
#102
Drama Makan Siang
"Kamu udah lama?" Sapa seorang berseragam putih abu-abu yang langsung mengambil duduk di hadapan Diana. Sang pelatih tampan Ari.
"Sorry ya, udah bikin kamu nunggu. Tadi ada urusan dulu di kantor OSIS." Lanjutnya.
"Gak lama kok Kak, baru juga nyampe." Jawab Diana.
"Oh ya, jadi gimana? Kamu berhasil dapat ijin Ayah kamu?"
Diana tersenyum dan menyerahkan amplop coklat yang baru kemarin ia dapatkan dari Ari, namun kali ini dengan penambahan tanda tangan sang Ayah yang menandakan langkahnya menuju POR Prov tinggal menunggu jadwal resminya saja.
"Kalo dari senyum kamu, pasti lancar-lancar aja nih.. Udah dapat restu dari Ayah kamu ya?"
Diana mengangguk. "Iya Kak, aku seneng banget. Akhirnya Ayah kasih ijin juga. Rasanya udah gak sabar nih ke hari H nya.." Ucap Diana sambil menggosok-gosok telapak tangannya pertanda begitu antusiasnya dia.
"Hmm.. Jangan hepi-hepi dulu. Latihan harus lebih giat nih. Nanti tunggu kabar Kakak untuk jadwal latihannya ya," Ucap Ari sambil menyimpan amplop dari tangan Diana ke dalam tasnya.
"Siap kak, chat aja ya.."
"Gaya banget sih, sekarang udah main chat chat an mulu. Kalo keseringan di chat kakak, ntar cwoknya marah lho.." Goda Ari yang menyiratkan sebuah makna di dalamnya.
"Iya sih, ada satu cowok yang sering marah klo aku chattingan melulu." Jawab Diana.
Ari nampak memaksakan senyuman. Bahkan ia sampai terlihat menghela nafas beratnya. Ah, sepertinya bukan itu jawaban yang ingin didengar oleh sang kakak pelatih.
"Tahu gak cowok itu siapa?" Tanya Diana.
Ari tampak mengernyit. Satu nama yang ia duga sebagai jawabannya. Seorang cowok yang pernah sengaja menendang bola ke arahnya ketika ia kedapatan berbincang dengan Diana. Tapi Ari memilih mengedikkan bahunya tanpa mencoba cari tahu tebakannya benar atau salah.
"Ayah. Hahahaa.." Diana tertawa lepas. Cowok tergalak yang bertanggung jawab atas diri Diana saat ini.
"Apalagi kalau kedapatan main hape sampai malam, wah suara dehemannya aja udah bikin hape auto lowbat. Hahaha.." Diana tertawa lagi. Yah, sang Ayah memang selalu mendisiplinkan anak-anaknya agar tidur tepat waktu. Kalau sampai dilanggar, uang jajan taruhannya.
Ari ikut tertawa lepas. Ada rona bahagia dan kelegaan yang mendalam terpancar dari ekspresi bahagianya saat ini.
"Permisi mbak, dua nasi goreng sama es teh ya?" Ucap seorang laki-laki yang merupakan salah satu penjaga warung makan pinggir jalan itu.
"Loh, kok dua? Saya kan belum pesan mas," Ucap Ari spontan.
Diana baru menganga membuka mulutnya hendak menjawab ucapan Ari, namun sebuah suara sudah menyambar lebih dahulu dari arah samping.
"Satu lagi punya aku." Begitu ucapnya yang tanpa basa basi langsung mengambil duduk disamping Diana dan meraih sepiring nasi goreng dan es teh yang semula diletakkan di depan Ari.
Sementara Ari tampak membeku karena terkejut. Hanya matanya yang bergerak mengikuti pergerakan sepiring nasi goreng yang menjauh dari hadapannya.
"Sialan! Kenapa ada anak ini?" Gumam Ari dalam hati.
Sebuah nama yang menjadi praduganya tadi, kini berwujud fisik di hadapannya. Mario.
"Lama banget sih?" Tanya Diana yang merasa kesal ditinggalkan begitu saja ketika baru sampai di depan warung makan lima belas menit yang lalu dengan alasan. "Aku cari toilet dulu ya, pesenin nasi goreng sama es teh." Lalu Mario segera berlalu menuju minimarket seberang jalan.
Diana mendekatkan wajahnya yang membuat Mario reflek memundurkan kepalanya.
"Bo ker ya? Xixixi.." Ucap Diana sambil berbisik.
Mario melengos. "Yah, kirain deket-deket mau nyium aku. Taunya ngeledek."
Diana menoyor pundak Mario yang berkata tanpa filter. Diana sampai merona karena malu sebab didepannya masih ada kakak pelatihnya yang geleng-geleng kepala dengan kelakuan dua orang itu.
"Oh iya kak, ini Mario teman sekolah aku. Dia yang antar aku ke sini, soalnya aku gak tau letak warung makan yang kakak maksud ini. Padahal dekat dari sekolah aku."
Mario mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan pada pemuda yang berusia dua tahun di atasnya itu dengan penuh percaya diri. Ari terdiam sebentar memandang telapak tangan Mario sebelum kemudian membalasnya. Dia harus mengakui tingkat keberanian dan rasa percaya diri pemuda di hadapannya itu.
"Mario, cowoknya Diana."
Ari terlihat tersentak mendengar pengakuan pemuda itu.
Plak,
"Aw," Mario mengusap lengannya yang terasa panas akibat telapak tangan sakti Diana.
"Cowok, cowok, apaan sih? Kapan jadiannya?" Ucap Diana yang merasa kesal bercampur malu.
"Ya udah, kita jadian sekarang yuk.." Ucap Mario yang terkesan bercanda, namun wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.
Mario memang sengaja melakukannya untuk memberi peringatan tidak langsung pada pemuda yang berkedudukan sebagai pelatih Diana. Seolah dia ingin memberikan garis pembatas padanya agar ia cukup sebagai pelatih saja. Yah, feeling Mario kakak pelatih yang dipanggil Ari ini memiliki perhatian lebih pada Diana, gadis yang ia suka.
"Aw, sakit Di.." Kali ini cubitan level iblis yang mendarat di lengan Mario.
Ari yang tadinya tersenyum kecut akhirnya terkekeh juga melihat drama komedi menggelitik di depannya. Sedikit banyak ia dapat menyimpulkan sendiri bagaimana hubungan keduanya.
"Eh, kak Ari gak pesan juga?" Diana kembali beralih pada Kakak pelatihnya.
"Gak usah Di, kakak mau langsung pulang aja. Nanti makan siang di rumah aja." Jawab Ari.
"Bener tuh kak, makan di rumah aja. Lebih sehat dan higienis." Ucap Mario.
"Lah, emang bener kan?"
"Maaf ya Kak, teman aku mulutnya gak pake klakson dulu, langsung main nyamber banting setir aja. Aku sambil makan ya kak, laper nih.." Ucap Diana merasa tidak enak pada Ari.
"Sialan! Emangnya mulut aku angkot?" Ucap Mario tidak terima.
Dan adu mulut kembali terjadi yang membuat kak Ari sekali lagi menggelengkan kepala.
Sebetulnya bukan seperti ini espektasi Ari tentang pertemuannya siang ini. Dia sengaja memilih bertemu di warung makan supaya dapat sekalian menraktir makan siang Diana. Setidaknya mereka akan memiliki waktu lebih lama untuk mengobrol.
Tapi diluar dugaan ada tamu tak diundang yang turut serta diantaranya memberi rasa tidak nyaman dirinya.
"Oh ya Di, satu info lagi." Ucap Ari yang membuat adu mulut keduanya akhirnya berakhir. Terpaksa harus di akhiri lebih tepatnya.
"Ini kan POR Provinsi, jadi kamu tidak cuma membawa nama sekolah saja, tapi juga nama Kabupaten kamu. Akan ada pelatih senior yang langsung mengawal kamu nantinya." Lanjut Ari.
"Loh, trus kak Ari udah gak melatih aku lagi?" Tanya Diana spontan.
"Untuk sementara enggak dulu,"
"Hmm.. Bagus tuh, selamanya aja ganti pelatih." Timpal Mario sambil melahap nasi gorengnya.
Bug,
"Aw, sakit Di.." Kini giliran kaki Mario yang mendapat hentakan dahsyat dari telapak kaki Diana sampai meja yang mereka tempati bergetar.
Ari tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Dia kini melihat sosok lain dari Diana. Satu kata yang dapat ia tarik sebagai kesimpulan untuk menggambarkan sosok Diana. Galak!
"Tenang aja Mario, selama latihan persiapan POR Prov, aku bukan pelatih Diana lagi. Bahkan aku ambil cuti dari melati di SMP 15 sampai POR Prov selesai." Lanjut Ari.
Mario tampak tersenyum senang dalam kunyahannya. Sementara Diana terlihat kecewa.
Yah, menurut Diana Ari adalah pelatih paling sabar, telaten, dan bonus enak dipandang. Bahkan tidak ada kesan garang sedikitpun. Benar-benar berbeda dengan pelatih-pelatih senior yang sudah berumur atau bisa dibilang tua, bahkan perutnya sudah membuncit.
"Yah, kok gitu sih kak.."
"Karena kita akan latihan bareng terus Di, Kakak juga salah satu pesertanya."
Uhuk..
Mario batuk-batuk karena tersedak akibat kejutan dari ucapan Ari. Ari menyunggingkan senyum kemenangannya samar-samar.
Wajah Diana begitu antusias. Dia sampai bertepuk tangan saking girangnya.
Baru saja Mario menghela napas seteh meminum es tehnya, Ari kembali berucap.
"Oh ya, nanti kita bakal latihan bersama semua perwakilan beladiri kabupaten, dikumpulkan semua menjadi satu, mungkin lokasinya di SMP 10. Nanti jadwalnya menyusul ya.."
Klutik,
Seketika sendok Mario terjatuh terjun bebas ke bawah meja.
"Kenapa dari sekian banyak sekolah di Kota ini harus SMP 10 sih?" Monolog Mario dalam hati.
"Kamu kenapa Mar?" Tanya Diana yang terkejut mendengar dentiingan sendok terjatuh.
Mario tak menjawabnya. Belum selesai dengan si pelatih, sekarang ditambah sekolah Willy yang dijadikan tempat latihan?
" Masak sih aku harus membuntuti Diana latihan?" Batin Mario.
Aaarrrgghh... Mario menggeram dalam hati.
"Semoga si Congek gak mengambil kesempatan." Harap Mario dalam hati sambil beranjak untuk menukar sendoknya dengan sendok yang baru.
"Sial! Kenapa aku jadi posesif gini sih?" Gumam Mario merasa heran pada dirinya sendiri.
Diana mengernyitkan keningnya ketika Mario tak berkata dan berlalu. "Kenapa dia mendadak jadi diem gitu? Aneh!"Batin Diana.
"Cowok kamu ngambek tuh, hehehe.." Ari menertawakan kecemburuan Mario yang jelas-jelas ia nampakkan tanpa sungkan.
"Cuma temen Kak," Sanggah Diana cepat-cepat.
"Ya udah, aku balik dulu ya."
"Mario, duluan ya.." Ucapnya sambil melambaikan tangan pada Mario yang sudah berbalik hendak kembali ke meja.
"Terimakasih ya Kak,"
Ari menuju motornya. Ia kembali menatap sesaat dua orang yang masih saja tampak berdebat. Ia menghela nafas beratnya, melepas lelah hatinya agar tertinggal saja di sana, sebelum akhirnya ia benar-benar memacu motornya dan berlalu.
...
Author's cuap:
Yang sabar Kak Ari,
Hidup kadang gak seindah espektasi.