Titip Salam

Titip Salam
Peran



#78


Peran


Ujian hari terakhir berlangsung dengan begitu lancar dan terlihat wajah-wajah bahagia seolah beban berat baru saja lepas dari pundak mereka. Mata pelajaran yang diujikan hari terakhir merupakan mata pelajaran muatan lokal yang kategori tidak begitu sulit.


"Okeh, PENSI Minggu depan kelas kita bakal nampilin apa? Ada yang punya ide?" Ucap Rizki sang ketua kelas mulai memimpin rapat kelas.


"Gimana kalau drama aja? Biar bisa banyak yang ikut partisipasi?" Ucap salah satu teman memberi usulan.


"Boleh juga, ada usulan lain?"


"Setuju drama aja, tapi dibikin ada nyanyinya dikit ya. Biar makin keren." Ucap teman yang lain lagi.


"Okeh, kalau semua setuju kita sekarang bahas konsep dramanya."


Disanalah Diana terjebak dalam rapat kelas membahas konsep drama untuk dipentaskan di acara PENSI tahunan dalam rangka ulang tahun SMP 15. Apalagi, Diana mendapatkan sebuah peran dalam drama akibat Zahra yang bersikeras meyakinkan seluruh teman sekelas untuk setuju menjadikan Diana sebagai tokoh utama.


"Diana ini udah jadi icon kelas kita. Dia lagi anget-angetnya diperbincangkan. Jadi, bakal menarik perhatian banget. Kesempatan kelas kita bisa menang akan semakin besar."


Diana sudah melotot seram sampai matanya mau lepas mendengar Zahra yang terus berkoar-koar.


"Ayolah Di, jangan apatis gitu. Ini akan jadi PENSI terakhir kita di SMP ini." Ucap Hera yang akhirnya meluluhkan kerasnya Diana, meskipun masih setengah hati menerimanya.


"Her, Di, ke belakang yuk.. Kayaknya ekskul bola gak libur deh. Kita nonton abang cakep. Hihihi.." Ucap Zahra mengajak dua temannya itu setelah rapat kelas usai.


"Ayok, ayok," Ucap Hera bersemangat.


"Aku tunggu Rizki dulu aja ya. Sekalian naskah kalian aku bawain. Kasian udah berangkat copy naskah, ditambah nyariin kita, kan capek dia." Jawab Diana.


"Ya udah deh, sekalian kalau lihat Rida selesai rapat OSISnya, ajak ke belakang juga ya.." Ucap Zahra yang dijawab anggukan oleh Diana.


Tinggallah Diana, duduk di selasar kelas, bersama beberapa teman lain yang menunggu sang ketua kelas memberikan copy naskah untuk segera dipelajari mengingat waktu persiapan PENSI yang hanya beberapa hari lagi.


Diana mengeluarkan benda mungil yang membuatnya bermimpi sesuatu yang dapat dikategorikan mimpi yang indah. Benda yang sedari tadi ia kantongi namun takut mengeluarkannya. Maklum, ada rekaman suara Mario didalamnya. Kalau sampai teman-remannya tau, auto gempar.


Tak Ada yang Bisa - Andra and The Back Bone mode on


*Saat ku pejamkan kedua mataku


Diana turut memejamkan matanya, meresapi lagu yang dapat ia mengerti maknanya itu.


*Dan kubayangkan, Di sampingmu


Yah, otak Diana benar-benar bekerja membuat fantasi nyata dalam pikirannya mengikuti syair lagu. Diana duduk di bawah pohon yang rindang, di sampingnya, tepat seperti mimpinya semalam. Diana menghadirkan bayangan Mario di imajinasinya.


*Kurasakan s'lalu, Hangatnya pelukmu, Itu..


Diana memang tidak tau rasanya pelukan itu, tapi sensasi hangat menjalar ditubuhnya. Bayangan Mario yang memasangkan jaket dikala terjebak hujan waktu itu..


Ah, Diana kau sedang tersenyum dalam fatamorgana saat ini.


*Dan kugenggam lembut kedua tanganmu


Diana pernah merasakan genggaman itu. Tidak sekali dua kali, namun yang benar-benar membekas adalah genggaman tangan pada final sepak bola tingkat SMP beberapa minggu lalu. Tiga goal yang dibayar lunas oleh seorang Mario pada Diana.


*Seakan takut, Kehilanganmu..


Wajah sendu Mario ketika meminta maaf, wajah kecewa ketika sepulang dari acara di GOR Kota ketika dirinya tidak bisa mengantar Diana pulang, karena orang lain yang telah mendapat amanat lebih dulu untuk mengemban tugas itu. Apakah perasaan takut kehilangan dan ketidak berdayaan yang membuat sendu pemuda itu?


*Kuingin selalu, Hatimu untukku


Tak ada yang bisa, Menggantikan dirimu


Tak ada yang bisa membuat diriku,


Jauh darimu..


Diana merasa ada sesuatu yang leleh dari matanya. Lolos meluncur begitu saja. Namun Diana tetap terpejam membiarkan sebutir titik embun itu membasahi pipinya.


"Mario, lagu ini terlalu dalam. Aku tidak berani memaknainya sebagai perasaanmu. Aku takut terlalu percaya diri." Batin Diana sambil terus terpejam dengan telinga yang tertutup headset di kedua sisinya.


"Di, " Seseorang menepun pundak Diana.


Eh,


"Kamu habis nangis?" Ucap seseorang itu yang ternyata adalah Rida.


"Ah, Enggak! Nangis apanya?" Ucap Diana spontan membersihkan sisa lelehan air mata dipipinya.


"Bohong! Kalihatan banget mata kamu basah." Ucap Rida tidak percaya.


"Oh, aku habis menguap. Ngantuk banget sampe air matanya netes saking ngantuknya. Hoaaaahmm.." Diana berpura-pura menguap agar Rida percaya.


Rida hanya memicingkan sebelah bibirnya pertanda heran pada kelakuan aneh temannya.


"Kamu bukan aktris yang bagus Di. Akting kamu jelek banget." Ucap Rida yang masih tidak percaya.


"Itu apaan?" Tanya Rida ketika pandangannya menemukan sebuah mp3 player di tangan Diana.


"Bukan apa-apa kok, hehe.. Cuma mp3 player. Tapi baterainya udah habis." Ucap Diana sambil cepat-cepat memasukkan benda itu dalam tas.


"Lihat dong, pelit amat sih!" Ucap Rida kesal karena Diana seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


"Eh, itu Rizki. Aku ambil naskah dulu ya, sebentar." Diana memilih cepat-cepat kabur menghampiri sang ketua kelas yang baru muncul dari arah gerbang. Sebetulnya hal itu tidak perlu, toh sang ketua kelas akan berjalan ke arah yang sama di mana Diana duduk tadi.


"Diana nyembunyiin rahasia apa ya?"" Batin Rida yang menangkap gelagat aneh temannya itu.


-


Semntara di lapangan belakang, Zahra dan Hera tetap bersemangat teriak menyemangati sang jagoan lapangan, meskipun Zahra dirundung kecewa karena Mario belum muncul batang hidungnya.


"Her, tanyain Abdul dong, Mario datang latihan gak? Kalau enggak, ya kita pulang aja. Ngapain disini, gak ada.yang sedap ditonton.


"Mana bisa nanya, kan Abdul masi main di lapangan." Ucap Hera sambil terus bertepuk tangan.menyemngati.


Diana dan Rida berjalan beriringan menyusuri lorong panjang dengan pintu kelas di sisi kiri, dan sebuah taman dengan pohon yang rindang di sisi kanan. Mereka berdua sedang menuju lapangan belakang menyusul Zahra dan Hera yang sudah lebih dulu kesana.


Mereka sedang asik membolak-balikkan halaman naskah sambil ketawa ketiwi menertawakan bagian-bagian yang kocak.


"Paraaah! Ini ide siapa bikin naskah kayak gini?" Tanya Rida yang terus tertawa membaca naskah drama di tangannya.


"Itu hasil campur tangan banyak orang. Tapi khusus bagian yang menyengsarakan aku nantinya asalah buah pemikiran si Zahra dan Rizki." Ucap Diana yang kesal membaca dialognya.


"Mereka itu cocok. Sama-sama somplak! Hahaha" Ucap Rida menimpali.


"Tunggu!" Rida menghentikan langkahnya tiba-tiba.


Sayup-sayup terdengar suara seseorang bersenandung dari lorong arah kanan yang sepi.


Hmm hmm hmm


"Di, kamu denger sesuatu gak?" Bisik Rida berhenti di dekat persimpangan lorong.


"Denger juga sih, tapi siapa ya yang nyanyi-nyanyi di sana? Kayaknya sepi banget." Jawab Diana yang mulai begidik ngeri mengingat lorong sisi kanan itu banyak pohon rindang yang membuat pencahayaan matahari tampak teduh namun suram.


"Liat yuk,"


Diana sontak menggeleng. "Gak mau," Ucapnya.


...


Bersambung


Author's cuap:


Yah, Diana si jagoan beladiri di arena harus jujur mengibarkan bendera putih untuk hal-hal yang tak kasat mata.


Sama dong ma author, bedanyabauthor udah gk bisa bela diri, penakut pula hahahaha


Suara apaan sih itu?


Eh, betewe..


kalian pada komen2 ya


sekolah kalian dulu serem gak sih?