
Kring.. Kring..
(Bel tanda jam istirahat berdering)
Taukah titik mana dari sekolah yang akan padat sesak oleh sekumpulan manusia pada saat seperti ini? Yaps, kantin.
Kantin begitu ramai dan sesak oleh murid-murid yang berjubel berdesakan untuk mendapatkan pelayanan lebih dulu. Beberapa ada yang nakal memakan tiga gorengan namun yang dibayar hanya satu. Kenakalan anak-anak sekolah.
Diana dan Hera hanya berdiri menatap keriuhan di setiap kios. Mungkin mereka merasa malas untuk ikut berdesakan hanya untuk membeli jajanan.
"Her, balik ke kelas yuk.. Kantinnya rame banget.." Ajak Diana pada temannya itu.
Sementara yang diajak bicara tidak memberikan respon apapun.
Diana menoleh pada sahabatnya itu. Dilihatnya Hera mematung memandang ke sudut meja kios yang menjual bakso.
"Hera, kamu mau beli bakso?" Bisik Diana di dekat telinga Hera.
"Ayok Di.." Hera reflek menjawab seolah kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya tanpa dipikirkan lagi.
"Mau beli bakso, apa mau nyapa Abdul aja?" Bisik Diana lagi.
"Iya Di, ayok.."
Eh,
Hera pun akhirnya tersadar dari lamunannya ketika mendengar Diana cekikikan. Wajahnya menjadi merona karena malu. Sepertinya tanpa ia menceritakan apapun pada Diana, sahabatnya itu dapat dengan mudah menyadari isi hatinya saat ini.
"Di.. Kamu sengaja ya.." Hera mencubit-cubit lengan Diana.
"Aw, aw, sakit Her.. Ampun.."
Kegaduhan Diana dan Hera seolah tertelah oleh keramaian di kantin. Namun karena suara mereka yang seolah sudah sangat dikenal oleh seseorang yang sedang menikmati semangkuk bakso di ujung bangku kios tersebut menjadi terusik dan seketika menoleh menatap kegaduhan dua gadis yang saling cubit mencubit.
"Hera, liat tuh.. Abdul noleh ngeliatin kamu.." Diana masih terus saja menggoda sahabatnya itu.
Sesaan mata Hera dan Abdul saling beradu. Seperti ada sengatan listrik berdaya kuat yang membuat wajah Hera semakin merona.
Hera kalah.
Dia langsung menutupi wajahnya yang sudah semerah tomat karena merasa malu. Ditambah Diana yang terus cekikikan membuatnya tak tahan lagi bila terlalu lama berada di sana.
"Diana, jahat banget.. Aku balik kelas aja.." Hera berbalik dan pergi meninggalkan Diana sambil menutup wajahnya.
Diana masih tertawa dengan tingkah lucu sahabatnya itu. Dia tidak menyangka Hera sampai terlihat sekonyol itu hanya karena beberapa detik beradu pandang dengan Abdul.
Sementara Abdul yang tidak mengerti apa yang terjadi pada dua gadis itu hanya menganggapnya angin lalu dan melanjutkan kenikmatan semangkuk bakso suap demi suap.
Diana melirik ke arah Abdul sekilas. Tawanya yang seakan tak akan mereda mendadak lenyap seketika. Matanya beradu pandang dengan seseorang yang dengan tajam menatapnya. Seseorang yang tidak ia sadari bahwa sedari tadi dia berada di sana. Duduk menikmati semangkuk bakso berhadapan dengan posisi Abdul duduk.
Mario!
Diana hanya tertegun sesaat. Entah apa yang dia rasakan dari tatapan itu. Ada kengerian, kekhawatiran, dan rasa kesal entah karena apa.
"Kenapa harus ngeliat dia sih.. Sial!" Umpat Diana dalam hati.
Tak lama, Diana pun turut berbalik dan pergi menyusul Hera yang kembali ke kelas.
...
"Diana, kamu kemana aja. Aku nungguin kamu dari tadi." Sapa seseorang ketika melihat Diana baru saja masuk kelas. Silvi, yang sudah duduk di bangku Diana.
"Sini Di, cepetan duduk." Sahut Rida, setengah berteriak.
Zahra dan Hera pun nampak melambaikan tangan mengisyaratkan agar Diana segera mendekat.
Diana nampak bingung kepada empat temannya itu. Dia heran mengapa kehadirannya sampai sangat ditunggu-tunggu.
Diana berjalan mendekat. Sesaat dia teringat kelakuannya menggoda Hera di kantin tadi. Dia menatap sahabatnya itu dengan perasaan tidak enak.
"Hera, maaf ya.. Jangan marah. Maaf kalau tadi becandanya kelewatan." Ucap Diana dengan nada merendah.
Diana merasa sangat tidak enak dengan kelakuannya yang mungkin sedikit keterlaluan. Dia benar-benar tulus meminta maaf takut kalau-kalau sahabatnya itu sampai ngambek yang membuat persahabatan mereka jadi tidak baik.
"Udah lupain aja yang tadi. Yang penting ini nih.." Jawab Hera sambil menunjuk sebuah bingkisan berbentuk kotak kecil di hadapan Silvi.
Diana tidak melihat ekspresi kemarahan di wajah Hera, melainkan wajah penasaran dan penuh antusias pada bingkisan yang sepertinya dibawa oleh Silvi.
"Nih, buruan buka. Aku sudah penasaran dari kemarin." Silvi menyodorkan bingkisan itu ke tangan Diana.
"Ini apaan? Aku kan gak lagi ulang tahun?" Diana merasa kebingungan dengan bingkisan yang diberikan Silvi itu.
Akhirnya rasa penasaran pun mulai menjamah pada Diana. Tangannya mulai bergerak merobek bungkusan dari koran bekas yang menyembunyikan sebuah kotak kecil di dalamnya.
"Buka Di, apa isinya?"
"Iya cepetan Di.."
Teman-temannya begitu berisik saking penasarannya. Hingga akhirnya dibukalah kotak itu.
"Apaan nih?" Ucap Zahra mengangkat dua benda isi dari kotak itu.
Kotak itu berisikan perban elastis warna coklat atau yang disebut biocrepe yang biasa digunakan untuk membalut patah tulang dan salep pereda nyeri seperti yang dimiliki oleh kak Ari.
"Kirain isinya coklat atau gelang couple gitu. Eh ternyata cuma perban ama salep." Silvi nampak kecewa dengan apa yang ia lihat tidak sesuai espektasinya.
"Eh, ada suratnya Di.." Kini giliran Rida yang merenggut kotak itu.
"Baca dong, baca.." Hera begitu antusias melihat ada sepucuk kertas yang terselip disana.
Tanpa menunggu ijin dari Diana, Rida lantas membuka dan membaca tulisan di kertas itu dengan lantang.
Semoga bermanfaat
dan kaki kamu cepat sembuh
Maaf, jika aku hanya mampu memberikan ini
"Udah, gitu aja?" Ucap Silvi yang sekali lagi tampak kecewa.
"Kalian ini. Kok malah pada kecewa setelah tau isinya?" Diana malah dibuat cekikikan melihat ekspresi teman-temannya.
"Ya jelas kita kecewa. Kita tuh udah bayangin kamu dapat coklat, atau dapat hadiah apa gitu. Malah dapat perban sama salep apaan itu." Kata Hera yang awalnya tadi berapi-api kini lembek dan.melempem.
"Udah gitu suratnya gak ada romantis-romantisnya. Tulis puisi kek, potongan lagu kek, gak puitis sama sekali." Rida pun tak kalah kecewanya.
"Barang-barang ini mau buat apaan coba?" Silvi menatap heran pada dua benda yang menjadi isi bingkisan itu.
Diana tertegun sesaat. Benda-benda ini terlihat tidak berharga dimata teman-temannya karena mereka tidak tahu apa yang dialami Diana kemarin ketika latihan bela diri. Namun sebetulnya benda-benda itu benar-benar yang Diana butuhkan saat ini.
Kaki Diana memang sudah tidak terlihat pincang alias sudah dapat berjalan normal. Tapi rasa nyeri itu masih terasa. Salep itu dapat meredakan nyeri yang dirasakan Diana saat ini, dan dilanjutkan dengan membalutkan perban itu pada pergelangan kaki Diana yang dapat menjaga pergelangan kakinya agar tidak banyak bergerak.
"Ini dari siapa Sil?" Diana tidak mau menebak-nebak sendiri siapa pengirimnya.
"Dari Congek." Jawab Silvi singkat.
Diana merasa semakin bingung. Dia benar-benar tidak mengenal siapa Congek yang informasinya anak SMPN 10.
Tidak banyak yang tau bahwa Diana mengalami cidera latihan, termasuk empat temannya itu. Jadi mustahil kalau sampai ada anak SMP 10 yang tau. Lagi pula apakah sepenting itu berita Diana yang cidera sampai harus tersebar hingga ke sekolah lain?
"Kamu yakin Congek itu anak SMP 10?" Tanya Diana lagi.
"Kata temen aku sih, Congek itu teman sekelasnya. Emang kenapa Di?"
Diana semakin bingung. Bilapun yang mungkin akan memberinya bingkisan itu adalah kak Ari atau Mario?
Diana menertawai apa yang dia pikirkan sendiri. "Mario? mana mungkin.." Gumamnya dalam hati.
"Bisa tolong balikin aja Sil.." Diana mulai membereskan kotak itu dan menyerahkannya pada Silvi.
"Iyah, minta tuker coklat aja.." Celetuk Zahra.
"Maaf Di, bukannya aku gak mau. Tapi temenku bilang si Congek itu berpesan kalau Diana gak mau terima aku suruh buang aja. Jadi aku gak mau nih dapat dosa buang pemberian orang." Kata Silvi menjelaskan.
"Menurutku simpan aja Di.. Kamu kan ikut bela diri. Benda-benda itu mungkin suatu saat berguna saat kamu cidera." Lanjut Hera yang ternyata sedari tadi memikirkan kegunaan benda-benda itu.
"Betul juga Hera. Kalau dipikir-pikir, berarti Congek ini secara tidak langsung perhatian banget sama kamu." Kata Rida menimpali yang diikuti anggukan oleh yang lainnya.
Diana masih tidak mengerti. Siapa Congek ini? Kenapa dia begitu misterius yang diam-diam mengetahui banyak hal tentang Diana.
...
Author's cuap:
Kalo aku punya penggemar rahasia gitu.. Wah bisa gak nyenyak tidur.
Antara seneng dan ke ge-er an
Hahahaha...
Diana : Ngarep lu Thor...