
Senja yang padat ditengah kota. Keindahan matahari terbenam tenggelam dalam hiruk pikuk lalu lintas mengingat saat itu adalah jam pulang kantor atau jam pergantian antara shift satu dengan shift dua.
Arman keluar dari kantor tempatnya bekerja menuju area parkir, mengambil motor matic yang menjadi kendaraannya menuju ladang mencari nafkah. Bukan ladang sih, tapi sebuah pabrik di kawasan industri kota tempat tinggalnya.
Angin sore yang semilir menemani pria yang sudah tidak muda lagi itu dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Melewati kawasan olahraga terbesar dikota itu, dia teringat akan anak sulungnya yang sedang berlaga disana.
"Bagaimana hasil pertandingannya ya? Tadi bilangnya sudah sampai tahap semi final." Gumamnya.
Suasana di kawasan itu nampak tak begitu ramai. Mungkin acara sudah selesai mengingat anaknya mengatakan pertandingannya dimulai sejak pukul sepuluh pagi ketika dia berpamitan tadi pagi.
"Maaf ya nak, ayah tidak bisa nonton kamu tanding. Ayah harus kerja." Batinnya.
Perjalanan Arman tertunda sesaat untuk berhenti sejenak menunggu lampu lalu lintas menyala hijau. Sesekali dia melambaikan tangan menyapa rekan yang sedang singgah di warung kopi dekat sana.
Posisinya yang berada belakang beberapa pengendara motor membuat pemandangannya hanya punggung-punggung pengendara motor lain yang berada di depannya.
"Eh, kayak kenal sama ransel dan jaket itu." Gumam Arman menatap seorang penumpang motor yang berada cukup jauh di depan.
Rasa penasaran menguasainya, membuatnya perlahan melipir sedikit keluar jalur sebelah kanan untuk mendekati pemilik punggung yang tidak asing baginya. Tak lupa dia membunyikan klakson patah-patah tanda menyapa untuk menarik perhatian orang yang dimaksud.
Ketika jarak semakin terkikis hingga tepat berada di samping motor yang dimaksud, dia seperti mendapat kejutan.
"Eh, ternyata benar kamu, Diana." Sapa Arman setelah yakin mengenali orang tersebut.
Orang yang namanya disebut sebagai Diana itu menatap sumber suara. Matanya langsung melotot seperti mau keluar dari kelopaknya.
Dia benar-benar Diana. Dari ekspresi yang terpancar, sepertinya gadis itu tak kalah terkejutnya dengan Arman.
"A-Ayah.." Ucap Diana terbata.
"Hah? Ayah?" Ucap seseorang di depannya dengan spontan. Siapa lagi kalau bukan Mario.
Seketika tubuh Diana seperti tersengat listrik. Kaku tak berkutik.
"Matilah aku.. Pake ketemu ayah segala.." Batin Diana.
Mario menoleh menatap pria yang disebut ayah oleh Diana. Kumis yang cukup sangar dari seorang Arman membuat Mario ciut. Dia tidak belum mempersiapkan diri untuk situasi seperti ini.
"Om-ayah.." Sapa Mario berusaha ramah.
"Hmm.." Jawab Arman dengan anggukan.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Mau tidak mau ketegangan itu harus ditunda karena motor mereka harus segera melaju melewati perlintasan. Mario memilih mengekor motor ayah Diana sambil otaknya berpikir keras mempersiapkan segala jawaban bijak apabila ditanya-tanya nanti.
Arman menepikan motornya di area yang dirasa aman untuk berhenti. Motor Mario berada tepat di belakangnya.
Diana segera melompat turun setelah Mario memarkirkan motornya.
"A-ayah ba-ru pulang ya?" Diana nampak begitu gugup. Dia mendekat dan mencium tangan ayahnya. Wajahnya sudah pucat seperti maling ayam yang tertangkap warga.
"Om-ayah, saya temannya Diana." Ucap Mario yang langsung ikut mwncium tangan Arman, ayah Diana. Mario pun tak kalah gugupnya. Sepertinya ini seratus kali lipat lebih menegangkan dari pada ditilang polisi.
"Siapa nama kamu?" Tanya Arman dengan suara barritone yang terdengar begitu mengerikan di telinga dua anak muda didepannya.
"Mario om-ayah." Jawab Mario dengan wajah dipaksakan tersenyum.
"Panggil aja om, gak usah di dobel om-ayah gitu. Om Arman saja."
Dimata Mario wajah Arman begitu mengintimidasi seolah menginginkan penjelasan dari apa yang dilihatnya saat ini. Anak perempuannya sedang tertangkap berboncengan dengan teman laki-lakinya.
"Iya om Arman, tadi saya ngasi tumpangan Diana dari tribun, dari pada jalan sedndirian. Kalau Diana gak keberatan niatnya saya mau antar sampai rumah." Terang Mario dengan begitu sopan.
Mendengar penjelasan Mario, Diana malah dibuat semakin tegang.
"Sialan Mario! Ngapain pake ngomong mau nganter sampe rumah." Batin Diana sambil melirik tajam pada pemuda yang tampak mengkerut di depan ayahnya itu.
"Oh, gitu. Itu ada bunga dari kamu juga?" Tanya Arman lagi sambil melirik kantong plastik yang dibawa Diana.
Mario ikut melirik kantong plastik di tangan Diana. Tampak jelas isinya buket bunga dan boneka.
"Bukan yah, dari temen yang lain." Jawab Diana memotong pembicaraan.
Mario melirik Diana sesaat. "Dari teman yang lain? Siapa? Apa dari dia?" Batin Mario.
Arman manggut manggut dengan wibawa. Lagi-lagi matanya menelisik pemuda yang tampak sudah berkeringat dingin namun bibirnya dipaksakan tersenyum.
Sungguh ini tidak seperti Arman biasanya. Dirinya yang sekarang seolah ingin menunjukkan kharisma seorang ayah yang sedang melindungi putrinya. Padahal dalam hati dirinya sudah tertawa terpingkal-pingkal menlihat dua anak muda bak terciduk satpol PP.
Dasar ayah Diana. Bisa aja ngerjain Mario dan Diana sampai udah mau kejang saking tegangnya mereka. Ayah seperti tidak pernah muda.
"Ya udah, kalau gitu anterin aja sampai rumah ya.." Ucap Arman sambil berbalik mulai menaiki motornya.
"Hah?" Mario tampak linglung mendengar perkataan ayah Diana.
Dua anak muda itu saling berpandangan heran.
"Eh, tunggu yah. Aku pulang bareng ayah aja." Ucap Diana tergopoh-gopoh mendekati ayahnya.
"Loh, katanya mau diantar nak Mario sampai rumah."
Tak menghiraukan kata-kata ayahnya, Diana langsung memosisikan duduk di belakang ayahnya.
"Enggak! Aku bareng ayah aja." Ucap Diana tanpa menoleh sedikitpun ke Mario.
"Jangan gitu dong. Masak temennya ditinggalin jadinya." Ucap Arman sengaja meledek anak gadisnya.
"Gak apa kok om." Jawab Mario dengan wajah penuh keramahan.
"Atau nak Mario mau mampir ke rumah dulu?" Tawar Arman masih dalam misi menggodai anak gadisnya.
"Enggak, Mario buru-buru mau pulang kok yah.." Jawab Diana cepat-cepat sebelum Mario sempat menjawab.
Diana melotot tajam pada Mario sambil menggelengkan kepala isyarat agar Mario juga menolak tawaran ayahnya.
"Oh iya, saya mau langsung pulang aja om. Terimakasih tawarannya. Mungkin lain waktu saya mampir." Jawab Mario sambil tersenyum dan sesekali melirik Diana sambil menaik turunkan alisnya.
Entah bagaimana menggambarkan ekspresi Diana yang komat kamit menggumamkan berbagai umpatan untuk Mario yang sepertinya kompak ikut menggodainya. Diana benar-benar sebagai korban tunggal disini.
"Hmm.. Oke om tunggu ya.. Terimakasih sudah mengantar Diana sampai sini. Duluan ya.."
"Siap om.."
Sang tuan putri telah berpindah kereta bersama ayahandanya, meninggalkan kusir tampan yang tampak sumringah menertawakan apa yang baru saja menimpanya.
Mario memegangi dadanya sebelah kiri. Tepat dimana detakan jantungnya dapat terasa di indera perabanya.
"Sumpah, itu tadi lebih menegangkan dari pada ditanyai SIM oleh polisi. Hehehe.." Gumam Mario.
...
Author's cuap:
Siapa yang bapaknya sangar kayak ayahnya Diana tapi aslinya kocak??
Hahaha..
But, seorang ayah akan selalu berusaha tampil bijaksana untuk melindungi putrinya..
Nah, buat pembaca jangan lupa jempol sangarnya juga ya
Like
comment
vote
bunga kopi nya..
Biar authornya makin sangaarr jugaa