Titip Salam

Titip Salam
Titip Cucu Eyang



#68


Titip Cucu Eyang


Bayang-bayang wajah Ayahnya yang seram ketika mengajaknya berbicara empat mata dan entah berapa telinga yang mendengar semalam benar-benar masih tertanam kuat di ingatan Diana.


Hal sepele tentang kesalah pahaman mulai dari tercyduk berboncengan dengan Mario, lalu adegan berpegangan tangan dengan Willy, tidak dapat dibayangkan bila Ayahnya menemukannya akan berboncengan dengan seorang pemuda yang bahkan ia tidak mengenalnya.


"Tapi Mama sudah memperbolehkan, Eyang juga bilang sudah kenal dengan anak Tante Suster. Harusnya Ayah gak akan marah meskipun tahu nantinya." Batin Diana.


Tok.. tok..


"Permisi.." Suara seseorang dari balik pintu yang sebetulnya masih terbuka lebar.


"Langsung masuk saja nak," Ucap Eyang Siti mempersilahkan tamunya masuk.


"Kok aku deg-deg-an sih.." Batin Diana yang entah mengapa tertunduk malu menatap telapak kakinya di lantai.


Rasanya ini sudah seperti adegan pertemuan dua pihak keluarga yang akan menjodohkan anak-anak mereka. Sorang pemuda akan dikenalkan pada Diana? Padahal semuanya masih jauh dari itu.


Mungkin inilah pertanda kedewasaan pada Diana. Tubuhnya memberikan.respon berbeda ketika berhadapan dengan lawan jenis akibat bawaan hormonal. Apakah benar secara ilmiah seperti itu? Atau memang ada sesuatu lain yang menjadi rahasia Tuhan?


Seorang pemuda berperawakan jangkung masuk dan langsung menyalami seluruh orang yang berada di ruang tamu.


Perilaku sopan santun yang ia tunjukkan dengan merendahkan diri, mencium punggung tangan pada orang yang lebih tua, merupakan tabiat baik yang nampaknya telah ditanamkan padanya sejak kecil.


Pemuda itu lantas langsung mencium punggung tangan Eyang Siti, selanjutnya punggung tangan Mila, dan punggung tangan terakhir..


"Eh," Diana langsung menarik telapak tangannya sebelum hidung mancung pemuda itu hampir menyentuhnya, membuat pemuda itu terkejut dan sontak mendongak menatap sang pemilik tangan yang hampir ia cium.


"Lho? Diana?" Ucap pemuda tersebut dengan ekspresi wajah yang benar-benar terkejut.


"Kamu?" Diana pun tersentak kaget melihat siapa gerangan pemuda yang berada di hadapannya itu.


Wajah Diana lagsung tertunduk merona malu-malu sambil menggenggam tangannya. "Hampir aja." Batinnya.


"Kamu nih kebiasaan kalau salaman main nyosor aja gak diliat-liat siapa yang disalamin." Ucap Perawat tersebut pada putranya yang baru saja datang.


"Mama ih, masak darah dagingnya dibilang nyosor-nyosor." Pemuda itu pun menggerutu kesal.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Mila yang mendengar pemuda itu menyebut nama putrinya.


"Sudah Tante," Jawabnya.


Mila memicingkan matanya. "Kayak pernah lihat. Tapi dimana ya?" Batin Mila.


"Diana kenpa? Kok diem aja?" Tanya Eyang Siti yang melihat perubahan sikap Diana yang mendadak terdiam sunyi.


"Beneran ganteng kayak yang Eyang bilang kan?" Lanjut Eyang Siti menggodai cucunya.


"Apaan sih Eyang ini.." Diana semakin malu dibuatnya.


Pemuda tersebut tampak mengulum senyum melihat Diana yang salah tingkah.


"Eh, siapa nama kamu nak?" Tanya Eyang Siti pada pemuda tersebut.


"Willy Eyang," Jawabnya.


"Oh Willy.. Saya minta tolong titip cucu saya ini bisa?" Ucap Eyang Siti sambil menunjuk Diana.


"Bersedia Eyang.." Batin Willy secara spontan, namun beruntungnya kesadarannya masih penuh sehingga yang keluar dari bibirnya adalah pertanyaan "Maksudnya titip gimana ya Eyang?"


"Eyang ini, titip cucu titip cucu, emangnya aku salam di titip titip ke orang?" Gerutu Diana yang hanya dibalas tawa oleh sang Eyang.


"Gini loh Wil, Diana ini mau ke undangan Bapak Bupati juga di GOR. Nah, dari pada mamanya bolak balik nganterin, Diana bareng sama kamu bisa kan?" Ucap sang Perawat sekaligus mama Willy itu menjelaskan.


Bak berada di sekitar taman bunga saat musim semi, begitulah hati Willy saat ini.


"Oh, gitu.. Bisa kok Ma.." Ucap Willy menahan rasa bahagia berlebih agar jangan sampai terlihat oleh orang lain. "Secara gak langsung aku mau jalan dong sama Diana? Gila! Mimpi apa ya aku semalem?" Batinnya.


"Sekalian pulangnya bisa?" Lanjut Mila.


"Mama! Kok main sekalian sekalian aja sih?" Diana semakin kesal melihat mamanya yang semakin memanfaatkan keadaan.


"Mama kan mau bantuin Bude Tatik bikin pesanan cateringnya Di, takutnya gak sempat jemput kamu nanti." Ucap Mila.


"Gak masalah Tante. Biar pulangnya saya antar sekalian." Ucap Willy menyanggupi permintaan Mila.


"Makasih ya Nak. Kayaknya saya familiar sama muka kamu. Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Tanya Mila akhirnya penasaran.


"Iya tante. Saya yang nambal ban motor tante waktu itu." Jawab Willy membuka memori lama. Yah, kejadian tersebut adalah satu hari pascah tragedi pngeroyokan tersebut.


"Oh kamu yang nambal ban sambil mukanya bonyok bonyok habis kecelakaan itu ya? Pantesan kayak pernah lihat."


Wajah Willy tampak mengembun. "Waduh, gawat!" Batinnya sambil menatap mamanya yang sedang balik memelototinya.


"Kecelakaan?" Perawat bernama Lina itu menatap putranya. Mencari jawaban dari perkataan Mila. Dia seperti melewatkan sesuatu.


Mendadak suasana menjadi sedikit tegang. Willy yang menyembunyikan semuanya dengan rapi dari sang mama, kini terbongkar sudah. Dirinya hanya bisa menjawab tatapan mamanya dengan senyuman.


"Eyang, sabun cuci piringnya habis.." Ucap Tania pemilik suara tercempreng sedunia itu, muncul dari arah dapur.


"Eh, banyak tamu.." Ucap Tania yang tau-tau sudah muncul di sana.


"Nah ini dia tuan putri paling usil ya.. Apa kabar Tania?" Sapa Sang Perawat yang memang sudah mengenal gadis kecil itu.


"Baik Tante Suster.." Jawab Tania malu-malu sambil menempel ke pangkuan mamanya.


"Anak cantik, salaman dulu kalau ada tamu.." Perintah Eyang Siti pada cucunya tersebut.


Tania pun menyanggupinya. Dirinya mencium punggung tangan perawat itu dan tentunya punggung tangan Willy juga.


Mendadak perasaan Diana jadi tidak enak. "Aduh, jangan sampai Tania ngomong aneh-aneh. Mama kan belum tau cerita malam Minggu kemarin." Batin Diana yang mulai berkeringat dingin.


"Hai Tania, masih inget aku?" Sapa Willy begitu ramah.


"Loh, kenal Tania juga?" Tanya Eyang Siti terheran-heran.


Diana tampak pucat. "Jangan sampai ditanya lebih lanjut. Lebih baik cepat-cepat berangkat." Ucap Diana hendak berdiri dari duduknya, dan..


"Kakak ini pacarnya kak Diana kan?" Lanjut Tania menyelesaikan kalimatnya.


Jeng.. jeng .. jeng..


"Apa? Pacar?" Tanya Mila mengulangi perkataan Tania.


"Pacarnya Diana?" Lanjut Eyang yang turut terkejut pula.


"Beneran Wil?" Kali ini Lina, sang Perawat yang juga terkejut.


Diana dan Willy saling bertatapan tak kalah terkejutnya.


"Enggak, enggak, kita gak pacaran kok. Tania nih mengada-ngada aja." Ucap Diana cepat-cepat.


Diana memelototi Willy mencari bantuan penjelasan. Tapi yang dia dapat, Willy malah mengedikkan bahunya sambil menahan tawa.


"Siapa yang mengada-ngada. Kemarin waktu malam mingguan di Alun-alun kan Mbak Di ketahuan pega-hmmph"


Cepat-cepat Diana membungkam mulut adiknya itu sebelum mulut rem blong adiknya semakin tidak terkontrol.


"Sialan Willy, bukannya bantu menjelaskan malah ketawa aja." Umpat Diana dalam hati.


"Heh, kok adiknya digituin sih?" Eyang Siti pun menengahi pertikaian cucunya itu.


"Diana, Tania, jangan gitu ah! Masak udah pada gede masih suka berantem aja." Lanjut Mila.


"Jangankan mereka yang masih segitu, ini sama kakaknya aja masih suka ribut." Ucap Perawat Lina sambil menunjuk Willy anaknya.


"Kok aku kena juga sih ma?" Protes Willy.


"Udah ah, Diana mau berangkat aja. Jadi diantar siapa ini ma?" Diana mulai nampak kesal menjadi bahan ledekan di sana.


"Sama anaknya Tante Suster aja, gak apa apa kan?" Jawab Mila.


"Gak apa-apa dong tante. Sekalian pulangnya juga kan?" Lanjut Willy.


"Ya udah ayo buruan.." Ucap Diana langsung berdiri, rasanya dia sudah tidak tahan lagi lama-lama berada di sana.


Diana lantas menyalami semua yang berada disana untuk berpamitan. Willy pun demikian.


"Titip cucu Eyang ya.." Ucap Eyang menepuk punggung pemuda itu ketika dia menyalami Eyang.


"Siyap Eyang." Ucap Willy yang terus tersenyum.


Pesan yang sama pun disampaikan oleh Mila selaku mama Diana.


"Ciye.. ciye.. Aw," Ledek Tania lagi yang berujung cubitan maut sang kakak di pipi chubbynya sampai memerah.


"Sialan Willy, bukannya bantu menjelaskan malah ketawa aja." Umpat Diana dalam hati.


Diana pun segera kabur keluar rumah sebelum adiknya sempat membalas perbuatannya.


"Eyang.. Mbak Di tuh.."


"Diana.." Ucap Eyang Siti membela Tania.


"Ya udah, kita berangkat duluan ya.. Ma, Willy berangkat." Pamit Willy pada semua orang.


"Hati-hati, bawa anak gadis orang jangan ngebut." Ucap Lina sang perawat.


"Iya Ma," Ucap Willy.


Willy nampak mengetik pesan untuk seseorang melalui ponselnya, lalu berjalan mendekati si item, motor antik kesayangannya. "Gak rugi kamu mandi sampai mengkilat tadi pagi." Ucap Willy dalam hati sambil membelai body mulus motornya itu.


"Ayo naik," Ucap Willy setelah memasang helm.


Diana menyentuh pundak Willy untuk menjangkau menaiki motor hitam legam mengkilat tersebut.


Deg deg,


Seperti ada setruman aliran listrik membuat jantung Willy berdebar hebat ketika tangan itu menyentuh pundaknya.


"Fokus Willy.. " Gumam Willy sambil menyentuh dada sebelah kiri nya.


"Udah," Ucap Diana mnginformasikan kesiapannya untuk segera meluncur dari sana.


"Diana pegangan!" Teriak Eyang dari teras rumah.


"Iya Eyang.." Balas Diana.


"Pegangan yang erat." Teriak Eyang lagi.


"Iyaaa Eyaaang.." Ucap Diana mulai kesal sambil menunjukkan tangannya yang sudah menggenggam jaket Willy.


"Mungkin maksud Eyang kamu tuh, pegangannya sambil meluk, biar erat." Bisik Willy sambil memundurkan kepalanya agar dapat di dengar olehDiana.


"Enak aja! Buruan jalan. Sebelum satu blok pada keluar rumah gara-gara teriakan Eyang." Ucap Diana.


Willy yang hanya tersentuh tangan Diana saja sudah deg deg an tak karuan, tak dapat dibayangkan bagaimana bila gadis dibelakangnya itu benar-benar memeluknya? Wah, bisa kejang-kejang mungkin?


Willy tertawa begitu lepas. Setelah beberapa hari dia merasa patah hati dan putus asa, kini semangatnya membuncah lagi. Bahkan mungkin berkali-kali lipat lebih berapi-api dari pada sebelumnya.


Suara motor menderu tertiup angin. Kuda besi hitam mengkilat itu mulai keluar dari gerbang dan melaju pelan mengarungi jalanan.


Tak dapat dipungkiri betapa bahagianya Willy saat ini. Senyumnya terus merekah dibalik helm teropongnya. Dia benar-benar senang.


...


Author's cuap:


Babang Willy, penantianmu membuahkan hasil kan