepakat.


"Kamu jadi pacar aku selama satu hari."


Diana semakin terbelalak mendengar ucapan Willy.


"Waktu untuk mengembalikan formulir cuma tiga hari lho.. Atau kamu mau ikut tahun depan aja kalau Ayah kamu gak bisa kamu rayu?" Willy berusaha memanas-manasi Diana yang sungguh-sungguh ingin mengikuti kompetisi itu.


"Deal!" Diana menyambut jabat tangan Willy dengan genggaman yang begitu mantap. Ada gemuruh di dadanya ketika harus membayangkan menjadi pacar seorang Willy meskipun hanya satu hari. Namun ambisinya untuk ikut kompetisi tingkat provinsi mengalahkan segalanya.


Willy sempat terkejut, namun kemudian dia tersenyum senang. Kini ia harus memutar otak dengan super ekstra cepat memikirkan cara untuk dapat membicarakannya dengan Ayah Arman sebentar lagi. Willy tampak sangat bersemangat.


.


Sementara itu di sebuah pelataran rumah seorang pria sedang membelai mesra tongkat panjang joran pancing kesayangannya. Bahkan sang istri sampai dibuat cemburu karena sedari pagi suaminya itu sudah berkutat dengan peralatan pancing miliknya sampai melupakan sarapan.


Namun kesibukan sang istri dengan kue kue basah pesanan pelanggan telah menyelamatkannya dari amukan sang Permaisuri. Hobi yang satu ini bisa mengalahkan rasa lapar yang melilit perutnya.


Vroom... vrooom.. klek,


Motor nyentrik hitam mengilat berhenti di area teritori Arman. Dia celingukan mencari tau siapa gerangan yang datang.


Seperti dugaannya, pemuda itulah yang datang. Pemuda yang beberapa kali hilir mudik bertandang kerumahnya dengan alasan pelanggan kue buatan istrinya. Namun sebagai seorang senior yang dulunya juga pernah menjadi anak muda, tentu dia dapat mengendus modus lain sang pemuda. Apalagi kalau bukan salah satu bidadari yang menghuni rumahnya.


"Ayo Wil, aku bikinin jus jumbo ya?" Ucap Diana segera mempersilahkan Willy masuk.


"Gak usah Di, udah kenyang sama es kopi tadi. Air putih aja deh." Jawab Willy.


Arman langsung berdiri dan membenarkan posisi sarungnya mendengar suara putrinya juga turut berada di sana.


"Lah, kok Diana bisa bareng tuh bocah?" Gumam Ayah Arman.


Willy dan Diana berjalan mendekat. Diana menyalami sang Ayah yang juga diikuti oleh Willy.


"Kalian kok bisa barengan?" Tanya sang Ayah tanpa basa basi.


"Tadi gak sengaja papasan waktu aku nungguin angkot. Karena Willy bilang mau ambil kue ke rumah, ya udah sekalian aja deh barengan." Jawab Diana.


Willy terkekeh pelan. Sudah beberapa kali ke sana, dia mulai terbiasa berhadapan dengan Ayah Arman. Namun rasa deg deg an tentu selalu ada. Hanya saja, sikap Ayah Arman sudah tidak semenyeramkan pertama kali dulu. Mungkin karena Willy datang dengan lebih persiapan sekarang.


"Ya gak lah Om, masak mau dijadikan jaminan. Nanti malah gak dibalikin sama pak polisinya, saya juga yang repot." Canda Willy yang sontak mendapat pelototan dari gadis itu.


"Ayah, ini formulir POR Prov nya, aku taruh meja ya.." Ucap Diana meninggalkan amplop coklat dari kak Ari sepulang latihan.


Belum sempat sang Ayah berkata Diana langsung melenggang masuk ke dalam rumah.


"Aku ambil pulpennya dulu.." Ucapnya sambil berlalu.


Sang Ayah menggelengkan kepalanya. Putrinya terlihat begitu sungguh-sungguh namun ia masih penuh pertimbangan mengingat kompetisinya berlangsung di luar kota.


"Diana semangat sekali ya Om.. Aku yakin dia pasti bisa berhasil. Dia kalau sudah bertekat benar-benar berusaha maksimal. Om pasti bangga banget kalau bisa lihat Diana tanding apalagi naik podium." Ucap Willy membuka pembicaraan. Misinya dimulai.


"Hmm.." Hanya itu tanggapan sang Ayah.


"Kamu gak mau duduk? Berdiri aja gak capek?"


Willy meringis dan duduk di kursi kosong berhadapan dengan Arman.


Udah jago main catur belum?" Tantang Ayah Arman.


"Boleh dicoba lah Om.."


Dan permainan pun dimulai.


Arman seperti menemukan lawan sebanding. Pemuda di depannya itu seolah begitu mengejutkan di permainan terakhir kemarin.


"Om pernah lihat Diana tanding?" Ucap Willy yang masih terus berusaha.


"Belum." Jawab Arman singkat sambil terus memperhatikan permainan caturnya.


"Coba deh sekali-sekali om nonton. Keren banget. Diana gak cuma mengandalkan otot, tapi pakai strategi juga. Dia bahkan bisa menumbangkan cowok." Willy terus mengagung-agungkan kemampuan Diana. Yah, meskipun beberapa persen membual.


"Emang kamu pernah lihat? Kamu kan beda sekolah." Rupanya Ayah Arman tak semudah itu tertipu.


"Tau lah Om, aku lihat waktu lomba di POR Kab kemarin. Sayang banget kalau sampai gak lanjut ke POR Prov."


Arman tak bersuara. Dia diam namun mencerna tiap kata pemuda dihadapannya. Dia memang tidak pernah memandang proses jungkir balik putrinya sehingga ia pun turut membanggakan prestasi putrinya pada semua orang.


Dan sekarang dia bersikeras melarang putrinya untuk melanjutkan ikut beladiri hanya takut sekolahnya terganggu mengingat putrinya telah berada di tahun terakhir sekolahnya? Egoiskah dia bila tak memberi kesempatan dan membiarkan putrinya mengubur potensi yang dimilikinya?


"Skak mat!"


Arman melongo menatap buah catur rajanya telah di desak dari segala arah.


"Sialan! Dia berhasil menang." Batinnya sambil menyunggingkan senyum.


"Dapat salam dari Om Toni." Ucap Willy setelahnya.


"Toni?" Arman berpikir sejenak berusaha mengingat nama yang disebutkan oleh Willy.


"Ah, ya.. ya.. Aku ingat. Dia pemain catur yang cukup handal. Kau berguru sama dia?"


"Segitu pinginnya kamu jadi pacar anakku?"


Pertanyaan pamungkas langsung skak mat dari Arman. Willy meringis malu-malu.


"Ya gak gitu juga sih Om, saya jadi penasaran aja. Kebetulan kenal Om Toni, sekalian diajari trik-trik nya."


"Oh, gitu. Padahal Om baru aja mau kasih ijin. Batal deh kalau gitu."


Wew,


"Eh, jangan batal dong Om," Sanggah Willy spontan dengan mata berbinar.


Bibir Arman berkedut menahan senyum. "Kalau udah batal ya gak bisa ditarik lagi." Senyum kepuasan tersungging di bibir Arman yang diikuti dengusan kekecewaan dari pemuda di depannya.


Satu hal hikmah yang ia petik disini. Jangan basa basi dengan seorang Arman.


...


Author's cuap:


Amsyooong deh Ayah


Nyeraaaah nyeraaaah


Sorry slow up ya.. author lagi mudik ke kampung. sinyal susah, gak ada wifi, haish...


yang penting kalian readers sayang terus support yaaaa


Terimakasih sudah mwmbaca